Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

Mengingat Kembali Jawaban Pertanyaan Mengapa Ingin Memiliki Anak

Ada satu pertanyaan sederhana, namun tidak semua pasangan menikah dapat menjawabnya. Pertanyaan itu adalah, “mengapa ingin memiliki anak?” Bagi pasangan yang bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak, pertanyaan itu akan dijawab dengan lancar. Mereka sudah melewati ribuan hari tanpa tangis bayi, tiada canda tawa dengan anak-anak. Mereka menemukan banyak sekali alasan sehingga ingin sekali memiliki anak. Untuk pasangan yang sangat mudah dititipi anak oleh-Nya, pertanyaan mengapa ingin memiliki anak, bisa jadi terbersit pun tidak. Anak seolah hadir begitu saja. Baru saja menikah, beberapa bulan kemudian istri hamil. Setahun kemudian pasangan suami istri telah menjadi orang tua. Beberapa tahun kemudian, anak kedua, ketiga dan seterusnya lahir. Jawaban-jawaban berikut ini mungkin menjadi jawaban sekian orang tua saat mendapat pertanyaan tersebut: Saya ingin menciptakan kembali masa kecil yang indah Ngg…Semacam investasi untuk hari nanti Sebab saya percaya, kita akan m

Lomba Menulis, Feature, Opini, dan Berita Berhadiah Total Rp180.000.000

Lomba Karya Tulis berikut ini diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta pada bulan Juli 2016. Lomba Jurnalistik Pendidikan Keluarga Tahun 2016 adalah Lomba Karya Tulis yang dapat diikuti oleh jurnalis media cetak maupun media berita online/portal berita, serta masyarakat umum yang menulis tentang program pendidikan keluarga. Lomba Karya Tulis Jurnaistik Pendidikan Keluarga 2016 ini dibagi menjadi 3 kategori, berdasarkan jenis tulisannya, yakni Feature, Opini, dan Berita. Lomba Jurnalistik Pendidikan Keluarga Kemendikbud 2016 Berhadiah Total 180 Juta Rupiah.
DEADLINE: 7 Juli 2016

Lomba Jurnalistik Pendidikan Keluarga Tahun 2016 diperuntukkan bagi para jurnalis, akademisi, dan masyarakat yang menulis tentang program pendidikan keluarga. Lomba ini diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

PROSEDUR:
1. Peserta mengirimkan tulisan yang telah dimuat di media kepada Panitia Seleksi berupa:
a. Scan/foto tulisan yang telah dimuat di media (file harus dapat terbaca jelas) atau hardcopy tulisan yang telah dimuat di media.
b. Salinan/scan kartu identitas (Kartu Pers/KTP/SIM), dan nomor telepon.
2. Tulisan diterima Panitia paling lambat tanggal 7 Juli 2016 melalui alamat email: lombajurnalistik.keluarga@kemdikbud.go.id atau hardcopy tulisan kepada Panitia Lomba Jurnalistik, Subdit Kemitraan, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Gedung C lantai 13, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta.
3. Cantumkan kategori tulisan dengan huruf KAPITAL dalam subjek email atau amplop surat, diikuti nama lengkap - nama media yang memuat tulisan - tanggal tulisan dimuat. (Contoh: BERITA Arif Budiman TEMPO 4 Maret 2016, FEATURE Doni Setiawan KOMPAS 20 Maret 2016, OPINI Dona Wiyata PIKIRAN RAKYAT 20 April 2016)
4. Bagi peserta yang mengirim softcopy tulisan via email, apabila terpilih sebagai pemenang, wajib menunjukkan tulisan asli yang telah dimuat di media.
5. Pemenang akan diumumkan pada bulan Juli 2016 melalui laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id atau pada Kegiatan Gebyar Pendidikan Keluarga.

KETENTUAN UMUM:
1. Lomba dibagi menjadi 3 kategori, yakni FEATURE, OPINI, dan BERITA.
2. Tulisan harus sesuai dengan tema "Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak"
3. Tulisan asli, bukan plagiat.
4. Tulisan aktual, bernilai, inovatif, dan bermanfaat.
5. Tulisan belum pernah/sedang diikutsertakan dalam lomba/ kompetisi jurnalistik lain.
6. Tulisan diterbitkan di media pada periode 1 Maret 2016 - 30 Juni 2016.
7. Khusus untuk FEATURE, panjang tulisan maksimal 1.200 kata.
8. Lomba dapat diikuti oleh jurnalis media cetak maupun media berita online/portal berita, serta masyarakat umum (guru, pakar, akademisi, penggiat pendidikan, mahasiswa, dll)
9. Setiap peserta dapat mengirimkan tulisan sebanyak- banyaknya.
10. Lomba tidak dapat diikuti oleh PNS Kemdikbud.

HADIAH DAN PENGHARGAAN:
Hadiah dibagi sesuai kategori, yakni:
Kategori FEATURE:
Pemenang I : Rp 15.000.000
Pemenang II : Rp 12.000.000
Pemenang III : Rp 10.000.000
Pemenang Harapan: 8 orang @Rp 4.000.000
Kategori OPINI
Pemenang I : Rp 15.000.000
Pemenang II : Rp 12.000.000
Pemenang III : Rp 10.000.000
Pemenang Harapan: 8 orang @Rp 4.000.000
Kategori Berita
Pemenang I : Rp 8.000.000
Pemenang II : Rp 6.000.000
Pemenang III : Rp 4.000.000
Pemenang Harapan: 8 orang @Rp 3.000.000
Catatan:
Pajak hadiah ditanggung pemenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Masing- masing pemenang juga akan mendapatkan piala dan sertifikat, yang akan diberikan pada Kegiatan Gebyar Pendidikan Keluarga, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Info Lomba lebih lanjut:
Subdit Kemitraan, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga
Gedung C Lantai 13, Kemdikbud
JI. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta
Telepon: 021-5737930


Email: sahabatkeluarga@kemdikbud.go.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Tali Pusar Dibakar, Inilah yang Terjadi pada Jin yang Bersemayam di Dalamnya

Berbagai reaksi dapat terjadi atas aksi pembakaran tali pusar yang direkomendasikan Muhammad Taufik. Sebagaimana yang saya beritakan sebelumnya,  praktisi Seni Menerapi Anak Berkebutuhan Khusus dengan Al Qur'an di Fatih Learning & Consultancy itu merekomendasikan tali pusar yang sudah lama disimpan agar dibakar. Tanpa sadar, tali pusar telah menjadi jimat dan tempat tinggal tinggal jin. Mengapa Tali Pusar yang Sudah Lama Dibakar? Proses pembakaran merupakan cara cepat untuk menghancurkan tali pusar yang sudah terlanjur disimpan. Jika tali pusar anak langsung ditanam begitu ia lahir, bertahun-tahun kemudian pusar  sudah tidak ada lagi atau hancur. Jika tali pusar sempat disimpan lalu hilang, taubat merupakan jalan untuk melepaskan pengaruh tali pusar yang tanpa sadar menjadi jimat itu. Taufik menyarankan agar dibacakan ayat kursi sebelum dibakar. “Sebenarnya nggak harus ayat kursi yang dibaca. Bisa ayat lainnya atau cukup bismillah lalu tiup. Tujuannya agar jin yang

Lomba Penyusunan Cerita Rakyat Kemendikbud 2016

LOMBA PENYUSUNAN CERITA RAKYAT Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan 4 lomba untuk konten (isi) laman Anggun Pendidikan Anak Usia Dini yaitu http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau  http://www.paud.kemdikbud.go.id . Salah satu lomba tersebut adalah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat Tema Lomba Penyusunan Cerita Rakyat Kali ini Lomba Konten Anggun PAUD adalah “Penumbuhan Budi Pekerti Pada Anak Usia Dini” Ketentuan Lomba Penyusunan Cerita Rakyat Cerita rakyat fokus pada pengembangan Nilai Agama dan Moral dan Bahasa. Sasaran pengguna cerita rakyat adalah Guru PAUD, Pengelola PAUD. Cerita rakyat dapat berbentuk; (1)   Fable (cerita binatang) (2)   Legenda (asal-usul terjadinya suatu tempat) (3)   Sage (unsur sebuah sejarah) (4)   Epos (kepahlawanan) (5)   Cerita jenaka. Cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Panjang naskah berada pada kisaran 400 – 600 kata

Contoh Surat Keterangan Siswa dengan NISN

Lomba menulis untuk siswa SD, SMP atau SMA seringkali mensyaratkan surat keterangan dari kepala sekolah, lengkap dengan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). Surat ini untuk menguatkan status siswa di satu sekolah sekaligus sebagai upaya menyadarkan pihak sekolah bahwa ada siswanya yang ingin mengikuti suatu lomba.  Surat Keterangan Siswa Siswa cukup menyampaikan permintaan surat keterangan siswa kepada guru, wali kelas, atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Surat keterangan siswa dibuat oleh bagian administrasi sekolah, ditandatangani kepala sekolah dan dibubuhi cap. Berikut ini merupakan contoh surat keterangan siswa yang belum ditandatangani kepala sekolah dan dibubuhi cap.    Contoh surat keterangan siswa yang belum dibubuhi cap sekolah dan tanda tangan kepala sekolah Nomor Induk Siswa Nasional Nomor Induk Siswa Nasional merupakan nomor identitas unik yang diberikan secara acak kepada setiap siswa di Indonesia oleh Pusat Data Statistik Pendidikan (PDSP),