Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 08 Mei 2020

Menyikapi Orang-orang yang Beribadah dengan Perasaan, Baperan

Pada saat Majelis Uiama Indonesia memberikan fatwa shalat di rumah guna menghambat penyebaran wabah corona, sejumlah orang mengerutu. “Ke Masjid dilarang, giliran pasar dan mall tetap dibiarkan buka.”

Saya juga mendapat ujaran serupa dengan redaksi kalimat yang berbeda. Namun intinya sama: menyayangkan anjuran shalat di rumah saja daripada di masjid serta membandingkan masjid dengan pasar dan mall. Sepintas lalu, mungkin kita terpengaruh dengan ujaran tersebut. Mendadak baperan dan ikut mempertanyakan fatwa MUI tersebut.

Padahal menurut Misbahul Huda dalam satu video Inspirasi Spirit Ramadhan untuk Syaamil Group, sikap menolak shalat di rumah dan membandingkan masjid dengan pasar atau mall merupakan contoh ibadah dengan perasaan, bukan dengan ilmu. Beribadah dengan perasaan di masa pendemi corona dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, sebab hanya menggunakan persepsi pribadi.

MUI memberikan fatwa tentu sudah mempertimbangkan banyak hal dengan berbagai ilmu. Berdasarkan ilmu fikih misalnya. Ustaz Muhammad Azizan Lc dalam publikasi Republika.co.id (29/3/2020) menjelaskan bahwa menolak mafsadah atau kerusakan itu lebih utama daripada mengambil maslahat. Pahala shalat berjamaah di masjid sangat besar, namun keburukan yang dapat ditimbulkan akibat shalat berjamaah di masa pandemi bisa jauh lebih besar.
Kabar baiknya, pahala yang kita peroleh dengan shalat di rumah bisa tetap setara berjama’ah di masjid. Hal ini merujuk pada hadis berikut.
Telah bercerita kepada kami Mathar bin al-Fadhl telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah bercerita kepada kami 'al-'Awwam telah bercerita kepada kami Ibrahim Abu Isma'il as-Saksakiy berkata; Aku mendengar Abu Burdah pernah bersama dengan Yazid bin Abi Kabsyah dalam suatu perjalanan di mana Yazid tetap berpuasa dalam safar, lalu Abu Burdah berkata; "Aku sering mendengar berkali-kali Abu Musa berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Jika seorang hamba sakit atau bepergian (lalu beramal) ditulis baginya (pahala) seperti ketika dia beramal sebagai muqim dan dalam keadaan sehat." (HR Bukhari)
Ahli medis telah menyampaikan bahwa hanya 15% saja penderita covid19 yang menampakkan gejala. Lainnya tidak menyadari sudah terjangkit corona virus. Apabila dia shalat di masjid, potensi penularan pada orang lain sangat tinggi. Maka dari itu, menahan diri tidak beribadah ke masjid itu sama dengan menjaga nyawa muslim lainnya dari kenatian akibat corona virus.

Hal ini mengacu kepada Firman Allah dalam al-Maidah ayat 32: 
"Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya."
Mengikuti perasaan yang bisa membahayakan diri dan orang lain tentu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Utamakan ilmu untuk mengutamakan keputusan demi kebaikan bersama bukan rasa enak-tak enak di hati.

Selain itu membandingkan masjid dan pasar atau mal tidak setara. Masjid dicintai Allah sedangkan pasar dibenci-Nya. Hal itu tersurat dalam sabda Rasulullah.
Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid – masjid. Adapun tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar. (HR. Muslim)
Melaksanakan shalat pun sebenarnya bisa di mana saja. Asalkan suci sebagaimana hadis Rasulullah.
“Seluruh bumi telah dijadikan tempat sujud (masjid) untukku, dan sarana bersuci.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Tempat shalat banyak alternatifnya. Pasar atau mall bisa digantikan oleh marketplace online, namun belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat secara cepat.

Saya pribadi cenderung mengabaikan orang yang nyinyir sekadar mengikuti perasaannya saja. Apalagi nyinyir dengan menunjukkan kedangkalan ilmu. Doakan saja orang seperti itu, semoga Allah memberinya hidayah sehingga tidak sekalu baperan. 

Sumber gambar: Freepik.com/H9images
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Hmm, bener nih. Kadang perlu dilihat dulu banyak manfaat dan mudharatnya. Untuk satu kasus ini saya setuju agar masjid ditutup.

    BalasHapus
  2. Terkadang nyinyiran itu bisa keluar dari orang yang ketika sudah dibolehkan beribadah ke mesjid, ia akhirnya tidak ke mesjid juga. Memang di saat sulit seperti ini kita sebaiknya mengikuti anjuran umara dan ulama.

    BalasHapus