Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 17 September 2015

Trik Menghadapi Siswa SMP di Visit School Menulis

Setahun lebih, saya absen memberikan pelatihan singkat tentang kepenulisan di sekolah. Pada pertengahan September 2015, saya berkesempatan lagi datang ke sekolah-sekolah di Bandung untuk memberikan materi ‘Menulis Cerpen” dalam rangka School Visit Menulis Faber Castell. School Visit Menulis ini merupakan rangkaian sosialisasi Lomba Menulis Cerpen yang diadakan oleh Faber Castell dan Tulisen.com dan melibatkan penulis FLP seperti saya sebagai pemateri. SMP YWKA Bandung merupakan sekolah pertama yang saya kunjungi. Pesertanya siswa-siswi kelas VIII berjumlah sekitar 120 orang. Inilah beberapa persiapan dan trik yang saya lakukan untuk menghadapi peserta.



1. Menyesuaikan materi presentasi

Materi presentasi School Visit Menulis Faber Castell sudah disediakan Mbak Intan Savitri selaku White Director tulisen.com dalam format Power Point. Saya mencermati materi presentasi beberapa hari sebelum acara. Sepertinya materi presentasi tersebut perlu penyesuaian lagi.
Tampilan presentasi asli

Kenapa? 

Kalimat-kalimat penjelas terlalu padat. Poin-poin yang menjelaskan pokok materi ditempatkan di satu slide saja. Saya memecah tampilan poin-poin penjelasan menjadi beberapa slide tersendiri. Kalimat penjelas cukup singkat saja. Penjelasan panjang lebar, akan saya lakukan secara lisan saja.
Tampilan presentasi yang dipecah menjadi beberapa slide

2. Melengkapi materi presentasi dengan gambar

Saya juga menambahkan gambar di samping kalimat-kalimat materi. Saya pilih gambar dari film animasi dan gambar-gambar yang dekat dengan kehidupan anak uisa belasan tahun. Melihat gambar dan sedikit tulisan lebih menarik daripada sekadar kumpulan huruf saja, kan? Apalagi audiensnya siswa-siswi SMP dalam jumlah besar.
Memadukan kalimat penjelasan dengan gambar

Gambar juga dapat menyita perhatian mereka agar tetap fokus pada materi “Menulis Cerpen” Gambar juga membantu siswa untuk mengingat materi, terutama bagi mereka yang gaya belajarnya visual.  

3.Selingan film pendek

Film pendek yang saya pilih berjudul "A Shadow of Blue" Film ini bercerita tentang gadis kecil yang berimajinasi melalui bayangannya. Durasinya cukup singkat 12 menit, 15 detik. Ilustrasi musiknya enak didengar dan sama sekali tidak ada dialog dalam film pendek ini.

“A Shadow of Blue" memiliki unsur intrinsik yang sama dengan satu cerpen. Saya menggunakan “A Shadow of Blue" untuk menjelaskan tentang unsur intrinsik cerpen, terutama plot. Saya juga menggunakan plot cerita “A Shadow of Blue" sebagai panduan membuat kerangka cerita fiksi.

Sajian film pendek juga saya harapkan juga menjadi selingan agar peserta tidak bosan mendengarkan uraian saya. Saat berkuliah di Fakultas Psikologi UI, dosen-dosen kerap menggunakan potongan film untuk menjelaskan teori dan terapannya. Metode pengajaran di sanalah yang menginspirasi saya menggunakan film sebagai alternatif sajian materi. 

4. Alokasikan waktu untuk mencapai lokasi acara

School Visit Menulis Faber Castell di SMP YWKA Bandung terjadwal jam 08.00-10.00 WIB. Satu hari sebelum acara, saya mencari lokasi SMP YWKA Bandung dengan Google MAP. Lokasinya cukup jauh, di ujung jalan Soekarno Hatta. Rumah saya di sekitar pangkal jalan itu. Jalan Soekarno Hatta merupakan jalan araya terpajang di kota Bandung. Maka, saya alokasikan waktu 1 jam agar tiba tepat waktu di lokasi acara.

Saat menempuh perjalanan ke SMP YWKA Bandung, saya melihat petunjuk jalan di  Google MAP beberapa kali, juga bertanya kepada orang di pinggir jalan. Setelah berputar-putar, saya temukan juga gedung SMP YWKA Bandung. Ternyata letak sekolah bukan di jalan utama. Saya tiba jam 07.45. Waktu itu, tim School Visit Menulis Faber Castell baru akan mengatur tata letak meja, x banner, dan spanduk. Alhamdulillah, tiga puluh menit lagi acara baru akan dimulai. 

5. Mengamati tempat acara

Begitu tiba di lokasi, saya segera mengamati tempat yang akan digunakan. Ruangan untuk School Visit Menulis Faber Castell semacam ruang serbaguna yang bisa menampung 150-200 orang jika duduk lesehan. Dua meja dan empat kursi sudah terpasang di depan. Layar proyeksi terbentang dengan meja untuk menempatkan proyektor. Lantai baru saja dipel. Peserta saya perkirakan akan duduk di lantai untuk menyimak materi.

Suasana School Visit Menulis Faber Castel di SMP YWKA Bandung
Pembukaan School Visit Menulis Faber Castel oleh Tim Faber Castell 

Saya juga bertanya di mana lokasi toilet. Saya bereskan dulu urusan buang air kecil agar tak perlu izin ke belakang saat menyampaikan materi. Kalau pun terpaksa harus ke toilet lagi, saya bisa cepat mencarinya karena sudah tahu lokasi toilet itu.
Benar saja, sekitar 120 siswa duduk lesehan di lantai untuk menyimak materi. Karena situasi dan kondisi ini, mereka juga terpaksa menulis di lantai pada saat sesi latihan menulis saya berikan. 

6. Fokus pada peserta yang memberikan perhatian penuh

Sejak awal, saya menetapkan tujuan School Visit Menulis Faber Castell ini adalah memberikan pengetahuan tentang menulis cerpen dan memberi pengalaman menulis cerpen. School Visit Menulis Faber Castell tidak bisa ditujukan untuk menumbuhkan keahlian (skill) menulis cerpen dalam waktu singkat dan peserta yang banyak (massal).

Kendala peserta yang terlalu banyak adalah ketidakmampuan mentor untuk memberi perhatian kepada semua peserta. Termasuk saya. Maka saya berusaha memberikan materi sambil menatap semua peserta secara bergantian. Namun, saya juga tidak bisa memungkiri, pada akhirnya saya lebih sering menatap peserta yang balas menatap saya, melihat dan mendengar dengan penuh perhatian terhadap uraian materi dari saya.




Setelah satu jam acara, terutama pada saat latihan menulis, saya menaruh perhatian pada anak yang terlihat mau berusaha menulis saja. Anak-anak yang berkelompok, terlihat ogah-ogahan menulis saya abaikan dulu, namun sesekali menghampiri mereka dan menanyakan apa kesulitan menuslinya

7. Penghargaan untuk peserta yang memberi perhatian

Panitia School Visit Menulis Faber Castell memberikan makalah dalam bentuk cerpen kepada peserta. Judulnya Hayat Ingin Menulis Cerpen, Kang Irfan (M. IrfanHidayatullah) yang menulisnya. Saya meminta 3 siswa membaca cerpen itu secara bergantian. Tiga siswa mengangkat tangan, bersedia membacakan cerpen di depan.
Saat ketiga siswa itu maju, sebagian siswa lainnya menyoraki. Ada juga yang menetawakan. Selama pembacaan cerpen pun tidak semua siswa menyimak. Beberapa siswa kerap tertawa, karena salah satu pembaca cerpen kurang lancar membacakan cerpen dan dialek sundanya terdengan khas meskipun cerpen yang dibacakannya dalam bahasa Indonesia.

Saya marah dengan sikap sebagian siswa yang tidak menghargai 3 temannya yang membacakan cerpen itu. Namun saya menyalurkan kemarahan itu dengan hembusan napas saja dan memberikan hadiah kumpulan cerpen karya saya kepada tiga siswa yang telah berani maju membaca cerpen.

Untuk peserta pelatihan singkat massal saya berkesimpulan, lebih baik memberi reward kepada peserta yang fokus mengikuti acara dan perhatiannya saja dulu. Siswa yang ingin mendapat perhatian dengan tingkah laku usil mereka, abaikan saja dulu.    

Membaca cerpen yang berisi tips menulis cerpen
School Visit Menulis Faber Castell di SMP YWKA Bandung, kembali memberikan kesadaran pada saya, pengajaran literasi kepada anak sekolah cukup menantang dan perlu dirancang khusus untuk tiap sekolah. Situasi dan kondisi di tiap sekolah tidak sama. Semoga saya masih diberikan usia dan kesempatan untuk mendatangi sekolah lain sehingga pengalaman pengajaran literasi kepada anak sekolah saya lebih banyak untuk merancang pelatihan singkat yang lebih baik di kemudian hari.  



Film animasi sutradara ini saya gunakan di Visit School Bandung


,
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Jadi inget waktu latihan2 nulis di cerpen disekolah dulu. pasti enggak lepas dengan kalimat "pada suatu hari", hehehe...

    BalasHapus