Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 22 Februari 2019

8 Kekecewaan Ketika Berjumpa Peri dan Kurcaci di Fairy Garden Lembang Bandung

Sosok peri dan kurcaci sering kita temukan di dalam buku cerita dongeng. Peri makhluk mungil bersayap, kurcaci bertubuh cebol dan lucu. 

TheLodge group berusaha mewujudkan imajinasi tentang peri dan kurcaci itu di kawasan Maribaya, Lembang, Bandung Barat. Fairy Garden nama tempatnya.

Saya dan keluarga coba ke Fairy Garden karena penasaran. Kabarnya sudah dibuka sejak akhir tahun 2018. Sayangnya ada 8 kekecewaan yang saya rasakan saat pergi ke sana. Berikut kekecewaan yang harus saya ceritakan meskipun terasa berat.

1. Kecewa dengan acara ban sepeda motor kempes.

Saya, istri dan anak yang berusia 6 tahun mengendarai sepeda motor dari Ciwastra. Kami bekendara menuju lokasi Fairy Garden dengan bermodalkan petunjuk peta Google Map. Jalur yang kami tempuh melalui Dago, Punclut, sampai akhirnya sampai di Lembang. Bagi yang tahu jalan, pasti bisa membayangkan bagaimana kami naik turun bukit, kan?

Saat masih di Ciwastra, ban sepeda motor kempes lagi. Butuh satu jam untuk mengganti ban dalam sepeda motor, karena si tukang tambal ban kehabisan persediaan ban dalam. Jadi harus mengambil ban dalam di kios rekannya dulu.  


Di Lembang, kami melihat beberapa angkot wara-wiri menuju Maribaya. Menumpang angkot bisa juga rupanya. Cuma harus dipikirkan bagaimana pulangnya. Nego dengan supir angkot dulu.

2. Kecewa tidak membawa banyak anak-anak.

Lokasi Fairy Garden tepat berada di depan The Lodge Maribaya. Dua tempat rekreasi ini ceritanya masih satu grup. Fairy Garden berada di sebelah kiri, sedangkan The Lodge di sebelah kanan.
Kastil tampak depan
Begitu tiba, langsung terlihat kastil megah yang mirip dengan kastil di cerita dongeng. Si kecil sangat antusian melihatnya. Duh, kalau mengajak keponakan-keponakan yang masih balita, TK, dan SD ke sini, tentu mereka senang sekali. Sayangnya kami datang bertiga saja. Mungkin lain waktu bisa ajak keluarga besar ke Fairy Garden.   

3. Kecewa tidak suka difoto

Ada sekitar 15 wahana dan spot untuk berfoto di Fairy Garden. Mulai dari depan kastil sampai ke woodland. Kastil sebenarnya kantor manajemen Fairy Garden serta restoran. Nah di dalam kastil ini juga ada penyewaan sayap peri. Ada fotografer juga yang siap dengan kameranya apabila kita ingin difoto. File fotonya bisa langsung diminta untuk di-print sendiri atau dibagikan ke media sosial. Foto hasil bidikan fotografer profesional tentu lebih bagus daripada selfie sendiri dengan berbagai keterbatasan. Sayangnya saya nggak suka difoto, jadi saya fotoin anak dan istri saja.  
Peta Fairy Garden

4. Kecewa tidak membawa banyak uang

Kami berkunjung ke Fairy Garden pada Sabtu (16/2/2019). Waktu itu, sedang ada kegiatan Flower Shows dan Farmers Market. Kegiatan itu bertujuan untuk memberdayakan petani yang tinggal di Cibodas, sekitar Fairy Garden  sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tumbuhan pada anak-anak yang berkunjung.
Fresh Market
Saya amati, sayurannya bersih, dikemas dengan plastik wrap seperti di supermarket. Khusus buah dan sayur dipromosikan pada area woodland dan plaza. Bunga-bunga cantik bisa dibeli pada area Florania. Sayangnya Flower Show & Farmers cuma berlangsung 14-17 Februari 2019 saja. Saya sedang tidak bawa banyak uang di hari itu.  

5. Kecewa tidak mampir ke The Lodge Maribaya

Tiket Fairy Garden cukup terjangkau yaitu Rp 35,000 per orang. Apabila kita ingin lanjut ke The Lodge Maribaya juga, ada tiket terusan Rp 50.000. Jadi hemat Rp20.000. Tapi di Fairy Garden saja si kecil maunya berlama-lama. Ditambah istri yang harus dinas malam nanti. Pukul 14.00 kami harus sudah pulang karena perjalanan pulang bisa 1 – 2 jam. Sayang… sayang sekali….
The Lodge Maribaya

6. Kecewa tidak mencoba semua wahana

Fairy Garden menawarkan 4 tema dunia peri kepada pengunjung, khususnya anak-anak. Keempatnya adalah flower fairy, art fairy, book fairy, serta woodland fairy. Di art fairy ada  Art Factory, tempat anak-anak menggambar ditemani peri bernama Kai. Di Lolas’s Library ada peri bijak, Opa Wil dan sang asisten bernama Clio, si peri tanpa sayap. Ada pertunjukan wayang sejarah Fairy Garden di tenda Lolas’s Library. 
Merangkai bunga bersama Lilian
Opa Wil dan Clio
Menggambar bersama Kai

Woodland menawarkan arena permainan, menunggang kuda, memberi makan kelinci, foto bersama burung hantu, dan menambang emas.

Tiket untuk menggambar di Art Factory, merangkai bunga-bunga di Florania, serta menonton di Lola's Library, masing-masing harganya Rp. 15.000. Namun ada tiket terusan juga untuk tiga tempat itu seharga Rp. 30.000. Sayangnya saya cuma sempat mampir di Lola's Library saja. 
Woodland
Berkuda di Fairy Garden


7. Kecewa karena sudah dewasa
Di Woodland, ada dua kuda poni bernama Ginger dan Orea serta kelinci-kelinci yang bisa diberi makan. Kuda untuk ditunggangi juga ada, tapi bukan Ginger dan Oreo. Tiket untuk memberi makanan kepada kelinci Rp. 15.000. Sementara itu, tiket menungang kuda Rp 25.000.

Area Woodland juga cocok sekali untuk anak-anak agar banyak bergerak. Ada perosotan dari kayu, dan trampolin untuk loncat-loncatan. Untuk bermain di trampolin dikenakan tiket Rp10.000. Begitu juga dengan Bouncy Castle dan komedi putar carousel.
Bouncy Castle

Ada tenda untuk bercocok tanam, menambang emas dan menempa emas menjadi kalung di Woodland. Anak-anak dapat melihat proses penempaan logam menjadi berbagai benda tajam, misalnya pisau dan banyak lagi.


Sayangnya saya sudah dewasa untuk bersuka ria di arena bermain Woodland.  Jadi saya mengawasi si kecil saja yang berlari ke sana ke mari serta naik kuda.

8. Kecewa dengan pertunjukan yang singkat

Pada pukul 11.00 ada pertunjukan kabaret oleh peri-peri, kurcaci  dan magic guardian. Kisahnya tentang kisah-kasih peri dan manusia. Peri-peri dan kurcaci kemudian mengajak semua pengunjung menari bersama. Lalu boleh berfoto bersama peri dan kurcaci.

Sayangnya pertunjukannya sekitar 20 menit saja. Pengennya sih satu jam lebih gitu. Capek kali, ya mereka. Apalagi para peri itu harus beraksi dua kali dalam sehari. Aksi mereka selanjutnya sekitar pukul 14.00 WIB.   
Deretan peri
Biarpun kecewa, tetapi saya tetap senang bisa mengunjungi Fairy Garden. Area seluas 2 hektar itu cukup mewujudkan impain kita tentang dunia peri. Mirip dengan peri dan kurcaci yang kita lihat di buku-buku dongeng. Tapi tokoh peri merupakan karya Anya Madiadipoera dan Sylvia Sutedja serta tim dari Nu Art sculpture space. Bukan asal ngambil dari buku dongeng.

Kabar baiknya, berbagai pengembangan terus dilakukan untuk memuaskan pengunjung. Jadi bolehlah berkunjung beberapa kali dalam setahun, ya.


Sumber foto
Instagram Fairy Garden dan dokumentasi pribadi

,
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. Waaah... ini destinasi wisata baru, ya? atau sudah lama?

    BalasHapus
  2. Wah, menarik juga ya ada peri nya, kostumnya apik..jadi pengen ajak bocah-bocah ke sana..

    BalasHapus
  3. Judulnya provokAtif..haha.. SeteLah baca ini aku juga kecewa.
    Kecewa blm bisa ksana

    BalasHapus
  4. Seperti nonton film live ya

    BalasHapus