Kamis, 23 Juni 2016

Hotel di Cirebon dengan Resepsionis Gadis Cantik Beruban

Hotel di Cirebon dengan Resepsionis Gadis Cantik Beruban

Resepsionis Hotel di Cirebon yang Cantik

Hotel di Cirebon sudah banyak berdiri. Berbagai promosi dan keunikan menjadi serta daya tarik bagi tamu untuk menginap di sana. Satu hotel di Cirebon menghadirkan gadis berambut uban sebagai resepsionisnya.

Awal Pertemuan

Senja telah sempurna ketika mobil yang kami tumpangi menepi di Jalan Kapten  Samadikun 61, Cirebon. Lelah dan gerah mengelayuti badan. Sejak pagi, saya dan belasan teman menempuh perjalanan dari Bandung melewati Sumedang, Majalengka, kemudian masuk ke Cirebon. Perjalanan itu dalam rangka Jelajah Wisata Jawa Barat bersama beberapa komunitas di Bandung. Besok kami masih harus menuju Kuningan. Musium Linggar Jati adalah tujuan kami.


Neo dari Aston Grup Hotel di Cirebon


BACA JUGA: Jejak Legenda Ciung Wanara

Hotel Neo berdiri menjulang di hadapan kami, bersaing dengan bangunan-bangunan lain yang cukup megah. Hotel di Cirebon ternyata sudah banyak pilihannya. Berbeda dengan 5 tahun lalu saat saya dan istri melakukan perjalanan ke Cirebon untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Hotel Neo salah satu hotel di Cirebon yang baru berdiri, bagian grup Hotel Aston. Pemesanan kamar di hotel Neo bisa dilakukan melalui www.traveloka.com


Tanpa menunggu lebih lama lagi, kami masuk ke dalam hotel. Udara sejuk seketika. Interior yang didominasi hiasan dari kayu bermandikan cahaya keemanasan. Beberapa teman mendekati sudut yang menyediakan welcome drink. Saya ikut serta. Jus jambu melewati tenggorokan yang kering tak lama kemudian. Segar…

Setelah jus jambu tandas, kerumunan di meja resepsionis menarik perhatian saya. Beberapa teman berfoto dengan gadis resepsionis. Saya memfokuskan pandangan. Ada yang unik dengan gadis resepsionis itu. Rambutnya beruban alias putih secara keseluruhan! Saya mendekati meja resepsionis dan memerhatikan lebih teliti. Betul rambutnya putih, beruban semua, namun usianya saya taksir di kisaran 20-30 tahun. Saya tersenyum kepadanya saat menerima kunci kamar. Rasa letih menghalangi saya untuk memikirkan lebih lanjut soal warna rambut si gadis resepsionis itu. 
  

Kamar Standar Hotel Neo

Saya menginap di kamar jenis standart. Kamar tidak terlalu luas, namun sangat nyaman untuk saya dan Tio. Ada dua spring bed tipe single yang menghadap ke televisi layar datar ukuran 32 inch. Di bawah televisi ada semacam meja yang memuat perlengkapan minum berlogo Neo. Di sisi kiri, jendela memberikan pemandangan kota Cirebon dari ketinggian belasan meter. Kamar kami berada  di lantai enam.   

Kamar Standar di Hotel Neo Cirebon

Saya merebahkan diri beberapa menit, baru kemudian mandi. Kamar mandi di sisi dekat pintu masuk. Cermin lebar terpasang bersama wash table. Perangkat mandi berlogo Neo tersedia di wash table. Kloset duduk dan area mandi dipisahkan oleh tirai kedap air. Lantai dan dinding kamar mandi bersih bersinar.

Shower mandi dilengkapi dengan saluran air panas dan air dingin. Sama seperti di beberapa hotel, saya kerap kurang akurat menyetel knop temperatur air. Knop disetel ke arah air panas, air yang keluar terlalu panas. Disetel ke pertengahan, air cenderung dingin. Ternyata butuh beberapa menit agar temperatur  air yang keluar benar-benar pas dengan keinginan kita.

Sarapan Ala Cirebon

Usai shalat Subuh di dekat lobi hotel, saya melintasi meja resepsionis. Apakah si gadis berambut uban masih ada di sana? Ternyata tidak ada. Meja resepsionis kosong. Saya duduk-duduk saja di kursi tamu sambil membaca koran yang tersedia, sampai jam di tangan saya menunjukkan jam 06.00 WIB. Jam sarapan sudah tiba.
Restoran hotel dirancang dengan interior gabungan etnik dan modern. Meja dan bangku gaya minimalis berpadu dengan partisi-partisi dari bambu. Makanan yang disajikan ala buffet atau prasmanan juga menghadirkan menu-menu tradisional Cirebon. Meskipun masih pagi dan restoran sepi, saya sudah tak sabar ingin mencicipi aneka menu di sana.

Saya mendekati pojok lesehan yang menyediakan Tahu Gejrot dan Sego Jamblang. Seorang gadis dengan rambut disanggul dan berkebaya hitam melayani pesanan saya. Tahu gejrot siap santap dalam beberapa menit. Seorang teman yang baru datang segera memesan sego jamblang. Menu khas Cirebon lainnya seperti nasi lengko dan bubur sop juga tersedia. Ternyata tak perlu jauh-jauh memesan menu khas Cirebon. Hotel di Cirebon seperti Neo tahu, wisatawan pasti ingin mencicipi menu Cirebon sehingga mereka menyediakannya.


Sarapan Sego Jamblang di Neo Hotel di Cirebon

Sarapan Tahu Gejrot di Neo Hotel di Cirebon

Gadis Beruban Itu Ternyata…

Perut sudah terisi. Saatnya mandi. Saya melintas meja resepsionis lagi. Gadis berambut uban itu ternyata sudah ada di sana. Sama seperti kemarin sore, rambutnya putih dan mengenakan seragam hitam. Saya perhatikan wajahnya, kok beda? Bukan gadis kemarin sore sepertinya. Dia terlihat sibuk dengan komputer di hadapannya. Saya tidak ingin mengganggu, hanya menyapa dan tersenyum sekadarnya saja.

Saya berjalan ke arah lift. Sambil menanti pintu lift terbuka, pandangan saya membentur gambar gadis di pintu lift. Rambutnya juga putih. Saya menoleh ke arah meja resepsionis. Saya menganalisis, kemudian tersenyum sendiri. Terlebih setelah saya melihat-lihat situs hotel Neo dan Traveloka dan menemukan karakter gadis berambun uban di galeri foto situs-situs itu.


Resepsionis Cantik di Hotel Neo, Hotel di Cirebon

Selama gambar gadis beruban ada di pintu lift, x-banner, dan materi publikasi lainnya, saya pasti akan selalu menemukan gadis resepsionis berambut uban menyambut saya dan tamu hotel lainnya. Dalam hati, saya mengakui kecerdikan tim manajemen untuk menghadirkan sosok gadis berambut uban. Hanya saja satu pertanyaan kemudian melintas di kepala saya: seharian berambut ubanan seperti itu, apa tidak risih dan gatal, ya? Demi profesionalitas, mungkin beberapa gadis rela saja tampil seperti itu.    

Rabu, 15 Juni 2016

Fingsingkat Fiksi Mini #1: Raka'at Tarawih

Fingsingkat; Fiksi Mini 


Pak RW meninggalkan rapat DKM begitu usul shalat tarawih 23 raka'atnya ditolak. Alasan DKM, warga di perumahan heterogen; tidak mengacu pada satu jama’ah tertentu saja.

Pekan pertama Ramadhan, Pak RW tidak terlihat shalat tarawih di masjid. Alika, bocah 4 tahun yang sering melihat Pak RW menjadi imam shalat bertanya kepada ayahnya, “Kok, Pak RW nggak ada?”
“Mungkin Pak RW sibuk,” jawab ayahnya.

Di hari kedelapan, Pak RW terlihat shalat Isya dan ikut Tarawih.
Alika yang menyadari keberadaan Pak RW, serta merta mendekatinya, kemudian bertanya, “Pak RW sudah nggak sibuk, ya?”
Pak RW hanya tersenyum kecut. 


foto: hidayatullah.com dengan pengolahan seperlunya

Selasa, 14 Juni 2016

Adu Rasa di Saute Resto Bandung

Adu Rasa Enak di Saute Resto Bandung


Bandung memiliki beragam restoran atau tempat makan yang asyik untuk kumpul bersama keluarga atau sahabat. Salah satunya Saute Resto yang lokasinya dekat dengan Trans Studio Mal Bandung dan Pasar Buku Palasari. Adu rasa masakan lokal dan mancanegara bisa dilakukan di Saute Resto ini. 


Lokasi Saute Resto Strategis dan Tempat Nyaman


Saute Resto berlokasi di Jalan Lodaya No 21, persis di seberang kantor kelurahan Burangrang, Bandung. Saya berkendara dengan sepeda motor melewati Trans Studio Mall, juga kios-kios buku Palasari. Terbersit di benak saya, Saute Resto ini bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah dan santap bersama setelah berburu buku di Palasari.


Begitu memasuki bangunan tiga lantai Saute Resto, suasana teduh terasa. Interior didominasi oleh warna-warna tanah: hitam, cokelat, abu-abu. Dinding dibiarkan memantulkan warna alami semen. Berbagai macam lampu ditata untuk memberikan efek pencahayaan tertentu. Meja-meja kayu cokelat muda dengan dua bangku berhadapan, dapat menampung maksimal 4 orang pengunjung.

Ada gambar-gambar bertema seputar memasak dan makanan pada dinding Saute Resto. Di lantai dasar misalnya, ada gambar frying pan berisi semacam tumisan. Uniknya, gambar ini dibuat hanya dengan cat putih berlatar dinding semen, sehingga timbul kesan gambar dibuat dengan kapur tulis. Penggemar selfie, pastilah tak kuat menahan godaan beraksi dengan latar gambar-gambar Saute Resto ini.  


Saya terus naik ke lantai 3. Berbeda dengan dua lantai sebelumnya. Lantai 3 berlimpah cahaya matahari. Sisi kanan dan kiri lantai 3 Saute Resto dibiarkan terbuka. Tanaman hias di sepanjang sisi membuat lantai ini terasa asri. Pertemuan keluarga besar, arisan atau cara-acara lainnya dengan peserta sekitar 30-an orang sepertinya bisa dilakukan di sini.   

Menu Lokal vs Mancanegara di Saute Resto

Jam di tangan saya menunjukkan: sudah lewat waktu makan siang. Saya meneliti buku menu Saute Resto. Nama makanan, kecuali makanan lokal tersaji dalam bahasa Inggris. Begitu juga bahan-bahan penyusun makanan. Karena menu yang tersedia adalah menu lokal dan mancanegara, segera terbersit di pikiran saya untuk adu rasa antara makanan lokal dan mancanegara. Manakah yang juara?     

GRILL SALMON vs NASI TIMBEL GEPUK

Belum banyak menu ikan di restoran. Maka dari itu saya menunjuk Grill Salmon di antara deretan menu daging dan ayam di buku menu Saute Resto. Ketika pesanan datang, saya agak kecewa, sebab porsinya minimalis. Namun kekecewaan itu terobati oleh rasanya yang bervariasi. Daging ikan salmon dibakar tidak terlalu kering berpadu dengan saus lemon yang segar. Bayam rebus dan bitroot yang cenderung tawar menjadi penyeimbang.  Dalam beberapa kali suapan saja, tandaslah Grill Salmon ala Saute Resto itu. 


Karena masih lapar, saya memesan nasi timbel. Ada 3 variasi nasi timbel yang ditawarkan Saute Resto: Nasi Timbel Ikan Mas, Nasi Timbel Ayam, dan Nasi Timbel Gepuk. Ketiga nasi timbel Saute Resto ini berbeda di lauk utamanya saja. Karena itu saya memilih Nasi Timbel Gepuk. Saat menyuapkan potongan daging gepuk dan coletan sambalnya, rasanya luar biasa. Sambalnya terasa manis dan asam. Setelah beberapa suapan, barulah sambal terasa pedas. Saya penasaran, apa bahan-bahan sambal nasi timbel Saute Resto ini. Di buku menu hanya tertulis spicy fermented soybean cake saja. Terasi? Apa pun namanya. Cita rasa nasi timbel ini mengalahkan Grill Salmon yang sudah saya santap sebelumnya.



SAUTE NOODLE vs FETUCCINE CARBONARA

Saute Noodle sama seperti mi tumis pada umumnya. Ada potongan bakso dan sosis, juga sawi dan seledri. Namun begitu masuk ke mulut. Bumbu entah apa, menyatukan semua bahan sehingga terasa gurih dan nikmat. Kok, bisa lebih enak ya, padahal terlihat seperti mi tumis biasa? Saya coba menebak bumbu-bumbunya sambil terus menyuapkan Saute Noodle itu. 



Saat mencicipi Fetuccine Carbonara, saya memutuskan Saute Noodle juaranya. Mungkin bagi penyuka makanan barat, fetuccini yang berpadu saus sweet and sour cocok di lidah mereka. Namun lidah saya yang terbiasa dengan bumbu rempah nusantara lebih menyukai bawang putih, bawang merah, cabai dan lada yang terhimpun dalam Saute Noodle. Ini hanya masalah selera saja.


TENDERLOIN STEAK vs SOTO BANDUNG

Tenderloin Steak dibandingkan dengan Soto Bandung? Adilkah? Saya mengadunya karena kedua sajian Saute Resto ini berbahan daging. Fillet tenderloin yang sudah saya lumuri saus blackpapper terasa lembut. Matangnya pas, sausnya gurih. Kentangnya juga matang sedang. Sepertinya jika kentang diganti nasi, bakal enak juga. Tapi bukan steak dong namanya. Bagi yang rindu makan daging sapi, sepertinya harus mencoba Tenderloin Steak ini.


Bagaimana dengan Soto Bandung ala Saute Resto. Tentu saja jadi juara sebab saya penyuka makanan berkuah. Untuk rasa yang lebih beragam, cobalah makan Soto Bandung ala saya: menyatukan kacang kedelai, daun bawang, lobak, bawang goreng, daging, dan kuahnya dalam satu sendok, baru kemudian disantap. Kematangan daging pas, lobaknya juga masih terasa renyah. Perasan jeruk nipis menambah kesegaran Soto Bandung. Jika potongan Tenderloin Steak dimasukkan ke dalam kuas soto, sepertinya tambah enak, ya.  


SAUTE SPECIAL FRIED RICE vs ROLLED CHICKEN & BRATWURST
Saat mengadu Saute Special Fried Rice dengan Rolled Chicken dan Bratwurst barulah saya merasa benar-benar tidak adil. Saute Special Fried Rice merupakan makanan satu paket lengkap. Sedangkan Rolled Chicken dan Bratwurst butuh teman seperti nasi putih. Terlebih nasi goreng kabarnya termasuk deretan makanan Indonesia yang sangat populer.


Untuk nasi goreng khas Saute Resto ini langsung menjadi juara di lidah saya dibandingkan Rolled Chicken dan Bratwurst. Bumbu nasi gorengnya apik memadu nasi, potongan ikan (anchovy) dan ayam dan bakso. Lempengan telur dadar seolah ingin menyembunyikan kelezatan nasi goreng ala Saute Resto itu. Saya potong telur dadarnya, kemudian menyendok nasi goreng. Enak!




Bratwusrt yang terdiri dari tiga potong sosis juga nikmat menggoyang lidah, tapi masih kalah dibandingkan nasi goeng Saute Resto menurut lidah saya. Chicken Rolled saja yang kurang begitu saya sukai, mungkin karena sausnya dicolek, bukan seperti nasi goreng yang menyatu sehingga aroma dan rasa nasi goreng menjadi kuat.


Pencuci Mulut ala Saute Resto


Selain main course makanan berat, Saute Resto juga menawarkan beberapa hidangan pencuci mulut dan aneka rupa minuman. Saya memilih Fruit Flambe yang namanya masih asing. Ternyata Fruit Flambe semacam salad buah yang dibakar dengan nyala api. Pantas terasa panas. Ada tambahan pangsit goreng yang membuat Fruit Flambe di Saute Resto ini unik. 


Hidangan pencuci mulut lainnya adalah Saute Salad. Potongan buah ditambah udang, telur rebus, sayuran segar dan saus. Terasa aneh di lidah saya yang belum terbiasa menikmati salad.


Akhirnya semua hidangan itu ditutup dengan Strawberry Mijito. Ada baluran gula dengan karamel di bibir gelas, membuat Mijito ini sebaiknya dinikmati dengan pipet terlebih dahulu. Bibir gelasnya disentuh pada tetes terakhir saja.
Saya mengusap perut saat keluar dari Saute Resto dan berjanji akan kembali lagi dengan keluarga saya.  


   


Saute Family Resto
Jl Lodaya 23, Bandung
Reservasi (022) 73511564
Jam Operasional : 10.00-23.00 WIB
Range Harga : Rp20.000- Rp55.000


Jam buka selama bulan Ramadhan 


Foto-foto dalam tulisan ini merupakan koleksi pribadi yang diambil langsung di Saute Family Resto, 
kecuali 2 gambar terakhir dari IG @sauteresto

Senin, 06 Juni 2016

Legenda Ciung Wanara di Karangkamulyan

Legenda Ciung Wanara di Karangkamulyan


Jelajah 4G bersama Smartfren etape 4 menempuh perjalanan Bandung-Tasikmalaya-Ciamis-Pangandaran pada 28-29 Mei 2016. Salah Satu tujuan yang cukup menarik bagi saya adalah situs Ciung Wanara di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Apakah ada jejak-jejak legenda Ciung Wanara di sana?

Situs Legenda Ciung Wanara di Hutan Bambu


Sudah lewat tengah hari saat mobil-mobil Chevrolet yang kami tumpangi melewati gapura Objek Wisata Ciung Wanara. Jam di tangan saya menunjukkan jam 14.20 WIB. Sabtu siang itu, sinar matahari sudah tidak begitu menyengat lagi. Waktu yang tepat untuk berjalan-jalan lagi setelah mengunjungi kantor harian umum Radar Tasikmalaya dan Radar TV Tasikmalaya.


Pintu masuk menuju kompleks situs
Sebagian peserta Jelajah 4G bersama Smartfren langsung selfie di berbagai titik, begitu turun dari mobil. Mas Bene, ketua rombongan mengingatkan agar kami segera masuk saja. Selfie dan berfoto aneka pose ditunda dulu. Sebab selain berkeliling, kami juga akan makan siang di dalam Objek Wisata Ciung Wanara.
Tiket masuk Objek Wisata Ciung Wanara sangat murah. Hanya Rp 3.500 saja. Begitu masuk, suasana magis terasa. Namun ada wahana permainan anak yang membuat suasana ceria. Beberapa anak didampingi orang tua terlihat bermain ayunan dan wahana putar-putaran.

Seorang pemandu telah siap menjelaskan kepada kami, apa saja situs-situs yang ada di Komplek Objek Wisata Ciung Wanara serta latar belakang sejarahnya. Konon beberapa peninggalan dari Kerajaan Galuh berada di Objek Wisata Ciung Wanara. Dan kami pun melangkah, menapaki jalan kuno yang katanya menghubungkan Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit.


Menyusuri jalan kuno dinaungi rimbun bambu

Batu Pangcalikan  


Situs inilah yang pertama kali kami jumpai, beberapa meter dari pintu masuk. Bentuknya berupa lahan berpagar besi, terdiri dari tiga halaman. Tiap halaman dibatasi susunan batu dengan ketinggian sekitar 1 m dan lebar hampir 0,5 m. Berdasarkan keterangan pemandu, pangcalikan merupakan situs singgasana Kerajaan Galuh. Saya mencari-cari, yang mana singgasananya? Di benak saya, singgasana itu seperti kursi. Saya hanya melihat tumpukan batu di sana.

Area Batu Pangcalikan

Ternyata batu putih tufaan berukuran hampir 1 meter x 1 meter dengan tinggi sekitar 0.5 meter itulah yang disebut masyarakat sekitar sebagai pangcalikan. Pangcalikan dalam bahasa Sunda berarti tempat duduk. Singgasana kerajaan Galuh dulu, ya begitu. Sederhana sekali. Sayangnya, kami hanya bisa melihat pangcalikan dari luar pagar. Ada sekumpulan orang yang entah sedang apa duduk bersila di dekat pangcalikan. Kami meninggalkan pangcalikan, menuju situs lainnya.

Sanghyang Bedil dan Panyabungan Hayam 


Kami berjalan beriringan hingga menemukan simpang empat. Ada papan penunjuk yang menginformasikan keberadaan situs Sanghyang Bedil dan Panyabungan Hayam si selatan.  Berdasarkan namanya, saya menebak Panyanbungan Hayam, pastilah tempat adu ayam. Sanghyang Bedil mungkin ada hubungannya dengan senjata bedil. 

Kami berjalan lagi dan sampai di situs Sanghyang Bedil. Situs ini berupa  susunan batu berbentuk segi empat. Ada 2 batu panjang yang patah. Satu batu posisinya tegak dan satu batu lainnya roboh. Nah, batu roboh itulah yang disebut Sanghyang Bedil sebab bentuknya yang mirip bedil atau senapan. Konon situs  itu merupakan tempat untuk menyimpan senjata. Seru juga kalau tahu latar belakang legendanya, ya.

Beberapa meter dari Situs Sanghyang Bedil terdapat lapangan kecil dengan pohon bungur menjulang di tengahnya. Lapangan kecil inilah tempat Ciung Wanara mengadu ayamnya dengan ayam milik sang raja. Saya membayangkan orang-orang zaman dahulu kala melingkar dan melihat aduan ayam di lapangan itu. Pasti ramai sekali.


Lapangan Panyambungan Hayam

Satu hal yang paling menarik di Panyambungan Hayam adalah pohon bungur yang memiliki tonjolan di salah satu sisinya. Kata si pemandu, jika seseorang dapat berjalan dari tepi lapangan sambil memejamkan mata dan berhasil menyentuh tonjolan itu, keinginannya akan tercapai. Jika belum tercapai, ia bisa melingkarkan tangannya atau memeluk pohon. Semakin dekat jarak tangan kiri dan tangan kanan saat memeluk, semakin dekatlah ia dengan tujuan itu. Raja dari Forum Film Bandung dan Dede dari Banyolan Sunda yang mencoba ternyata belum berhasil menyentuh tonjolan dengan tepat. Apa, ya keinginan yang mereka bayangkan saat berjalan ke arah tonjolan pohon itu? Entahlah.  


Menyentuh dan melingkari pohon untuk menandakan keinginan yang segera tercapai

Lambang Peribadatan dan Cikahuripan  

Menyusuri jalan lainnya, kami bertemu dengan batu Lambang Peribadatan. Mungkin ada hubungan dengan ibadah zaman kerajan hindu, ya? Batu Lambang Peribadatan merupakan batu berbentuk bujur sangkar. Ada pahatan bulat di atas bujur sangkar itu. Mirip puncak candi! Pantas disebut lambang peribadatan. Batu itu diduga bagian dari puncak candi agama Hindu.


Lambang peribadatan yang mirip puncak candi Hindu
Setelah berjalan beberapa meter, kami menuruni tangga dan menemukan semacam bangunan seperti tempat pemandian umum. Ternyata kami sampai di Cikahuripan, yaitu pertemuan dua sungai kecil: Citanduy dan Cimuntur. Ada sumur yang konon tidak pernah kering sepanjang tahun. Beberapa orang di antara kami mencicipi kesegaran air sumur yang sudah tersedia di bak. Rasanya, tentu saja tidak jauh berbeda dengan air pada umumnya.


Batu Panyandaan, Pamangkonan dan Makam Adipati Panaekan  

Kami kemudian berjalan ke arah timur dari Cikahuripan. Ada susunan batu berbentuk segi empat yang memagari beberapa batu besar di tengahnya. Batu di tengah itu mirip tempat duduk yang bersandar. Kami masuk dari celah pagar batu. Situs itu ternyata bernama Panyandaan.




Menurut pemandu, di tempat inilah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum, kemudian dibuang ke sungai Citanduy. Dewi Naganingrum konon bersandar di sana selama 40 hari untuk memulihkan tenaga. Maka dari itulah tempat itu dinamakan Panyandaan yang artinya tempat bersandar.

Tidak jauh dari situs Panyandaan, terdapat situs Situs Pamangkonan. Terdapat batu yang disebut Sanghyang Indit-inditan. Batu itu ditemukan di Sungai Citanduy. Konon batu Sanghyang Indit-inditan itu dapat berpindah tempat sendiri, maka dari itulah Indit-inditan disematkan pada namanya. Selain itu, batu tersebut juga memiliki kekuatan gaib sehingga dipergunakan untuk seleksi prajurit. Hanya orang terpilih saja yang bisa mengangkat batu itu. Beberapa orang dari kami penasaran, sehingga mengangkat batu itu. Bisa diangkat, kok!

Batu Pamangkonan atau Sanghyang Indit-inditan
Makam Adipati Panaekan adalah tujuan kami berikutnya. Makamnya berupa susunan batu dengan dua nisan sejajar, menghadap ke arah kiblat. Adipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam. Ya, saya baru menyadari bahwa Ciamis itu merupakan pusat kerajaan Galuh di masa lalu. Galuh Gara Tengah adalah salah satu kerajaan Galuh itu. Adipati merupakan gelar yang diberikan oleh Sultan Agung Raja Mataram. Adipati Panaekan dibunuh oleh adik iparnya sendiri karena masalah perebutan kekuasaan. Jenazahnya dihanyutkan ke Sungai Cimuntur. Orang-orang yang menemukan jenazah itu menguburkannya di dekat Sungai Cimuntur. Konon, bupati pertama Ciamis berasal dari garis keturunan Adipati Panaekan ini.  




Makan Siang di Patimuan


Tujuan akhir kami adalah Patimuan, yaitu pertemuan Sungai Citanduy dengan Sungai Cimuntur. Patimuan berupa tanah lapang di tepi sungai. Di sinilah, Aki  Balangantrang menemukan Ciung Wanara yang masih bayi. Penemuan itu sesuai dengan keinginan Dewi Naganingrum. Ia ingin Ciung Wanara selamat dari ancaman Raja Bondan yang bermaksud menghabisi Ciung Wana guna mengamankan kekuasaannya.




Ada pondok-pondok, tempat orang berjualan di sana. Panitia Jelajah 4G bersama Smartfren sudah memesan sajian makan siang dari pondok makan di dekat pintu gerbang. Menu nasi timbel segera diserbu oleh peserta. Penutupnya adalah kelapa muda yang dibelah dadakan dan disajikan langsung dengan buah kelapanya.

Tanah Sunda Kaya Sejarah


Kunjungan ke situs Ciung Wanara ini bagaikan mengajak saya untuk kembali mempelajari sejarah, khususnya kerajaan di tanah Sunda. Sayangnya saat sekolah dulu kenangan pelajaran sejarah saya cenderung berisi tangan dan nama sehingga kurang menyenangkan untuk diingat. Situs Ciung Wanara menawarkan pelajaran sejarah  engan cara yang lebih mudah dibayangkan bagi orang yang belajar dengan modalitas visual seperti saya.

Hanya saja, lokasi kemasan wisata di Ciung Wanara perlu ditingkatkan lagi. Di benak saya muncul bayangan. Andai saja ada aplikasi Android yang dapat menjelaskan legenda situs-situs Ciung Wanara. Penjelasan dengan info grafis yang bagus atau sekalian menggunakan komik dan film! Semoga generasi 4G bisa mewujudkan angan-angan saya itu.

Jelang Asar, kami kembali ke tempat parkir. Tujuan jelajah 4 G bersama Smartfren terakhir sudah menunggu: Pantai Pangandaran! Hujan deras mengiringi kepergian kami. Syukurlah kami sudah berada di mobil. Mobil terus melaju sementara saya mencari-cari informasi dengan Andromax E2 yang diperkuat jaringan 4G Smartfren. Sepertinya, banyak kegiatan menarik yang bsia kami lakukan di Pangandaran nanti. 

Jumat, 03 Juni 2016

Hafiz Al Qur'an Kekinian di Film Surga Menanti

Hafiz Al Qur'an Kekikinian di Film Surga Menanti

Poster Surga Menanti


Sekitar 5 tahun terakhir, program tahfiz (menghafalkan) Al Qur’an bermunculan di kota-kota besar. Para hafiz (penghafal Al Qur’an) pun bermunculan di media massa. Di bulan Ramadhan kita disuguhi ajang adu bakat tahfiz. Film yang mengangkat kehidupan hafiz muncul tahun ini. Judulnya Surga Menanti

Film Surga Menanti Menjawab Pertanyaan 


Film Surga Menanti, produksi Khanza Film agaknya berusaha menjawab pertanyaan: apa untungnya menjadi hafiz? Mau jadi apa anak-anak masuk ke sekolah atau pesantren tahfiz Al Qur’an? Sederet artis dan ulama ternama hadir dengan berbagai peran untuk menjawab pertanyaan itu. Salah satunya Syekh Ali Jaber,  ulama kelahiran Madinah, Arab Saudi, yang telah menjadi WNI sejak 2011.

Film Surga Menanti mengisahkan kehidupan seorang anak hafiz Qur’an bernama Dafa. Usianya sekitar 12-13 tahun. Dafa belajar di pondok pesantren yang menjalankan program tahfiz Al Qur’an. Sang ibu, Humaira didiagnosa mengidap sejenis leukimia (kanker darah) yang langka. Humaira sering memanggil nama Dafa. Yusuf, ayah Dafa meminta Dafa pulang dan meneruskan sekolah dan tahfiz Qur’an di sekitar rumah saja.   

Kehidupan Dafa, dikontraskan dengan anak sebanyanya yang tinggal tepat di samping rumah keluarga Dafa. Eben namanya. Eben diarahkan oleh ibunya (Della Puspita) untuk menjadi artis. Namun setelah tahu, Pak Haji akan memenuhi permintaan apa saja bagi anak-anak yang hafiz, sang ibu memaksa Eben untuk menjadi hafiz juga. Beberapa anak tetangga Dafa juga sempat diperlihatkan lika-liku dan perjuangannya untuk menjadi hafiz. 

Panorama Alam di Film Surga Menanti


Sejak adegan pertama, Film Surga Menanti memamerkan keindahan Dataran Tinggi Dieng yang berada di kabupaten Banjarnegara dan Wononosobo, Jawa Tengah. Gambar panorama dan bentang dari atas sangat memesona dan stabil. Tidak seperti di beberapa film lain yang menyuguhkan panorama dengan bantuan drone, tapi pengambilannya kurang halus, membuat pusing jika memandangnya dalam beberapa detik.  

Lokasi Syuting Surga Menanti

Awalnya saya tidak menyadari bahwa kampung halaman Dafa berada di sekitar Dieng. Padahal ada beberapa adegan Humaira dan anak-anak mengaji dengan latar telaga berwarna indah. Saya baru menyadari saat adegan dua anak perempuan kembar teman Dafa, Safina dan Safira dimarahi bapaknya. Bapak dua anak kembar itu meminta anaknya fokus saja membantu ibunya membuat dan berdagang manisan Carica. Kebetulan minggu lalu, saat Jelajah 4G bersama Smartfren, saya sempat mencicipi manisan Carica khas Dieng itu. Sehingga saya sadar, latar kampung Dafa adalah Dieng.

Selain Dieng, Aceh pun menjadi latar yang cukup ditonjolkan pada akhir film Surga Menanti. Musium Tsunami menjadi penanda yang kuat bahwa latar Film Surga Menanti di Aceh. Beberapa titik arsitektur Musium Tsunami yang indah ditampilkan. Selain itu, ada kampus Universitas Syiah Kuala yang menjadi tempat kuliah Dafa saat telah beranjak dewasa. Tulisan Universitas Syiah Kuala ada di bangunan yang menjadi latar pengambilan gambar. Beberapa keindahan alam Aceh, seperti laut dan pantai juga hadir meskipun hanya sekilas-kilas. 

Satu latar yang cukup mengganggu saya adalah saat Dafa mengikuti MTQ. Pada adegan MTQ, dikisahkan bupati Cirebon dan istri memberikan hadiah kepada Dafa. Dafa membawa piala, kemudian pulang mengendarai taksi menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Saya sempat membaca taksi berlabel Plaza Ambarukmo. Bukankah Plaza Ambarrukmo ini di kecamatan Sleman, Yogyakarta? Lalu di manakah letak MTQ dan rumah sakit tempat Humaira dirawat? Cirebon-Yogya masih mustahil ditempuh dalam hitungan menit saja seperti yang tergambar di dalam film Surga Menanti.

Ketiadaan penanda yang tegas untuk pesantren tahfiz, rumah sakit tempat Humaira dirawat, pemukiman rumah Dafa kecuali Musium Tsunami dan Kampus Syiah Kuala mungkin karena masalah perizinan kerja sama. Namun lokasi-lokasi syuting sebenarnya juga bisa dijual sebagaimana film Ada Apa dengan Cinta 2 menegaskan latar film baik dalam adegan maupun credit title di akhir film. Bukankah film seharusnya bisa jadi ajang promosi potensi berbagai daerah di Indonesia juga, kan? 


Penokohan Film Surga Menanti yang Patut Diapresiasi


Penampilan Syakir Daulay sebagai Dafa cukup kuat dalam film Surga Menanti. Hal ini patut diapresiasi mengingat Syakir Daulay adalah santri Darul Qur’an, pesantren tahfiz Qur’an yang dikembangkan oleh Ustad Yusuf Mansyur. Syakir Daulay yang berusia 14 tahun terpilih karena sesuai untuk tokoh Dafa. Putra asal Bireuen, Aceh itu sudah hafal Al Qur’an sebanyak 10 juz, memiliki lantunan suara yang merdu juga syahdu, serta good looking. Satu paket lengkap yang sangat diharapkan penonton. Selain Syakir Daulay, kakak-kakaknya Hamimi Daulay dan Zikri Daulay ikut bermain juga dalam film Surga Menanti

Syakir Daulay Berpose


Syakir Daulay dan saudaranya

Umi Pipik Dian Irawati, Agus Kuncoro, dan pemeran pembantu lainnya seperti Astri Ivo dan Ustad Restu (yang juga dikenal dengan nama Ustad Cinta) memerankan tokoh yang tidak begitu jauh dari keseharian mereka. Jadi tidak terasa sangat istimewa. Justru penampilan Della Puspita dan entah siapa yang jadi suaminya, serta Eben yang cukup menarik perhatian. Keluarga tetangga Dafa ini memiliki kehidupan yang agak kontras dengan keluarga Dafa. Namun keluarga inilah yang menyuguhkan humor satir bagi penonton. Ibu Eben yang ingin mendapat keuntungan materi, menyuruh  anaknya menjadi hafiz, padahal sebelumnya si anak didorong menjadi artis. Ayah Eben, ingin anaknya mencontoh Dafa, namun sering tidak satu kata dengan sang istri.

Dua adegan yang cukup menggugah adalah tokoh anak hafiz tuna netra bernama Salman dan ayahnya. Tokoh Salma dan Ayahnya yang juga tuna netra (total blind) bertemu dengan Syekh Ali Jaber di jalan. Syekh Ali Jaber mencium tangan Salman dan memberikan Al Qur’an digital khusus untuk tuna netra kepada Salman. Setelah itu ada dialog antara Salman dan ayahnya yang mempertanyakan mengapa Allah menciptakan mereka dalam keadaan buta. Sayangnya, dua adegan Salman dan ayahnya ini tidak terkait dengan cerita secara langsung. Tanpa dua adegan ini, alur film Surga Menanti tidak terganggu sama sekali. Mungkin Hafiz tuna netra perlu dimunculkan karena misi pembuatan Al Qur’an braile untuk tuna netra dibalik film Surga Menanti. Keberadaan tokoh tuna netra yang hafiz juga disematkan untuk menampar orang-orang yang awas, tidak buta, namun enggan membaca, apalagi menghafal Al Qur’an. Adegan Salman yang diperankan Panca, bocah hafiz yang tuna netra, cukup memancing emosi haru saya. Bahkan anak usia 13-14 tahun dari Ma’had Usyaqil Qur’an di samping saya, terlihat berdoa saat adegan Syekh Ali Jabel mencium tangan Salman. 

Film Surga Menanti Memotivasi Para Hafiz

Film Surga Menanti secara umum cocok untuk tontonan keluarga, khususnya keluarga tahfiz Qur’an, serta orang-orang yang jarang nonton film bioskop. Maka dari itulah pesan-pesan dan nasihat sering dimunculkan secara verbal. Dyah Kalsitorini yang bertindak sebagai produser sekaligus penulis cerita juga berusaha menampilkan sosok hafiz kekinian. Di akhir cerita film Surga Menanti sosok hafiz kekinian itu sangat jelas meskipun terkesan agak dipaksakan. Hafiz yang sukses dunia-akhirat, masih jarang kita lihat atau tampil di media massa dan media sosial. Film Surga Menanti berusaha menyajikan hafiz kekinian itu dalam paket yang lengkap. 

Sepanjang film Surga Menanti pun pengambilan gambar di setiap adegan sangat dijaga agar syar’i. Agus dan Kuncoro meskipun berperan sebagai suami-istri tidak bersentuhan sama sekali. Hanya Dafa dan teman-temannya saja terlihat beberapa kali salim tangan kepada orang tua dan ustad-ustazahnya. Penampilan Della Puspita yang ngeyel pun sopan meskipun tidak berjilbab, termasuk dokter yang merawat tokoh Humairah. Hanya saja penjagaan kesyar’ian itu menyalahi tata cara penggunaan alat kejut jantung. Di berbagai sinetron juga film Indonesia, alat kejut jantung digunakan pada pasien dengan pakaian utuh. Seharusnya kedua paddle alat kejut jantung dikenakan langsung ke kulit dada dan di dekat ketiak  pasien, tanpa pakaian. Humaira beberapa kali dikejutkan dengan posisi kedua paddle sejajar dan berpakaian lengkap. Bagi orang awam, mungkin tidak masalah, tetapi salah besar bagi penonton yang berprofesi sebagai paramedis. 

Saya menonton film Surga Menanti ini bersama puluhan anak-anak dari   Ma’had Usyaqil Qur’an, Bandung di Trans Studio Mal (TSM) Bandung. Di Bandung, film Surga Menanti hanya ada di TSM, Jatos, dan Blitz Miko Mal. Tanpa gerakan nobar saya agak pesimis film Surga Menanti bisa bertahan sampai lebaran nanti, seperti broadcast di beberapa grup whatsapp yang mengabarkan film ini akan tayang selama 40 hari. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika Yang Di Atas berkendak, kan? Terlebih kabarnya, keuntungan film ini akan digunakan untuk melanjutkan pembuatan Qur’an digital braile dan pertemuan 10.000 tuna netra nusantara di Jakarta. Semoga berkah dan banyak kebaikan diraih film Surga Menanti





sumber foto:
www.instagram.com/_ummipipik_
http://qorypilihan.blogspot.co.id/
Diberdayakan oleh Blogger.

Vivalog

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Blog Friendship

statistics

Subscribe Here

About