Ada satu pertanyaan sederhana, namun tidak semua pasangan menikah dapat menjawabnya. Pertanyaan itu adalah, “mengapa ingin memiliki anak?” Bagi pasangan yang bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak, pertanyaan itu akan dijawab dengan lancar. Mereka sudah melewati ribuan hari tanpa tangis bayi, tiada canda tawa dengan anak-anak. Mereka menemukan banyak sekali alasan sehingga ingin sekali memiliki anak. Untuk pasangan yang sangat mudah dititipi anak oleh-Nya, pertanyaan mengapa ingin memiliki anak, bisa jadi terbersit pun tidak. Anak seolah hadir begitu saja. Baru saja menikah, beberapa bulan kemudian istri hamil. Setahun kemudian pasangan suami istri telah menjadi orang tua. Beberapa tahun kemudian, anak kedua, ketiga dan seterusnya lahir. Jawaban-jawaban berikut ini mungkin menjadi jawaban sekian orang tua saat mendapat pertanyaan tersebut: Saya ingin menciptakan kembali masa kecil yang indah Ngg…Semacam investasi untuk hari nanti Sebab saya percaya, kita akan m...
Infeksi virus merusak saraf organ pendengarannya seorang bayi. Masa depannya bakal seperti apa? Tanpa pengobatan, orang tua dan lingkungan yang mendukung, mustahil dia akan tumbuh baik-baik saja. Perjuangan sang bayi hingga tumbuh menjadi gadis berprestasi, itulah yang dikisahkan dalam novel Desibel karya Asroruddin Zoechni.
Berikut plus dan minus novel Desibel versi saya
1. Kisah Alia yang Berjuang Mendengar
Desibel mengisahkan perjalanan hidup seorang gadis bernama Alia. Sejak bayi dia tuli hingga mengalami keterlambatan perkembangan menyeluruh. Pada usia 3 tahun, Alia menjalani operasi implan koklea di Australia. Alia dapat mendengar namun sangat bergantung alat. Apabila alat bantunya dilepas, dunia senyap kembali.
Alia tinggal bersama orang tua angkat. Dia menjalani terapi di satu yayasan bernama Desibel. Dia tidak tahu, ibu kandung yang pernah meninggalkannya adalah terapis Desibel. Alia berjuang menjalani hidup seperti anak-anak normal hingga berhasil menempuh pendidikan tinggi.
Kisah novel fokus pada perjalanan Alia menempuh S-2 International Public Health di Liverpool. Ada dua pria yang jatuh hati kepadanya: Aria seorang dokter di Edinburg dan Haidar kandidat PhD di Universitas Groningen, Belanda. Aria baru mengenal Alia saat penerbangan ke London, Haidar sudah akrab dengan Alia karena keponakannya juga menjalani terapi di Desibel. Putus-nyambung percintaan Alia dan Haidar, serta jalinan asmara Alia dan Aria menjadi inti cerita novel Desibel.
2. Dominasi Latar Luar Negeri
Bagi penyuka kisah berlatar Eropa, novel Desibel menyuguhkan pada sepertiga awal babnya. Baca saja bab 8, 14, 19, 20, 22, 23, 27, 29, 31, 32, 33, 34, 36, 38. Asroruddin berusaha menggambarkan tiap pergantian musim di Eropa, lingkungan dan suasana perkotaan Eropa yang mendukung cerita.
Hanya saja, cara Asroruddin menggambarkan latar cenderung sama. Dimulai dengan keadaan langit, bangunan atau suasana lingkungan, baru kemudian tokoh. Begitu filmis. Pengulangan deskripsi seperti itu bisa monoton bagi sebagian pembaca. Terutama pembaca yang lebih menyukai aksi daripada deskripsi.
3. Banyak Orang Diceritakan
Novel Desibel tidak hanya menuturkan tokoh Alia. Bimo dan Dyah selaku orang tua angkat, Ningrum sang ibu kandung, dan Aria pun mendapat porsi penceritaan cukup banyak. Asroruddin merasa perlu menuturkan kisah orang-orang tersebut karena memengaruhi hidup Alia di masa lalu, kini dan nanti.
Selipan kisah beberapa orang menjadikan kisah hidup Alia cukup lengkap. Bagi pembaca berpengalaman hal itu juga memberi petunjuk ke mana cerita bergerak. Pembaca yang kurang sabar membaca paragrap demi paragrap, mungkin akan bingung, apalagi jika cara bacanya sekilas-kilas saja.
4. Alur Maju Mundur
Penuturan tokoh-tokoh selain Alia menjadikan alur cerita mundur. Alia masih bayi, Alia balita, serta masa lalu Aria dengan istri dan anaknya. Pembaca harus benar-benar cermat mengikuti cerita agar bisa menangkap sudut pandang siapa yang dipakai untuk bercerita, meski semua penceritaan menggunakan sudut pandang orang ketiga.
5. Detail Pendidikan
Asroruddin cukup detail menjabarkan pendidikan para tokoh serta prosesi perkuliahan Alia. Pembaca mendapat wawasan bagaimana belajar di luar negeri yang cukup kompetitif. Timbul kebanggaan ternyata anak bangsa sebegitu seriusnya berkuliah di negeri orang. Di sisi lain, pembaca tanpa sadar akan membandingkan dengan perkuliahan di Indonesia yang terasa masih tertinggal.
6. Pengetahuan Medis Realistis
Latar belakang Asroruddin sebagai dokter sangat terlihat pada beberapa adegan medis. Satu contohnya pada bab 15, saat kilas balik Aria menangani pasien dua ibu hamil besar. Percakapan Aria dengan dokter jaga sangat realistis, menggunakan status GAP (Gravida: jumlah total kehamilan, Abortus : jumlah keguguran alami, Partus : jumlah persalinan). Ibu Yani 24 tahun G2A1P0 dan Ibu Aisyah 25 tahun G5A3P1. Tahapan pemeriksaan dan tindakan benar-benar sebagaimana realita di lapangan.
Narasi yang detail itu memperlihatkan pengetahuan penulis terkait medis, namun juga berpotensi menimbulkan kebingungan pada pembaca awam karena tidak ada catatan kaki. Penggunaan istilah dan tahapan rinci memang biasa pada film atau drama seri medis. Namun untuk novel, perlu kecermatan penulis agar pembaca tetap bisa menikmati narasi tanpa harus bertanya-tanya, tindakan apa yang sedang dilakukan.
7. Penanganan anak berkebutuhan khusus
Pengasuhan dan perawatan orang tua angkat Alia termasuk ideal bagi anak berkebutuhan khusus. Hasilnya, Alia dapat menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga ke luar negeri. Prosesnya memang tidak instan dan butuh perjuangan. Membaca kisah Alia akan menimbulkan optimisme tersendiri.
Hal itu dapat menjadi rujukan bagi orang tua lainnya, anak berkebutuhan khusus pun bukan tak mungkin tumbuh optimal dan berprestasi. Sayangnya tidak semua orang tua anak spesial seperti Bimo dan Dyah. Tidak sedikit yang lebih buruk dari Ningrum.
8. Peluang Sekuel
Akhir kisah Alia tidak sepenuhnya tertutup. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab sehingga berpeluang lanjut ke sekuel. Misalnya kehidupan Alia setelah berumah tangga. Bagaimana nasib anak-anak di Desibel yang tidak memiliki orang tua sepeduli orang tua angkat Alia. Novel tentang kehidupan orang-orang berkebutuhan khusus masih minim. Asroruddin dapat mengisi kekurangan itu.
Di satu konten video Instagram @bhuanasastra @asroruddinzoechni (16/10/2026), Asroruddin pernah mengungkapkan bahwa kisah Desibel memang tidak murni kisah nyata. Meskipun begitu, orang-orang tuli yang berprestasi itu benar-benar ada. Asroruddin merangkai kisah dari wawancara dan riset serta pengalaman pribadinya sehingga jadilah kisah Alia dalam novel Desibel. Maka dari itu novel Desibel layak menjadi bacaan orang-orang yang butuh motivasi. Mereka yang tengah berjuang dalam keterbatasan. Apabila ada kemauan, pasti ada jalan. Cobaan bagi seorang hamba tidak akan di luar kemampuan dirinya untuk mengahadapi, kan?

Komentar
Posting Komentar