Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 15 Oktober 2020

Tantangan Orangtua Mendidik Anak Generasi Alfa

 

Kehadiran ponsel pintar dan berbagai aplikasinya serta kemudahan akses internet membawa banyak perubahan dalam masyarakat. Dulu saat saya kecil, televisi menjadi media untuk mendapatkan hiburan semisal film kartun. Kini di rumah saya, kegiatan menonton bukan dari televisi lagi melainkan dari ponsel pintar.

Untuk memahami perubahan perilaku masyarakat, para marketer menggunakan teori generasi XYZ. Di dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha yang ditulis nalis sosial-cum-demograf, Mark McCrindle, setelah generasi Z yang lahir pada pertengahan tahun 1990-an hingga pertengahan tahun 2000-an akan muncul Generasi A alias Generasi Alfa.

Tahun kelahiran generasi A dimulai dari 2010. Generasi Alfa merupakan anak dari generasi Y atau Millenial Generation (kelahiran 1977-1994). Menurut McCrindle, generasi Alfa merupakan generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Sekitar 2,5 juta Generasi Alfa lahir setiap minggu hingga berjumlah sekitar 2 miliar pada 2025.

Sejumlah penelitian dilakukan untuk mengetahui preferensi gaya hidup, politik, dan ekonomi generasi ini kelak. Gunanya untuk menerka bagaimana perputaran dunia di masa mereka.

Sejumlah ciri generasi A disusun sebagai berikut

  • ·        Menghabiskan sekitar 18 juta dolar per tahun hanya untuk konsumsi mainan, pakaian, dan tetek-bengek teknologi baru yang cuma ada di zaman ini.
  • ·        Generasi yang paling terdidik daripada Generasi Z
  • ·        Terbiasa mengakses informasi via internet.
  • ·        Piawai menggunakan touchscreen untuk mengakses program Android yang banyak tersedia secara bebas.
  • ·        Akrab dengan teknologi
  • ·        Jarak semakin tidak berarti bagi Generasi A, ruang dan waktu seolah tanpa batas.
  • ·        Pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi.
  • ·        Menjadi generasi paling sejahtera.


Saya yakin, sebagian ciri tersebut sudah terlihat pada anak-anak kita. Fenomena perilaku generasi alfa tersebut menjadi tantangan bagi orang tua zaman now. Anak hidup dalam arus deras informasi. Mereka bisa hanyut jika tidak didampingi.

Bandingkan saja dari segi tontonan. Kita yang tumbuh hanya dengan tontonan stasiun TVRI di era 1980-an dan 1990-an masih menonton pada jam yang sangat terbatas. Bandingkan dengan anak saat ini yang bisa menonton minimal 15 saluran televisi nasional serta stasiun televisi lokal.

Apabila anak mudah menggunakan internet dan disediakan gawai, mereka bisa menjelajah ke berbagai dunia melalui media sosial semisal Youtube. Anak melihat konten medsos yang belum tentu tepat bagi usianya dari seluruh dunia. Alasan orang tua yang membekali anaknya dengan gawai agar anak tidak gagap teknologi malah menjadi user only. Bukannya penguasa teknologi, melainkan dikuasai teknologi informasi.

Apakah kita sebagai orang tua siap menghadapi anak yang seringkali lebih mahir menggunakan aplikasi?

Mampukah kita sebagai orang tua berkomunikasi dengan anak semantara ia lebih banyak berkomunikasi melalui gawai dengan siapa saja?

Bisakah kita sebagai orang tua sabar menghadapi anak yang seringkali lebih asyik dengan gawainya?

Fenomena anak yang asyik sendiri dengan dunianya dalam gawai terkoneksi internet makin sering kita temukan. Orang harus tua tegas mengambil keputusan sejak dini, ingin menjadi keluarga yang dikendalikan oleh teknologi informasi atau pengendali teknologi informasi.

Buat aturan tegas terkait penggunaan gawai. Misalnya gawai harus nonaktif mulai pukul 18.00 kecuali untuk urusan yang sangat penting. Orang tua menerapkan terlebih dahulu secara konsisten agar diikuti anak-anak.

Kebiasaan baik selalu dimulai dari orang tua. Anak akan meniru dengan sendirinya. Makin muda usia anak, makin cepat dan mudah membentuk perilakunya. Jangan nanti-nanti sehingga butuh waktu lebih lama untuk menerapkan kebiasaan baik pada anak.    


Sumber gambar
goodmorningamerica.com, yellow-communications.com 

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar