Menulis, Buku, Kehidupan

Rabu, 19 Juni 2019

Pakaian Hijau dan Orang Sunda Jadi Incaran Nyi Roro Kidul di Pangandaran, Benarkah?


Senang rasanya, saat pertama kali berwisata ke Pangandaran. Pertengahan tahun 1995, dalam rangka perpisahan SMP. Sebagai pendatang yang baru dua tahun menetap di Bandung, menjelajahi Jawa Barat merupakan kegiatan mengasyikkan.

Saya dan orang tua tidak tahu banyak tentang Pangandaran. Di masa itu, belum ada internet kayak zaman now. Andalan informasi cenderung dari televisi, radio, dan koran. Jadi mudah saja orang tua memberikan izin berangkat ke Pangandaran. Apalagi wisatanya pergi-pulang tanpa menginap. Cuma orang tua mengingatkan jangan pakai baju hijau.

Mitos Seram Pangandaran

Teman-teman sekelas juga berpesan, “jangan pake baju hijau!” Alasannya warna hijau itu kesukaan Nyi Roro Kidul. Bisa diambil sama penguasa Laut Selatan itu. Saya percaya nggak percaya, ya menurut saja.

Selain itu katanya, orang asli Sunda harus hati-hati, Nyi Roro Kidul punya dendam terhadap raja Padjajaran. Konon sebelum bersemayam di laut selatan, Nyi Roro Kidul adalah istri raja Padjajaran. Namun intrik kerajaan membuatnya dibuang ke laut selatan.

Saya agak khawatir juga, sebab masih ada darah Sunda juga di tubuh saya, dari garis keturunan ayah. Nenek berasal dari Bogor. Bogor masih wilyah Sunda juga, kan? Namun teman-teman saya yang mayoritas orang Sunda tenang-tenang saja. Termasuk para guru. Jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan mitos itu.  

Berangkat pagi dari Bandung, kami tiba di Pangandaran siang menjelang sore. Tidak banyak pilihan wisata selain bermain di pantai dan berperahu menikmati keindahan taman bawah laut. Keindahan terbenamnya matahari pun sempat kami nikmati. Belasan tahun kemudian saya baru tahu, Pangandaran memiliki cukup banyak pantai dan tempat wisata. Kunjungan wisata saat itu baru secuil dari sekian banyak objek wisata di Pangandaran.

Tidak ada kejadian aneh atau luar biasa selama berwisata. Saya dan teman-teman cukup menikmati perjalanan. Guru-guru merasa berhasil membimbing murid-muridnya. Tengah malam, kami sudah sampai di Bandung lagi. Satu album foto jadi pengingat masa-masa itu. Tahun kedua SMA, saya kembali meneruskan bersekolah di Palembang, juga perguruan tinggi. Tidak terpikir kapan bisa kembali ke Bandung atau Pangandaran.

Larangan Pakaian Hijau Itu Benar

Lebih dari dua puluh tahun kemudian saya baru berkesempatan kembali mengunjungi Pangandaran. Kali kedua bersama istri dan yang ketiga kalinya mengikuti rombongan tur jelajah wisata Jawa Barat. Objek wisata itu tetap saja ramai meskipun beragam mitos berhembus. Namun di era digital kita dapat memeriksa kebenarannya.

Pakaian hijau memang sebaiknya tidak dipakai saat berwisata ke pantai. Kantor Berita Antara melansir penjelasan dari Widodo Pranowo, peneliti madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti yang dipublikasikan Pikiran Rakyat (13/6/2019). Warna hijau menyatu dengan warna air laut, sehingga orang yang mengenakannya sulit ditemukan. Warna cerah semisal jingga atau merah muda merupakan warna terbaik untuk wisata ke pantai.

Selain itu, alam Pangandaran masih alami. Berbagai pepohonan dan tanaman hijau tumbuh subur di berbagai objek wisata Pangandaran. Misalnya Cagar Alam Pananjung yang memiliki koleksi Raflesia Padma. Orang berpakaian hijau di antara alam yang hijau tentu akan tersamar sehingga sulit dicari, kan? Masuk akal apabila kita sebaiknya tidak memakai pakaian hijau saat berada di Pangandaran.   

Sosok Sebenarnya Nyi Roro Kidul

Sejak kecil saya dekat dengan dunia klenik. Kerabat kakek menjalankan praktik pengobatan tradisional dengan memanggil arwah yang bisa mendiagnosa penyakit. Arwah tersebut dipanggil Kya'i. Resep obat darinya ditulis dengan huruf Arab. Saat SMA saya baru menyadari, praktik pengobatan tersebut bekerja sama dengan jin. Saya ogah diajak ke sana lagi, dan orang tua pun mulai sadar, berobat di sana itu bisa terjerumus ke dalam praktik syirik. 

Nyi Roro Kidul pun tak lain perwujudan jin. Mengutip pendapat Ustadz Ammi Nur Baits di Konsultasisyariah publikasi (7/1/ 2013). Nyi Roro Kidul merupakan wujud jin yang mungkin pernah dilihat seseorang, kemudian digambar dan dinamakan Nyi Roro Kidul. Sosoknya berupa wanita cantik berpakaian hijau hanya jelmaan jin saja. Bisa jadi yang menjelma seperti ratu kidul  tidak hanya satu jin tapi banyak jin.
Nyi Roro Kidul dalam imajinasi pelukis Sumber Bombastis

Selain jelmaan jin, mungkin juga orang yang melaporkan hanya berhalusinasi. Orang-orang dan media membesar-besarkan ceritanya. Membumbui dengan kisah ini itu sehingga membuat orang penasaran. Kisah klenik selalu menarik perhatian dan bikin penasaran, kan?

Tidak usah pusingkan kisah Nyi Roro Kidul. Namun jangan pula sampai sombong, menantang atau semacamnya. Berlindung saja pada Allah saat hendak berwisata ke Pangandaran. Itulah yang saya lakukan saat kembali ke Pangandaran dan takjub, Pangandaran sudah menjelma jadi kota kecil yang ramai.

Goes to Pangandaran

Berbagai penginapan murah di Pangandaran dapat menjadi pilihan. Sebab aneka objek wisata Pangandaran tidak mungkin didatangi tanpa menginap. Bayangkan saja, pantai Pangandaran saja ada pantai barat dan timur. Belum Pantai Karang Nini, Pantai Batu Hiu, Pantai Batu Karas, dan lainnya.

Saya sering melakukan survey secara on-line dahulu guna menetapkan di mana saya akan menginap. Saya memang bukan tipe orang yang go show, apa yang terjadi di lokasi terjadilah! Saya suka melakukan persiapan. Hotel di Pangandaran mudah dicermati melalui situs Pegipegi.com. Berbagai hotel ada di sana. Di bawah ini merupakan satu hotel yang pernah saya gunakan bersama teman-teman saat tur tahun 2016.
Penginapan di Pangandaran dengan fasilitas kolam renang

Penginapan di Pangandaran yg cukup menyenangkan

Penginapan di Pangandaran dengan kamar untuk 4 orang

Hotel Pegipegi bisa dipilih berdasarkan kebutuhan kita. Pilihan dapat disaring berdasakan tipe hotel, area atau letak hotel, dan fitur hotel. Ranking berdasarkan rekomendasi dari Pegipegi, harga terendah atau tertinggi dan penilaian pengunjung bisa menjadi pertimbangan kita juga. Nggak bakal sengsara seperti saya dan istri yang dulu harus datang ke penginapan satu persatu.

Sekarang pergi ke Pangandaran semakin mudah karena tersedia kereta api jurusan Pangandaran. Perjalanan yang nyaman bisa dilakukan mulai dari Stasiun Gambir, Jakarta. Enaknya lagi, tiket kerata juga bisa dipesan melalui Pegipegi. Dalam waktu dekat, sepertinya saya akan berangkat ke Pangandaran lagi menjajal kereta Pandaran yang belum lama beroperasi. Tidak pakai baju hijau tentu saja.

Foto:Dokumen pribadi


Comments
12 Comments

12 komentar:

  1. Wah baru tau kalo ke Pangandaran bisa naik kereta. Dari Bandung ada Kang?

    BalasHapus
  2. Berbaju hijau tidak dianjurkan, karena takut ketika ada ombak besar dan yang bersangkutan terbawa arus. Maka tim SAR akan kesulitan menemukan tubuh korban, karena warna hijau mirip dengan warna karang dilautan...

    BalasHapus
  3. Iya ini mitos banget sejak zaman aku belum lahir sudah beredar di masyarakat Garut dan sekitarnya. Orang Garut kalau liburan abis lebaran dulu, berwisatanya selain ke Pameungpeuk ya ke Pangandaran.

    BalasHapus
  4. Ternyata mitos bisa dijelaskan dengan fakta ilmiah ya. Apapun itu, ketika ke tempat baru baiknya kita mengucapkan doa. Atau berdoa sebelum memulai perjalanan.

    Wisata di Pangandaran layak untuk dicoba bagi yang berkesempatan ke Jawa Barat.

    BalasHapus
  5. jangan begitu dong, aku kan penyuka warna hijau. jadi takut buat ke sana deh, tapi kalo ke penginapan itu ga apa kali yah, kayaknya nyaman , tapi entah di kantong

    BalasHapus
  6. Benar bgt ini. Tak usah berlebihan menyangkut hal mistis. Apalagi jk ada penjelasan ilmiahnya seperti larangan menggunakan baju hijau itu, karena logis jd perlu juga utk ditururmti.

    BalasHapus
  7. Perkembangan teknologi benar2 memudahkan kita ya. Tinggal buka gawai, klik-klik-klik, langsung bisa jalan2 deh. Asik!

    BalasHapus
  8. Lihat foto Nyi Roro kidul kok hawanya gimana gitu ya. Serem aja heuheu saya belum pernah main di pantai Pangandaran, kayaknya sih bakalan gak tertarik main dan menginap di sini heuheu saya mah gitu. Penakut.

    BalasHapus
  9. ternyata hampir di semua tempat wisata itu ada larangannya ya mas? tapi sampai sejauh ini, jalan2 ke mana pun saya selalu mengabaikan hal2 yg berbau mistis. wkwkw

    BalasHapus
  10. Kemarin mau ikut ke Pangandaran dengan keluarga besar tapi tahu-tahu ada gempa,lumayan juga jaraknya dari Bogor..hijau dan merah ya kayaknya ngga boleh dipakai dipantai selatan..Wallahu alam

    BalasHapus
  11. Larangan atau pamali sebenarnya bukan berkaitan dengan hal-hal yang mistis atau takhayul tetapi pasti ada alasan logisnya. Akan tetapi orang tua dahulu secara praktis menjelaskan mengapa dilarang dengan hal-hal yang mistis. 'Biar cepet'

    BalasHapus
  12. Terkadang larangan orang2 tua dulu ada yang masuk akal juga, walau terkesan mistis hehehe

    BalasHapus