Menulis, Buku, Kehidupan

Sabtu, 01 Agustus 2015

CACAT Film Surga yang Tak Dirindukan


Setelah kontroversi poster film Surga yang TakDirindukan di ranah media sosial, akhirnya kita bisa menyaksikan film produksi MD Pictures itu di bioskop mulai 15 Juli 2015. Saya baru menyempatkan diri menyaksikan film ini bersama istri setelah dua minggu penayangannya. Berikut ini beberapa CACAT yang saya temukan setelah menonton film dari novel Asma Nadia ini.
Cerita poligami yang seimbang
Beberapa hari terakhir beredar potongan gambar atau screenshoot tweet Asma Nadia tentang poligami. Beberapa orang menghujat isi tweet tersebut karena menganggap Asma Nadia antipoligami. Kalimat yang ambigu dan multitafsir, mungkin menjadikan orang mudah menuduh Asma Nadia anti poligami.


Kontroversi Tweet Asma Nadia
Orang yang belum menonton film Surga yang Tak Dirindukan juga bisa mudah menuduhkan hal serupa hanya dengan melihat poster film saja. Setelah menyaksikan sendiri film berdurasi hampir 2 jam tersebut, awalnya saya juga menangkap pesan ketidaksukaan terhadap poligami. Namun seiring alur cerita kita dapat melihat proses Arini (Laudya Chintya Bella) dalam memaknai poligami yang terjadi pada keluarganya. Awalnya ia begitu membenci poligami saat tahu ayah dan suaminya ternyata beristri lebih dari satu. Seiring waktu, ada perubahan pada diri Arini mengenai poligami. Proses perubahan makna poligami inilah yang penting untuk menjadi cermin pagi para istri dan suami atau para lajang yang menonton film Surga yang Tak Dirindukan.

Adegan-adegan yang memperdebatkan tafsir QS An-Nisa 2-3 juga bisa saksikan dari sudut pandang Pras (Fedi Nuril), Amran (Kemal Palevi) dan Hartono (Tanta Ginting) dan ibunda Arini (Ray Sitoresmi). Sosok-sosok tersebut dapat menjadi wakil suara-suara opini tentang poligami pada masyarakat. Entah kenapa, saya jadi terpikir bahwa orang-orang yang sering berdebat kusir tentang poligami perlu menonton film Surga yang Tak Dirindukan agar debat yang tak perlu disudahi dengan kesepakatan Poligami Itu Terserah Anda, Syarat dan Ketentuan Berlaku.
    
Air mata bercucuran
Saya harus bilang, film ini cukup banyak memuat adegan yang berlinang air mata, terutama dari tokoh Arini, Pras, maupun Meirose (Raline Shah). Bahkan di beberapa adegan, mata si tokoh di-close up sehingga sangat mungkin memancing haru para penonton.
Arini menangis saat melihat kondisi Pras

Pada beberapa linangan air mata, saya menemukan tangisan yang janggal. Kenapa Mei Rose menangis untuk kepergian ayahnya, namun tiada air mata untuk laki-laki yang telah meninggalkannya dalam keadaan hamil?  Ganjil juga melihat Meirose yang menangis setelah melahirkan dengan operasi Caesar masih bisa berjalan ke atap gedung rumah sakit untuk bunuh diri. Depresi yang demikian kuatkan yang membuat Meirose mampu berjalan ke atap? Saya sempat menanyakan hal itu pada istri saya yang pernah bertugas di instalasi kebidanan. Jawab istri saya, “nggak ada keterangan jeda waktu dari melahirkan. Jadi mungkin-mungkin aja Meirose kuat jalan ke atap.”   
Cakepnya biasa
Beberapa adegan yang menyorot pemeran secara close up membuat penonton bisa melihat permukaan kulit para pemain, khususnya Laudya Chintya Bella dan Raline Shah. Tidak seperti di media promosi cetak dan elektronik yang memperlihatkan kulit halus mulus nan bersinar mereka, dalam adegan itu kulit mereka tampak bercak dan kurang mulus. Dampak bedak atau make up? Entahlah. Namun hal itu membuat mereka seperti wanita Indonesia pada umumnya. Justru kulit Fedy Nuril, Tata Ginting dan Kemal Palevi yang terlihat halus di sepanjang adegan. Lho, ini kok jadi bahas kulit, sih? ^_^
Arini, close up
Aman untuk anak-anak
Film ini dilabeli untuk penonton 13+ Saya sepakat, film ini bisa ditonton anak usia SMP. Kata Om Jean Piaget, anak 12 tahun ke atas sudah berpikir secara rasional formal, mulai paham soal poligami. Namun saya menemukan ada orang tua yang mengajak anak usia SD menonton film Surga yang Tak Dirindukan. Mereka duduk di belakang saya saat menonton. Saya sempat khawatir ada ‘adegan dewasa’ yang wajar bagi pengantin baru meskipun dadakan seperti Pras dan Meirose. Untunglah film Surga yang Tak Dirindukan bersih dari ‘adegan dewasa’ 

Saya mencatat setidaknya ada dua-tiga kali adegan rangkul antara Arini dan Pras juga Pras dan Meirose. Film yang mengusung pesan islami ini belum bisa memberikan alternatif adegan emosioal tanpa pelukan. Jika mereka suami istri dalam film itu, wajar saja, kan berpelukan? Sebagian orang yang sangat idealis dengan pesan islami tetap menganggap adegan itu sebaiknya dihindari kecuali jika pemainnya memang suami istri di kehidupan nyata.
Terjawab kenapa surga tak dirindukan
Saat poster film Surga yang Tak Dirindukan dipublikasikan, sebagian orang menyayangkan judul film tersebut. Istri saya juga begitu. Komentarnya, “aneh. Surga kok nggak dirindukan.”

Jika kita telah menonton film Surga yang Tak Dirindukan beberapa adegan akan menjawab makna Surga yang Tak Dirindukan itu. Misalnya pada adegan Arini yang bertemu Amran dan Hartono tidak lama setelah Pras menikahi Meirose. Arini dan Amran berdebat soal sabar dan ikhlas dalam poligami, serta surga sebagai balasannya. Dialog-dialog tokoh-tokoh itu dapat memberikan jawaban bagi penonton yang masih  bertanya mengapa harus Surga yang Tak Dirindukan?

Surga yang diimpikan
Itulah sebagian CACAT yang saya temukan dalam film Surga yang Tak Dirindukan. CACAT ini pendapat saya pribadi, jika ada yang tidak sepakat, wajar saja. Namun alangkah baiknya jika ketidaksepakatan itu terjadi setelah kita sama-sama menonton film Surga yang Tak Dirindukan.

Asma Nadia melalui akun media sosialnya mengabarkan bahwa saat ini, film Surga yang Tak Dirindukan sudah menembus 1.000.000 penonton. Semoga dengan banyaknya jumlah penonton itu membuat rumah produksi semakin berminat menggarap novel Islami menjadi film bagi orang-orang yang jarang nonton ke bioskop seperti istri saya. 

BACA JUGA

AKHIR PERDEBATAN POSTER FILM SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

ASMA NADIA MENJAWAB ISU SYIAH DI FILM ADA SURGA DI RUMAHMU

,
Comments
23 Comments

23 komentar:

  1. Ulasan yang lengkap, Kang. Saya belum nonton euy :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, nonton. Mumpung masih ada di bioskop ^_^

      Hapus
  2. Satu lagi cacatnya, drama queen. Karakternya too good to be true tapi tetep aja saya termehek-mehek waktu nonton.
    Sayang, keindahan alamnya kurang terekspos.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pengen lebih banyak pemandangan dari atas, tapi nggak goyang. Biayanya pasti mahal ^_^

      Hapus
  3. Memang harus ditonton dulu, baru bisa memberikan kritikan..
    Dan saya setelah menontonnya dapat mengatakan bahwa film ini layak tonton dan diberi apresiasi yg tinggi.. Soal adegan rangkulan, saya setuju bahwa itu sebaiknya dihindarkan, agar film dg tema Islami tetap dapat tampil secara Islami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, masukan dan komentar dari kita mudah-mudahan jadi sumbangan yang berarti untuk perkembangan film islami Indonesia

      Hapus
  4. Ada yg aneh, menurut sy, pas adegan di apotek, saat arini ketemu mei rose. Ketika arini keluar apotek, tdk melihat dan mengenali mobil pras yg jelas terparkir di depan apotek tsb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu adegan yang kayaknya sengaja dibuat untuk memainkan emosi penonton

      Hapus
  5. Saya kok pas sampe bioskop malah masuk studio #AntMan ya mas :-D Heheh. Baca ini jadi kepengen balik ke Bioskop biar ga salah studio lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ant Man media promosinya juga jor-joran. Kalau kita suka film fiksi ilmiah superhero gitu, wajar jika tergoda. Ayo segera nonton...

      Hapus
  6. kenapa ya batas usia di setiap film sll saja dilanggar penontonnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena belum ada 'polisinya' Bunda, sehingga orang yang melanggar tidak merasa bersalah dan jera

      Hapus
  7. Terkadang memang kulit prianya lebih menawan #gagalfokus.

    Belum nonton! Tapi penasaran juga , hebat ulasannya. Pengen belajar nulis tentang film juga nih kayaknya di masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para pria rajin perawatan juga, sih ^_^

      Berharap ada nobar buat blogger, sih. Tapi kayaknya PH punya strategi lain daripada melibatkan blogger secara langsung

      Hapus
  8. mau ngomong apa ya. nggak nonton :D

    Tapi keren dengan artikel seperti di atas.. orang bisa mempertimbangkan untuk menonton. Kang ... yakin ngga artikelnya mempengaruhi pembaca yang mau nonton? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tulisan ini lebih cocok untuk berdiskusi dengan teman-teman yang sudah nonton. Tetapi jika ada yang tergerak untuk nonton setelah baca tulisan ini, alhamdulillah aja, Kang Ade ^_^

      Hapus
  9. hahaha lucu pas ngebahas kulit.. saya blm nonton, tapi selalu baik sangka aja diantara kontroversi :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, semoga film ini membawa kebaikan

      Hapus
  10. Saya sampai sekarang masih gagal paham.lenapa bisa piligami tanpa sepengethuan istri pertama apakah ini sesuai islam.memang boleh?? Ini lo MAINSET yang jangan sampai orang beranggapan ini sah2 saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di film SUrga yang Tak Dirindukan, kita bisa tahu alasannya. Pada realita di masyarakat, entahlah. Mungkin harus ada penelitian terpadu lebih dahulu

      Hapus
  11. setuju kalo ini film tentang poligami yang cukup berimbang. unsur sisi kewanitaan Arini yang nggak rela diduakan ada, unsur ttg poligami atas 'alasan khusus' dari sisi Pras juga ada.

    BalasHapus
  12. Film Surga yang Tak Dirindukan terlalu memperlihatkan ke-feminisme-an seorang wanita ketika mengetahui suaminya berpoligami. Padahal dalam novelnya, seorang Arini mampu menguasai emosinya untuk tidak melabrak Pras. Adaptasi yang tidak 100 %...Hhh :-(

    BalasHapus
  13. Film Surga yang Tak Dirindukan terlalu memperlihatkan ke-feminisme-an seorang wanita ketika mengetahui suaminya berpoligami. Padahal dalam novelnya, seorang Arini mampu menguasai emosinya untuk tidak melabrak Pras. Adaptasi yang tidak 100 %...Hhh :-(

    BalasHapus