Ada satu pertanyaan sederhana, namun tidak semua pasangan menikah dapat menjawabnya. Pertanyaan itu adalah, “mengapa ingin memiliki anak?” Bagi pasangan yang bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak, pertanyaan itu akan dijawab dengan lancar. Mereka sudah melewati ribuan hari tanpa tangis bayi, tiada canda tawa dengan anak-anak. Mereka menemukan banyak sekali alasan sehingga ingin sekali memiliki anak. Untuk pasangan yang sangat mudah dititipi anak oleh-Nya, pertanyaan mengapa ingin memiliki anak, bisa jadi terbersit pun tidak. Anak seolah hadir begitu saja. Baru saja menikah, beberapa bulan kemudian istri hamil. Setahun kemudian pasangan suami istri telah menjadi orang tua. Beberapa tahun kemudian, anak kedua, ketiga dan seterusnya lahir. Jawaban-jawaban berikut ini mungkin menjadi jawaban sekian orang tua saat mendapat pertanyaan tersebut: Saya ingin menciptakan kembali masa kecil yang indah Ngg…Semacam investasi untuk hari nanti Sebab saya percaya, kita akan m...
Penggunaan AI untuk menulis masih jadi perdebatan di berbagai komunitas. Satu penyebabnya adalah definisi “menulis pakai AI” yang berbeda di kepala banyak orang (yang berdebat itu). Emang gimana seharusnya pakai Ai untuk nulis? Saya pribadi sering menyimak perdebatan tanpa pangkal ujung antar para penulis soal nulis pakai AI. Sebagian penulis menilai, pakai AI itu haram. Kekhawatirannya masuk akal. Pakai AI berarti menghilangkan kreativitas personal dan rasa manusianya. Sebagian penulis lagi menganggap pakai AI untuk membantu proses menulis sah-sah saja. Misalnya untuk riset mencari data. Daripada menggunakan mesin pencari, cari data menggunakan AI jauh lebih efektif dan efisien. Meski tidak bisa menutup mata, ada juga penulis yang minta dibuatkan tulisan dengan prompt tertentu. Saya berada di pihak yang mendukung penggunaan AI secara terbatas. Apalagi beberapa laptop sudah dilengkapi dengan AI juga. Misalnya pada beberapa seri ASUS ExpertBook Ultra. Kita dapat menggunakan AI dalam ber...