Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 08 Mei 2020

Mensyukuri Potongan Gaji Ternyata Luar Biasa Dampaknya


Seorang teman memberikan kabar tidak gembira di tengah pandemi corona. Dia bersama ratusan karyawan lainnya di satu penerbitan buku mengalami PHK. Ya, pemutusan hubungan kerja.

Dia kehilangan pekerjaan. Padahal posisinya cukup tinggi. Seorang manajer yang turut berperan dalam pemasukan perusahaannya. Sayangnya sebagian besar toko buku tutup. Sementara itu penjualan secara daring (on-line) masih trial and error. Di masa pandemi, kecenderungan masyarakat mengutamakan kebutuhan pokok daripada belanja buku. Angka penjualan terjun bebas. PHK menjadi langkah penyelamatan perusahaan.

Berbagai perusahaan sejenis dan perusahaan pada umumnya mengambil langkah win-win solution daripada PHK. Gaji seluruh karyawan dipotong. Besar potongan sesuai jabatan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula potongannya. Saya pun mengalami pemotongan gaji mulai akhir April 2020.

Awalnya saya shock. Merasa khawatir tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan. Terlebih pada saat Ramadan dan lebaran, pengeluaran biasanya lebih besar daripada bulan-bulan biasa.

Kemudian saya teringat, sebelumnya gaji saya juga sempat dipotong sekian juta untuk pembelian beberapa paket buku selama 6 bulan. Bahkan pemotongan itu berbarengan dengan potongan uang pangkal sekolah si kecil selama 10 bulan. Saya sekeluarga baik-baik melewati masa-masa potongan tersebut.
Satu nasihat Misbahul Huda dalam video Inspirasi Spirit Ramadhan 5 tentang syukur (Life Excellence) mengingatkan saya untuk mensyukuri saja keadaan ini. Syukur dalam kondisi yang tidak menyenangkan dapat menjadi sarana untuk meraih keberkahan. Allah tetap akan mencukupi kebutuhan saya.

Itulah yang terjadi.

Sebelum masa pandemi corona virus, keluarga saya cenderung makan sendiri-sendiri di luar rumah. Hanya sarapan saja kami membuat sendiri. Apabila dijumlahkan, bisa lebih dari Rp100.000 untuk sehari saja.
Pada masa pandemi ini, kami selalu masak sendiri mulai dari sarapan sampai makan malam. Untuk membeli bahan-bahan makanan Rp100.000 bisa cukup untuk 2 hari. Sebab kami membeli sayur dan lauk-pauk cukup banyak. Inilah cara Allah mencukupi kebutuhan kami, padahal gaji sudah kena potongan.

Anak juga jadi jarang jajan karena sekolah dan bermain di rumah saja. Kami tidak lagi makan di restoran yang kerap membuat bengkak pengeluaran. Pada bulan Ramadan, makanan kecil pun kami buat sendiri. Kegiatan yang jarang sekali terjadi sebelum masa pandemi.

“Selalu positif menghargai, menikmati keadaan. Itulah syukur dalam arti yang sebenarnya,” kalimat Misbahul Huda kembali bergema.

Beliau menyarankan agar kita selalu mengembangkan sikap positif. Sikap positif perlu dikembangkan sehingga kita mampu melihat peluang di antara banyak masalah dan kesulitan. Mampu melihat celah, kesempatan dan tantagan.

Sikap positif juga menjadikan kita huznuuzon, berbaik sangka kepada Allah.Sikap berbaik sangka ini akan menjadi jalan terkabulnya doa. Sebab kalau kita tidak berprasangka baik kepada Allah, doa kita sulit menembus langit.

“Sikap syukur, positif kepada Allah, positif kepada lingkungan, positif dengan apapun yang kita dapatkan kelak mendorong kita menjafi manusia excelent,” nasihat Misbahul Huda.

Saya jadi ingat juga saran Pak Benny, direktur Sygma Daya Insani. “Niatkan potongan gaji itu sebagai sedekah. Insya Allah berkah.”

Ya, saya sekeluarga memang jarang sedekah dalam jumlah besar. Inilah saatnya. Semoga berkah melingkupi kami, juga melingkupi teman-teman yang bersabar serta positif memandang permasalahan yang tengah dihadapi. 

Sumber foto: Freepik.com 

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar