Koko Nata

Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 08 Mei 2020

Mensyukuri Potongan Gaji Ternyata Luar Biasa Dampaknya


Seorang teman memberikan kabar tidak gembira di tengah pandemi corona. Dia bersama ratusan karyawan lainnya di satu penerbitan buku mengalami PHK. Ya, pemutusan hubungan kerja.

Dia kehilangan pekerjaan. Padahal posisinya cukup tinggi. Seorang manajer yang turut berperan dalam pemasukan perusahaannya. Sayangnya sebagian besar toko buku tutup. Sementara itu penjualan secara daring (on-line) masih trial and error. Di masa pandemi, kecenderungan masyarakat mengutamakan kebutuhan pokok daripada belanja buku. Angka penjualan terjun bebas. PHK menjadi langkah penyelamatan perusahaan.

Berbagai perusahaan sejenis dan perusahaan pada umumnya mengambil langkah win-win solution daripada PHK. Gaji seluruh karyawan dipotong. Besar potongan sesuai jabatan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula potongannya. Saya pun mengalami pemotongan gaji mulai akhir April 2020.

Awalnya saya shock. Merasa khawatir tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan. Terlebih pada saat Ramadan dan lebaran, pengeluaran biasanya lebih besar daripada bulan-bulan biasa.

Kemudian saya teringat, sebelumnya gaji saya juga sempat dipotong sekian juta untuk pembelian beberapa paket buku selama 6 bulan. Bahkan pemotongan itu berbarengan dengan potongan uang pangkal sekolah si kecil selama 10 bulan. Saya sekeluarga baik-baik melewati masa-masa potongan tersebut.
Satu nasihat Misbahul Huda dalam video Inspirasi Spirit Ramadhan 5 tentang syukur (Life Excellence) mengingatkan saya untuk mensyukuri saja keadaan ini. Syukur dalam kondisi yang tidak menyenangkan dapat menjadi sarana untuk meraih keberkahan. Allah tetap akan mencukupi kebutuhan saya.

Itulah yang terjadi.

Sebelum masa pandemi corona virus, keluarga saya cenderung makan sendiri-sendiri di luar rumah. Hanya sarapan saja kami membuat sendiri. Apabila dijumlahkan, bisa lebih dari Rp100.000 untuk sehari saja.
Pada masa pandemi ini, kami selalu masak sendiri mulai dari sarapan sampai makan malam. Untuk membeli bahan-bahan makanan Rp100.000 bisa cukup untuk 2 hari. Sebab kami membeli sayur dan lauk-pauk cukup banyak. Inilah cara Allah mencukupi kebutuhan kami, padahal gaji sudah kena potongan.

Anak juga jadi jarang jajan karena sekolah dan bermain di rumah saja. Kami tidak lagi makan di restoran yang kerap membuat bengkak pengeluaran. Pada bulan Ramadan, makanan kecil pun kami buat sendiri. Kegiatan yang jarang sekali terjadi sebelum masa pandemi.

“Selalu positif menghargai, menikmati keadaan. Itulah syukur dalam arti yang sebenarnya,” kalimat Misbahul Huda kembali bergema.

Beliau menyarankan agar kita selalu mengembangkan sikap positif. Sikap positif perlu dikembangkan sehingga kita mampu melihat peluang di antara banyak masalah dan kesulitan. Mampu melihat celah, kesempatan dan tantagan.

Sikap positif juga menjadikan kita huznuuzon, berbaik sangka kepada Allah.Sikap berbaik sangka ini akan menjadi jalan terkabulnya doa. Sebab kalau kita tidak berprasangka baik kepada Allah, doa kita sulit menembus langit.

“Sikap syukur, positif kepada Allah, positif kepada lingkungan, positif dengan apapun yang kita dapatkan kelak mendorong kita menjafi manusia excelent,” nasihat Misbahul Huda.

Saya jadi ingat juga saran Pak Benny, direktur Sygma Daya Insani. “Niatkan potongan gaji itu sebagai sedekah. Insya Allah berkah.”

Ya, saya sekeluarga memang jarang sedekah dalam jumlah besar. Inilah saatnya. Semoga berkah melingkupi kami, juga melingkupi teman-teman yang bersabar serta positif memandang permasalahan yang tengah dihadapi. 

Sumber foto: Freepik.com 

Kecerdasan Inilah yang Menentukan Kesuksesan Hidup


Beberapa kali, saya sempat mengukiti tes IQ. Saya memperoleh skor yang cukup tinggi. Skor tersebut menunjukkan IQ saya di atas rata-rata.

Apakah saya senang?

Dulu, iya. Sekarang tidak!

Kecerdasan intelektual tidak menjamin kesuksesan hidup. Perlu satu kecerdasan lagi agar hidup kita bahagia. Bukan hanya bahagia di dunia, namun juga bahagia di akhirat. Kecerdasan itu bernama kecerdasan spiritual.

Mengutip definisi kecerdasan spiritual Danah Zohar dan Ian Marshall dalam SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan (Mizan, 1999) , kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Kecerdasan spiritual merupakan landasan untuk mengfungsikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. Bahkan kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi kita. Kecerdasan ganda yang diungkapkan oleh Howard Gardner sejatinya merupakan varian dari kecerdasan siritual, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi.

Indikator Kecerdasan Spiritual    

Misbahul Huda dalam video Inspirasi Spirit Ramadhan 4, The Spirit Of Ihsan mengungkapkan orang yang tingkat kecerdasan spiritualitasnya tinggi adalah orang-orang yang selalu siap mati kapan saja. Apabila takut mati, bisa dipastikan kemaksiatan yang dilakukannya masih mantul, mantap betul.

Cara untuk meningkatkan kecerdasan spiritual adalah dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Bukan karena seseorang atau siapa saja. Melakukan kebiakan semampunya hanya karena Allah saja. Di mana saja, kapan saja, dilihat atau tanpa keberadaan seseorang, di masa lapang atau sempit.

Soal berusaha memberikan yang terbaik ini pernah dipesankan oleh ayahanda Misbahul Huda. Sang ayah berpesan, “Nak kalau besok di manapun kamu berada, apapun profesimu, sing entengan tetulungan, ojo pritungan. Kalaupun orang yang yang kamu bantu, entah tetangga atau teman kerja nggak ngerti nggak ngerti balas budi, nggak usah risau. Allah nggak tidur. Allah akan menggerakkan tangan orang lain untuk membantumu. Kalau bukan kamu, anak cucumu yang akan ditolong.”
Misbahul Huda berusaha menerapkan apa yang dinasihatkan ayahnya tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa. Hidupnya dimudahkan. Enam anaknay berhasil. Karirnya cukup cemerlang. Misbahul Huda mengawali karirnya tahun 1987 sebagai teknisi elektrik dengan gaji Rp152.000. Empat tahun lalu beliau pensiun dari 4 jabatan direktur utama dan sejumlah komisaris. Penyebabnya bukan hanya cerdas intelektual, namun karena cerdas spiritual berupa keentengan membantu teman.

“Saat menjadi teknisi elektris saya bantu mekanik, nggak lama naik jadi kepala bagian teknik. Di kabag teknik saya bantu bagian produksi, nggak lama naik menejer produksi. Kemudian saya coba bantu bagian keuangan, nggak lama naik jadi direktur operasional. Ketika penerbitan kami, terbitan kami cetak jarak jauh seluruh Indonesia, saya bantu relokasi masjid-masjidnya, nggak lama naik direktur utama. Demikian seterusnya. Membantu orang, dimudahkan karir oleh Allah Swt,” tutur Misbahul Huda.

Berbagai kemudahan yang diperoleh Misbahul Huda kemudian baru disadarinya sebagai janji Allah, bukan janji bapaknya. Seperti yang tercantum pada firman-Nya.

... Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga),maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)... (QS Al Lail: 5-7)

Misbahul Huda telah membuktikan, keberhasilan yang diraihnya bukan sekadar karena kecerdasan intelektual, namun juga buah dari kecerdasan spiritual. Wujudnya banyak berbagi kebaikan, memberikan manfaat besar pada orang lain.

Kisah ini menjadi inspirasi, saya, kita untuk menirunya, kan? Mudah berbagi kepada orang lain. Bukan hanya materi. Bisa berupa ilmu, keterampilan. Apa saja sesuai kemampuan kita. Semoga hal itu menjadikan kita sukses di dunia, juga di akhirat.      

Menyikapi Orang-orang yang Beribadah dengan Perasaan, Baperan

Pada saat Majelis Uiama Indonesia memberikan fatwa shalat di rumah guna menghambat penyebaran wabah corona, sejumlah orang mengerutu. “Ke Masjid dilarang, giliran pasar dan mall tetap dibiarkan buka.”

Saya juga mendapat ujaran serupa dengan redaksi kalimat yang berbeda. Namun intinya sama: menyayangkan anjuran shalat di rumah saja daripada di masjid serta membandingkan masjid dengan pasar dan mall. Sepintas lalu, mungkin kita terpengaruh dengan ujaran tersebut. Mendadak baperan dan ikut mempertanyakan fatwa MUI tersebut.

Padahal menurut Misbahul Huda dalam satu video Inspirasi Spirit Ramadhan untuk Syaamil Group, sikap menolak shalat di rumah dan membandingkan masjid dengan pasar atau mall merupakan contoh ibadah dengan perasaan, bukan dengan ilmu. Beribadah dengan perasaan di masa pendemi corona dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, sebab hanya menggunakan persepsi pribadi.

MUI memberikan fatwa tentu sudah mempertimbangkan banyak hal dengan berbagai ilmu. Berdasarkan ilmu fikih misalnya. Ustaz Muhammad Azizan Lc dalam publikasi Republika.co.id (29/3/2020) menjelaskan bahwa menolak mafsadah atau kerusakan itu lebih utama daripada mengambil maslahat. Pahala shalat berjamaah di masjid sangat besar, namun keburukan yang dapat ditimbulkan akibat shalat berjamaah di masa pandemi bisa jauh lebih besar.
Kabar baiknya, pahala yang kita peroleh dengan shalat di rumah bisa tetap setara berjama’ah di masjid. Hal ini merujuk pada hadis berikut.
Telah bercerita kepada kami Mathar bin al-Fadhl telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah bercerita kepada kami 'al-'Awwam telah bercerita kepada kami Ibrahim Abu Isma'il as-Saksakiy berkata; Aku mendengar Abu Burdah pernah bersama dengan Yazid bin Abi Kabsyah dalam suatu perjalanan di mana Yazid tetap berpuasa dalam safar, lalu Abu Burdah berkata; "Aku sering mendengar berkali-kali Abu Musa berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Jika seorang hamba sakit atau bepergian (lalu beramal) ditulis baginya (pahala) seperti ketika dia beramal sebagai muqim dan dalam keadaan sehat." (HR Bukhari)
Ahli medis telah menyampaikan bahwa hanya 15% saja penderita covid19 yang menampakkan gejala. Lainnya tidak menyadari sudah terjangkit corona virus. Apabila dia shalat di masjid, potensi penularan pada orang lain sangat tinggi. Maka dari itu, menahan diri tidak beribadah ke masjid itu sama dengan menjaga nyawa muslim lainnya dari kenatian akibat corona virus.

Hal ini mengacu kepada Firman Allah dalam al-Maidah ayat 32: 
"Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya."
Mengikuti perasaan yang bisa membahayakan diri dan orang lain tentu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Utamakan ilmu untuk mengutamakan keputusan demi kebaikan bersama bukan rasa enak-tak enak di hati.

Selain itu membandingkan masjid dan pasar atau mal tidak setara. Masjid dicintai Allah sedangkan pasar dibenci-Nya. Hal itu tersurat dalam sabda Rasulullah.
Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid – masjid. Adapun tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar. (HR. Muslim)
Melaksanakan shalat pun sebenarnya bisa di mana saja. Asalkan suci sebagaimana hadis Rasulullah.
“Seluruh bumi telah dijadikan tempat sujud (masjid) untukku, dan sarana bersuci.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Tempat shalat banyak alternatifnya. Pasar atau mall bisa digantikan oleh marketplace online, namun belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat secara cepat.

Saya pribadi cenderung mengabaikan orang yang nyinyir sekadar mengikuti perasaannya saja. Apalagi nyinyir dengan menunjukkan kedangkalan ilmu. Doakan saja orang seperti itu, semoga Allah memberinya hidayah sehingga tidak sekalu baperan. 

Sumber gambar: Freepik.com/H9images

Kamis, 07 Mei 2020

Inilah yang Seharusnya Dilakukan Karyawan, Pebisnis dan Pengusaha di Masa Pandemi

Ahmad seorang karyawan swasta. Saat berangkat ke kantor, dia mengucap basmalah. Senantiasa berdoa kepada Allah. Ahmad memohon campur tangan Allah dalam setiap pekerjaannya, minta penjagaan atas keluarga yang ditinggalkan di rumah. Hal itu mudah saja dilakukan Ahmad, karena di kantornya ada pengingat doa bersama.

Saat bekerja, Ahmad selalu menyempatkan diri shalat dhuha dan membaca Al Qur’an. Shalat dzuhur dan Asar pun dikerjakan tepat waktu secara berjamaah. Ahmad berusaha menunaikan tugas-tugasnya sesuai peraturan yang berlaku serta tidak menyimpang dari syariat Islam.

Pada akhir bulan Ahmad gajian. Dia tidak lupa menyisihkan sebagian gajinya untuk zakat, infak, dan sedekah. Ahmad sadar dalam gajinya ada hak orang lain yang harus dipenuhinya. Dia pun berusaha membelanjakan penghasilannya sesuai kehendak Allah.  

Kegiatan ngantor Ahmad bisa dikatakan bernilai ibadah. Sungguh luar biasa berkah apabila di satu perusahaan semua karyawan melakukan proses awal dan akhir bekerja seperti yang dilakukan Ahmad, kan? Realitanya mungkin belum banyak karyawan seperti Ahmad itu.

Karyawan, pengusaha, dan pekerja lainnya memulai aktivitas dengan niat kejar target, omset, bonus, dan capaian materialistis saja. Shalat dan baca Al Qur’an sering ditunda. Pekerjaan lebih utama. Bahkan shalat sering di akhir waktu karena rapat, menjalin relasi bisnis dan urusan pekerjaan lainnya. Saat menerima gaji, uang di rekening bank terasa numpang lewat saja. Berbagai tagihan dan belanja konsumtif menguras penghasilan sebulan bekerja. Sedikit berkah dari gaji yang telah diterima.

Boleh jadi, keburukan dalam bekerja juga dilakukan secara berjamaah dalam perusahaan. Eksploitasi dan eksplorasi berlebihan. Dampak buruk terhadap sumber daya alam diabaikan demi laba, laba, dan laba... Keberkahan tentu sulit menjangkau perusahaan hingga ke rumah tangga para karyawannya.

Pandemi virus corona menghancurkan sejumlah bisnis yang mapan. Misalnya saja bisnis perjalanan. Siapa yang mau jalan-jalan di era pandemi seperti ini? Namun di saat itulah para pengusaha dan pebisnis yang terpuruk sebenarnya diingatkan Allah untuk bersabar sebagaimana firman-Nya
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. QS Al-Baqarah: 153)
Saatnya para pengusaha dan pebisnis melakukan reorentasi visi dan misi. Mengikuti tatanan illahi daalam menjemput rezeki. Putar balik dari jalur kemaksiatan ke jalan lurus taat kepada-Nya. Hentikan keserakahan dalam melakukan eksplorasi dan eksplotasi. Jangan ulangi pemakaian energi berlebihan. Apabila energi dihabiskan sekarang, anak-cucu nanti bagaimana?

Selain tetap berusaha dengan cara-cara yang baik pendekatan terhadap Allah melalui shalat, zikir, sedekah, doa, dan ibadah lainnya terus ditingkatkan. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah Swt. Apabila pengusaha dan pebisnis terpuruk, mungkin itulah cara Allah Swt untuk menaikkan derajatnya, manakala dia berhasil melewati ujian ini. Hanya mereka yang lulus ujian mendapat tempat yang baik, kan?

Bagi karyawan seperti Ahmad, di masa pandemi ini merupakan ujian bagi dirinya, apakah tetap melakukan rutinitas seperti biasa kala work from home, bekerja dari rumah. Selama ini dia berada pada lingkungan kerja yang sangat mendukung. Saat bekerja di rumah, dapatkan dia menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung ibadahnya? Termasuk manakala gajinya dipotong, dapatkah dia berhemat dan tetap menunaikan zakat, infak, dan sedekah?
  
Untuk para karyawan yang di-PHK, kesabarannya benar-benar diuji. Apakah dia bisa menangkap peluang lain. Bisa jadi peluang baru itu membuka pintu rezeki yang lebih baik. Bukannya sekadar atau meratapi pekerjaannya yang hilang dan menyalahkan orang lain.

Bersama Allah kita hadapi masalah. Berita gembira hanya akan diberikan kepada orang-orang yang sabar. Orang-orang yang selalu bersama Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar tersebut.  

Berdasarkan nasihat Misbahul Huda untuk Syaamil Group
Foto: Freepik.com 

Rabu, 06 Mei 2020

Tiga Sosok dalam Suatu Permasalahan


Seorang teman bernama A sering sekali mengeluh di media sosial. Status terbarunya kerap melempar kritik kepada sesama warganet atau para selebritas. Bahkan pemerintah dalam negeri dan luar negeri pun sering mendapat kritik pedasnya.

Saya seringkali mengaktifkan mode snooze  selama 30 hari terhadap akun A. Bikin gerah dan emosi negatif jika statusnya tak sengaja terbaca. Namun di sisi lain, saya merasa tetap perlu menjalin relasi terhadapnya.
Satu teman lainnya si B. Dia sering menggelar diskusi jarak jauh dengan akademisi dan selebritas. B menggunakan aplikasi seperti Zoom dan sejenisnya untuk berbagi solusi berbagai masalah. B memang seorang akademisi. Dia paham secara teori, mungkin praktiknya juga, bagaimana cara menyelesaikan masalah.

Selain undangan untuk menyimak diskusinya, potongan gambar (croping) pelaksanaan diskusi itu kerap dibagikan B ke media sosial. Saya kagum, B bisa mengelar diskusi jarak jauh sampai 3 – 4 kali dalam seminggu. Berapa banyak orang yang sudah terselesaikan masalahnya karena solusi dari B? Belum ada datanya.
Satu orang lainnya C, tidak bisa dibilang teman sebenarnya. Saya tahu dan kenal dia, namun dia belum kenal dan belum tahu dengan saya. Pertemuan saya dengan C di satu pelatihan internal. Saya peserta, C pelatih. C memiliki banyak pengalaman menmepati berbagai posisi di perusahaan. Satu yang saya kagumi dari C, dia menempuh pendidikan tinggi ilmu teknik seperti saya, namun mengenyam pendidikan agama Islam sehingga layak disebut ustad juga.         

Usia C memang sudah sepuh. Dia senang sekali berbagi pengalaman dan banyak hal pada siapa saja. Berbeda dengan B yang memberikan solusi, C cenderung menstimulasi orang untuk menemukan peluang bahkan di masa sulit seperti pandemi covid19 saat ini. Dibayar atau tidak, bukan masalah. Soal kenikmatan dunia, C sepertinya sudah tidak ambil pusing lagi.  

Sosok A, B, dan C, saya pikir perwujudan orang kalimat bijak berikut:

Small-man talking about the problem, greatman talking about the solution. Business Genious man find apportunity behind the problems.

