Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 12 Agustus 2019

Lama Tidak Terdengar, Begini Nasib Penerbit Syaamil Saat Ini



Pecinta buku fiksi islami mungkin cukup akrab dengan nama Penerbit Syaamil. Ketika Mas Gagah Pergi, Pingkan, Pesantren Impian merupakan sebagian buku fiksi islami Syaamil yang sangat populer pada awal tahun 2000. Namun cobalah cari buku terbitan Syaamil saat ini di toko buku. Kemungkinan besar bukan buku yang akan kamu temukan, melainkan Al Quran, Syaamil Quran.

Buku-buku Syaamil

Sekitar tahun 1999, saya mengenal Penerbit Syaamil melalui beragam buku kumpulan cerpen dan novel islami yang dipasarkannya. Buku-buku Syaamil sering dijual pada bazar acara-acara kampus Universitas Sriwijaya (Unsri), juga di beranda-beranda musala fakultas saat jam istirahat. Hal itu menarik perhatian saya, karena di Toko Buku Gramedia Palembang, buku terbitan Syaamil masih belum tersedia.

Harga buku Syaamil masih belasan ribu saat itu, namun masih mahal untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya. Catat saja, di awal era reformasi itu, Rp1.000 sudah bisa makan dengan nasi-sayur-tempe-tahu. Jadi uang belasan ribu itu bisa untuk makan anak kos selama seminggu.

Saya rela menebalkan muka, numpang baca di teras musala fakultas teknik kala ada bazar atau lapak buku mahasiswa. Malu sebenarnya. Namun hasrat baca saya lebih besar daripada rasa malu. Apalagi jika empunya lapak sesama mahasisiwa teknik. Rasa malu itu bisa dienyahkan jauh-jauh.
Logo FLP (versi lama) yang tersemat di belakang buku terbitan Syaamil
Buku-buku Syaamil turut mengantarkan saya menjadi anggota Forum Lingkar Pena pada tahun 2000. Saya penasaran dengan organisasi penulis yang logonya kerap tercetak pada bagian belakang buku Syaamil. Tahun 2001 saya sudah tercatat sebagai anggota FLP Sumatera Selatan. Juni 2002 cerpen saya masuk ke dalam buku kumpulan cerpen FLP Sumatera Selatan, Kucing Tiga Warna yang diterbitkan oleh Syaamil. Syaamil bisa dikatakan turut mengantar saya masuk ke dunia perbukuan.

Melupakan Syaamil

Kunjungan pertama saya ke kantor Penerbit Syaamil sekitar pertengahan 2004. Surprise, sebab lokasi kantor Syaamil di Jalan Cikutra 99, dekat SMA 10 Bandung. Saya sempat bersekolah di SMA 10 Bandung selama 1 tahun, sebelum kembali bermukim di Palembang. Seolah CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali), menemukan kantor Syaamil di jalan yang sering saya lewati saat sekolah dulu.

Setahun kemudian saya bermukim di Depok yang lokasinya cuma selemparan batu dengan Kota Jakarta. Saya mulai mengenal banyak penerbit selain Syaamil. Buku-buku Syaamil sedikit terlupakan.

Beberapa penerbit juga mulai dikenal dengan fiksi islaminya. Misalnya penerbit Republika yang mendadak top karena menerbitkan novel Ayat-ayat Cinta. Sayangnya, novel karya Kang Abik itu saya rasakan sebagai puncak keemasan buku fiksi islami. Setelah itu, fiksi islami mulai mengalami kejenuhan. Banyak buku fiksi islami beredar namun menawarkan kisah yang kurang lebih sama. Buku-buku Syaamil pun sepertinya begitu.

Kabar tidak sedap kemudian saya dengar tentang Penerbit Syaamil. Penerbit buku islami itu bangkrut. Beberapa teman sesama penggiat FLP memberikan kesaksian tentang kebangkrutan Syaamil. Saya turut prihatin, seperti mendapat kabar seorang sahabat yang mengalami musibah yang sangat hebat.  

Bertahun-tahun kemudian fakta kebangkrutan Penerbit Syaamil itu saya temukan di buku Kepemimpinan Jalan Langit (KMO, 2018). Pendiri Syaamil, Riza Zacharias menceritakan kisah pahit jatuhnya Syaamil dalam buku setebal 274 halaman. Pada tahun 2007 itu, Syaamil direkomendasikan untuk menjual semua asetnya, mulai dari pabrik, mesin, seluruh barang, dan PHK seluruh karyawan. Ada sekitar 89 orang karyawan yang harus segera dirumahkan. Malang niat nasibmu Syaamil.
    

Syaamil menjadi Sygma

Tanpa banyak orang tahu, setelah dinyatakan bangkrut Syaamil bermetamorfosis. Perbaikan dilakukan pada setiap sisi bisnis. Pada aspek keuangan misalnya, tidak boleh ada lagi praktik riba dengan bank dan lembaga keuangan lainnya. Para pemilik bersepakat mengetuk pintu langit dengan fokus pada syiar Al Quran. Nama Syaamil tetap dipertahankan menjadi brand Al Quran sedangkan nama perusahaan berubah menjadi Sygma Grup.

Disebut grup, karena berbeda dengan PT Syaamil Cipta Media, Sygma terdiri dari beberapa perusahaan. PT Sygma Examedia Arkaleema yang fokus pada bisnis penerbitan (selanjutnya hanya memasarkan Al Quran dan buku saja), PT Sygma Exagrafika yang menangani percetakan. PT Sygma Daya Insani yang melakukan penjualan buku-buku premium secara langsung (direct selling), serta PT Sygma Media Inovasi yang membuat produk atau konten untuk seluruh perusahaan Sygma Grup.

Tahun 2010 - 2012, terjadi pertumbuhan yang luar biasa pada Sygma Grup. Al Quran Hijaz Terjemah per Kata menjadi produk yang fenomenal, menghebohkan pasar penerbitan Al Quran di Indonesia bahkan Malaysia. Satu kali cetak saja Al Quran Hijaz per Kata dapat mencapai 600.000 eksemplar. Produk lainnya yang menjadi trend adalah Al Quran Miracle The Refference. Al Quran dengan fitur beragam itu dapat dibunyikan dengan electronic pen juga. Harga bundling dengan e-pen lebih dari Rp1juta namun laris manis.
Peragaan membunyikan produk My First Al Quran (Maifa)
Satu varian Al Quran yang juga fenomanal adalah Syaamil Quran Tikrar. Sebelum peluncuran Syaamil Quran Tikrar di panggung utama Bandung Islamic Book Fair 2015, sudah banyak Al Quran hafalan yang beredar. Namun Syaamil Quran Tikrar hadir dengan metode berbeda. Tagline-nya pun menarik: hafal tanpa menghafal. Orang yang ingin menghafal Al Quran cukup mengulang-ulang bacaan saja. Hal ini menjadikan proses menghafal Al Quran terasa mudah. Strategi pemasaran dan marketing comunication yang mudah dicerna masyarakat, dibarengi pelatihan Tikrar di berbagai wilayah Indonesia menjadikan Syaamil Quran Tikrar populer. Syaamil Quran Tikrar menjadi trendsetter pada kategori mushaf hafalan sampai hari ini.
Syaamil Quran Tikrar, siapa saja dapat menghafal Al Qur'an tanpa menghafal
Sejak 2013, Syaamil Quran menjadi sponsor penyelenggaraan ajang Hafiz Indonesia di RCTI tiap bulan Ramadhan. Qori Indonesia 2019, Peluncuran komunitas ODOJ, Jabar Mengaji Bersama ODOJ, merupakan ajang terkait Al Quran lainnya yang didukung oleh Syaamil. Di Radio MQ FM Bandung pun Syaamil terlibat dalam program Yang Muda Yang Menginspirasi dan Pagi Mengaji.

Membumikan Al Quran

Pada 2019, Sygma Grup mengembangkan diri menjadi Syaamil Grup dengan visi menjadi perusahaan yang terdepan dalam membumikan Al Quran dan menghidupkan sirah.  Syaamil Grup terdiri dari 12 perusahaan yang saling mendukung usahanya satu sama lain. Misalnya saja Tourizy Tour & Travel yang berada di bawah naungan PT. Lintas Semesta Insani. Tourizy menyelenggarakan paket perjalanan wisata untuk Sygma Learning Consultant, orang-orang yang mesyiarkan dan memasarkan buku-buku Sygma Daya Insani secara direct selling.  

