Menulis, Buku, Kehidupan

Sabtu, 31 Oktober 2020

4 Jenis Kekerasan yang Mengancam Hidup Anak, Orang Tua Tanpa Sadar Sering Melakukannya

 

Ancaman Kekerasan Anak


Orang tua sepatutnya mengasuh anak dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Namun tanpa sadar orang tua sering melakukan kekerasan terhadap anaknya. Kekerasan mengancam kehidupan anak sehingga memengaruhi tumbuh kembangnya.

Sebagian orang tua hanya memahami kekerasan secara fisik saja. Padahal menurut WHO, kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang (masyarakat) yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan, atau perampasan hak.

Terry E. Lawson, seorang psikolog dan penulis buku Parenting : What We Need to Know to Make a Difference  membagi kekerasan terhadap anak menjadi beberapa jenis

1. Physical Abuse (kekerasan fisik)

·        Terjadi ketika orang tua atau pengasuh memukul/menjewer/mencubit dan melakukan perbuatan yang menyakitkan fisik lainnya.

·        Seringkali dilakukan untuk mengondisikan anak sesuai keinginan orang tua atau saat anak ingin sesuatu.

·        Anak dapat mengingat kekerasan fisik yang dilakukan terhadapnya.

·        Penelitian University of Wisconsin menemukan bahwa anak yang mengalami kekerasan fisik memiliki amigdala dan hippocampus yang lebih kecil pada usia 12 tahun daripada anak-anak tanpa riwayat stres. Mereka yang memiliki amigdala dan hippocampus terkecil juga memiliki masalah perilaku seperti berkelahi atau bolos sekolah.

·        Amygdala terlibat dalam pengaturan emosi, pengambilan keputusan juga wilayah penting untuk mengatur perilaku agresif. Hippocampus juga terlibat dalam pemrosesan emosi, juga penting untuk pembentukan ingatan. Hippocampus yang lebih kecil pada anak-anak yang mengalami pelecehan bisa menghadirkan rintangan untuk belajar dan menghambat pembelajaran di sekolah.

 

2. Sexual Abuse (kekerasan seksual)

·        Terjadi apabila seseorang melibatkan, membujuk, atau memaksa anak dalam kegiatan seksual, termasuk mendorong anak berperilaku seksual yang tidak pantas.

·        Kekerasan dapat terjadi secara langsung terhadap kemaluan dan anggota tubuh anak dengan atau tanpa pakaian.

·        Kekerasan sesksual juga termasuk paparan aktivitas seksual, pembuatan film, dan  prostitusi.

·        Studi neuroimaging membuktikan kekerasan seksual masa kanak-kanak memengaruhi perkembangan otak, menyebabkan perbedaan anatomi otak dan fungsi yang berdampak pada kesehatan mental yang negatif seumur hidup.(1)

·        Kekerasan seksual di masa kanak-kanak terkait dengan banyak konsekuensi psikologis jangka panjang, termasuk bunuh diri, gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, attention-deficit / hyperactivity disorder, gangguan perilaku (conduct disorder), intergenerational effects, ketidakstabilan afektif dan penyalahgunaan narkotika.(2)

 

3. Emotional Abuse (kekerasan emosional)

·        Terjadi ketika orang tua atau pengasuh mengabaikan anak setelah mengetahui ia meminta perhatian.

·        Misalnya anak dibiarkan lapar karena orang tua terlalu sibuk dan tak mau diganggu. Kebutuhan anak untuk dipeluk dan dilindungi terabaikan.

·        Anak dapat mengingat semua kekerasan emosional itu sepanjang hidupnya tanpa ia sadari.

·        Efek dari pelecehan emosional lebih jarang dipikirkan, tetapi tidak kurang merugikan kesehatan fisik dan mental anak.

·        Anak-anak - dan orang dewasa - yang telah mengalami pengabaian emosional dapat merasa sulit untuk membentuk hubungan yang sehat. Mereka menjadi terlalu bergantung atau bergantung pada satu orang, atau terisolasi secara sosial di kemudian hari.

·          Anak-anak yang mengalami tekanan emosional sejak usia muda memiliki masalah dengan emosi dan ingatan.(3)

 

4. Verbal Abuse (kekerasan verbal)

·        Terjadi ketika orang tua atau pengasuh berkata kasar dan menyakitkan.

·        Misalnya menyuruh anak diam atau tidak menangis setelah mengetahui ia meminta perhatian.

·        Saat anak mulai bicara untuk mengungkapkan perasaannya, orang tua terus memarahinya.

·        Percobaan Kurt Gray dan Daniel Wegner menemukan bahwa kata-kata yang diucapkan dengan maksud jahat, untuk menyakiti atau meremehkan, memberikan lebih banyak rasa sakit daripada yang dikatakan tanpa pemikiran sebelumnya atau niat yang sebenarnya. (4)

·        Apabila ibu penuh kasih sayang sedangkan ayah pelaku kekerasan verbal yang kejam, kebaikan ibu tidak akan mengurangi kerusakan yang dilakukan Ayah sedikitpun. (5)

·        Penelitian dengan cara pemindaian MRI pada sejumlah partisipan menunjukkan rasa sakit emosional dan fisik sangat mirip.(6)

Itulah 4 kekerasan yang berpotensi dilakukan orang tua atau orang-orang di sekitar anak. Semoga kita menjadi lebih sadar bahwa kekerasan bukan soal fisik semata.

 

Rujukan

(1). Child Abuse Review Volume27, Issue 3 May/June 2018 Pages 198-208) https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/car.2514

(2). The Journal of Clinical Psychiatry 69: 584–596

(3). https://nypost.com/2017/11/02/brain-scans-reveal-how-badly-emotional-abuse-damages-kids/

(4). Gray, Kurt and Daniel M. Wegner, “The Sting of Intentional Pain,” Psychological Science (2008), vol. 19, number 12, 1260-1262.

(5). https://www.psychologytoday.com/us/blog/tech-support/201602/5-things-everyone-must-understand-about-verbal-abuse.

(6). Kross, Ethan, Marc G. Berman et al.  “Social rejection shares somatosensory representations with physical pain” (2011) PNAS, vol, 108, no.5, 6270-6275

Sumber foto: Freepik.com

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar