Koko Nata

Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 12 November 2020

Membuktikan Khasiat Sabun Sebu

Sabun SEBU Banner

Berawal dari keisengan mengganti sabun mandi, kulit saya menjadi iritasi. Timbul ruam kulit di sekitar dada. Iseng-iseng berbuah pahit ini namanya.

Mengganti Sabun

Keluarga saya menggunakan sabun kesehatan berbentuk cair dan batangan. Istri dan anak menggunakan sabun cair, saya lebih suka sabun batangan. Alasannya sederhana, sejak kecil saya menggunakan sabun batangan.

Suatu hari saya mengganti merek sabun mandi batangan. Sabun aroma buah-buahan, lemon dan apel. Saya membelinya di satu lokapasar (market place), sekalian membeli kebutuhan bulanan. Harganya murah. Sekitar Rp2,000 per satu batang, masih ada kembalian.

Tanpa saya minta, si kecil membuka bungkus kedua sabun itu sekaligus. Jadilah dua sabun berwarna kuning kulit lemon dan daging apel menghias wadah sabun mandi. Saya pikir tidak apa. Bisa gonta-ganti menggunakannya. Sekalian menikmati aroma buah-buahan yang berbeda.

Sabun Menimbulkan Iritasi

Beberapa hari setelah pemakaian sabun baru itu, saya merasakan gatal-gatal di area dada, di bawah puting kanan dan kiri. Saya raba, kok kulit terasa kasar. Saya melihat pantulan bayangan saya di cermin. Terlihat ruam kulit seperti keringat malam pada bayi.

“Ini apa, ya?” tanya saya pada istri yang berprofesi sebagai perawat.

“Kayak keringat malam. Coba pakai salep di kotak meja rias aja,” saran istri saya.

Saya mengoleskan salep tipis-tipis usai mandi pagi dan sore. Agak berkurang gatalnya. Namun ruam terlihat melebar. Mulai dari area di bawah puting kanan dan kiri ke tengah, lalu seolah turun ke bawah menuju pusar.

“Coba pakai bedak C juga. Bedak itu ada zat untuk mengurangi iritasi,” saran istri saya lagi. Bedak memang mujarab untuk masalah kulitnya. Apabila kulitnya iritasi akibat garukan yang terlalu keras, cukup dibedakin saja.

Saya mencoba menggunakan bedak juga selain salep. Paling tidak bisa membuat kulit tetap kering. Namun saya tetap menanggung rasa gatal yang bikin tangan ingin menggaruk. Permukaan kulit pun terlihat semakin merah.

Setelah timbulnya ruam itu, saya belum menyadari penggantian sabun sebagai penyebabnya. Ketika mandi dan melihat tumpukan sabun di wadahnya, barulah saya pun berpikir, jangan-jangan sabun inilah penyebabnya. Perbedaan perilaku saya sebelum dan sesudah timbulnya ruam adalah penggantian sabun itu. Maka saya menyimpulkan, sabunlah biang keladinya.

Ganti Sabun Lagi

Sepertinya harus ganti sabun ini, pikir saya.

Saya teringat satu merek sabun yang pernah diinformasikan teman. Namanya Sabun SEBU. Saat tahu tentang sabun itu bulan lalu, saya tidak begitu tertarik. Harganya mahal. Bayangkan saja, satu sabun SEBU harganya setara dengan 2 lusin sabun batangan yang sering saya pakai.

Bisa dimaklumi harga yang relatif mahal itu. Sebagian besar komposisi Sabun SEBU bahan-bahan alami. Madu, ekstrak lemon, minyak zaitun, virgin coconut oil, minyak sawit, dan lainnya. Berbeda dengan sabun-sabun biasa, Sabun SEBU tidak menggunakan pewarna, pewangi, apalagi pengawet. Tidak ada zat-zat yang dapat membahayakan ibu hamil dan menyusui seperti yang dipaparkan dalam Can Fam Physician (1).

Komposisi Sabun SEBU

Tiada penambahan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), senyawa surfaktan atau yang biasa disebut dengan deterjen. SLS sebenarnya cukup aman digunakan, sebagaimana terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada Environ Health Insights(2). SLS berfungsi sebagai deterjen penghasil busa. Ada persepsi yang keliru dalam masyarakat kita (termasuk saya juga ini) bahwa semakin banyak busa pada satu produk pembersih semakin bagus untuk mengangkat kotoran. Padahal tidak ada hubungan antara banyaknya busa dengan daya bersih.

Dikutip dari Republika publikasi (5/2/2023)(3) Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Srie Prihianti, PhD, SpKK menjelaskan busa yang banyak mengangkat sebagian lemak di permukaan kulit.  Padahal lemak pada permukaan kulit kita berfungsi sebagai pelindung, mencegah gangguan kulit seperti iritasi, radang, dan  alergi. Dokter Srie menyarankan agar menghindari saja sabun yang memiliki kandungan SLS.

Saya sempat terpikir untuk ke dokter kulit saja. Namun di masa pandemi Covid19 ini, konsultasi ke rumah sakit berisiko. Konsultasi secara daring atau melalui aplikasi saya belum pernah mencobanya. Kurang sreg juga.

Saya melakukan riset daring terlebih dahulu. Membaca blog Sabun SEBU juga menyimak video product knowledge di kanal Sabun SEBU Official. Penjelasan Miss Ayu Ashari (bukan Ayu Azhari yang artis itu, lho), seorang beauty consultant,  cukup memberikan informasi yang saya butuhkan. Bismillah, saya putuskan saja mencoba Sabun SEBU Antiseptik.

Saya mencari Sabun SEBU di marketplace. Kisaran harganya Rp45.000. Apabila dibelikan sabun biasa, bisa dapat dua lusin itu.

Saya cari harga termurah dengan fitur filter. Ada toko yang menjual tester Sabun SEBU Antiseptik dan Sabun SEBU Moist Glow. Hanya saja ukurannya 1/8 dari ukuran aslinya. Harganya pun turun. Sabun SEBU Antiseptik jadi Rp4.000 sedangkan dan Sabun SEBU Moist Glow hanya Rp8.000 (Dari harga Rp200.000). Penjual hanya memperbolehkan order 1 potong saja untuk tiap varian SEBU. Baiklah, saya order saja. Mudah-mudahan bisa jadi solusi bagi permasalahan kulit saya.

Tester Sabun SEBU

Mencoba SEBU Antiseptik

Dua hari kemudian pesanan Sabun SEBU datang. Pengen ngakak sambil salto lihat ukuran Sabun SEBU tester itu. Beneran Sabun SEBU asli yang dipotong menjadi 1/8 bagian. Sabun SEBU Antiseptiknya jadi sebesar uang logam Rp500. Sabun SEBU Moist Glow masih terlihat besar karena bentuk hatinya dibelah dua sehingga berbentuk seperti patahan hati. Bisa dipakai berapa hari, ya?

Sabun SEBU Moist Glow saya gunakan di bagian wajah saja, sedangkan sabun SEBU Antiseptik di seluruh badan. Berdasarkan informasi dari Miss Ayu, kedua sabun SEBU itu sebenarnya bisa digunakan pada wajah dan anggota tubuh lainnya. Perbedaannya SEBU Antiseptik untuk mengatasi masalah, sedangkan SEBU Moist Glow untuk perawatan supaya glowing gitu dan pencegahan masalah kulit.

Saya tidak memiliki masalah kulit di wajah. Hanya abses saja sesekali. Jerawat juga sudah jarang muncul. Maka tepat jika saya gunakan Sabun SEBU Moist Glow di wajah saja.

Miss Ayu menyarankan sabun digosok langsung ke area kulit. Bukan menggosokkan ke tangan sehingga menjadi busa, kemudian busanya baru digosokkan seperti sabun biasa. Padahal busa yang melimpah itu dari detergen. Bagi sebagian orang, detergen dapat menimbulkan masalah kulit juga.

Saya menggosokkan SEBU Antiseptik seukuran uang logam. Warnanya transparan kuning kecokelatan, mirip madu. Mungkin pengaruh kandungan madu di dalamnya. Saya teringat khasiat madu dalam Jurnal Sains Natural. Aktivitas antibakteri sabun madu dapat menyaingi sabun dengan antibakteri sintetis triklosan (zat kimia anti bakteri)(4). Hanya saja ukuran sabun  yang kecil itu bikin saya kesal. Sabunnya sering meleset dari telapak tangan. Risiko pakai sabun tester.

Benar saja, Sabun SEBU Moist Glow dan SEBU Antiseptik tidak menghasilkan busa melimpah, tetapi tetap ada busa lembut yang muncul. Aromanya pun tidak menyengat, tetapi aroma ringan khas bahan-bahan alami.

Miss Ayu menyarankan cara memoles sabun diputar-putar membentuk lingkaran, bukan naik turun. Gerakan memutar membuat bahan-bahan alami lebih efektif bekerja daripada gerakan naik turun yang merenggangkan dan marapatkan pori-pori kulit. Polesan sabun juga tidak langsung dibilas dengan air. Dibiarkan dulu beberapa saat. Jadi nongkrong-nongkrong dulu aja di kamar mandi, menunggu bahan-bahan alami meresap dan bekerja.

Ukuran tester Sabun SEBU

Bukti Khasiat Sabun SEBU

Setelah empat hari pemakaian, Sabun Sebu Antiseptik tester sudah sangat kecil. Sulit digosokkan ke badan lagi. Sementara itu, ukuran Sabun SEBU Moist Glow masih cukup besar.

Alhamdulillah-nya ruam di kulit saya mulai berkurang. Memang tidak langsung hilang serta menjadikan kulit halus mulus. Namun sebaran ruam menyempit, tinggal kemerahan di bawah puting saja. Rasa gatalnya pun berkurang. Berarti kulit saya cocok menggunakan Sabun SEBU Antiseptik. Jadi pengen sujud syukur sambil salto.

Before After Pakai Sabun SEBU

Saya pesan lagi Sabun SEBU Antiseptik. Kali ini ukuran asli dong. Di satu lokapasar saya menemukan toko yang lokasinya dekat dengan rumah saya, sehingga bisa diantar dengan layanan ojek daring. Dapat harga grosir juga apabila membeli dua atau lebih Sabun SEBU Antiseptik. Dari harga Rp45.000 turun jadi Rp39.500 plus cashback Rp10.000 dan belasan ribu koin. Saya pesan saja 4 batang Sabun SEBU Antiseptik sekaligus.

Saya coba berhitung. Seperdelapan Sabun SEBU Antiseptik bisa dipakai 4 hari. Berarti satu Sabun SEBU Antiseptik bisa dipakai untuk 24 hari. Tidak sampai 1 bulan Sabun SEBU Antiseptik sudah habis. Apabila istri dan anak saya menggunakan Sabun SEBU Antiseptik, bisa menghabiskan 1 batang Sabun SEBU Antiseptik. Waduh!

Jiwa miss queen yang berontak saya redam dengan mengingat manfaat yang didapatkan. Sabun SEBU Antiseptik dapat meredakan sejumlah masalah kulit seperti jerawat, flek hitam, ruam popok, gatal gatal, komedo, panu, kudis, dan kurap. Bonusnya, kulit tetap lembut dan lembab.

Di samping berbagai manfaatnya, saya merasa Sabun SEBU Antiseptik ini terlalu kecil ukurannya. Hanya 50 gram, sementara harganya relatif mahal. Selain itu, saat ini kita hanya bisa mendapatkannya di reseller. Belum tersedia di toko, minimarket, atau warung. Mungkin karena produk premium, ya. Bakal merana tak tersentuh konsumen kalau cuma tergeletak di rak toko atau warung. Hilang kesan premiumnya. 

Kelebihan SEBU

Kekurangan SEBU

Sabun SEBU Membunuh COVID19

Blog Sabun Sebu juga menyatakan Sabun SEBU Antiseptik mengandung povidone iodine. Zak aktif yang terbukti dapat membinasakan pertumbuhan mikroba berbahaya seperti kuman patogen, bakteri, dan beberapa virus seperti CORONA VIRUS (Covid-19) seperti yang dipublikasikan oleh Republika pada (11/2/2020)(5). Namun saya belum menemukan povidone iodine tertulis pada kemasan Sabun SEBU Antiseptik.   

Kenapa zat yang berfaedah di masa pandemi COVID19 itu tidak tercantum, ya?

Saya coba kontak reseller, customer service Sabun SEBU. Alhamdulillah dihubungkan dengan Miss Ayu juga Pak Fitra. Bahkan Miss Ayu sendiri yang menelepon saya pada Rabu (25/11/2020). Miss Ayu dan Pak Fitra bergantian bicara dengan saya. Dari keduanya saya mendapat penjelasan terkait kandungan povidone iodine

Povidone iodine (C6H9I2NO) adalah senyawa yang sering digunakan sebagai antiseptik. Dikutip dari Dental Journal (Desember, 2014)(6), poviodone iodine memiliki sifat anti bakteri utamanya melalui mekanisme dimana povidone membawa senyawa iodine bebas masuk menembus membran sel. Senyawa iodine memiliki sifat yang sitotoksik sehingga mampu membunuh sel bakteri. Termasuk si COVID19.

Sayangnya, menurut Pak Fitra yang menangani produksi Sabun SEBU, secara administrasi Povidone Iodine tidak bisa dimasukkan dalam produk kategori natural soap. Maka dari itulah, meskipun Sabun SEBU mengandung Povidone Iodine, tetapi tidak tercantum dalam kemasannya.

Kabar baiknya, tim riset Sabun SEBU menemukan bahwa akar manis atau Licorice mengandung bahan-bahan yang khasiatnya sama dengan Povidone Iodine. Licorice yang memiliki nama ilmiah Glycyrrhiza Glabra mengandung asam glycyrrhizic (GLR) yang tengah diteliti secara intensif karena dapat mengatasi COVID19 n sebagai antiseptik. Dikutip dari Dental Journal (Desember, 2014)(7). Sejumlah ilmuwan sudah merekomendasikan penggunaan Licorice ini.

Licorice dalam Sabun SEBU

Tim produksi Sabun SEBU dalam waktu dekat akan mengumumkan produk Sabun SEBU yang juga terbuat dari licorice tersebut, selain mengganti nama SEBU Antiseptik. Sabun Antiseptik pada umumnya tidak bisa digunakan terus menerus karena dapat membunuh kuman baik pula. Padahal faktanya (seperti yang sudah saya buktikan) sabun SEBU dapat digunakan secara terus menerus guna mencegah berbagai penyakit. Penyakit akibat COVID19 satu di antaranya.

Saya juga sedang coba meneruskan pemakaian sabun mandi SEBU meskipun ruamnya sudah jauh berkurang. Sebab kulit saya rawan keloid. Luka bentol gigitan nyamuk atau jerawat dapat berubah menjadi keloid. Beberapa keloid yang sudah ada juga saya rasakan semakin membesar. Maka dari itu, saya berharap Sabun SEBU dapat mengecilkan keloid yang sudah ada.

Di masa pandemi ini, langkah pencegahan infeksi kuman mau tidak mau terus kita lakukan. Tentu saja diiringi dengan doa kepada-Nya: Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman.

“Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan  rasa nyeri.”

Amin amin ra robaal ‘alamin

Semoga pandemi COVID19 segera berlalu. 

Manfaat Sabun SEBU Antiseptik

Rujukan

1. Pina Bozzo, Angela Chua-Gocheco, MD, and Adrienne Einarson, RN. (2011). Safety of skin care products during pregnancy. Diunduh dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3114665/ pada 22 November 2020.

2. Bondi, CA., Julia L Marks,J.L, Lauren B Wroblewski, L.B., Raatikainen, H.S., Lenox, S.R., Gebhardt, K.E. (2015). Human and Environmental Toxicity of Sodium Lauryl Sulfate (SLS): Evidence for Safe Use in Household Cleaning Products. Environ Health Insights. 2015; 9: 27–32. doi: 10.4137/EHI.S31765

3. Putra, Yudha Manggala P. (2013). Hindari Sabun Mandi Mengandung 'Sulfactan'. 05 Februari 2013. Diunduh dari https://republika.co.id/berita/mhr5h7/hindari-sabun-mandi-mengandung-sulfactan pada 22 November 2020

4. Raisa, A., Srikandi, S., & Hutagaol, R. P. (2018). Optimasi Penambahan Madu Sebagai Zat Anti Bakteri Staphylococcus aureus, Pada Produk Sabun Mandi Cair. Jurnal Sains Natural, 6, 52–63

5. Awaliyah, Gumanti., Dwinanda, Reiny. (2020). Sabun Antiseptik Seperti Apa yang Bisa Bunuh Virus? 11 Februari 2020. Diunduh dari https://republika.co.id/berita/q5hw2d414/sabun-antiseptik-seperti-apa-yang-bisa-bunuh-virus pada 22 November 2020

6. Sinaredi, Betadion Rizki., Pradopo, Seno., & Wibowo, Teguh Budi. (2014). Daya antibakteri obat kumur chlorhexidine, povidone iodine, fluoride suplementasi zinc terhadap, Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Dental Journal, Volume 47, Number 4.

7. Baillya, Christian & Vergotenb, Gérard. (2020) Glycyrrhizin: An alternative drug for the treatment of COVID-19 infection and the associated respiratory syndrome? Elsevier Public Health Emergency Collection. Published online 2020 Jun 24. doi: 10.1016/j.pharmthera.2020.107618

8. Adiwibowo, Muhammad Triyogo. (2020) Aditif Sabun Mandi: Antimikroba dan Antioksidan. 1 Juni 2020. Diunduh dari https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jip/article/view/8397 pada 22 November 2020

 

Sumber foto

Dokumentasi pribadi, Canva dan sabunsebu.com

Sabtu, 31 Oktober 2020

4 Jenis Kekerasan yang Mengancam Hidup Anak, Orang Tua Tanpa Sadar Sering Melakukannya

 

Ancaman Kekerasan Anak


Orang tua sepatutnya mengasuh anak dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Namun tanpa sadar orang tua sering melakukan kekerasan terhadap anaknya. Kekerasan mengancam kehidupan anak sehingga memengaruhi tumbuh kembangnya.

Sebagian orang tua hanya memahami kekerasan secara fisik saja. Padahal menurut WHO, kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang (masyarakat) yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan, atau perampasan hak.

Terry E. Lawson, seorang psikolog dan penulis buku Parenting : What We Need to Know to Make a Difference  membagi kekerasan terhadap anak menjadi beberapa jenis

1. Physical Abuse (kekerasan fisik)

·        Terjadi ketika orang tua atau pengasuh memukul/menjewer/mencubit dan melakukan perbuatan yang menyakitkan fisik lainnya.

·        Seringkali dilakukan untuk mengondisikan anak sesuai keinginan orang tua atau saat anak ingin sesuatu.

·        Anak dapat mengingat kekerasan fisik yang dilakukan terhadapnya.

·        Penelitian University of Wisconsin menemukan bahwa anak yang mengalami kekerasan fisik memiliki amigdala dan hippocampus yang lebih kecil pada usia 12 tahun daripada anak-anak tanpa riwayat stres. Mereka yang memiliki amigdala dan hippocampus terkecil juga memiliki masalah perilaku seperti berkelahi atau bolos sekolah.

·        Amygdala terlibat dalam pengaturan emosi, pengambilan keputusan juga wilayah penting untuk mengatur perilaku agresif. Hippocampus juga terlibat dalam pemrosesan emosi, juga penting untuk pembentukan ingatan. Hippocampus yang lebih kecil pada anak-anak yang mengalami pelecehan bisa menghadirkan rintangan untuk belajar dan menghambat pembelajaran di sekolah.

 

2. Sexual Abuse (kekerasan seksual)

·        Terjadi apabila seseorang melibatkan, membujuk, atau memaksa anak dalam kegiatan seksual, termasuk mendorong anak berperilaku seksual yang tidak pantas.

·        Kekerasan dapat terjadi secara langsung terhadap kemaluan dan anggota tubuh anak dengan atau tanpa pakaian.

·        Kekerasan sesksual juga termasuk paparan aktivitas seksual, pembuatan film, dan  prostitusi.

·        Studi neuroimaging membuktikan kekerasan seksual masa kanak-kanak memengaruhi perkembangan otak, menyebabkan perbedaan anatomi otak dan fungsi yang berdampak pada kesehatan mental yang negatif seumur hidup.(1)

·        Kekerasan seksual di masa kanak-kanak terkait dengan banyak konsekuensi psikologis jangka panjang, termasuk bunuh diri, gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, attention-deficit / hyperactivity disorder, gangguan perilaku (conduct disorder), intergenerational effects, ketidakstabilan afektif dan penyalahgunaan narkotika.(2)

 

3. Emotional Abuse (kekerasan emosional)

·        Terjadi ketika orang tua atau pengasuh mengabaikan anak setelah mengetahui ia meminta perhatian.

·        Misalnya anak dibiarkan lapar karena orang tua terlalu sibuk dan tak mau diganggu. Kebutuhan anak untuk dipeluk dan dilindungi terabaikan.

·        Anak dapat mengingat semua kekerasan emosional itu sepanjang hidupnya tanpa ia sadari.

·        Efek dari pelecehan emosional lebih jarang dipikirkan, tetapi tidak kurang merugikan kesehatan fisik dan mental anak.

·        Anak-anak - dan orang dewasa - yang telah mengalami pengabaian emosional dapat merasa sulit untuk membentuk hubungan yang sehat. Mereka menjadi terlalu bergantung atau bergantung pada satu orang, atau terisolasi secara sosial di kemudian hari.

·          Anak-anak yang mengalami tekanan emosional sejak usia muda memiliki masalah dengan emosi dan ingatan.(3)

 

4. Verbal Abuse (kekerasan verbal)

·        Terjadi ketika orang tua atau pengasuh berkata kasar dan menyakitkan.

·        Misalnya menyuruh anak diam atau tidak menangis setelah mengetahui ia meminta perhatian.

·        Saat anak mulai bicara untuk mengungkapkan perasaannya, orang tua terus memarahinya.

·        Percobaan Kurt Gray dan Daniel Wegner menemukan bahwa kata-kata yang diucapkan dengan maksud jahat, untuk menyakiti atau meremehkan, memberikan lebih banyak rasa sakit daripada yang dikatakan tanpa pemikiran sebelumnya atau niat yang sebenarnya. (4)

·        Apabila ibu penuh kasih sayang sedangkan ayah pelaku kekerasan verbal yang kejam, kebaikan ibu tidak akan mengurangi kerusakan yang dilakukan Ayah sedikitpun. (5)

·        Penelitian dengan cara pemindaian MRI pada sejumlah partisipan menunjukkan rasa sakit emosional dan fisik sangat mirip.(6)

Itulah 4 kekerasan yang berpotensi dilakukan orang tua atau orang-orang di sekitar anak. Semoga kita menjadi lebih sadar bahwa kekerasan bukan soal fisik semata.

 

Rujukan

(1). Child Abuse Review Volume27, Issue 3 May/June 2018 Pages 198-208) https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/car.2514

(2). The Journal of Clinical Psychiatry 69: 584–596

(3). https://nypost.com/2017/11/02/brain-scans-reveal-how-badly-emotional-abuse-damages-kids/

(4). Gray, Kurt and Daniel M. Wegner, “The Sting of Intentional Pain,” Psychological Science (2008), vol. 19, number 12, 1260-1262.

(5). https://www.psychologytoday.com/us/blog/tech-support/201602/5-things-everyone-must-understand-about-verbal-abuse.

(6). Kross, Ethan, Marc G. Berman et al.  “Social rejection shares somatosensory representations with physical pain” (2011) PNAS, vol, 108, no.5, 6270-6275

Sumber foto: Freepik.com

Kamis, 15 Oktober 2020

Tantangan Orangtua Mendidik Anak Generasi Alfa

 

Kehadiran ponsel pintar dan berbagai aplikasinya serta kemudahan akses internet membawa banyak perubahan dalam masyarakat. Dulu saat saya kecil, televisi menjadi media untuk mendapatkan hiburan semisal film kartun. Kini di rumah saya, kegiatan menonton bukan dari televisi lagi melainkan dari ponsel pintar.

Untuk memahami perubahan perilaku masyarakat, para marketer menggunakan teori generasi XYZ. Di dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha yang ditulis nalis sosial-cum-demograf, Mark McCrindle, setelah generasi Z yang lahir pada pertengahan tahun 1990-an hingga pertengahan tahun 2000-an akan muncul Generasi A alias Generasi Alfa.

Tahun kelahiran generasi A dimulai dari 2010. Generasi Alfa merupakan anak dari generasi Y atau Millenial Generation (kelahiran 1977-1994). Menurut McCrindle, generasi Alfa merupakan generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Sekitar 2,5 juta Generasi Alfa lahir setiap minggu hingga berjumlah sekitar 2 miliar pada 2025.

Sejumlah penelitian dilakukan untuk mengetahui preferensi gaya hidup, politik, dan ekonomi generasi ini kelak. Gunanya untuk menerka bagaimana perputaran dunia di masa mereka.

Sejumlah ciri generasi A disusun sebagai berikut

  • ·        Menghabiskan sekitar 18 juta dolar per tahun hanya untuk konsumsi mainan, pakaian, dan tetek-bengek teknologi baru yang cuma ada di zaman ini.
  • ·        Generasi yang paling terdidik daripada Generasi Z
  • ·        Terbiasa mengakses informasi via internet.
  • ·        Piawai menggunakan touchscreen untuk mengakses program Android yang banyak tersedia secara bebas.
  • ·        Akrab dengan teknologi
  • ·        Jarak semakin tidak berarti bagi Generasi A, ruang dan waktu seolah tanpa batas.
  • ·        Pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi.
  • ·        Menjadi generasi paling sejahtera.


Saya yakin, sebagian ciri tersebut sudah terlihat pada anak-anak kita. Fenomena perilaku generasi alfa tersebut menjadi tantangan bagi orang tua zaman now. Anak hidup dalam arus deras informasi. Mereka bisa hanyut jika tidak didampingi.

Bandingkan saja dari segi tontonan. Kita yang tumbuh hanya dengan tontonan stasiun TVRI di era 1980-an dan 1990-an masih menonton pada jam yang sangat terbatas. Bandingkan dengan anak saat ini yang bisa menonton minimal 15 saluran televisi nasional serta stasiun televisi lokal.

Apabila anak mudah menggunakan internet dan disediakan gawai, mereka bisa menjelajah ke berbagai dunia melalui media sosial semisal Youtube. Anak melihat konten medsos yang belum tentu tepat bagi usianya dari seluruh dunia. Alasan orang tua yang membekali anaknya dengan gawai agar anak tidak gagap teknologi malah menjadi user only. Bukannya penguasa teknologi, melainkan dikuasai teknologi informasi.

Apakah kita sebagai orang tua siap menghadapi anak yang seringkali lebih mahir menggunakan aplikasi?

Mampukah kita sebagai orang tua berkomunikasi dengan anak semantara ia lebih banyak berkomunikasi melalui gawai dengan siapa saja?

Bisakah kita sebagai orang tua sabar menghadapi anak yang seringkali lebih asyik dengan gawainya?

Fenomena anak yang asyik sendiri dengan dunianya dalam gawai terkoneksi internet makin sering kita temukan. Orang harus tua tegas mengambil keputusan sejak dini, ingin menjadi keluarga yang dikendalikan oleh teknologi informasi atau pengendali teknologi informasi.

Buat aturan tegas terkait penggunaan gawai. Misalnya gawai harus nonaktif mulai pukul 18.00 kecuali untuk urusan yang sangat penting. Orang tua menerapkan terlebih dahulu secara konsisten agar diikuti anak-anak.

Kebiasaan baik selalu dimulai dari orang tua. Anak akan meniru dengan sendirinya. Makin muda usia anak, makin cepat dan mudah membentuk perilakunya. Jangan nanti-nanti sehingga butuh waktu lebih lama untuk menerapkan kebiasaan baik pada anak.    


Sumber gambar
goodmorningamerica.com, yellow-communications.com 

Sabtu, 10 Oktober 2020

Mengingat Kembali Jawaban Pertanyaan Mengapa Ingin Memiliki Anak

Ada satu pertanyaan sederhana, namun tidak semua pasangan menikah dapat menjawabnya. Pertanyaan itu adalah, “mengapa ingin memiliki anak?”

Bagi pasangan yang bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak, pertanyaan itu akan dijawab dengan lancar. Mereka sudah melewati ribuan hari tanpa tangis bayi, tiada canda tawa dengan anak-anak. Mereka menemukan banyak sekali alasan sehingga ingin sekali memiliki anak.

Untuk pasangan yang sangat mudah dititipi anak oleh-Nya, pertanyaan mengapa ingin memiliki anak, bisa jadi terbersit pun tidak. Anak seolah hadir begitu saja. Baru saja menikah, beberapa bulan kemudian istri hamil. Setahun kemudian pasangan suami istri telah menjadi orang tua. Beberapa tahun kemudian, anak kedua, ketiga dan seterusnya lahir.

Jawaban-jawaban berikut ini mungkin menjadi jawaban sekian orang tua saat mendapat pertanyaan tersebut:

  • Saya ingin menciptakan kembali masa kecil yang indah
  • Ngg…Semacam investasi untuk hari nanti
  • Sebab saya percaya, kita akan menjadi dewasa dengan mengasuh anak
  • Anak yang soleh akan selalu mendoakan orang tua. Saat saya tiada, saya ingin anak-anak terus mendoakan saya. 
  • Melestarikan spesies manusia, supaya tidak punah
  • Memenuhi harapan masyarakat umum, pasangan yang menikah harus punya anak
  • Karena saya suka anak-anak
  • Membantu membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik
  • Ingin menjadi orang tua yang lebih baik daripada orang tua yang saya miliki
  • Panggilan spiritual
  • Semacam balas budi terhadap orang tua saya
  • Dorongan biologis sebagai manusia
  • Agar saat usia senja tidak kesepian

Tidak ada jawaban yang salah dan benar. Semua jawaban di atas bisa benar. Bahkan kalau saya ditanya, maka semua jawaban di atas tersebut bisa saja terlontar dari mulut saya.

Berdasarkan jawaban di atas, meskipun redaksi kalimatnya berbeda-beda namun manfaatnya balik kepada diri si pemberi jawaban yaitu orang tua. Jawaban cenderung untuk memberikan manfaatnya kepada orang tua.

Jika memiliki anak untuk manfaat diri sendiri, kenapa para orang tua (termasuk saya ini) masih sering mengeluh dengan berbagai tingkah laku anak yang pada dasarnya wajar bagi anak seusianya?

Jawabannya bisa beragam juga. Bisa jadi karena bewaan lelah, fustasi dan lainnya. Sesekali mengeluh itu wajar juga. Sesungguhnya manusia memang makhluk yang sering berkeluh kesan, kan ya?

Maka, ketika kita mulai berkeluh kesah soal pengasuhan anak, cobalah ingat lagi jawaban pertanyaan, kenapa saya ingin memiliki anak? Jawaban-jawaban itu mungkin bisa meringankan sedikit beban, menghalau keluh kesah yang akan keluar dari mulut kita. Semoga


Sumber foto:iamexpat.nl, indiatimes.com

Kamis, 30 Juli 2020

Ketika Anak SD Mulai Menggunakan Ponsel Pintar

Anak main ponsel

Awalnya si kecil membawa ponsel pintar saya ke taman di depan rumah. Di sana ada teman-temannya. Usia mereka 8 – 12 tahun. Sebagian sudah punya ponsel sendiri.

Sepulang dari taman ada miscalled. Sejak itu mulailah berdatangan chat dari teman-teman si kecil. Bahkan mereka membuat grup whatsapp. Ukhti Penghuni Surga namanya. Masya Allah... 😃

Saya memperbolehkan si kecil membalas chat teman-temannya. Saya pilih membimbing bukan melarang. Lebih baik si kecil belajar dari saya daripada diajari orang lain yang belum tentu tepat. Namun saya selalu mengingatkan si kecil, chat-nya 5-10 menit saja atau saya pasang alarm sebagai tanda untuk berhenti.

Seringkali saat si kecil chating, saya pantau Whatsapp web. Dia tahu karena kami duduk berdekatan. Dia di sofa, saya menghadap laptop di depannya. Sesekali dia melihat layar laptop apabila saya tersenyum karena membaca chat-nya.  

Seringkali saya menganggap chat dia dan teman-temannya nggak penting. Misalnya janjian main jam berapa atau minta disamperin ke rumah untuk main. Tapi saya menahan mulut ini untuk tidak mengatakan hal itu. Apa yang tidak penting menurut kita, orang dewasa, bisa jadi sangat penting bagi anak kecil.

Satu hal yang saya temukan dari chat anak-anak usia SD tersebut adalah sifat egosentris mereka. Temannya yang sudah kelas 6 pun seringkali belum bisa merasakan berada di posisi orang lain. Minta chat-nya langsung dibalas, marah jika chat-nya lama direspon, berbagi foto saat dia dan keluarganya jalan-jalan yg bisa bikin temannya iri.

Saya tidak bisa memengaruhi anak orang lain secara langsung. Namun lewat si kecil saya berusaha memberikan pengaruh itu. Misalnya saya sering mengatakan, “tolong nanti bilang sama si A, kalau aku ga balas chat kamu itu karena aku lagi ngerjain yang lain. Nggak pegang ponsel aja.” Entah tepat atau tidak cara ini.

Chat anak

Seperti pagi itu, si kecil sudah chat aja, bertanya temannya sudah bangun atau belum. Kemudian ponsel-nya ditinggal aja. Temannya jawab dan minta segera dibalas. Jadilah saya yang membalas chat temannya itu. Saya memberi tahu bahwa si kecil sedang sibuk dengan kata aku.

Saya bukan orang tua yang saklek melarang anak menggunakan ponsel. Saya memilih untuk mendampingi dan membatasi. Meskipun begitu saya sepakat, anak sebaiknya punya ponsel sendiri ketika sudah akil balig. Jika belum baiknya ponsel masih berstatus pinjam dari orang tua.   

Anak yang sudah akil balig sudah mulai bisa berpikir jauh ke depan, mempertimbangkan sebab akibat dan kontrol dirinya lebih baik daripada yang belum akil balig. Hanya saja perkembangan tiap anak kan beda-beda. Orang tua yang sudah memberikan kepemilikan ponsel untuk anak yang belum akil balig mungkin punya pertimbangan sendiri. 

Sumber foto freepik.com

Kamis, 16 Juli 2020

Perjalanan Gila Lilik Gunawan dan Anak Balitanya Balda dari Jambi ke Mekah dengan Sepeda Motor NMax

Rabu (8/7/2020) Lilik Gunawan dan putranya Balda berkunjung ke Syaamil Quran. Kunjungan yang mendadak. Untunglah saat itu saya sedang berada di kantor, bukan work from home.

Mereka kami ajak melihat proses pembuatan Al Qur’an. Lilik kembali menuturkan kisah perjalanan bersama Balda dari Jambi ke Mekah. Meskipun saya sudah mendengar kisahnya di media daring dan acara bincang-bincang televisi, penuturan ayah 3 anak itu tetap saja menarik.

Lilik mampir ke Syaamil dalam perjalanan pulang menuju Jambi. Mantan anggota DPRD Kabupaten Merangin, Jambi itu mengendarai sepeda motor Nmax dari Surabaya. Nmax yang pernah mereka pakai selama 8 bulan Jambi-Mekah itu baru tiba di Pelabuhan Surabaya. Lilik pernah melelang sepeda motor itu, namun kemudian membatalkannya.

Membawa Anak Balita

Kalau dipikir-pikir, memang gila perjalanan Lilik dan Balda itu. Bayangkan saja, mengendarai sepeda motor dengan Balda yang masih berusia 4 tahun menyusuri Jambi hingga Mekah.

Lilik dan Balda di India
Lilik dan Balda bersama satu keluarga di Guwahati, India.

“Saya bawa Balda itu untuk teman saya. Menguatkan saya. Pernah dalam satu perjalanan di India, kami berada di belakang truk. Truk itu nggak lihat kami di belakangnya. Karena berusaha menghindari truk itu kami masuk ke lumpur. Belepotan semua. Sambil tertawa, Balda bilang ke saya, ‘Ayah kayak orang gila.’ Kami tertawa.”

Lilik awalnya khawatir mempublikasikan perjalanannya bersama Balda. Khawatir dituduh melakukan eksploitasi anak yang masih berusia 4 tahun kala melakukan perjalanan itu. Namun para wartawan menguatkannya.

“Kalau eksploitasi, ngapain Mas Lilik peduli dengan safety Balda,” komentar seorang wartawan.

Dukungan wartawan itu akhirnya memantapkan Lilik. Akhirnya dia rutin Lilik mengunggah foto dan kisah perjalannya di akun Instagram pribadinya @jejakpalmarjambi.

“Supaya saya nggak repot menjawab pertanyaan banyak orang, ‘sedang di mana, lagi apa,’ begitu,” tuturnya.

Menyasar Motor Club dan Geng Motor

Perjalanan Lilik menarik perhatian banyak orang, khususnya komunitas pecinta dan pengendara sepeda motor. Lilik sering diundang untuk menceritakan pengalamannya, berbagi tips dan trik.

“Saya banyak hutang cerita. Makanya saya pengen bikin buku,” ujar Lilik. 

Siapa saja dapat membaca kisah lengkap perjalanannya. Lilik berharap kisahnya menginspirasi banyak orang. Terutama mereka yang mampu namun tak kunjung pergi ke Mekah.

Lilik juga ingin menggalakkan kegiatan positif di kalangan motor club dan geng motor. Khusus geng motor, citranya kurang bagus di mata masyarakat. Geng motor identik dengan kegiatan ugal-ugalan di jalan raya.

“Banyak yang baik juga sebenarnya. Tapi masyarakat tahunya yang jelek.”

Saya mendengarkan beberapa pengalaman pria berkulit gelap itu dengan beberapa motor club. Komunitas motor sering melakukan perjalanan jauh bersama (touring). Sebagian masih belum tahu bagaimana cara bersuci dan shalat selama touring. Itu satu dari sekian PR ang ingin dibereskan Lilik.

Mendapat dukungan dari Pidi Baiq, penulis novel Dilan

Orang-orang yang paham agama masih jarang yang berdakwah di kalangan club motor, apalagi geng motor. Lilik ingin menjadi satu dari orang yang jarang itu, meskipun masih terus memperdalam ilmu-ilmu tentang fikih dan lainnya.

Tekad Lilik itu mendapat dukungan dari Pidi Baiq. Sebelum erkunjung ke Syaamil, Lilik sudah bertemu dengan penulis novel Dilan tersebut. Lilik mendapat banyak kisah seputar geng motor dari Pidi Baiq. Ya, Dilan sebenarnya alterego dari Pidi Baiq sendiri. Tidak heran dunia geng motor akrab dengan Pidi Baiq.   

Untuk Ibu

Suksesnya perjalanan Lilik Gunawan dan Balda dari Jambi ke Mekah tidak lepas dari doa sang ibunda. Keduanya berangkat dari Jambi sekitar Mei 2019. Tiba di Mekah hariSenin (30/12/2019) malam.

Kepergian Lilik sebanrnya nekat. Sepada motor yang dipakainya pun belum lunas. Malah sang pemilik menagih pembayaran saat Lilik sedang melakukan perjalanan fenomenal itu.

Berkumpul di Mekah, melaksanakan umroh bersama

Menurut Lilik perjalanannya dari Indonesia sampai India penuh dengan cobaan. Kala kekurangan, kelaparan, Lilik sering menelepon ibunya. Minta didoakan. Setelah didoakan sang ibu, ada saja kemudahan yang diperolehnya. Satu dari kemudahan itu adalah pembayaran lunas atas sepeda motornya oleh Kapolda Jambi.

Seiring dengan publikasi perjalanannya oleh berbagai media, Lilik mulai mendapat banyak kemudahan sejak meninggalkan India. Puncaknya  Istri dan ibu Lilik mendahului tiba di Mekah. Beberapa komunitas dan organisasi yaitu Komunitas Masyarakat Muslim Indonesia Abu Dhabi UEA, Indonesia Muslim Asosiation Dubai UEA dan Organisasi Indo Emirate Ruawais UEA yang berinisiatif memberangkatkan ibu dan istri Lilik. Mereka berkumpul di Mekah setelah delapan bulan berpisah.

Tujuan perjalanan Lilik untuk mendapatkan undangan haji atau haji furoda untuk sang Ibu memang belum tercapai. Tokoh-tokoh yang dapat memberikan furoda yaitu satu ulama di Banjarmasin, Sultan Brunei, dan Raja Salman belum bisa ditemuinya. Namun Lilik berhasil mengumpulkan ratusan pesan singkat tentang makna ibu dari orang-orang yang ditemuinya selama dalam perjalanan. Pesan singkat itulah yang juga akan dibukukannya.

Saya sudah tidak sabar ingin mendengarkan detil kisah perjalanan Lilik melewati 10 negara. Namun sepertinya saya harus bersabar, karena Lilik masih harus melanjutkan perjalanan menuju Jambi.

Alhamdulillah, kini mereka sudah tiba di Jambi. Balda pun sudah bersekolah di sebuah TK. Semoga film dan buku Lilik segera beredar, bisa dinikmati siapa saja.   

 Sumber foto https://www.instagram.com/jejakpalmarjambi/

Jumat, 08 Mei 2020

Mensyukuri Potongan Gaji Ternyata Luar Biasa Dampaknya


Seorang teman memberikan kabar tidak gembira di tengah pandemi corona. Dia bersama ratusan karyawan lainnya di satu penerbitan buku mengalami PHK. Ya, pemutusan hubungan kerja.

Dia kehilangan pekerjaan. Padahal posisinya cukup tinggi. Seorang manajer yang turut berperan dalam pemasukan perusahaannya. Sayangnya sebagian besar toko buku tutup. Sementara itu penjualan secara daring (on-line) masih trial and error. Di masa pandemi, kecenderungan masyarakat mengutamakan kebutuhan pokok daripada belanja buku. Angka penjualan terjun bebas. PHK menjadi langkah penyelamatan perusahaan.

Berbagai perusahaan sejenis dan perusahaan pada umumnya mengambil langkah win-win solution daripada PHK. Gaji seluruh karyawan dipotong. Besar potongan sesuai jabatan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula potongannya. Saya pun mengalami pemotongan gaji mulai akhir April 2020.

Awalnya saya shock. Merasa khawatir tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan. Terlebih pada saat Ramadan dan lebaran, pengeluaran biasanya lebih besar daripada bulan-bulan biasa.

Kemudian saya teringat, sebelumnya gaji saya juga sempat dipotong sekian juta untuk pembelian beberapa paket buku selama 6 bulan. Bahkan pemotongan itu berbarengan dengan potongan uang pangkal sekolah si kecil selama 10 bulan. Saya sekeluarga baik-baik melewati masa-masa potongan tersebut.
Satu nasihat Misbahul Huda dalam video Inspirasi Spirit Ramadhan 5 tentang syukur (Life Excellence) mengingatkan saya untuk mensyukuri saja keadaan ini. Syukur dalam kondisi yang tidak menyenangkan dapat menjadi sarana untuk meraih keberkahan. Allah tetap akan mencukupi kebutuhan saya.

Itulah yang terjadi.

Sebelum masa pandemi corona virus, keluarga saya cenderung makan sendiri-sendiri di luar rumah. Hanya sarapan saja kami membuat sendiri. Apabila dijumlahkan, bisa lebih dari Rp100.000 untuk sehari saja.
Pada masa pandemi ini, kami selalu masak sendiri mulai dari sarapan sampai makan malam. Untuk membeli bahan-bahan makanan Rp100.000 bisa cukup untuk 2 hari. Sebab kami membeli sayur dan lauk-pauk cukup banyak. Inilah cara Allah mencukupi kebutuhan kami, padahal gaji sudah kena potongan.

Anak juga jadi jarang jajan karena sekolah dan bermain di rumah saja. Kami tidak lagi makan di restoran yang kerap membuat bengkak pengeluaran. Pada bulan Ramadan, makanan kecil pun kami buat sendiri. Kegiatan yang jarang sekali terjadi sebelum masa pandemi.

“Selalu positif menghargai, menikmati keadaan. Itulah syukur dalam arti yang sebenarnya,” kalimat Misbahul Huda kembali bergema.

Beliau menyarankan agar kita selalu mengembangkan sikap positif. Sikap positif perlu dikembangkan sehingga kita mampu melihat peluang di antara banyak masalah dan kesulitan. Mampu melihat celah, kesempatan dan tantagan.

Sikap positif juga menjadikan kita huznuuzon, berbaik sangka kepada Allah.Sikap berbaik sangka ini akan menjadi jalan terkabulnya doa. Sebab kalau kita tidak berprasangka baik kepada Allah, doa kita sulit menembus langit.

“Sikap syukur, positif kepada Allah, positif kepada lingkungan, positif dengan apapun yang kita dapatkan kelak mendorong kita menjafi manusia excelent,” nasihat Misbahul Huda.

Saya jadi ingat juga saran Pak Benny, direktur Sygma Daya Insani. “Niatkan potongan gaji itu sebagai sedekah. Insya Allah berkah.”

Ya, saya sekeluarga memang jarang sedekah dalam jumlah besar. Inilah saatnya. Semoga berkah melingkupi kami, juga melingkupi teman-teman yang bersabar serta positif memandang permasalahan yang tengah dihadapi. 

Sumber foto: Freepik.com