Berbagai program dijalankan dalam rangka menerapkan visi membumikan Al Quran. Program Rumah Syaamil Quran, Wakaf 1 juta Al Quran, program Semua Bisa Ngaji dengan tagline ‘Kampung Bebas Buta Huruf Al Quran dan Wisata Quran adalah sebagian di antaranya. Program Wisata Quran sudah berjalan sejak 2013, diresmikan oleh Ridwan kamil saat masih menjadi Walikota Bandung.

Syaamil pun berusaha memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar yang paling dekat. Senin, 12 Agustus 2019, Syaamil Group bekerja sama dan bersinergi dengan pemerintah kecamatan Kiaracondong dan warganya dalam program Kampung Wisata Quran. Kerja sama itu terdorong oleh kesamaan visi dan program unggulan kecamatan Kiaracondong yaitu NGAHIJI, GEULIS, WISATA, SEJAHTERA, JUARA, dan AGAMIS.
Peluncuran Kampung Wisata Al Quran
Pemerintah kecamatan mulai menata dan membenahi area sekitar perkantoran Syaamil Grup. Satu dari sekian pembenahan dan penataan itu di area jembatan layang Kiaracondong, jalan masuk menuju perkantoran Syaamil Grup. Misalnya penataan pedagang kaki lima agar lebih rapi dan sedap dipandang mata.
Wakil Walikota Bandung, H. Yana Mulyana menandatangani peresmian Kampung Wisata Al Qur'an
Camat Kiaracondong satu visi dengan Syaamil Grup
Peresmian Kampung Wisata Quran dilakukan oleh Wakil Walikota bandung H. Yana Mulyana, S.E., dan Camat Kiaracondong Dra. Rina Dewi Yanti M.Si serta Riza Zacharias selaku Presiden Direktur Syaamil Group. Riza Zacharias pun memandu para tamunya berkeliling percetakan, melihat langsung bagaimana Al Quran dicetak dari awal sampai siap distribusi.  
Satu rangkaian Wisata Qur'an, factory visit
Syaamil Group kini dibandingkan dengan Syaamil Cipta Media yang menerbitkan buku dahulu memang jauh berbeda. Banyak pihak, termasuk saya menyayangkan Syaamil zaman now yang jarang menerbitkan buku-buku fiksi lagi. Namun bukan tidak mungkin buku-buku fiksi hadir kembali dari tangan-tangan kreatif Syaamil Grup. Saya merasa fiksi Islam masih sangat dibutuhkan, khususnya oleh anak-anak generasi Alpa. Saya akan mencoba mewujudkannya karena saya sudah menjadi bagian pengembangan konten di Syaamil Grup sejak lima tahun yang lalu.  


Ditulis berdasarkan data dari Apud Saefudin, Marketing & Communication GM Syaamil Grup.

,
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Wah, baru tahu lho Syaamil bangkrut dan berubah jadi Sygma Grup. Aku marketing buku paket Sygma..duh sayangnya pas anak-anak studi tur ke Bandung September ngga jadi wisata Qur'an hiks

    BalasHapus
  2. Saya kenal si Syaamil ya dari cetakan lama buku Ketika Mas Gagah Pergi, sedangkan saat itu masih belum mudah berselancar internet seperti sekarang. Apalagi saat pertama kali baca novel itu, Syaamil sudah tidak ada, tahun 2010-an sepertinya. Rupanya Syaamil yang sekarang itu adalah Syaamil yang dulu itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekarang brand Quran Syaamil yang dikenal

      Hapus
  3. Alhamdulillah, aku bersyukur masa mudaku ditemani buku-buku dari Syamil.. Semoga kembali jaya sampai seterusnya

    BalasHapus
  4. kampung wisata quran, nampaknya menarik nih pak buat dikunjungi. Apalagi ini gerakan dari syamil yang sempat menghilang kabarnya

    BalasHapus
  5. Terharu sekali baca artikel ini... Luar biasa memang sumbangan Syaamil untuk literasi di Indonesia,khususnya genre sastra Islami. FLP nggak boleh melupakan penerbit yang satu ini.

    BalasHapus
  6. Wah.... Menginspirasi..

    Jatuh bukan berarti lumpuh... Sakit bukan berarti tidak bisa bangkit...

    Dengan usaha yg keras, Insyaallah akan sukses.

    Terakhir, kami tunggu buku fiksi islami terbitan syamil.

    Semoga lebih fenomenal dr aac

    BalasHapus