Orang kerdil selalu meributkan masalah dan masalah. Memaki kegelapan. Orang besar berusaha mencari solusi. Orang jenius secara spiritual justru mencari celah, berbagi di era yang penuh kesulitan.

A kerap membahas masalah remeh temeh dan problematika mancenegara yang justru membuat masalah itu terlihat pelik. Emosi negatif tersirat dari kata-kata yang dirangkainya. Apakah kebutuhan curcol A di dunia nyata kurang terpenuhi? Bisa jadi.

Saya cukup banyak menemukan pengumpat dan pengeluh seperti  A di media sosial. A sosok dari orang kerdil yang meributkan masalah sehingga membuat masalah baru. Terkadang saya memberi komentar untuk menenangkan A selain berdoa agar A diberikan hidayah oleh-Nya.

Sosok B sering kita temukan di kampus-kampus juga acara bincang-bincang masalah televisi swasta. Mereka memberikan solusi. Kita dapat menerima dan melaksanakan solusinya atau menganggapnya angin lalu. B merupakan orang besar yang selalu mencari solusi.
Orang yang selalu ringan berbagi seperti C adalah sosok yang banyak dibutuhkan negeri ini. Mereka orang-orang jenius spiritual yang menyalakan cahaya di tengah kegelapan, kemudian mengajari orang lain agar dapat menyalakan cahaya juga. Saran dari orang-orang jenius cenderung praktis dan mudah karena berdasarkan pengalaman selain ilmu.

Bukan salah menjadi orang besar seperti B. Kita juga memerlukannya. Namun sosok-sosok seperti orang jenius C idealnya lebih banyak. Harus lebih banyak dari sosok pengumpat dan pengeluh. Setiap masalah yang timbul akan terasa mudah mengatasinya bersama orang-orang jenius spiritual.        


Berdasarkan nasihat Misbahul Huda untuk Syaamil Group
Foto: Freepik.com @khotcharak (Meremas kertas) user14996962 (Lilin)

Senin, 20 April 2020

Merasa Tertipu dan Kecewa Belanja di Shopee, Saya Melakukan Beberapa Langkah Ini

Akhir tahun lalu, saya memerlukan wajan penggorengan. Nama kerennya fry pan. Wajan lama yang berlapis teflon sudah tak layak pakai. Lapisan teflonnya mulai mengelupas.

Satu situs perabotan rumah tangga, memuat rekomendasi wajan terbaik. Ada  wajan yang menarik perhatian saya. Warnanya pink. Anak dan istri saya pasti suka.

Saya mencari wajan pink itu di Shopee. Alasannya karena aplikasi Shopee mudah digunakan serta ongkos kirim gratisnya tanpa kuota harian. Semisal ongkos kirim terbatas untuk 500 pembeli pertama. Cukup ambil voucher ongkos kirim yang tersedia serta memenuhi minimal belanja. Bahkan seringkali minimal belanja Rp 0.
Saya membeli si wajan pink. Keesokan harinya si wajan pink sudah saya terima. Takjub juga dengan kecepatan pengiriman dari Jakarta ke Bandung. Saya langsung melakukan konfirmasi barang diterima. Di situlah kesalahan saya.

Si wajan pink cantik ternyata tidak mulus lagi. Satu sisinya penyok. Duh... Empat tahun belanja di Shopee, baru kali ini kecewa dengan barang kirimannya. Saya coba mengajukan keluhan pada penjual dan customer service. Sia-sia belaka.

Saya merasa tertipu. Pengalaman yang mengecewakan itu menjadikan saya hati-hati berbelanja di Shopee. Saya harus melakukan langkah-langkah ini sebelum dan sesuadh membeli barang di Shopee.

1. Mengutamakan toko berlabel Star Seller dan Shopee Mall

Star seller merupukan penjual terpilih yang sudah memenuhi kriteria tertentu dari Shopee. Toko-toko terpilih itu mendapat undangan khusus. Setelah mendapatkan logo bintang dari Shopee, mereka harus mempertahankan kinerjanya. Apabila kinerja buruk, label Star Seller akan dicopot.

Shopee Mall merupakan toko resmi dari brand atau merek tertentu. Merek lokal atau global, toko ritel yang ternama, pusat pembelanjaan dan lainnya. Barang Shopee Mall bisa beragam jenis namun masih satu grup. Berbagai promosi di toko offline, bisa kita temukan juga di Shopee Mall. Misalnya paket promosi barang tertentu berhadiah mug cantik.
Toko yang menjual wajan pink itu sebenarnya sudah berada pada level Star Seller. Kenapa bisa jual barang cacat begitu? Memang tidak ada jaminan 100% barang Star Seller dan Shopee Mall selalu bagus. Maka dari itu langkah-langkah selanjutnya di bawah juga harus kita lakukan untuk mendapatkan jaminan barang bagus.           

2. Memeriksa ulasan dari pembeli terdahulu

Saat barang diterima pembeli, Shopee selalu meminta pembeli memberikan rating  satu sampai lima bintang. Selain itu pembeli dapat berkomentar bebas pula, minimal 50 karakter. Puas atau tidaknya pembeli terhadap barang bisa disampaikan. Pembeli dapat mencantumkan nama akun  Shopee-nya atau anonim. 

Membaca ulasan pembeli terdahulu merupakan cara yang efektif jika penjual bukan Star Seller atau Shopee Mall. Pembeli bisa saja puas meskipun toko masih baru atau belum terpilih. Kita juga dapat memeriksa apakah barang dari Star Seller dan Shopee Mall juga berhasil memuaskan pembeli. Apabila tiada ulasan atau hanya ada rating bintang, kita bisa tetap membeli tapi gambling.
Pada kasus si wajan pink, saya memang tidak memeriksa ulasan dari pembeli terdahulu. Padahal keluhan wajan penyok dan kemasan pengiriman cuma bubble warp cukup banyak. Berarti saya memang kurang cermat memilih barang. Padahal tokonya sudah Star Seller lho. Apabila tidak ada perbaikan layanan, bakal dicopot leber star seller-nya itu.    

3. Melakukan chat, lihat kapan terakhir online

Aplikasi ponsel dan web Shopee menyediakan fitur obrolan atau chat dengan penjual. Saya biasa ngobrol terlebih dahulu dengan penjual. Sekadar menanyakan ketersediaan barang misalnya. Dari obrolan tersebut saya bisa tahu seberapa tanggap si penjual. Kapan dia terakhir online.
Saya pernah langsung membeli buku Enyd Bliton di Shopee hanya karena harganya murah. Buku bekas, sih. Cuma Rp10.000. Lokasi penjualan dekat kantor saya. Setelah membayar, baru saya mengingatkannya lewat chat. Baru ketahuan si penjual terakhir online dua hari yang lalu.

Saya menunggu kiriman buku berhari-hari. Sampai batas waktu pengiriman, satu minggu terlewati. Si penjual tak kunjung terlihat online, apalagi merespon chat saya. Ya, sudah. Pesanan saya batalkan saja.    

Penjual terpercaya yang menyediakan barang bagus pastinya online setiap hari di Shopee. Mereka juga biasanya menyetel jawaban chat otomatis saat offline. Begitu mereka online, chat kita langsung ditanggapi.

4. Mencermati ada tidaknya layanan garansi

Sebagian penjual menyediakan layanan garansi barang. Ada tidaknya garansi barang itu biasanya tercantum pada deskripsi  barang. Apabila kita kecewa dengan barang yang dijual, barang bisa kita kirim balik. Pembayaran kita pun  dikembalikan.

Toko penjual wajan pink memang menyatakan tidak memberikan garansi terhadap barangnya pada deskripsi barang. Jadi dia berlepas tangan atas kondisi wajan yang saya dapatkan. Pintar dia. Lagi-lagi pada kasus ini saya memang salah karang kurang cermat membaca deskripsi barangnya.  

5. Membaca seksama deskripsi barang

Tidak semua toko memberikan deskripsi barang yang dijualnya. Apalagi jika barang yang dijual mudah kita temukan di pasaran. Hanya sebagian toko saja yang memberikan deskripsi barang secara detil agar terhindar dari keluhan pembeli.

Ada  juga toko yang memberikan penegasan pada deskripsi barang. BACA DESKRIPSI. MEMBELI BERARTI SETUJU. NO COMPLAIN! Apabila kita kecewa setelah menerima barang, baru kemudian baca deskripsi barang, rasanya kok tertipu ya. Itulah yang saya rasakan.
Maka dari itu sekarang saya membiasakan diri untuk baca deskripsi barang. Sebenarnya banyak manfaat dengan membaca deskripsi barang. Misalnya, kita bisa tahu dimensi barang sehingga bisa membayangkannya. Tapi ya itu, tidak semua toko rajin menerangkan kondisi barangnya secara detil.

6. Memastikan barang yang diterima sesuai harapan sebelum konfirmasi

Langkah ini dilakukan pembeli setelah menerima barang. Biasanya aplikasi Shopee memberi pemberitahuan barang sudah sampai. Pemberitahuan itu melalui aplikasi dan e-mail. Waktu tiba dan siapa penerimanya tertera.

Wajan pink dikirim ke kantor. Penerimanya satpam kantor. Tanpa memeriksa kondisi wajan, saya langsung melakukan konfirmasi penerimaan barang di aplikasi. Baru kemudian membuka kemasan dan memeriksa wajan. Inilah kesalahan saya berikutnya.

Melakukan konfirmasi penerimaan barang artinya saya sudah menerima barang. Uang pembelian akan diteruskan Shopee pada penjual. Apabila belum melakukan konfirmasi  uang masih ditahan. Cuma kita nggak bisa lama-lama melakukan penundaan konfirmasi juga. Konfirmasi barang diterima akan terjadi secara otomatis setelah jangka waktu tertentu.

7. Meminta pertanggungjawaban penjual

Saya juga meminta pertanggung jawaban penjual melalui chat. Saya berusaha menyampaikan keluhan dengan sopan dan baik-baik. Tidak ada maksud untuk melemparkan wajan itu ke muka penjual, walau pengen. Dibalas baik-baik juga, sih. Tapi cukup mengecewakan.

Saya dan penjual sempat berbalas chat hingga hingga 4 kali. Pada akhirnya saya menyudahi karena si penjual tetap merasa tidak bersalah. Ya sudahlah. Kasih ulasan jujur saja dan bintang rendah agar si toko memperbaiki layanannya di kemudian hari.

8. Meminta bantuan customer service

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah mengubungi customer service. Saya tanya apakah saya bisa melakukan pengembalian barang. Ternyata kalau sudah melakukan konfirmasi barang diterima, saya nggak bisa lagi mengembalikan barang. Duh...
Akhirnya si wajan pink saya bawa pulang. Berkumpul dengan wajan dan peralan dapur lainnya. Biar pun rada penyok, hal itu tidak memengaruhi fungsi si wajan. Saat memasak tanpa minyak, daya anti lengketnya memang bekerja. Cukuplah meskipun sempat kecewa.

Jadi hati-hati  

Pengalaman membeli si wajan pink menjadikan saya lebih hati-hati belanja di Shopee. Delapan langkah di atas menjadi semacam protokol pribadi bagi saya. Tidak mudah pilih, beli, dan konfirmasi lagi.

Berbagai ulasan di toko lain yang menjual wajan pink dengan kisaran harga sama mengeluhkan hal serupa. Saya berkesimpulan wajan pink itu barang reject. Cacat produksi. Apalagi tidak ada toko berlabel Shopee Mall yang menjualnya.
Semoga pengalaman belanja di Shopee yang kurang menyenangkan ini tidak dialami pelanggan Shopee lainnya. Menjual di Shopee cenderung mudah. Penjual bisa menawarkan barang apa saja. Tinggal pembeli yang harus cerdas memilih dan memilah. Agar tidak merasa tertipu dan kecewa setelah barang diterima. Setuju? 

Minggu, 19 April 2020

Bocoran Kriteria Naskah Fiksi yang Disukai Penerbit Indiva Media Kreasi


Sudah cukup lama saya mengenal Penerbit Indiva Media Kreasi. Sekitar pertengahan  tahun 2007. Pada tahun itu Indiva berdiri. Satu penggerak Indiva cukup terkenal di kalangan komunitas penulis semacam Forum Lingkar Pena. Yeni Mulati atau Afifah Afra (yang dulu pakai Amatullah). Beliau menjabat sebagai CEO di Penerbit Indiva.

Indiva berkantor di Solo. Dari kota di Jawa Tengah itu, buku-bukunya menyebar ke seluruh Indonesia. Kita dapat menemukan buku Indiva di toko buku semacam Gramedia, juga di toko-toko buku kecil. Namun pasar utamanya tetap di Pulau Jawa.

Sepengamatan saya, lebih dari 60% buku terbitan Indiva adalah buku fiksi. Khususnya novel anak-anak hingga dewasa. Buku nonfiksi. Cenderung buku panduan how to bertema pengasuhan dan pernikahan.

Menariknya, buku fiksi Indiva yang paling laris itu adalah novel anak. Terutama novel-novel tentang Al Qur’an, pesantren dan semacam itu. Informasi ini pernah disampaikan oleh sang CEO kepada saya melalui pesan singkat via ponsel.
Tema-tema Islam yang kuat, menjadi pembeda Indiva dengan penerbit lainnya. Pada usia yang ke-13 tahun ini, buku Indiva kerap masuk nominasi penghargaan Islamic Book Fair Award. Hal ini menjadi daya tarik para penulis untuk mengirimkan naskahnya ke Indiva.
Pada e-learning melalui aplikasi Whatsapp (Kulwhap FLP), Sabtu (4/4/2020), Afifah Afra menceritakan soal naskah yang disukai oleh Indiva. Berikut paparannya.    

1. Naskah Idealis

Saya coba buka KBBI untuk melihat arti kata idealis. Artinya cukup mudah dipahami. Idealis merupakan kata benda yang bermakna orang yang bercita-cita tinggi.
Gampangnya begini. Naskah yang diterbitkan Indiva menjadi buku mengandung nilai-nilai kebaikan. Terutama nilai-nilai kebaikan Islam. Bukan sekadar menghibur pembaca, sekadar laku, atau ikut tren.

Hal itu terlihat dari novel-novel yang diterbitkannya. Indiva mengharamkan buku-buku bertema supranatural, magis atau sihir. Tema-tema horor buku sekadar thriller psikologis. Bukan hantu-hantuan yang merupakan imajinasi penulisnya saja. Tema percintaan pun cenderung cinta menuju pernikahan, suami istri, atau cinta yang universal.

Idelisme yang dipegang Indiva itu bukan berarti tanpa perhitungan. Lebih dari 10 tahun berkiprah di industri buku Indonesia, Indiva sudah punya ceruk pemasaran yang jelas: muslim kelas menengah hingga atas. Buku anak dan remajanya diserap pesantren, seolah islam terpadu, dan lembaga islam lainnya. Apabila naskahmu menyasar kalangan tersebut, coba saja mengirimkannya pada Indiva.

2. Dikemas dengan bahasa yang tidak mendayu-dayu.

Awalnya saya pikir bahaya mendayu-dayu itu bahasa merayu yang lebay. Gombal-gombalan gitu, deh. Ketika saya konfirmasikan lagi pada Mbak Afifah Afra, ternyata bukan itu. 

“Mendayu-dayu maksudnya terlalu banyak kata-kata. Harusnya bisa 1 paragraf namun, jadi panjang karena faktor permainan kata belaka.” Begitu jawaban dari ibu 4 anak itu.

Penjelasan singkat Mbak Afifah Afra itu senada dengan pengertian mendayu dalam KBBI. Kita sering menemukan kalimat majemuk yang panjang sehingga kurang bisa ditangkap maknanya, kan? Itulah maksud kalimat yang mendayu-dayu.

Gunakan saja kalimat efektif. Meskipun ada editor yang akan mengolah naskah kita, namun editor tidak bisa mengubah terlalu banyak kalimat juga. Apabila hal itu dilakukan editor, dia menjadi penulis pendamping. Bukan editor lagi.   

3. Tema Sosial, Lingkungan, dan Sejarah Lebih Disukai

Tema percintaan paling mudah kita temukan dalam novel remaja dan dewasa. Pada novel anak-anak, konflik anak bandel mendominasi. Tema populer tersebut bisa dipadukan dengan tema sosial, lingkungan, dan sejarah! Bagaimana caranya?

Misalnya kisah percintaan pasangan pengantin baru dari kelas sosial yang berbeda. Di awal pernikahan mereka mendapat ujian bencana alam. Latar waktunya pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Ketiga tema tersebut memang tidak mudah kita temukan dalam cerita fiksi Indonesia. Riset primer dan sekunder perlu dilakukan. Termasuk studi literatur. Terbayang beratnya? Mau nulis fiksi apa bikin skripsi. Barangkali kesukaran penggarapan itulah yang menjadikan satu dan sekian alasan Indiva menyukai tema sosial, lingkungan, atau sejarah.     

4. Memuat Kearifan Lokal

Saya mencari definisi kearifan lokal. Berikut beberapa defini kearifan lokal dari buku Arah Pembelajaran Bahasa dan Sstra Indonesia Pada Era Revolusi Industri 4.0 oleh Prof. Dr. Khairil Ansari, M.Pd. (Pustaka Diksi, 2020).

Kearifan lokal berarti gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baikyang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya (Echols dan Shadily (2008)).

Keraf (2002)juga memaparkankearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan, serta adat kebiasaan, atau etik yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di komunitasnya.

Kemendikbud juga mendefinisikan kearifal lokal sebagai pandangan dan pengetahuan tradisional yang menjadi acuan dalam berperilaku dan telah dipraktikkan secara turun temurun untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan dalam kehidupan suatu masyarakat.

Berdasarkan ketiga definisi di atas, kearifan lokal dapat berupa adat kebiasaan, etika, pengetahuan, pemahaman, keyakinan, dan wawasan. Mudahnya baca saja novel-novel S. Gegge Mappangewa yang terbit di Indiva. Sebagian besar novelnya mengangkat kearifan lokal suku Bugis.

Perlu diingat kearifan lokal itu bukan hanya di daerah pelosok, ya. Kota besar seperti Jakarta dan lainnya juga punya kearifan lokal. Di daerah sekitar kita pun ada. Jangan terjebak dengan karya penulis-penulis yang mengangkat kearifan lokal daerah yang jauh dari ibu kota karena mereka berasal atau berpengalaman dari sana.

Baca juga: Novel remaja yang dengan kearifan lokal yang detil

5. Setting Detil

Setting atau latar terkait tempat, waktu, dan lingkungan sosial  yang diceritakan. Untuk penjelasan soal latar ini, kata orang Palembang, belamburan di berbagai web, silakan cari.

Untuk menguji kedetilan dan kuat atau lemahnya latar yang kita gunakan, coba ubah saja nama tempat, penanda waktu, dan lingkungan sosialnya. Apabila tidak memengaruhi cerita, berarti latar yang kita gunakan masih lemah alias sekadar tempelan saja.

Sebagian karya penulis Indonesia level legend terkenal dengan latar yang kuat. Sebut saja Ronggeng Dukuh Paruh karya Ahmad Tohari. Tempat, waktu, dan lingkungannya begitu padu. Bahkan nama Srintil yang penari, begitu khas.

Indiva menyukai novel-novel yang menggunakan setting detil, satu alasannya karena novel seperti itu timeless. Tidak lekang oleh waktu. Kapan saja orang membacanya, tidak masalah. Dari kedetilan setting itulah, generasi yang berbeda dapat mempelajari sejarah yang terkandung dalam cerita. Membandingkan dengan masa yang sedang dialaminya. Kabar baik lainnya, novel berlatar detil itu kerap memenangkan berbagai penghargaan. Maka cobalah menulis kisah dengan setting yang detil.

Gunakan untuk Kompetisi Menulis Indiva

Penulis dapat menggunakan lima kriteria di atas untuk mengikuti Kompetisi Menulis Indiva yang tengah berlangsung. Ada 2 kategori yang bisa diikuti, novel anak dan novel remaja. Penuhi saja semua syarat teknis yang tercantum pada poster lomba, kemudian gunakan lima kteria novel yang disukai redaksi Indiva itu.
Saya pribadi sekali ingin mengikuti kompetisi itu. Namu naskahnya belum ada. Saya bagikan saja bocoran kriteria naskah fiksi yang disukai penerbit Indiva Media Kreasi bagi teman-teman yang ingin mengikuti lomba atau sekadar mengirimkan naskah ke Indiva. Mudah-mudahan saja saya ikut kecipratan amal solehnya jika karya teman-teman memberikan manfaat bagi pembaca.

Sebagai tanda terima kasih untuk saya, sialakn komentar saja di bawah. Bagikan link tulisan ini ke media sosial juga boleh. Semoag kita bisa terus menabarkan kebaikan bersama-sama. Msuk surga itu asyiknyarame-rame, kan?

Jumat, 10 April 2020

Keanehan dalam Novel Remaja Gen Z Ayah Aku Rindu S. Gegge Mappangewa

Novel Ayah Aku Rindu Aneh
Saya jarang membeli novel yang baru terbit. Apalagi ikutan purcahe order atau PO. Terlebih harga novel zaman now rata-rata hampir seratus ribu. Saya harus punya alasan kuat untuk membeli novel baru atau ikut PO.

Novel Ayah, Aku Rindu merupakan satu novel yang saya niatkan punya sejak kabar kemenangannnya di Kompetisi Menulis Indiva 2019. Juara 1 di kategori fiksi remaja. Pastilah novel karya Daeng Gegge itu istimewa. Selain itu, saya kenal baik dengan penulisnya. Harganya pun cukup ekonomis. Selembar uang lima puluh ribu masih kembali lima ribu untuk harga di Pulau Jawa 😍

Pada awal April 2020, novel Ayah, Aku Rindu kiriman dari Toko Afifah Afra tiba di rumah saya. Pada masa Work from Home. Saya buka kemasan pembungkusnya. Eh, ada print out ajakan donasi Covid 19 yang memuat foto Kang Irfan, tetangga rumah di blok sebelah.  

Ajakan donasi covid19
Saya mengusap sampul novel Ayah, Aku Rindu. Terasa halus tanpa cetak timbul emboss yang memberikan hasil bagian menonjol di permukaan kertas sampul. Hanya laminasi doff saja. Nggak ada rasa manis-manisnya, juga 😁

Ada logo Gen Z yang menjadi lini baru di Penerbit Indiva. Sosok remaja dengan baju bertudung memejamkan mata di bawah siluet pepohonan. Ada amplop melayang-layang di sekitarnya. Amplop surat atau amplop duit tuh? 😝 Nuansa ilustrasi ala komik remaja sangat terlihat. Sesuai dengan segmen pasar yang dituju. Apakah isinya juga?

Saya mulai membaca. Selesai baca prolog, kok bingung. Keesokan hari baru lanjut lagi. Saya mengikuti alur cerita. Ketagihan baca, terus membuka lembaran kertas jenis book paper. Daeng Gegge menebarkan sejumlah petunjuk di beberapa bab yang jawabannya ada di halaman-halaman terakhir novel.

Sebelum pukul 21.00 WIB, tamat sudah novel setebal 192 halaman itu. Mulai baca lepas Asar. Meskipun tebakan akhir cerita saya benar, tetap dapat surprise-nya. Namun ada keanehan dalam novel keempat Daeng Gegge yang terbit di Indiva tersebut. Berikut keanehan-keanehan yang saya maksud.

1. Kisah yang Tidak Senada dengan Kesan Sampul

Kesan saya terhadap sampul, kisahnya bakal mistis fantastis. Kekinianlah. Nyatanya, novel Novel Ayah, Aku Rindu merupakan kisah yang sendu. Mengisahkan remaja kelas XII bernama Rudi. Ibunya meninggal dunia. Ayahnya terguncang. Apalagi peternakan ayam sang ayah pun bangkrut. Sang Ayah lupa ingatan. Mengaku sebagai La Pagala atau Nenek Mallomo, cendikiawan abad 17 di Sidenreng Rappang. Gawatnya lagi, sang ayah lepas kendali. Ingin sekali membunuh Rudi, seperti Nenek Malommo yag pernah mengorbankan anaknya.

Ada cincin sisik naga juga yang menarik perhatian Rudi. Cincin itu milik Pak Sadli, guru sekolah Rudi. Pak Sadli ini memainkan peran yang cukup penting di novel Ayah, Aku Rindu. Bahkan Pak Sadli inilah yang memberi kejutan di akhir cerita.

Cukup mistis ceritanya tanpa unsur fantasi di luar kewajaran. Terlebih pada bagian ayah Rudi dijadikan dukun dadakan oleh warga kampung. Racauannya dianggap mantra berkhasiat obat. Ilustrasi cover sosok Rudi yang diliputi sinar keemasan, memejamkan mata, berada di bawah pepohonan dengan helaian amplop. Seolah kurang bersambung dengan kisah novel Ayah, Aku Rindu.  

2. Penggunaan Kata Ganti Orang Pertama Tunggal Saya

Pada umumnya penulis menggunakan kata ganti orang pertama aku. Kata aku terasa lebih intim saat menceritakan diri sendiri. Tidak berjarakdengan pembaca. Orang Indonesia menggunakan kata ganti aku antara sebaya yang sudah sangat dekat. Sahabat atau pasangan. Lihat saja, orang jatuh cinta biasanya menyatakan cinta dengan kata aku cinta kamu, aku suka kamu, kan?

Novel Ayah, Aku Rindu menggunakan kata saya sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Saya adalah Rudi. Remaja 18 tahun itu sang penutur cerita. Terkesan agak janggal. Apalagi kata saya hanya digunakan pada subjek. Sebagai objek, tetap digunakan kata aku. Ayah menatapku. Begitu juga apabila dirangkai dengan kata kerja seperti kulihat. Apakah editor yang mengubahnya? Entahlah.

Bab 9 novel Ayah, Aku Rindu
Anehnya lagi, judul novel Ayah, Aku Rindu. Bukan Ayah,Saya Rindu. Padahal di hikayat sembilan atau bab sembilan, judul bab: Ayah, Saya Rindu. Apabila konsisten dengan isi, seharusnya judul novel Ayah, Saya Rindu, kan?
Kemudian saya ingat, judul Ayah, Aku Rindu merupakan pilihan Penerbit Indiva. Judul aslinya bukan itu. Mungkin diganti, karena judul asli spoiler banget. Sudah ketahuan ending-nya dari judulnya.  

3.   Nama Tokoh yang Tidak Berbau Lokal

Tokoh utama novel Ayah, Aku Rindu bernama Rudi. Jangan bilang seumur hidupmu belum kenal dengan orang yang bernama Rudi, ya? Di lingkungan rumah saya saja, ada sekitar 3 orang yang punya nama Rudi. Entah itu nama depan, tengah, atau akhir. Teman sekolah, rekan kantor, dan lainnya juga bernama Rudi. Nama Rudi sangat umum. Kenapa Daeng Gegge memilih nama Rudi untuk tokohnya? Masih jadi misteri yang belum terpecahkan.

Saya berharap nama tokoh lebih berbau bugis. Sabir Misalnya. Tokoh lain juga menggunakan nama umum yang ada di seluruh nusantara. Ramli, Sadli, Gilang. Apakah ini nama yang umum ini guna menunjukkan akulturasi budaya Islam? Mungkin saja tanpa Daeng Gegge sadari.

Nama teman Rudi yang bernama Nabil pun sempat mengecoh saya. Nabil ternyata laki-laki. Awalnya saya pikir Nabil itu perempuan. Bukankah kita mengenal Nabilah Ratna Ayu mantan personil JKT48 dan Nabila Syakieb? Beda kali, ya 😂 Nabil cenderung unisex. Bisa dipakai laki-laki maupun perempuan.

Nama asli Bugis akan menguatkan lokalitas novel. Namun fakta terkini mungkin  orang Bugis namanya cenderung islami. Berasal dari bahasa Arab, bukan bahasa Bugis lagi. Karena itulah Daeng Gegge menggunakan nama-nama yang merupakan serapan dari bahasa Arab.   

4. Logat bahasa Jawa

Saya menemukan beberapa kata ndak dengan format teks italic pada beberapa percakapan. Misalnya pada halaman 75.

“... Saya ndak bisa berbuat banyak karena memang ndak ada yang bis amenjamin ayah ndak mengulangi kembali perbuatannya itu.”

Penggunaan logat Jawa
Pak Sadli yang mengucapkan kalimat itu. Apakah Pak Sadli berasal dari suku Jawa seperti Ilham Sadli yang blogger itu? Apabila benar, mungkin saya melewatkan informasi tentang asal muasal guru sekolah Rudi itu.  

Memang bahasa Bugis kurang terasa dalam novel Ayah, Aku Rindu. Pertimbangannya untuk pangsa pasar pembaca yang luas mungkin. Barangkali hal itu bisa saya dapatkan apabila novel Ayah, Aku Rindu difilmkan. Bahasa Bugis menjadi bahasa percakapan antar tokoh.  

5. Kasus Tidak Jujur yang Selintas Lalu

Rudi memenangkan lomba foto Kementerian Komunikasi dan Informasi. Cerita itu ada pada bab sembilan. Sayangnya foto yang dikirim Rudi bukan hasil jepretannya. Rudi menduga foto itu jepretan ayahnya. Namun dia tetap mengirimkannya. Rudi memenangkan lomba foto. Juara satu. Hadiahnya uang sepuluh juta rupiah. Rudi akhirnya mengaku kepada Pak Sadli. Foto yang menang itu bukan karyanya.

Kasus ketidakjujuran itu hanya selesai begitu Rudi mengaku. Tidak ada dampak lain. Malah foto Rudi dimuat oleh koran lokal. Entah berita positif atau negatif. Foto di koran dilihat sang ayah. Kemarahannya bangkit lagi. Fungsi foto terkesan untuk  dilihat ayah saja selain penekanan pada pentingnya sikap jujur. Persoalan tidak jujur bagaiangin lalu saja menuju akhir kisah. Tiada dampak lain bagi Rudi.
   
Secara Umum Novel Ayah, Aku Rindu

Novel Ayah, Aku Rindu tipikal novel yang disukai penerbit Indiva. Kisahnya idealis namun tidak mendayu-dayu apalagi lebay. Isu sosial, lingkungan dan sejarah berpadu. Pemukiman warga kampung sekaligus peternakan ayam, gunung batu yang kian terkikis karena eksploitasi berlebihan dan kisah nenek mallomo berpadu menjadi kearifan lokal Sidenreng Rappang. 

Latar novel tidak menyebutkan nama desa. Hanya letaknya saja di kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Tanah kelahiran sang penulis. Saya coba mencari-cari beberapa nama tempat yang disebutkan dalam novel. Wikipedia menyebutkan bahwa kecamatan Baranti merupakan penghasil beras dan telur ayam terbesar di Indonesia Bagian Timur. Barangkali di sanalah letak rumah Rudi. Rumah sakit Nene Mallomo pun benar ada. Gunung Allakuang yang terkikis juga menjadi masalah lingkungan saat ini. Saya jadi termotivasi untuk menuliskan cerita berlatar tanah kelahiran saja juga. 

Gunung Allakuang terletak di Kecamatan Maritengngae.
Batunya ditambang untuk bahan ukiran batu, alat rumah tangga dan lainnya (Foto Akbarpost.com)
Daeng Gegge bertutur teratur. Dia menebarkan berbagai clue, petunjuk, mulai dari prolog sampai jelang akhir cerita. Sebagian pembaca mungkin sudah bisa menebak akhir cerita apalagi jika tahu judul aslinya. Sepertinya, Daeng Gegge membuat kerangka novel dahulu, baru kemudian menuntaskah kisah lengkapnya.

Novel ini bisa menjadi acuan bagi para penulis yang ingin menang di Kompetisi Menulis Indiva 2020, atau sekadar ingin lolos seleksi naskah Penerbit Indiva. Tidak harus cerita sedih seperti karya-karya Daeng Gegge, sih. Kisah humoris atau yang memotivasi juga perlu.

Bagi kamu yang tidak setuju dengan keanehan yang saya ungkapan, tidak apa. Berbeda pendapat itu wajar. Apalagi jika kamu belum baca novelnya. Definisi aneh di sini memang tidak mebgacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia 😀

Apabila ada keanehan lain yang kamu rasakan setelah membaca Novel Ayah, Aku Rindu, boleh tuliskan di kolom komentar, ya. Terima kasih sudah membaca bahasan novel Ayah, Aku Rindu yang receh ini.