Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 12 November 2020

Membuktikan Khasiat Sabun Sebu

Sabun SEBU Banner

Berawal dari keisengan mengganti sabun mandi, kulit saya menjadi iritasi. Timbul ruam kulit di sekitar dada. Iseng-iseng berbuah pahit ini namanya.

Mengganti Sabun

Keluarga saya menggunakan sabun kesehatan berbentuk cair dan batangan. Istri dan anak menggunakan sabun cair, saya lebih suka sabun batangan. Alasannya sederhana, sejak kecil saya menggunakan sabun batangan.

Suatu hari saya mengganti merek sabun mandi batangan. Sabun aroma buah-buahan, lemon dan apel. Saya membelinya di satu lokapasar (market place), sekalian membeli kebutuhan bulanan. Harganya murah. Sekitar Rp2,000 per satu batang, masih ada kembalian.

Tanpa saya minta, si kecil membuka bungkus kedua sabun itu sekaligus. Jadilah dua sabun berwarna kuning kulit lemon dan daging apel menghias wadah sabun mandi. Saya pikir tidak apa. Bisa gonta-ganti menggunakannya. Sekalian menikmati aroma buah-buahan yang berbeda.

Sabun Menimbulkan Iritasi

Beberapa hari setelah pemakaian sabun baru itu, saya merasakan gatal-gatal di area dada, di bawah puting kanan dan kiri. Saya raba, kok kulit terasa kasar. Saya melihat pantulan bayangan saya di cermin. Terlihat ruam kulit seperti keringat malam pada bayi.

“Ini apa, ya?” tanya saya pada istri yang berprofesi sebagai perawat.

“Kayak keringat malam. Coba pakai salep di kotak meja rias aja,” saran istri saya.

Saya mengoleskan salep tipis-tipis usai mandi pagi dan sore. Agak berkurang gatalnya. Namun ruam terlihat melebar. Mulai dari area di bawah puting kanan dan kiri ke tengah, lalu seolah turun ke bawah menuju pusar.

“Coba pakai bedak C juga. Bedak itu ada zat untuk mengurangi iritasi,” saran istri saya lagi. Bedak memang mujarab untuk masalah kulitnya. Apabila kulitnya iritasi akibat garukan yang terlalu keras, cukup dibedakin saja.

Saya mencoba menggunakan bedak juga selain salep. Paling tidak bisa membuat kulit tetap kering. Namun saya tetap menanggung rasa gatal yang bikin tangan ingin menggaruk. Permukaan kulit pun terlihat semakin merah.

Setelah timbulnya ruam itu, saya belum menyadari penggantian sabun sebagai penyebabnya. Ketika mandi dan melihat tumpukan sabun di wadahnya, barulah saya pun berpikir, jangan-jangan sabun inilah penyebabnya. Perbedaan perilaku saya sebelum dan sesudah timbulnya ruam adalah penggantian sabun itu. Maka saya menyimpulkan, sabunlah biang keladinya.

Ganti Sabun Lagi

Sepertinya harus ganti sabun ini, pikir saya.

Saya teringat satu merek sabun yang pernah diinformasikan teman. Namanya Sabun SEBU. Saat tahu tentang sabun itu bulan lalu, saya tidak begitu tertarik. Harganya mahal. Bayangkan saja, satu sabun SEBU harganya setara dengan 2 lusin sabun batangan yang sering saya pakai.

Bisa dimaklumi harga yang relatif mahal itu. Sebagian besar komposisi Sabun SEBU bahan-bahan alami. Madu, ekstrak lemon, minyak zaitun, virgin coconut oil, minyak sawit, dan lainnya. Berbeda dengan sabun-sabun biasa, Sabun SEBU tidak menggunakan pewarna, pewangi, apalagi pengawet. Tidak ada zat-zat yang dapat membahayakan ibu hamil dan menyusui seperti yang dipaparkan dalam Can Fam Physician (1).

Komposisi Sabun SEBU

Tiada penambahan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), senyawa surfaktan atau yang biasa disebut dengan deterjen. SLS sebenarnya cukup aman digunakan, sebagaimana terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada Environ Health Insights(2). SLS berfungsi sebagai deterjen penghasil busa. Ada persepsi yang keliru dalam masyarakat kita (termasuk saya juga ini) bahwa semakin banyak busa pada satu produk pembersih semakin bagus untuk mengangkat kotoran. Padahal tidak ada hubungan antara banyaknya busa dengan daya bersih.

Dikutip dari Republika publikasi (5/2/2023)(3) Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Srie Prihianti, PhD, SpKK menjelaskan busa yang banyak mengangkat sebagian lemak di permukaan kulit.  Padahal lemak pada permukaan kulit kita berfungsi sebagai pelindung, mencegah gangguan kulit seperti iritasi, radang, dan  alergi. Dokter Srie menyarankan agar menghindari saja sabun yang memiliki kandungan SLS.

Saya sempat terpikir untuk ke dokter kulit saja. Namun di masa pandemi Covid19 ini, konsultasi ke rumah sakit berisiko. Konsultasi secara daring atau melalui aplikasi saya belum pernah mencobanya. Kurang sreg juga.

Saya melakukan riset daring terlebih dahulu. Membaca blog Sabun SEBU juga menyimak video product knowledge di kanal Sabun SEBU Official. Penjelasan Miss Ayu Ashari (bukan Ayu Azhari yang artis itu, lho), seorang beauty consultant,  cukup memberikan informasi yang saya butuhkan. Bismillah, saya putuskan saja mencoba Sabun SEBU Antiseptik.

Saya mencari Sabun SEBU di marketplace. Kisaran harganya Rp45.000. Apabila dibelikan sabun biasa, bisa dapat dua lusin itu.

Saya cari harga termurah dengan fitur filter. Ada toko yang menjual tester Sabun SEBU Antiseptik dan Sabun SEBU Moist Glow. Hanya saja ukurannya 1/8 dari ukuran aslinya. Harganya pun turun. Sabun SEBU Antiseptik jadi Rp4.000 sedangkan dan Sabun SEBU Moist Glow hanya Rp8.000 (Dari harga Rp200.000). Penjual hanya memperbolehkan order 1 potong saja untuk tiap varian SEBU. Baiklah, saya order saja. Mudah-mudahan bisa jadi solusi bagi permasalahan kulit saya.

Tester Sabun SEBU

Mencoba SEBU Antiseptik

Dua hari kemudian pesanan Sabun SEBU datang. Pengen ngakak sambil salto lihat ukuran Sabun SEBU tester itu. Beneran Sabun SEBU asli yang dipotong menjadi 1/8 bagian. Sabun SEBU Antiseptiknya jadi sebesar uang logam Rp500. Sabun SEBU Moist Glow masih terlihat besar karena bentuk hatinya dibelah dua sehingga berbentuk seperti patahan hati. Bisa dipakai berapa hari, ya?

Sabun SEBU Moist Glow saya gunakan di bagian wajah saja, sedangkan sabun SEBU Antiseptik di seluruh badan. Berdasarkan informasi dari Miss Ayu, kedua sabun SEBU itu sebenarnya bisa digunakan pada wajah dan anggota tubuh lainnya. Perbedaannya SEBU Antiseptik untuk mengatasi masalah, sedangkan SEBU Moist Glow untuk perawatan supaya glowing gitu dan pencegahan masalah kulit.

Saya tidak memiliki masalah kulit di wajah. Hanya abses saja sesekali. Jerawat juga sudah jarang muncul. Maka tepat jika saya gunakan Sabun SEBU Moist Glow di wajah saja.

Miss Ayu menyarankan sabun digosok langsung ke area kulit. Bukan menggosokkan ke tangan sehingga menjadi busa, kemudian busanya baru digosokkan seperti sabun biasa. Padahal busa yang melimpah itu dari detergen. Bagi sebagian orang, detergen dapat menimbulkan masalah kulit juga.

Saya menggosokkan SEBU Antiseptik seukuran uang logam. Warnanya transparan kuning kecokelatan, mirip madu. Mungkin pengaruh kandungan madu di dalamnya. Saya teringat khasiat madu dalam Jurnal Sains Natural. Aktivitas antibakteri sabun madu dapat menyaingi sabun dengan antibakteri sintetis triklosan (zat kimia anti bakteri)(4). Hanya saja ukuran sabun  yang kecil itu bikin saya kesal. Sabunnya sering meleset dari telapak tangan. Risiko pakai sabun tester.

Benar saja, Sabun SEBU Moist Glow dan SEBU Antiseptik tidak menghasilkan busa melimpah, tetapi tetap ada busa lembut yang muncul. Aromanya pun tidak menyengat, tetapi aroma ringan khas bahan-bahan alami.

Miss Ayu menyarankan cara memoles sabun diputar-putar membentuk lingkaran, bukan naik turun. Gerakan memutar membuat bahan-bahan alami lebih efektif bekerja daripada gerakan naik turun yang merenggangkan dan marapatkan pori-pori kulit. Polesan sabun juga tidak langsung dibilas dengan air. Dibiarkan dulu beberapa saat. Jadi nongkrong-nongkrong dulu aja di kamar mandi, menunggu bahan-bahan alami meresap dan bekerja.

Ukuran tester Sabun SEBU

Bukti Khasiat Sabun SEBU

Setelah empat hari pemakaian, Sabun Sebu Antiseptik tester sudah sangat kecil. Sulit digosokkan ke badan lagi. Sementara itu, ukuran Sabun SEBU Moist Glow masih cukup besar.

Alhamdulillah-nya ruam di kulit saya mulai berkurang. Memang tidak langsung hilang serta menjadikan kulit halus mulus. Namun sebaran ruam menyempit, tinggal kemerahan di bawah puting saja. Rasa gatalnya pun berkurang. Berarti kulit saya cocok menggunakan Sabun SEBU Antiseptik. Jadi pengen sujud syukur sambil salto.

Before After Pakai Sabun SEBU

Saya pesan lagi Sabun SEBU Antiseptik. Kali ini ukuran asli dong. Di satu lokapasar saya menemukan toko yang lokasinya dekat dengan rumah saya, sehingga bisa diantar dengan layanan ojek daring. Dapat harga grosir juga apabila membeli dua atau lebih Sabun SEBU Antiseptik. Dari harga Rp45.000 turun jadi Rp39.500 plus cashback Rp10.000 dan belasan ribu koin. Saya pesan saja 4 batang Sabun SEBU Antiseptik sekaligus.

Saya coba berhitung. Seperdelapan Sabun SEBU Antiseptik bisa dipakai 4 hari. Berarti satu Sabun SEBU Antiseptik bisa dipakai untuk 24 hari. Tidak sampai 1 bulan Sabun SEBU Antiseptik sudah habis. Apabila istri dan anak saya menggunakan Sabun SEBU Antiseptik, bisa menghabiskan 1 batang Sabun SEBU Antiseptik. Waduh!

Jiwa miss queen yang berontak saya redam dengan mengingat manfaat yang didapatkan. Sabun SEBU Antiseptik dapat meredakan sejumlah masalah kulit seperti jerawat, flek hitam, ruam popok, gatal gatal, komedo, panu, kudis, dan kurap. Bonusnya, kulit tetap lembut dan lembab.

Di samping berbagai manfaatnya, saya merasa Sabun SEBU Antiseptik ini terlalu kecil ukurannya. Hanya 50 gram, sementara harganya relatif mahal. Selain itu, saat ini kita hanya bisa mendapatkannya di reseller. Belum tersedia di toko, minimarket, atau warung. Mungkin karena produk premium, ya. Bakal merana tak tersentuh konsumen kalau cuma tergeletak di rak toko atau warung. Hilang kesan premiumnya. 

Kelebihan SEBU

Kekurangan SEBU

Sabun SEBU Membunuh COVID19

Blog Sabun Sebu juga menyatakan Sabun SEBU Antiseptik mengandung povidone iodine. Zak aktif yang terbukti dapat membinasakan pertumbuhan mikroba berbahaya seperti kuman patogen, bakteri, dan beberapa virus seperti CORONA VIRUS (Covid-19) seperti yang dipublikasikan oleh Republika pada (11/2/2020)(5). Namun saya belum menemukan povidone iodine tertulis pada kemasan Sabun SEBU Antiseptik.   

Kenapa zat yang berfaedah di masa pandemi COVID19 itu tidak tercantum, ya?

Saya coba kontak reseller, customer service Sabun SEBU. Alhamdulillah dihubungkan dengan Miss Ayu juga Pak Fitra. Bahkan Miss Ayu sendiri yang menelepon saya pada Rabu (25/11/2020). Miss Ayu dan Pak Fitra bergantian bicara dengan saya. Dari keduanya saya mendapat penjelasan terkait kandungan povidone iodine

Povidone iodine (C6H9I2NO) adalah senyawa yang sering digunakan sebagai antiseptik. Dikutip dari Dental Journal (Desember, 2014)(6), poviodone iodine memiliki sifat anti bakteri utamanya melalui mekanisme dimana povidone membawa senyawa iodine bebas masuk menembus membran sel. Senyawa iodine memiliki sifat yang sitotoksik sehingga mampu membunuh sel bakteri. Termasuk si COVID19.

Sayangnya, menurut Pak Fitra yang menangani produksi Sabun SEBU, secara administrasi Povidone Iodine tidak bisa dimasukkan dalam produk kategori natural soap. Maka dari itulah, meskipun Sabun SEBU mengandung Povidone Iodine, tetapi tidak tercantum dalam kemasannya.

Kabar baiknya, tim riset Sabun SEBU menemukan bahwa akar manis atau Licorice mengandung bahan-bahan yang khasiatnya sama dengan Povidone Iodine. Licorice yang memiliki nama ilmiah Glycyrrhiza Glabra mengandung asam glycyrrhizic (GLR) yang tengah diteliti secara intensif karena dapat mengatasi COVID19 n sebagai antiseptik. Dikutip dari Dental Journal (Desember, 2014)(7). Sejumlah ilmuwan sudah merekomendasikan penggunaan Licorice ini.

Licorice dalam Sabun SEBU

Tim produksi Sabun SEBU dalam waktu dekat akan mengumumkan produk Sabun SEBU yang juga terbuat dari licorice tersebut, selain mengganti nama SEBU Antiseptik. Sabun Antiseptik pada umumnya tidak bisa digunakan terus menerus karena dapat membunuh kuman baik pula. Padahal faktanya (seperti yang sudah saya buktikan) sabun SEBU dapat digunakan secara terus menerus guna mencegah berbagai penyakit. Penyakit akibat COVID19 satu di antaranya.

Saya juga sedang coba meneruskan pemakaian sabun mandi SEBU meskipun ruamnya sudah jauh berkurang. Sebab kulit saya rawan keloid. Luka bentol gigitan nyamuk atau jerawat dapat berubah menjadi keloid. Beberapa keloid yang sudah ada juga saya rasakan semakin membesar. Maka dari itu, saya berharap Sabun SEBU dapat mengecilkan keloid yang sudah ada.

Di masa pandemi ini, langkah pencegahan infeksi kuman mau tidak mau terus kita lakukan. Tentu saja diiringi dengan doa kepada-Nya: Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman.

“Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan  rasa nyeri.”

Amin amin ra robaal ‘alamin

Semoga pandemi COVID19 segera berlalu. 

Manfaat Sabun SEBU Antiseptik

Rujukan

1. Pina Bozzo, Angela Chua-Gocheco, MD, and Adrienne Einarson, RN. (2011). Safety of skin care products during pregnancy. Diunduh dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3114665/ pada 22 November 2020.

2. Bondi, CA., Julia L Marks,J.L, Lauren B Wroblewski, L.B., Raatikainen, H.S., Lenox, S.R., Gebhardt, K.E. (2015). Human and Environmental Toxicity of Sodium Lauryl Sulfate (SLS): Evidence for Safe Use in Household Cleaning Products. Environ Health Insights. 2015; 9: 27–32. doi: 10.4137/EHI.S31765

3. Putra, Yudha Manggala P. (2013). Hindari Sabun Mandi Mengandung 'Sulfactan'. 05 Februari 2013. Diunduh dari https://republika.co.id/berita/mhr5h7/hindari-sabun-mandi-mengandung-sulfactan pada 22 November 2020

4. Raisa, A., Srikandi, S., & Hutagaol, R. P. (2018). Optimasi Penambahan Madu Sebagai Zat Anti Bakteri Staphylococcus aureus, Pada Produk Sabun Mandi Cair. Jurnal Sains Natural, 6, 52–63

5. Awaliyah, Gumanti., Dwinanda, Reiny. (2020). Sabun Antiseptik Seperti Apa yang Bisa Bunuh Virus? 11 Februari 2020. Diunduh dari https://republika.co.id/berita/q5hw2d414/sabun-antiseptik-seperti-apa-yang-bisa-bunuh-virus pada 22 November 2020

6. Sinaredi, Betadion Rizki., Pradopo, Seno., & Wibowo, Teguh Budi. (2014). Daya antibakteri obat kumur chlorhexidine, povidone iodine, fluoride suplementasi zinc terhadap, Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Dental Journal, Volume 47, Number 4.

7. Baillya, Christian & Vergotenb, Gérard. (2020) Glycyrrhizin: An alternative drug for the treatment of COVID-19 infection and the associated respiratory syndrome? Elsevier Public Health Emergency Collection. Published online 2020 Jun 24. doi: 10.1016/j.pharmthera.2020.107618

8. Adiwibowo, Muhammad Triyogo. (2020) Aditif Sabun Mandi: Antimikroba dan Antioksidan. 1 Juni 2020. Diunduh dari https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jip/article/view/8397 pada 22 November 2020

 

Sumber foto

Dokumentasi pribadi, Canva dan sabunsebu.com

,
Comments
8 Comments

8 komentar:

  1. Alhamdulillah ya Mas cocok dengan sabun Sebu jadi ruamnya hilang, mending pilih sabun harga mahal tapi berkhasiat ya daripada kulit jadi sakit huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dimaklumi karena bahan-bahannya beda dengan sabun biasa

      Hapus
  2. Termasuk jenis sabun yang ramah buat anak-anak ya. Kandungannya juga ramah lingkungan. Tapi emang sih, biasanya sabun dengan bahan-bahan alami harganya lebih mahal, tapi sebanding dengan manfaatnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bisa buat anak-anak juga. Cuma si kecil di rumah belum mau pakai karena lebih suka dengan sabun cair

      Hapus
  3. Nongkrong cantik di kamar mandi sambil ngopi Kang? Hihihi.. Semoga terus membaik ya gatalnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... bercanda...Intinya jangan langsung disiram air aja

      Hapus
  4. harganya memang lumayan bikin kejang ya untuk sabun sekecil itu. tapi kalau emmang cocok dan bagus ya mau nggak mau harus beli ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kudu jadi reseller biar bisa dapat murah

      Hapus