Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 29 November 2016

Pemilihan Pasangan dan Ujian Pernikahan dalam Film Cinta Laki-Laki Biasa



Apa yang membuat seorang perempuan menerima pinangan lelaki dari kelas sosial yang berbeda? Kenyamanan, kesempurnaan… cinta? Kisah pernikahan Nania dan Rafli dalam film Cinta Laki-laki Biasa berusaha menjawab pertanyaan itu.


Beda Bibit Bebet Bobot 

Nania Dinda Wirawan (Velove Vexia) berasal dari keluarga berada. Tinggal di rumah besar dan megah beserta para asisten yang selalu siap melayani kapan saja. Ia bungsu dari 4 bersaudara. Tiga kakak perempuannya bersuamikan orang-orang terpadang: politikus, pengusaha dan psikolog ternama. Semua kakak ipar sesuai dengan selera orang tua, terutama sang bunda (Ira Wibowo). Nania dituntut menikah dengan orang dari kelas sosial yang sama, lelaki yang memiliki bibit, bebet, dan bobot yang jelas dan setara. Sang bunda berusaha mendekatkan Nania dengan Tyo Handoko (Nino Fernandez), seorang dokter bedah, anak Titi (Donna Harun), temannya.
Nania bersama orang tua dan tiga kakaknya

Di perusahaan tempat kerja praktiknya, Nania berkenalan dengan Muhammad Rafli Imani (Deva Mahenra). Rafli adalah pengawas lapangan atau mandor yang menjadi mentor Nania. Rafli hanya berpendidikan D3, anak yatim. Ibunya, Titi Sutinah (Dewi Yull) tinggal di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sepintas, tiada yang istimewa dari seorang Rafli. Namun interaksi Rafli dan Nania setiap hari, membuat Nania tahu, ada yang berbeda dari Rafli. Begitu juga dengan penilaian Rafli terhadap Nania. Meskipun Nania anak orang berada, Nania tidak manja dan sok kaya. Meskipun belum berjilbab sebagaimana calon istri impian Rafli, Nania selalu berpenampilan sopan dan bersikap santun. Keduanya saling menyukai, meskipun tiada pernah terucapkan.

Butuh waktu dua tahun bagi Rafli untuk memantapkan hati, bahwa Nania adalah pendamping yang diharapkannya. Tanpa pernah kontak sekalipun selepas Nania praktik, Rafli mendadak muncul di lokasi proyek apartemen yang dirancang Nania. Rafli mengajak Nania ta’aruf dalam rangka menuju ke pelaminan. Nania tidak memberikan jawaban pasti, namun pada satu acara keluarga, Nania memperkenalkan Rafli sebagai calon suaminya. Keluarga besar Nania terkejut, sebab Rafli hanya lelaki biasa yang tidak lebih baik dari Tyo, calon suami rekomendasi sang bunda.     

Latar Belakang Pemilihan Pasangan 

Ada beberapa teori untuk menjelaskan pertimbangan seseorang dalam memilih pasangan hidup. Salah satu teori itu adalah teori filter yang dikemukakan oleh Pamela C. Regan. Teori ini menyatakan bahwa seseorang menggunakan kriteria tertentu dalam memilih pasangan hidupnya. Proses pemilihan pasangan berdasarkan teori filter di buku The Mating Game: A Primer on Love, Sex, and Marriage adalah menentukan pasangan berdasarkan kedekatan geografis (propinquity), daya tarik, menimbang latar belakang sosial-budaya-pendidikan-suku-ras-sosial ekonomi-agama, menyesuaikan diri bersama, dan mengembangkan hubungan yang mengarah pada pernikahan. 

Pada film Cinta Laki-laki Biasa, dari sudut pandang Nania, Rafli memiliki daya tarik fisik maupun kepribadian. Daya tarik fisik Rafli terlihat saat Nania memandangi foto Rafli di komputernya, kemudian dikomentari si mbok,”cakep…” kemudian Nania mengiyakan. Daya tarik Rafli lainnya adalah kepribadian Rafli yang disebut ‘antik’ oleh Nania. Rafli sangat peduli pada buruh bangunan yang mengalami kecelakaan namun mendapatkan biaya pengobatan yang minim, Rafli melaksanakan shalat di sela-sela truk besar, kriteria pasangan yang sederhana namun bermakna: shalihat dan menutup aurat, serta beberapa sikap yang dilihat langsung oleh Nania selama berada di bawah bimbingan Rafli.   

Rafli yang membawa sekotak petai diperkenalkan Nania ke semua angota keluarganya 

Latar belakang sosial-budaya, pendidikan, suku, ras, sosial ekonomi, seorang Rafli tidak selevel dengan Nania, menurut Ibu Nania. Rafli hanya mandor, anak yatim dengan seorang ibu yang tinggal di pedesaan. Rafli tidak lebih berharga dibandingkan menantu-menantu dari tiga putrinya. Namun Nania tidak mempermasalahkan hal itu. Ketaatan Rafli dalam beragama menjadi pertimbangan utama Nania. Maka, ia tidak keberatan melakukan apa yang menjadi harapan Rafli: shalihat dan menutup aurat. Langkah nyata yang dilakukan Nania adalah berjilbab menjelang pernikahan dengan Rafli. Hal itu ditegaskan Nania saat si mbok bertanya apakah Nania sudah mantap menutup aurat? “Bismillah, Mbok. Nania mau belajar taat sama perintah dan larangan Allah. Supaya bisa ke surga sama Kang Rafli.” Si Mbok kemudian menutupi kepala Nania dengan kain lebar.

Nania dan Rafli menyesuaikan diri bersama setelah Rafli mengajak Nania ta’aruf, kemudian mengikat diri dalam pernikahan. Nania yang dikenal keras kepala oleh keluarganya, berhasil menjadi istri Rafli meskipun sang bunda belum sepenuhnya ikhlas menerima keadaan Rafli. Hal itu terlihat saat Rafli dan Nania menikah, bunda menangis karena tidak rela, meskipun Ibu Rafli sudah mengucap terima kasih karena bunda mengizinkan Rafli menikahi Nania.     

Ujian-ujian Kehidupan Pernikahan Nania-Rafli  

Sulit menemukan resep yang pasti untuk mewujudkan pernikahan yang sukses. Namun Marano (dalam Atwater dan Duffy, 2005) mengumpulkan berbagai hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mendukung kesuksesan pernikahan yaitu:

1. Kemampuan memecahkan masalah secara bersama-sama.
2. Bagaimana pasangan bersenang-senang bersama dan mengingat kembali pengalaman bahagia tersebut.
3. Kualitas komunikasi pasangan dalam mengatasi perbedaan dan masalah.
4. Affective affirmation atau komunikasi mengenai bagaimana pasangan saling mencintai dan sikap menerima pasangan tanpa syarat.
5. Kemampuan empati untuk memahami perasaan pasangan, keseimbangan antara waktu yang dihabiskan bersama dan sendiri, hubungan seksual yang memuaskan dan keinginan bersama untuk melakukan penyesuaian.

Berdasarkan lima faktor di atas komunikasi, manajemen konflik dan keintiman merupakan faktor penting untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia.
Setelah 60 menit dari total durasi 107 menit film Cinta Laki-laki Biasa, kita akan melihat bagaimana kakak-kakak Nania kewalahan menghadapi dan memecahkan masalah rumah tangganya. Ranti (Dewi Rezer), kakak pertama, berusaha bunuh diri ketika suaminya (Agus Kuncoro) ditangkap KPK karena kasus suap. Ina (Fanny Fabriana), kakak kedua jarang bersama sang sumi (Uli Herdinansyah) sebab sang suami katanya sibuk mengurus bisnis padahal berselingkuh dengan perempuan lain. Wiwid (Donita), kakak ketiga, dan suaminya (Adi Nugroho) menghadapi masalah dalam mendidik anak. Padahal suami Wiwid berprofesi sebagai psikolog ternama. Wibawa mantu-mantu ideal menurut standar sang bunda runtuh satu persatu.     

Berikutnya, pernikahan Nania-Rafli yang mendapat ujian. Nania mengalami kecelakaan saat menuju rumah Ranti yang akan bunuh diri. Nania lumpuh dan hilang ingatan jenis retrograde amnesia. Nania tidak bisa mengingat masa lalu sebelum kecelakaan terjadi. Ia tidak mengenal suami, anak, keluarga dan sahabatnya. Nania justru lebih mengingat dokter yang merawatnya, Tyo Handoko. Inilah ujian berat bagi Rafli sebagai suami. 

Cobaan menguji ikatan cinta Nania dan Rafli

Kondisi fisik Nania yang lumpuh dan amnesia tidak mampu diajak  memecahkan masalah bersama. Kenangan indah bersama Rafli pun seolah musnah. Mereka sulit berkomunikasi satu sama lain. Rafli dituntut menerima dan berempati terhadap keadaan Nania yang memiliki masalah ingatan. Ia pun harus mengasuh kedua anaknya sendiri jika tidak ingin kedua anaknya terpengaruh gaya hidup dan sikap mertuanya. Di sisi lain, Tyo sangat berpeluang merebut Nania karena Tyolah yang kini merawat Nania. Inilah klimaks film Cinta Laki-laki Biasa.   

Inpirasi untuk Penonton

Saat menonton film Cinta Laki-Laki Biasa ini, saya bisa berempati pada posisi Rafli sebagai suami dan ayah, juga menantu yang kurang dipandang oleh mertua dan kakak-kakak ipar, kedukaan atas musibah sang istri dan kerepotan mengurus dua anak sendirian. Pada beberapa adegan Rafli menangis, pipi saya ikut basah! Salah satu adegan itu saat Nania sadar dan bertanya siapa Rafli. Ekspresi tokoh Rafli dan ilustrasi musik yang menyayat turut menyulut emosi sedih, saya.  

Bagi penonton lain mungkin bisa mendapat hikmah dan ilham yang berbeda dengan saya setelah menonton film Cinta Laki-laki Biasa. Untuk para orang tua yang memiliki anak seusia Rafli dan Nania dan para calon mertua mungkin bisa berpikir ulang tentang calon menantu. Bahwa ukuran bebet, bibit, bobot, tidak selalu membawa kebahagiaan dalam pernikahan anak-anak muda. Untuk para lajang yang galau menentukan pasangan hidup, keputusan Nania dan Rafli untuk menerima keadaan satu sama lain barangkali bisa memantapkan. Bagaimana dengan penonton anak-anak?

Pada saat tayang remier di Empire XXI, Bandung Indah Plaza, beberapa penonton di sekitar saya membawa bayi juga anak-anak SD usia 6-8 tahun. Beberapa ibu yang membawa bayi itu terpaksa keluar-masuk studio bioskop karena bayinya menangis. Sedangkan orang tua yang membawa anak SD dengan rasa ingin tahu yang besar, harus sibuk melayani pertanyaan anak kenapa begini, kenapa begitu. Film ini mendapat rating R13+ dari Lembaga Sensor Film. Namun jika ingin mengajak anak nonton bersama film Cinta Laki-Laki Biasa, anak-anak di atas usia 8 tahun rasanya lebih tepat. Sebelum nonton buat perjanjian anak dapat puas bertanya dan berdiskusi usai nonton, bukan pada saat menonton di bioskop. Hal ini untuk kenyamanan menonton orang tua juga penonton lainnya.

Kiri ke kanan: Guntur Soeharjanto, Koko Nata, Asma Nadia, Deva Mahenra, Yama Carlon

Secara keseluruhan, film Cinta Laki-laki Biasa Menghibur dan memberikan gambar-gambar yang cukup menyenangkan mata. Hanya saja, saya berharap, tidak satupun penonton yang mencontoh goresan nama Rafli dan Nania di pohon. Tidak ada adegan Rafli menyayat kulit pohon untuk menggoreskan namanya secara langsung. Namun nama Rafli dan Nania tergores jelas di pohon yang menjulang  di kebun teh. Lebih dari itu, semoga banyak kebaikan yang kita bawa pulang usai menonton film Cinta Laki-Laki Biasa.   
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Wah, menarik nih filmnya, gemes penasaran dengan endingnya. Uhuy keren nih review pakai teori psikologi :)

    BalasHapus