Menulis, Buku, Kehidupan

Sabtu, 10 Oktober 2020

Mengingat Kembali Jawaban Pertanyaan Mengapa Ingin Memiliki Anak

Ada satu pertanyaan sederhana, namun tidak semua pasangan menikah dapat menjawabnya. Pertanyaan itu adalah, “mengapa ingin memiliki anak?”

Bagi pasangan yang bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak, pertanyaan itu akan dijawab dengan lancar. Mereka sudah melewati ribuan hari tanpa tangis bayi, tiada canda tawa dengan anak-anak. Mereka menemukan banyak sekali alasan sehingga ingin sekali memiliki anak.

Untuk pasangan yang sangat mudah dititipi anak oleh-Nya, pertanyaan mengapa ingin memiliki anak, bisa jadi terbersit pun tidak. Anak seolah hadir begitu saja. Baru saja menikah, beberapa bulan kemudian istri hamil. Setahun kemudian pasangan suami istri telah menjadi orang tua. Beberapa tahun kemudian, anak kedua, ketiga dan seterusnya lahir.

Jawaban-jawaban berikut ini mungkin menjadi jawaban sekian orang tua saat mendapat pertanyaan tersebut:

  • Saya ingin menciptakan kembali masa kecil yang indah
  • Ngg…Semacam investasi untuk hari nanti
  • Sebab saya percaya, kita akan menjadi dewasa dengan mengasuh anak
  • Anak yang soleh akan selalu mendoakan orang tua. Saat saya tiada, saya ingin anak-anak terus mendoakan saya. 
  • Melestarikan spesies manusia, supaya tidak punah
  • Memenuhi harapan masyarakat umum, pasangan yang menikah harus punya anak
  • Karena saya suka anak-anak
  • Membantu membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik
  • Ingin menjadi orang tua yang lebih baik daripada orang tua yang saya miliki
  • Panggilan spiritual
  • Semacam balas budi terhadap orang tua saya
  • Dorongan biologis sebagai manusia
  • Agar saat usia senja tidak kesepian

Tidak ada jawaban yang salah dan benar. Semua jawaban di atas bisa benar. Bahkan kalau saya ditanya, maka semua jawaban di atas tersebut bisa saja terlontar dari mulut saya.

Berdasarkan jawaban di atas, meskipun redaksi kalimatnya berbeda-beda namun manfaatnya balik kepada diri si pemberi jawaban yaitu orang tua. Jawaban cenderung untuk memberikan manfaatnya kepada orang tua.

Jika memiliki anak untuk manfaat diri sendiri, kenapa para orang tua (termasuk saya ini) masih sering mengeluh dengan berbagai tingkah laku anak yang pada dasarnya wajar bagi anak seusianya?

Jawabannya bisa beragam juga. Bisa jadi karena bewaan lelah, fustasi dan lainnya. Sesekali mengeluh itu wajar juga. Sesungguhnya manusia memang makhluk yang sering berkeluh kesan, kan ya?

Maka, ketika kita mulai berkeluh kesah soal pengasuhan anak, cobalah ingat lagi jawaban pertanyaan, kenapa saya ingin memiliki anak? Jawaban-jawaban itu mungkin bisa meringankan sedikit beban, menghalau keluh kesah yang akan keluar dari mulut kita. Semoga


Sumber foto:iamexpat.nl, indiatimes.com

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar