Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 30 Juli 2020

Ketika Anak SD Mulai Menggunakan Ponsel Pintar

Anak main ponsel

Awalnya si kecil membawa ponsel pintar saya ke taman di depan rumah. Di sana ada teman-temannya. Usia mereka 8 – 12 tahun. Sebagian sudah punya ponsel sendiri.

Sepulang dari taman ada miscalled. Sejak itu mulailah berdatangan chat dari teman-teman si kecil. Bahkan mereka membuat grup whatsapp. Ukhti Penghuni Surga namanya. Masya Allah... 😃

Saya memperbolehkan si kecil membalas chat teman-temannya. Saya pilih membimbing bukan melarang. Lebih baik si kecil belajar dari saya daripada diajari orang lain yang belum tentu tepat. Namun saya selalu mengingatkan si kecil, chat-nya 5-10 menit saja atau saya pasang alarm sebagai tanda untuk berhenti.

Seringkali saat si kecil chating, saya pantau Whatsapp web. Dia tahu karena kami duduk berdekatan. Dia di sofa, saya menghadap laptop di depannya. Sesekali dia melihat layar laptop apabila saya tersenyum karena membaca chat-nya.  

Seringkali saya menganggap chat dia dan teman-temannya nggak penting. Misalnya janjian main jam berapa atau minta disamperin ke rumah untuk main. Tapi saya menahan mulut ini untuk tidak mengatakan hal itu. Apa yang tidak penting menurut kita, orang dewasa, bisa jadi sangat penting bagi anak kecil.

Satu hal yang saya temukan dari chat anak-anak usia SD tersebut adalah sifat egosentris mereka. Temannya yang sudah kelas 6 pun seringkali belum bisa merasakan berada di posisi orang lain. Minta chat-nya langsung dibalas, marah jika chat-nya lama direspon, berbagi foto saat dia dan keluarganya jalan-jalan yg bisa bikin temannya iri.

Saya tidak bisa memengaruhi anak orang lain secara langsung. Namun lewat si kecil saya berusaha memberikan pengaruh itu. Misalnya saya sering mengatakan, “tolong nanti bilang sama si A, kalau aku ga balas chat kamu itu karena aku lagi ngerjain yang lain. Nggak pegang ponsel aja.” Entah tepat atau tidak cara ini.

Chat anak

Seperti pagi itu, si kecil sudah chat aja, bertanya temannya sudah bangun atau belum. Kemudian ponsel-nya ditinggal aja. Temannya jawab dan minta segera dibalas. Jadilah saya yang membalas chat temannya itu. Saya memberi tahu bahwa si kecil sedang sibuk dengan kata aku.

Saya bukan orang tua yang saklek melarang anak menggunakan ponsel. Saya memilih untuk mendampingi dan membatasi. Meskipun begitu saya sepakat, anak sebaiknya punya ponsel sendiri ketika sudah akil balig. Jika belum baiknya ponsel masih berstatus pinjam dari orang tua.   

Anak yang sudah akil balig sudah mulai bisa berpikir jauh ke depan, mempertimbangkan sebab akibat dan kontrol dirinya lebih baik daripada yang belum akil balig. Hanya saja perkembangan tiap anak kan beda-beda. Orang tua yang sudah memberikan kepemilikan ponsel untuk anak yang belum akil balig mungkin punya pertimbangan sendiri. 

Sumber foto freepik.com

Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Intinya anak2 dalam menggunakan smartphone harus didampingi oleh orangtua, agar mereka tak salah pilih konten yang dibaca dan ditonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kudu didampingi. Nggak bisa dilepas begitu saja. Mereka bisa klik apapun yg manarik tanpa pikir panjang

      Hapus