Kamis, 26 Mei 2016

Kesadaran Baru dari Film Surat Cinta untuk Kartini


Hari Kartini tahun 2016 ini cukup istimewa karena hadirnya film Surat Cinta untuk Kartini. Sayangnya, beberapa hari kemudian, Surat Cinta untuk Kartini sudah turun layar. Mungkin kalah bersaing dengan film Ada Apa dengan Cinta 2 dan Captain America: Civil War. Padahal saya belum sempat nonton. Untunglah Indosat Ooredoo mengadakan nonton bareng di Miko Mall, Bandung sehingga saya bisa menikmati film produksi MNC Pictures ini.

Film Surat Cinta untuk Kartini merupakan cara lain untuk menelaah kehidupan perempuan yang identik dengan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia itu. Ada 4 hal  baru saya sadari setelah menyaksikan Film Surat Cinta untuk Kartini. Berikut paparannya

1. Buku Kartini adalah Antologi Surat

Azhar Kinoi Lubis, sang sutradara film ini di akhir nobar Indosat Ooredoo mengungkapkan, dialog-dialog dalam film diambil dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itu sebenarnya versi terjemahan dari judul asli berbahasa Belanda Door Duisternis tot Licht. Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda:  J.H. Abendanon pada tahun 1911 berinisiatif mengumpulkan surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada para sahabatnya, kemudian membukukannya. Armin Pane menerjemahkan buku itu di penerbit Balai Pustaka dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Bagi kita (saya) yang selama ini mengira Kartini sengaja menulis buku dan menerbitkannya, tentu keliru.

Buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda
foto: rizkachika.wordpress.com

Door Duisternis tot Licht juga populer karena peran dari Conrad Theodore van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di Belanda. Van Deventer menulis resensi buku itu karena terkesan dengan pemikiran-pemikiran Kartini yang tersurat dan tersirat dalam buku Door Duisternis tot Licht . Adanya dokumentasi tertulis dari pemikiran Kartini inilah yang menjadi salah satu penyebab harumnya nama Kartini sampai sekarang. Seandainya tokoh pejuang perempuan di Indonesia lainnya menulis atau ada yang membukukan pemikirannya, mungkin namanya akan berjajar dengan Kartini sebagai pejuang emansipasi perempuan. 

Kebiasaan berkirim surat Kartini juga yang membuat seorang pengantar surat menjadi tokoh utama dalam film Surat Cinta untuk Kartini. Sang pengantar surat itu bernama Sarwadi, diperankan oleh Chicco Jerikho. Sarwadi dikisahkan sebagai duda berusia 23 tahun. Ia menikah pada usia 16 tahun. Istrinya meninggal dunia saat melahirkan. Sarwadi tinggal bersama Ningrum, anaknya. Di hari pertamanya menjadi tukang pos, Sarwadi mengantarkan surat untuk Kartini. Itulah saat pertama yang menjadi awal ketertarikan Sarwadi kepada seorang Kartini.      

2. Kartini Poligami

Beberapa tahun terakhir, beredar Meme tentang Kartini yang dipoligami. Saya ingin tahu, bagaimana kehidupan poligami Kartini? Film Surat Cinta untuk Kartini mungkin memberikan gambarannya, begitu pikir saya. Namun film berdurasi 90 menit ini menceritakan sebagian besar kehidupan Kartini saat masih lajang. 

Kartini dan Suami
foto: boombastiscom

Pada film Surat Cinta untuk Kartini, kehidupan rumah tangga Kartini tidak diperlihatkan sama sekali. Hanya pinangan dari bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat saja yang disuguhkan sebagai klimaks film Surat Cinta untuk Kartini. Pernikahan itu membuat Sarwadi patah hati dan menjauhi Kartini. Keputusan Kartini untuk menerima lamaran dari lelaki yang sudah beristri juga disimpan penulis skenario sampai akhir cerita.  Hal ini cukup menarik karena terkesan kontradiktif; Kartini memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, namun bersedia menjadi istri keempat. Dan saya merasa maklum setelah mengetahui alasan Kartini menerima dipoligami di akhir film.    

3. Kartini Berumur Pendek

Kita tidak pernah melihat foto Kartini di usia tua, kan? Saya baru menyadari hal ini saat menonton film Surat Cinta untuk Kartini. Kartini tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia beberapa hari setelah melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Usia Kartini saat itu 25 tahun. Jadi perjuangannya tidak lama, namun pemikiran di dalam surat-suratnya berhasil melintasi ruang dan waktu.   

Sosok Soesalit Djojoadhiningrat kecil
foto: merdeka.com

Film Surat Cinta untuk Kartini juga tidak menggambarkan kematian Kartini secara detil. Penonton akan mengetahuinya dari tokoh Sarwadi dan Ningrum saja, saat keduanya ingin bersua dengan Kartini. Meskipun telah tiada, Sarwadi dan Ningrum melihat dampak positif perjuangan Kartini pada kehidupan beberapa anak perempuan. Bahkan pengaruh Kartini sangat besar pada kehidupan anak cucu Sarwadi di masa depan. Penonton akan mengetahui, siapa sebenarnya sang narator film Surat Cinta untuk Kartini di akhir film.   

4. Sekolah Kartini Berdiri Saat Ia Telah Tiada

Sekolah-sekolah Kartini mulai berdiri saat ia telah tiada. Van Deventer, sang perensi buku kumpulan surat Kartini yang banyak berperan dalam pendirian sekolah Kartini. Van Deventer mendirikan Sekolah Wanita di bawah naungan Yayasan Kartini pada tahun 1912 di Semarang, kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan beberapa daerah lainnya.

Seorang teman pun mengatakan bahwa ada Universitas Kartini di Surabaya. Saya heran, kenapa nama Universitas Kartini jarang dipublikasikan. Saya cari informasi tentang Universitas Kartini di internet. Namun tidak banyak informasi resmi yang bisa saya temukan. Apakah Univesitas Kartini hanya sekadar nama tanpa ruh semangat perjuangan Kartini pada civitas akademikanya? Entahlah. 

Film Cinta yang Cukup Aman untuk Anak-anak

Film Surat Cinta untuk Kartini dibuka dengan adegan ibu guru di satu SD yang ingin bercerita tentang sosok Kartini. Namun murid-muridnya protes karena sudah bosan dengan kisah kartini. Seorang bapak guru muda masuk dan menjanjikan kisah Kartini yang berbeda. Yaitu kisah seorang pengantar surat bernama Sarwadi. Kisah Surat Cinta untuk Kartini pun mengalir dengan alur yang agak membosankan jika tidak berminat pada film-film biografi.

Sarwadi memiliki putri bernama Ningrum yang diceritakan masih berusia 7 tahun. Porsi adegan untuk Ningrum cukup banyak, karena Sarwadi ingin Ningrum berguru kepada Kartini. Sosok Ningrum pun akan terus hadir sampai akhir cerita. Kisah pembuka dan tokoh Ningrum merupakan satu peluang untuk menarik minat penonton anak-anak menyaksikan film ini. Padahal ada kata cinta pada judul film, kan?

Sosok Sarwadi yang Diperankan Chicco Jerikho

Ya, kata cinta mungkin sengaja dipakai untuk menarik minat masyarakat menyaksikan film ini. Cinta menawarkan kisah drama. Meskipun begitu, kisah Surat Cinta untuk Kartini ini cukup aman dinikmati anak-anak, terutama anak mulai usia 9-10 tahun. Namun orang tua atau dewasa mungkin perlu bersiap-siap menjelaskan soal poligami, ibu Kartini yang bukan istri utama, dan berbagai istilah yang mungkin sulit dicerna oleh anak-anak.

Melalui film Kartini, anak akan menjadi tahu hakikat perjuangan Kartini. Betapa sulitnya sekolah di masa lalu dan pentingnya pendidikan untuk membuat perubahan. Jika hakikat perjuangan Kartini ini sudah bisa diserap anak, mudah-mudahan mereka tidak memaknai 21 April hanya dengan pemakaian kebaya, serta tidak begitu terpengaruh dengan hingar bingar diskon hari Kartini lagi.

Rabu, 30 Maret 2016

Akibat Mengajak Anak Nonton Film Batman vs Superman di Bioskop

Akibat Mengajak Anak Nonton Film Batman vs Superman di Bioskop


Ben Affleck, sang pemeran Batman di film Batman v Superman: Dawn The Justice, tidak ingin Samuel menonton aksinya dalam film laga itu. Samuel adalah anak ketiganya yang masih berusia 4 tahun  "Four years old is a little young to see this whole movie," komentar Affleck yang pernah dilansir foxnews.com.

Berikut ini beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangan Ben Affleck tidak mengharapkan putranya menonton film Batman v Superman: Dawn The Justice.


1. Melanggar Rating dari Lembaga Sensor Film 

Classification and Rating Administration (CARA), satu divisi di Motion Picture Association of America yang mengatur pemeringkatan penonton film, menetapkan film Batman v Superman dengan peringkat PG-13 Artinya sebagian isi film Batman v Superman mungkin tidak patut ditonton oleh anak-anak berusia di bawah 13 tahun. Rating PG-13 ini merupakan peringatan bahwa satu film mengandung kekerasan, ketelanjangan, kegiatan orang dewasa dan lainnya. Namun isi film kategori PG-13 ini belum selevel kategori "R" atau Restricted yang menandakan isi film untuk penonton berusia 17 tahun ke atas.  

Di Indonesia, Jaringan Cinema 21, CGV Blitz, dan CinemaXX memberi peringkat R13+ untuk film Batman v Superman. Namun di awal penayangan film Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia memberi batasan usia minimal 17 tahun untuk menyaksikan film Batman v Superman. Pada film ini memang tidak ada adegan hubungan suami-istri yang vulgar kecuali adegan Lois Lane (Amy Adams) mandi di bath tube dan Clark Kent (Henry Cavill) masuk ke kamar mandi sambil membawa sekantung bunga. Mereka berbicara sebentar lalu zoom in kaca mata Clark Kent jatuh di lantai kamar mandi. Hanya saja, pada adegan lain, Superman dan Lois Lane melakukan ciuman pro long, ciuman cukup lama dari bibir ke bibir dengan emosi yang dalam.  

2. Anak Banyak Tanya, Mengganggu Penonton Lainnya

Film Batman v Superman dibuka dengan kisah kematian orang tua Bruce Wayne (Ben Afflect) saat ia masih kecil. Pengalaman kelam Bruce itu disampaikan melalui dua plot secara bergantian. 

Bruce kecil berjalan bersama ayah ibu, Bruce kecil di pemakaman orang tuanya. Bruce sekeluarga ditodong berandalan, Bruce menangis di depan makam. Penodong mengacungkan pistol ke wajah ayah Bruce, Bruce berlari ke arah hutan karena luapan kesedihan ditinggal ayah dan ibunya. Begitu seterusnya sampai Bruce kecil terjatuh ke dalam gua dan diangkat dari kegelapan menuju cahaya oleh jutaan kepak kelelawar. Selanjutnya cerita beralih ke Superman, drama percintaan Lois Lane dan Clark Kent dan tokoh-tokoh lainnya.

Alur kisah yang maju-mundur dan beralih dari satu tokoh ke tokoh lainnya, belum mampu dipahami oleh anak-anak 10 tahun ke bawah. Mereka pun mungkin belum bisa membaca subtittle. Anak-anak yang mempunyai kemampuan listening bahasa Inggris yang baik, mungkin saja bisa sedikit memahami dialog para tokoh film Batman v Superman tetapi masih kurang bisa memahami cerita film Batman v Superman secara menyeluruh. 

Anak yang penuh rasa ingin tahu, bisa jadi terus bertanya: mengapa begini dan 
kenapa begitu. Pertanyaan-pertanyaan itu selain memecah konsentrasi menonton orang tua, juga mengganggu kenyamanan penonton lainnya. Orang tua yang kurang pengertian mungkin marah dan menyuruh anak diam. Anak sebal, orang tua jengkel. Hilang sudah kenyamanan menyaksikan satu film layar lebar.   

 3. Anak Bosan, Bermain-main dan Sibuk Sendiri 

Ketidakmampuan menikmati jalan cerita film Batman v Superman dapat membuat anak-anak aktif menyibukkan diri dengan kegiatan lain. Khususnya anak-anak berusia 8 tahun ke bawah. Terlebih film ini berdurasi 2 jam 31 menit di luar iklan bioskop pada wal film. Untuk mengatasi kebosanannya, anak-anak mungkin bermain smartphone, atau membuat permainan sendiri dengan apa saja yang tersedia saat itu atau bermain dengan saudara dan anak lain di samping mereka. Sebagian anak mungkin saja turun dari kursi, berjalan ke undakan samping jajaran kursi bahkan beranjak ke depan mendekati layar.  

Anak-anak usia TK dan di bawahnya bahkan bisa merengek, minta keluar studio, atau minta pulang. Menangis dan merengek merupakan teknik yang mereka pelajari secara alami untuk membuat orang dewasa atau orang tua memenuhi permintaan mereka. Orang tua umumnya menuruti permintaan mereka daripada mengganggu keasyikan penonton bioskop satu studio. 

4. Anak Menikmati Aksi Laga dan Menirunya

Adu jotos antara Batman dan Superman tidak seperti duel Superman dan Zod di film Man of Steel yang menghancurkan bangunan di sekitarnya. Pertarungan Batman dan Superman layaknya manusia biasa sebab Batman menggunakan gas kryptonite untuk melemahkan Superman. Kedua pahlawan super itu baku hantam dengan pukulan dan tendangan alami saja. Anak-anak mungkin menikmatinya, bahkan meniru karena pertarungan Batman dan Superman mudah diikuti. 


Di luar duel Batman dan Superman, baku hantam Batman dan lawan-lawannya tetap dipertontonkan. Pukulan-pukulan mengenai anggota badan secara langsung baik dengan tangan, kaki saja maupun menggunakan senjata tumpul dan tajam. Adegan perkelahian yang merusak lingkungan sampai radius ratusan meter tetap ada, terutama di bagian akhir cerita. Film Batman v Superman menyediakan aneka ragam perkelahian untuk simpanan memori dan alam bawah sadar penontonnya, termasuk penonton anak-anak.  

5. Anak Sulit Membedakan Kebenaran dan Kejahatan

Batman dan Superman dalam film Batman v Superman adalah sosok pahlawan super yang dicintai sekaligus dibenci oleh warga kotanya masing-masing. Superman dituding membawa bencana di samping misi penyelamatannya. Batman juga dikenal sebagai sosok yang cukup ‘kejam’ dalam meringkus penjahat dan lawannya. Anak-anak yang dididik dengan ketegasan salah-benar, mungkin akan kesulitan membedakan siapa yang baik dan jahat dalam film Batman v Superman. Film adaptasi dari Komik DC ini mempertontonkan dilema hitam-putih para pahlawan super.    

Pertanyaan, “Kok, si Batman jadi jahat ke Superman, sih?” dan “Kok, Superman berantem sama Batman?” mungkin meluncur dari mulut si anak? Kalimat apa yang akan digunakan orang tua untuk menjelaskan hal itu? 

Orang dewasa pun mungkin perlu diskusi lebih lanjut dengan sesama penonton lainnya untuk memahami cerita film Batman v Superman: Dawn The Justice. Terlebih jika si penonton bukan orang yang suka membaca komik DC atau mengikuti film Batman dan Superman dalam berbagai versi. Film Batman v Superman: Dawn The Justice merupakan awal dari seri The Justice League, kelompok superhero komik DC yang mirip The Avanger dalam komik Marvel. Maka dari itu, banyak teka-teki ditinggalkan dalam film Batman v Superman. Misalnya perkenalan sosok  The Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher) selain Wonder Woman (Gal Gadot).


Bijak Memberikan Pemahaman Kepada Anak 

Maraknya promosi film Batman v Superman: Dawn The Justice dapat memicu keinginan anak usia 13 tahun ke bawah untuk menonton film ini. Keputusan berada di tangan orang tua, mengizinkan atau melarangnya. Jika orang tua mengizinkan, apa yang harus dilakukan pada saat menonton dan setelah menonton film? Apabila melarang, kemungkinan anak menonton di internet, saluran televisi, atau melalui DVD tetap ada. 

Anak-anak yang sangat mengidolakan Batman atau Superman bisa jadi merindukan sosok ayah yang bisa menjadi pelindung mereka. Kebutuhan kasih sayang dari ayah, mungkin belum terpenuhi sehingga mereka berusaha mendapatkannya dari sosok imajiner yaitu Batman atau Superman. Kebutuhan itu juga ditangkap para pemasar dengan menyandingkan brand produknya dengan sosok Batman dan Superman sehingga muncullah die hard fans of Batman and Superman. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua, terutama untuk kembali menjadi sosok pemenuh cinta kasih dan pahlawan bagi anak-anaknya.  

Sumber informasi: foxnews.com, imdb.com
Sumber gambar: comicbookresources.com, imdb.com, Fans Page Batman v Superman: Dawn of Justice


Senin, 28 Maret 2016

Manfaat Bermain di Luar Rumah bagi Anak Usia Dini

Manfaat bermain di luar rumah bagi anak usia dini


Alika dan Kaos Anak Hoofla Kids

Manfaat bermain di luar rumah bagi anak usia dini pada tempat khusus bermain seperti tanah lapang, taman bermain, atau arena yang aman bagi anak-anak usia dini sudah cukup kita ketahui. Misalnya melatih kemampuan gerak anak atau yang populer disebut motorik. Tumbuh kembang motorik yang baik akan berdampak kepada kondisi fisik yang prima pada si anak di kemudian hari.

Selain dapat melatih kemampuan motorik halus dan kasar anak, bermain di luar rumah pada area khusus juga memberikan manfaat lain seperti yang akan saya paparkan berikut ini. 

Manfaat Bermain #1: Menumbuhkan Kemampuan Bersosialisasi


Di taman bermain anak-anak biasanya bertemu dengan anak-anak tetangga atau anak-anak lainnya yang tinggal di dekat lapangan bermain. Usia mereka bervariasi, ada yang lebih kecil, sebaya, maupun anak-anak yang berusia lebih tua. Beragamnya usia anak yang bermain di taman bemain merupakan kesempatan bagi anak kita untuk besosialisasi dengan anak-anak lain, bukan hanya dengan keluarga di rumah atau saudaranya saja.

Fasilitas bermain atau permainan yang terbatas membuat mereka harus bermain secara bergantian dan bekerja sama. Saat bermain ayunan misalnya. Anak harus bermain secara bergiliran. Jika anak belum bisa mengayun sendiri, ia juga harus meminta tolong pada anak lainnya mendorong ayunan dari samping atau belakang. Dari bermain ayunan saja, anak-anak harus berkomunikasi, berbagi, juga bekerja sama dengan anak-anak lainnya.

Anak-anak juga mulai belajar empati. Empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami atau mengerti perasaan orang lain, sensitif akan kebutuhan dan perasaan orang lain, mau membantu orang lain yang tersakiti dan atau dalam masalah serta memperlakukan orang lain dengan penuh kasih. Saat anak bermain dan menemukan anak lainnya terjatuh, kita sebagai orang dewasa dapat mengajak si kecil membantu anak yang terjatuh itu. Empati pada diri anak-anak kita dapat kita tumbuhkan secara perlahan-lahan.  

Manfaat Bermain #2: Menstimulasi Imajinasi dan Kreativitas


Anak-anak usia 4 tahunan sudah bisa bermain peran. Mereka memerankan tokoh tertentu, misalnya tokoh-tokoh di dalam film animasi. Misalnya tokoh-tokoh dalam film Frozen. Satu anak berperan sebagai Anna, anak lain berperan sebagai Elsa. Mungkin anak lain lebih suka menjadi Olaf, si manusia salju. Anak-anak berlari-lari berimajinasi tempat bermain mereka adalah hamparan salju nan luas. Mereka tertawa, berkejaran, dan melakukan hal-hal yang mereka lihat dalam film Frozen.

Bermain di luar rumah dengan memerankan tokoh tertentu menstimulasi anak untuk berimajinasi dan kreatif. Imajinasi anak yang kuat dapat mengubah debu-debu menjadi salju, bilah papan seolah papan luncur, dan gubuk lesehan adalah istana salju yang indah. Imajinasi dan kreativitas bermain peran ini memang mungkin saja muncul saat anak bermain sendirian. Namun dengan bermain dengan anak lainnya, mereka akan terstimulasi berimajinasi lebih liar dan lebih kreatif lagi. Area bermain yang luas juga memungkinkan mereka bergerak bebas tanpa hambatan. Pastikan saja tempat bermain mereka aman sehingga kita dapat melepaskan mereka bermain bersama teman-temannya.

Manfaat Bermain #3: Melatih Anak Memecahkan Masalah


Saat bermain di luar rumah, berbagai masalah dapat saja muncul. Misalnya saat anak ingin bermain ayunan ada ulat di bangku ayunan. Hasil didikan orang tua di rumah akan sangat membantu anak memecahkan masalah ulat di bangku ayunan sehingga agar ia dapat memakai ayunan itu. Anak bisa saja memilih lari atau menjuhi ayunan jika orang tua kerap mendidik dengan ketakutan-ketakutan. Anak cerdas mungkin akan mengambil ranting atau daun dan menyingkirkan ulat itu.


Bergaya dengan Kaos Anak Hoofla Kids

Semakin sering anak bermain di luar rumah, semakin banyak masalah bermain yang akan mereka temukan. Seiring petumbuhan kognitif atau berpikirnya, anak dapat menyelesaikan masalah sendiri dengan cara yang khas, sesuai dengan usia perkembangannya.     

Manfaat Bermain #4: Mendekatkan Anak dengan Lingkungan Sekitarnya


Anak-anak usia dini dapat mengenal identitas anak lainnya tanpa perkenalan formal terlebih dahulu. Bahkan anak dapat langsung bermain tanpa tahu nama masing-masing. Seiring waktu, mereka akan mengetahui nama, orang tua atau orang dewasa yang mendapingi temannya bermain, serta tempat tinggalnya. Manfaat bermain di luar rumah ini, selit diperoleh jika anak bermain sendiri di dalam rumah.

Anak juga menjadi tahu letak dan posisi taman bermain. Kenal dengan para tetangga dan orang-orang yang tinggal di sekitar tempat ia bermain. Bahkan tidak jarang, anak kita lebih dikenal daripada kita sendiri. Sehingga tidak jarang kita disapa dengan nama anak kita: Papa Alika, Mama Alika, atau Mbaknya Alika. Bermain di luar rumah terkadang bukan hanya mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya, tetapi juga mendekatkan kita yang awalnya malas bergaul dan bersosialisasi dengan warga sekitar kita.

Manfaat Bermain #5: Membangun Kemampuan Menjaga Diri


Anak-anak yang bermain di luar rumah mendapat kesempatan mengenali bahaya-bahaya dan bebagai hal yang harus mereka hindari. Ketika melewati selokan, mereka harus melompatinya. Selokan berisi air kotor yang tidak patut untuk dijadikan mainan. Melalui orang dewasa atau anak lainnya, anak menjadi tahu bahwa selokan yang berair keruh dan berlumpur bukan mainan yang menyenangkan. Anak-anak akan menghindari selokan. Jika mainan mereka jatuh di selokan, mereka akan belajar cara mengambil mainan itu dan membersihkannya.

Jika anak terjatuh dan kesakitan saat bermain panjat-panjatan, mereka dapat belajar berhati-hati dan mencari cara agar tidak terjatuh lagi. Kita dapat membiarkan mereka melakukan kegiatan yang tidak mengamcam jiwa dan raga mereka agar terbangun kemampuan menjaga diri sendiri pada anak. Memanjat tembok yang tidak terlalu tinggi, mungkin bagus untuk mereka. Awasi dan ingatkan saja seperlunya sehingga anak mendapat kesempatan untuk mengenali dan merasakan dampak dari kegiatan yang mereka pilih sendiri.  


Manfaat Bermain #6: Membantu Anak Mengenali Dirinya


Alika, anak saya yang berusia 3,8 tahun senang bermain panjat-panjatan. Ia bisa mencapai rangka panjat setinggi 1 meter, namun lebih dari itu, dia akan meminta bantuan saya untuk memegangi tubuhnya karena khawatir jatuh. Alika belajar mengenali apa yang sudah mampu dan belum mampu ia lakukan sendiri dengan bermain di luar rumah. Saya terkadang hanya mengawasi saja. Jika Alika meminta bantuan, baru saya berikan bantuan itu. 

Berbeda lagi jika Alika bermain ayunan. Sejak awal, Alika sudah minta bantuan saya mengayunkan karena ia belum mampu mengayun sendiri dengan hentakan kakinya. Beberapa permainan di luar rumah lainnya juga dapat kita manfaatkan agar anak mengenali dirinya, bahwa dirinya sudah mampu atau belum mampu melakukan sesuatu sesuai dengan usia tumbuh kembangnya.

Selalu Pastikan Kondisi Anak Aman dan Nyaman


Rasa saya kita kepada anak terkadang membuat kita selalu khawatir dan kerap mengucapkan larangan ini itu. Termasuk saya. Saya sebagai ayah belum bisa membiarkan Alika yang belum genap berusia 4 tahun bermain di luar rumah sendirian tanpa pengawasan. Padahal anak kita mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri. Jalan tengahnya, saya selalu berusaha memastikan tempat Alika bermain aman dan kondisi Alika saat bermain juga nyaman.

Saya pastikan taman bemain Alika tidak memuat alat permainan yang tajam, berkarat atau rapuh. Jika rerumputan, lapangan aman untuk dipijak, Alika boleh saja bermain tanpa alas kaki. Jika banyak putri malu atau rumput berduri, saya sarankan Alika menggunakan sendal dan jelaskan akibat yang harus ia terima jika menginjak putri malu tanpa alas kaki.

Pakaian untuk bermain juga harus aman dan nyaman. Alika suka menggunakan rok panjang, membuatnya seperti princess di film animasi. Namun untuk bermain di luar rumah, saya memakaikan kaos anak yang terbuat dari katun dan celana panjang yang membuatnya leluasa bergerak.

Kaos Anak Hoofla Kids Nyaman, Bisa Beli Online


Sebagai ayah, saya agak malas jika diminta istri menemaninya berbelanja pakaian. Beberapa kali menemani istri belanja pakaian, kami harus berputar-putar di seluruh area mall yang menawarkan pakaian, hanya untuk membanding-bandingkan pakaian satu dengan pakaian lainnya, tetapi pada akhirnya balik ke tempat awal kami hunting pakaian. Saya lebih suka beli pakaian online saja. Pengalaman saya beberapa kali belanja pakaian online, ukuran dan bahan pakaian cukup memuaskan dengan cermat memerhatikan detil keterangan pakaian atau ukuran tubuh model. Namun istri saya lebih suka membeli pakaian secara langsung. Untunglah, Istri jarang sekali belanja pakaian. Biasanya jelang hari raya atau untuk momen khusus saja.

Masalahnya Untuk Alika yang sedang dalam masa pertumbuhan, pakaiannya beberapa bulan sekali harus diganti. Apalagi jika kualitas pakaian rendah. Jahitan pakaian sering lepas atau sobek. Membeli pakaian anak secara online untuk Alika cukup berisiko tidak pas, sampai akhirnya saya bertemu dengan Hoofla Kids melalui seorang teman. Hoofla Kids menawarkan kaos anak dengan bahan berkualitas tinggi, nyaman, dan disain yang keren. Koleksi kaos anak Hoofla Kids dapat kita temukan di web Hoofla Kids juga akun instagram Hoofla Kids. Selain itu kaos anak Hoofa Kids juga dapat dipesan melalui Pin BB : 7A904FE9WhatsApp : 085720314251Phone : 081214669941 dan FB : Jual Baju Anaklucu.

Bergaya dengan Kaos Anak Hoofla Kids

Alika sudah memakai kaos Hoofla Kids untuk bermain di taman dekat rumah, juga jogging di sekitar stadion Gelora Bandung Lautan Api. Bahannya cocok untuk bermain di luar rumah; lembut, halus, dan menyerap keringat. Disainnya pun disukai Alika. Istri saya juga puas saat pesanan kaos Hoofla Kids tiba di rumah. Lebaran nanti, rencananya kami akan membeli beberapa kaos Hoofla Kids untuk dibagikan kepada keponakan. Akhirnya saya harus setuju dengan tagline kaos anak Hoofla Kids : When Your Kids Meet Their Needs, karena sudah membuktikan sendiri keunggulan produknya.   


Kaos Anak Hoofla Kids


Minggu, 06 Maret 2016

Gambaran Pesantren di Film Pesantren Impian

Gambaran Pesantren untuk Anak di Film Pesantren Impian


Beberapa penonton kecewa dengan film Pesantren Impian yang tidak memberikan gambaran tentang pesantren seperti dalam bayangan mereka. Berikut sedikit ulasan tentang cerita film Pesantren Impian yang berlatar pesantren di sebuah pulau kecil.


Kisah 10 Gadis di Film Pesantren Impian

Film Pesantren Imipan mengisahkan tentang kehidupan 10 perempuan yang memiliki masa lalu kelam jika dipandang dari syariat Islam. Mereka diundang secara khusus untuk belajar mengubah hidupnya di satu pesantren pulau terpencil. Tempat mereka belajar bernama Pesantren Impian. Pesantren itu dikelola oleh Gus Budiman (Dedi Sutomo) dan asistennya yang bernama Umar (Fachri Albar), pasangan ustad-ustazah, seorang pembantu umum dan seorang pembantu urusan dapur. 


Di antara 10 perempuan tersebut, menyusuplah Briptu Dewi (Prisia Nasution), seorang polisi wanita yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan di satu hotel. Pihak kepolisian menduga, si pembunuh ada di antara para undangan Pesantren Impian itu. Tak disangka, terjadi teror di Pesantren Impian. Satu persatu, santriwati dibunuh dengan benang merah, korban selalu bertemu Umar untuk terakhir kalinya. Saat pelaku pembunuhan di hotel Jakarta telah terungkap, korban tetap jatuh, sampai akhirnya Ustazah Hanum pun ikut menjadi korban pembunuhan.


Perempuan-perempuan yang masih hidup ingin pulang. Namun kondisi perairan di sekitar pulau, tidak memungkinkan untuk berlayar. Semua orang di Pesantren Impian terjebak, dicekam ketakutan. Siapa pun, tanpa kecuali dapat menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya. Film Pesantren Impian ini disutradarai oleh Ifa Ifansyah yang pernah menjadi sutradara film Pendekar Tongkat Emas, Garuda di Dadaku dan sekian film yang sudah tayang di bioskop tanah air. 

Memperdebatkan Definisi Pesantren di Film Pesantren Impian


Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata ”santri” yang mendapat imbuhan awalan ”pe” dan akhiran ”an” yang menunjukkan tempat, sehingga bermakna tempat para santri. Pesantren juga sering dianggap gabungan dari kata ”santri” (manusia baik) dengan suku kata ”tra” (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat diartikan tempat pendidikan manusia baik-baik (Zarkasy, 1998).


Bangunan Pesantren Impian saat proses syuting

Menurut Madjid (1997) santri itu berasal dari perkataan ”sastri” sebuah kata dari bahasa Sansekerta, yang artinya melek huruf, dikonotasikan dengan kelas literary bagi orang jawa karena santri mendapatkan pengetahuan tentang agama dari kitab-kitab yang bertulisan bahasa Arab. Asumsinya santri adalah  orang yang tahu tentang agama melalui kitab-kitab berbahasa Arab dan atau paling tidak santri bisa membaca Al Qur'an, sehingga memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama Islam. Perkataan santri juga dapat berasal dari bahasa Jawa ”cantrik” yang berarti orang yang selalu mengikuti guru kemana guru pergi menetap (istilah pewayangan). Tujuannya agar ia dapat belajar dari sang guru mengenai keahlian tertentu.

Di Indonesia, pesantren juga dikenal dengan tambahan kata pondok yang dalam arti kata bahasa Indonesia mempunyai arti kamar, gubug, rumah kecil dengan menekankan kesederhanaan bangunan. Pondok juga berasal dari bahasa Arab ”FundÅ©q” yang berarti ruang tidur, wisma, hotel sederhana, atau mengandung arti tempat tinggal yang terbuat dari bambu (Zarkasy, 1998). Berdasarkan gabungan kata itu istilah pondok pesantren dapat diartikan sebagai tempat atau kawasan tempat para santri belajar atau mengaji ilmu pengetahuan agama kepada kiai atau guru ngaji. Umumnya kawasan itu berbentuk asrama atau kamar-kamar kecil yang sederhana.

Jika mengacu kepada definisi tersebut dan melihat film Pesantren Impian, kita akan mendapati Pesantren Impian sebagai kawasan khusus untuk belajar agama Islam. Pesantren Impian memiliki gapura dengan beberapa bangunan untuk shalat, belajar, dan beristirahat. Semua bangunan yang difungsikan untuk shalat, belajar, dan beristirahat di Pesantren Impian itu sederhana. Sepeluh perempuan belajar di ruang kelas layaknya kantor biasa, shalat di bangunan semacam surau, dan tidur berdua-dua di kamar-kamar yang tidak begitu luas namun cukup lega.

Pengalaman dan wawasan seseorang tentang pesantren mungkin memengaruhi gambaran tentang pesantren. Bahwa pesantren haruslah memiliki santri dan santriwati ratusan bahkan ribuan serta puluhan staf pengajar. Pesantren yang sering dipublikasikan media massa juga umumnya melaksanakan pendidikan setingkat SD sampai SMA. Kita masih jarang menerima publikasi pesantren khusus orang-orang di luar jenjang pendidikan itu. Faktanya, di Indonesia terdapat banyak macam pesantren. Misalnya saja pesantren mahasiswa yang dilakoni mahasiswa usai kuliah atau selepas jam belajar di kampusnya.

Memotivasi Anak Masuk Pesantren dengan Film Pesantren Impian

Lembaga Sensor Film memberikan rating 13+ untuk film Pesantren Impian tertanggal 24 Februari 2016. Merujuk pada perkembangan kognitif yang diungkapkan Piaget, pada usia 13 tahun, anak-anak telah berada pada perkembangan kognitif operasional formal. Artinya anak telah dapat berpikir kompleks dan abstrak seperti orang dewasa. Perkembangan kognitif operasional formal merupakan tahap akhir dari perkembangan berpikir manusia menurut Piaget. Setelah operasional formal, belum ada perkembangan lebih lanjut lagi.

Kisah film Pesantren Imipan cukup kompleks, menegangkan, dan menawarkan teka-teki, sudah bisa dinikmati anak-anak SD kelas V atau anak yang berusia 11 tahun. Pada usia tersebut, mereka biasanya telah memasuki tahap kognitif operasional formal Piaget itu. Namun alangkah bijak jika orang tua menonton film Pesantren Impian terlebih dahulu, baru kemudian memutuskan, tepatkah mengajak anaknya menonton film ini?


Film Pesantren Impian hanya memberikan satu gambaran pesantren dari sekian banyak pesantren di Indonesia. Mungkin saja anak menjadi khawatir jika harus bersekolah di pesantren seperti Pesantren Impian yang terpencil, memiliki fasilitas terbatas, bahkan aliran listrik dibatasi sampai jam 21.00 saja. Untuk tujuan motivasi masuk pesantren, film Negeri 5 Menara mungkin lebih tepat. Kalau pun anak yang ingin masuk pesantren menonton Film Pesantren Impian, apa yang tersaji dalam film adaptasi novel Asma Nadia ini seharusnya menjadi bahan diskusi menarik antara orang tua dan anak sepulang dari bioskop.

Film Pesantren Impian adalah Film Thriller

Film horor adalah film yang berusaha membuat penonton ketakutan. Hantu-hantu dan legenda urban yang berkaitan dengan makhluk aneh kerap disajikan. Film Jelangkung (2001), Kuntilanak (2006), dan Pocong (2006) adalah sedikit contohnya. Film thriller berusaha membuat penonton tegang dan mencekam. Kisahnya seputar misteri, pembunuhan dan cerita yang membuat sport jantung. Rumah Dara (2010), Badoet (2015), dan Midnight Show (2016) adalah contoh film Thriller Indonesia yang sudah beredar.

Proses syuting Pesantren Impian
Film Pesantren Impian menceritakan kisah seputar pembunuhan di pesantren. Namun lima kasus pembunuhan yang terjadi, tidak menghadirkan adegan kekerasan terhadap korban yang dihilangkan nyawanya secara langsung. Penonton hanya melihat korban meronta dibalik gorden, diseret ke bawah tempat tidur serta adegan pembunuhan di kegelapan dan tampilan korban setelah tidak bernyawa lagi. Tidak ada adegan badan ditusuk benda tajam atau darah segar muncrat. Kengerian yang dihadirkan sejatinya hanya efek suara dan permainan cahaya di kegelapan saja. Tidak ada hantu atau makhluk gaib di Pesantren Impian. Maka film berdurasi 90 menit ini dapat dikategorikan sebagai film thriller bukan horor.

Anak-anak yang terbiasa membaca novel horor anak seperti seri Spooky Stories (Nourabooks) atau Dark Fantasteen (DAR! Mizan) mungkin bisa menikmati ketegangan di film Pesantren  Impian ini. Mengingat adegan horor dan mencekam sudah sering mereka dapatkan dari novel-novel itu. Namun orang tua tetap harus menemani, sebab (sekali lagi) semua yang tersaji dalam film Pesantren Impian dapat menjadi bahan diskusi yang menarik dengan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak.   

Film Pesantren Impian merupakan usaha sebagian insan film yang ingin menyajikan hiburan alternatif bagi umat Islam. Apa yang disajikan dalam film Pesantren Impian pastilah tidak dapat memenuhi harapan seluruh penonton film tanah air. Namun jika film ini berhasil menjaring banyak penonton, ketertarikan rumah produksi untuk menghasilkan film dengan standar Pesantren Impian menjadi lebih banyak lagi. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti film-film Indonesia yang islami dapat menjadi box office d negara lain, sebagaimana film Holywood saat ini.   

Rujukan

Madjid, Nurchalis., (1997). Belik-Belik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina

Zarkasyi, Abdullah Syukri., (1998) Langkah Pengembangan Pesantren, dalam Abdul Munir Mulkhan, (eds) Rekontruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren Religiusitas Iptek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Senin, 29 Februari 2016

Teman Khayalan Pejuang Kanker, Resensi Film I Am Hope

Teman Khayalan Pejuang Kanker, Resensi Film I Am Hope

Poster film I Am Hope menarik perhatian saya sejak publikasinya marak Januari 2016 lalu. Mia (Tatjana Saphira) terlihat menempel dengan sosok samar Maia (Alessandra Usman). Setelah menonton film I Am Hope, saya menyimpulkan tokoh Maia itu teman khayalan Mia.

Teman Khayalan Pejuang Kanker, Resensi Film I am Hope

Kisah I Am Hope

Pada film I Am Hope sosok Maia tampil saat Mia seusia anak-anak pra sekolah, 4-5 tahun. Pada satu pentas, Mia kecil memanggil-manggil nama Maia. Kesukaan Mia berimajinasi, bisa jadi dampak dari kebiasaan Madina (Feby Febiola), sang ibu, yang sering membacakan dongeng untuknya. Dunia teater yang ditekuni Madina pun sepertinya memengaruhi Mia. Sejak kecil Mia suka bermain peran (pretend play) sehingga lahirlah Maia, teman setia yang hanya bisa berinteraksi dengan Mia saja. 


Adegan film I Am Hope Mia Kecil dan Mama
Mia kecil dan Sang Ibu, Madina 

Sosok Maia semakin sering muncul di beberapa adegan film I Am Hope setelah Maia berusia 23 tahun. Saat itu Maia merayakan ulang tahunnya bersama Raja Abdinegara, sang ayah. Madina telah meninggal dunia karena kanker. Kemoterapi selama 8 bulan tidak berhasil memperpanjang usia Madina. Usai tiup lilin angka 23, Mia menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium. Ada tumor ganas yang sudah berubah menjadi kanker di paru-paru gadis itu. Betapa terpukulnya Raja. Bayangan kematian Madina muncul lagi. Sang ayah memutuskan sepihak segala pementasan yang dapat membuat tubuh Mia lelah. Anak semaa wayangnya harus fokus pada pengobatan kanker paru-paru saja.   


Adegan film I Am Hope perayaan Ulang Tahun Mia


Pasca vonis kanker, Mia terpuruk. Kematian bagai sudah pasti, tinggal menghitung hari. Di saat itulah peran Maia terlihat dominan. Maia marah dengan sikap Mia yang putus asa. Mereka berdebat, sampai Maia meneriakkan kalimat, “kalau lo emang merasa mau mati, lo nggak akan buang waktu.” Kalimat itu sepertinya menghujam kesadaran Maia mendorong Mia terus menulis naskah teater dan menawarkan naskah itu pada pementas teater terkenal, Rama Sastra (Ariyo Wahab). Mia bersama Maia juga menonton pementasan David (Fachry Albar), berkenalan dengan aktor yang dianggap cute oleh Maia itu, dan akhirnya menjalin pertemanan akrab dengan David. 


Adegan Maia menampar Mia dalam film I am Hope


Rama Sastra tertarik dengan naskah Mia. Rama setuju, Mia menjadi sutradara pementasan “Aku dan Harapanku”. Mia mulai sibuk mewujudkan pentas teaternya tanpa memberitahukan perihal kankernya pada Rama, David dan para pemain teater. Mia didampingi Maia terus berjuang agar pentas teaternya dapat terlaksana meskipun tubuhnya mulai melemah dan kemoterapi membuat rontok seluruh rambutnya. 


Realita dan Fakta Teman Khayalan

Teman khayalan umumnya dimiliki oleh anak-anak usia prasekolah. Marjorie Taylor dan koleganya di University of Oregon menyatakan sampai usia 7 tahun, 37% anak-anak sering bermain imajinasi dan memiliki teman khayalan. Wujud teman imajinasi dapat berupa manusia, binatang, atau makhluk fantasi rekayasa anak-anak sendiri, misalnya kuda berbadan singa dan berekor buaya dengan warna kulit belang putih dan pink. Teman khayalan dapat seorang diri atau berkelompok. Anak laki-laki cenderung memiliki teman khayalan berjenis kelamin laki-laki juga. Anak perempuan dapat memiliki teman khayalan laki-laki maupun perempuan. 

Anak-anak yang memiliki teman khayalan bukan berarti mereka tidak memiliki teman atau malas berinteraksi dengan teman di dunia nyata. Beberapa riset telah membuktikan hal ini. Beberapa anak yang memiliki teman khayalan ternyata senang bergaul, tertawa, dan bercanda dengan anak-anak seusianya. Keberadaan teman khayalan justru membebaskan mereka yang senang bergaul itu. Mereka bebas ngobrol, tersenyum dan tertawa bersama teman khayalan kapan saja. Teman khayalan juga merupakan salah satu cara anak untuk mengatasi masalah (coping) yang membuat mereka trauma. Misalnya anak yang pernah ketakutan di kegelapan menciptakan teman khayalan yang dapat menemani mereka pada kondisi kurang cahaya itu, sehingga si anak lebih berani. 


Teman khayalan pada Anak-anak


Kemunculan teman khayalan juga dapat disebabkan oleh perubahan yang harus dihadapi si anak seperti kelahiran adik, teman akrab yang pindah rumah, atau kematian orang yang dekat dengannya. Teman khayalan diciptakan oleh si anak dalam rangka mendampinginya dalam menghadapi situasi baru itu. Anak bebas melakukan apa saja bersama si teman khayalan tanpa merasa takut disalahkan. Keberadaan teman khayalan memungkinkan anak keluar dari situasi baru yang kurang nyaman dan membuat realita yang mereka harapkan. 

Setelah anak bersekolah, sekitar usia 7 tahun, interaksi anak dengan teman khayalannya mulai berkurang bahkan hilang. Jika orangtua menanyakan soal teman khayalan, anak bisa saja mengatakan teman khayalannya pindah atau meninggal. Sebagian anak mungkin memiliki teman khayalan pengganti yang berbeda atau teman khayalannya benar-benar pergi untuk selamanya. 

Namun satu penelitian mengungkapkan bahwa teman khayalan tidak hilang seiring berlalunya masa kanak-kanak. Beberapa remaja dan orang dewasa diteliti melalui buku harian dan kuisioner. Mereka menyatakan masih memiliki teman khayalan. Kesamaan dari mereka yang memiliki teman khayalan di usia remaja dan dewasa itu adalah memiliki kompetensi sosial dan kreatif. Interaksi dengan teman khayalan itu ternyata tidak menggantikan interaksi mereka dengan teman-teman di dunia nyata. 

Teman Khayalan dalam Film I Am Hope

Film I am Hope berusaha menggambarkan emosi Mia saat mendapat vonis kanker dan ketika menjalani kemoterapi. Beberapa reaksi emosional kanker pada umumnya seperti cemas, marah, tidak berdaya dan depresi juga terjadi pada Mia. Mia mengurung diri di kamar setelah dokter menyatakan kanker ada di paru-parunya. Mia semakin terpukul dan merasa tak berdaya saat Raja menghentikan aktivitas Mia yang berhubungan dengan teater. Di saat-saat sulit menerima dirinya mengidap kanker itulah, peran Maia terlihat sangat besar pada Mia. 

Maia terlihat mendekap Mia, menemani tidurnya. Mia yang seolah putus asa dengan masa depannya mendapat penguatan dari Maia. Maia mendorong Mia untuk terus menulis naskah teater dan menawarkannya kepada produser, bahkan menonton teater dan berkenalan dengan pemain teater. Maia seolah hadir sebagai alter ego, sisi lain Mia yang kuat dan optimis dalam menghadapi kanker. Kalimat, “kalau lo emang merasa mau mati, lo nggak akan buang waktu,” diulang Maia beberapa kali dengan nada yang berbeda saat Mia mulai putus asa dan menurun harapannya. 


Adegan dalam film I Am Hope Mia dan Maia

Perubahan fisik dan serangkaian dampak menyakitkan kemoterapi pun dihadapi Mia bersama Maia. Mia dalam beberapa adegan I Am Hope terlihat rapuh, mual, muntah dan menangis setelah kemoterapi. Raja dan Maia bergantian mendampinginya. Klimaks cerita I Am Hope, Mia kembali pingsan saat mengarahkan pemain teater, wig yang dipakainya lepas dan terbongkarlah rahasia yang disimpan Mia. Kru, pemain dan produser pementasan teater Aku dan Harapanku akhirnya mengetahui, Mia mengidap kanker paru-paru.  

Berdasarkan beberapa adegan I Am Hope itulah, saya menyimpulkan Maia hadir sebagai strategi Mia dalam mengatasi depresi kanker di paru-parunya. Penampilan Maia lebih kekinian daripada Mia. Maia mengajak Mia berkenalan dengan David dan berani mengajak David pergi dengan menggunakan akun chatting Mia. Maia hadir di saat Mia susah maupun senang. Kriteria penyebab adanya teman khayalan pada anak-anak ada pada Mia. Maia adalah teman khayalan Mia meskipun film I Am Hope sama sekali tidak menjelaskan secara verbal siapa Maia sebenarnya.        


Akhir Kisah Film I Am Hope dan Maia

Setelah mencapai klimaksnya, alur kisah Mia dipercepat. Pada satu titik, saya mendapat gambaran pergolakan hidup Mia sebagai pejuang kanker. Namun di sisi lain saya masih belum puas melihat perjuangan orang-orang yang berusaha bertahan dengan kanker dan pengobatannya. Penderitaan Mia kadarnya masih kecil dibandingkan sebagian besar pejuang kanker lainnya. Hanya support group kanker yang diikuti Mia saja yang sedikit menghibur dan membuka wawasan saya, petapa gigihnya usaha para pejuang kanker di luar sana. 

Di film I Am Hope, Mia beruntung, punya ayah yang sangat peduli dengan kanker paru-parunya, ada David yang menjadi pendampingnya serta kru teater yang berusaha mengerti dengan penyakit Mia. Kesulitan finansial pun tidak begitu terlihat pada Raja dan Mia. Padahal fakta tersirat dari film I Am Hope, di sekitar kita masih banyak pejuang kanker yang akhirnya menjadi penderita kanker. Mereka memang benar-benar menderita karena sedikit mendapat dukungan dari keluarga untuk sembuh, tiada sahabat dan teman untuk mengatasi depresi, tiada dana untuk berobat, putus asa dan kehilangan harapan tanpa teman imajinasi yang menguatkan seperti Maia. 


Mia dan Maia dalam I am Hope

Bagusnya, pemutaran film I Am Hope dibarengi dengan gerakan gelang harapan. Dalam beberapa adegan, makna gelang harapan disampaikan para tokoh film I Am Hope secara verbal. Gelang harapan mungkin bisa menjadi pencetus lahirnya teman-teman khayalan di benak para pejuang kanker atau lahirnya harapan hidup yang lebih panjang daripada vonis dokter. 


Hope Bracelet


Film I Am Hope patut ditonton siapa saja, baik pejuang kanker dengan kanker atau tanpa kanker di tubuhnya. Bagi mereka yang belum terkena kanker, film I Am Hope dapat menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang sedang bertarung dengan kanker di tubuhnya dan menimbulkan kesadaran hidup sehat, penanggulangan kanker sejak dini. Bagi pejuang kanker yang sudah divonis dokter, Film I Am Hope bisa menumbuhkan benih-benih harapan dan ketegaran menjalani kemoterapi dan pengobatan kanker lainnya. 


Tatjana Saphira dalam Hope






Diberdayakan oleh Blogger.

Vivalog

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Blog Friendship

statistics

Subscribe Here

About