Menulis, Buku, Kehidupan

Rabu, 06 Mei 2020

Tiga Sosok dalam Suatu Permasalahan


Seorang teman bernama A sering sekali mengeluh di media sosial. Status terbarunya kerap melempar kritik kepada sesama warganet atau para selebritas. Bahkan pemerintah dalam negeri dan luar negeri pun sering mendapat kritik pedasnya.

Saya seringkali mengaktifkan mode snooze  selama 30 hari terhadap akun A. Bikin gerah dan emosi negatif jika statusnya tak sengaja terbaca. Namun di sisi lain, saya merasa tetap perlu menjalin relasi terhadapnya.
Satu teman lainnya si B. Dia sering menggelar diskusi jarak jauh dengan akademisi dan selebritas. B menggunakan aplikasi seperti Zoom dan sejenisnya untuk berbagi solusi berbagai masalah. B memang seorang akademisi. Dia paham secara teori, mungkin praktiknya juga, bagaimana cara menyelesaikan masalah.

Selain undangan untuk menyimak diskusinya, potongan gambar (croping) pelaksanaan diskusi itu kerap dibagikan B ke media sosial. Saya kagum, B bisa mengelar diskusi jarak jauh sampai 3 – 4 kali dalam seminggu. Berapa banyak orang yang sudah terselesaikan masalahnya karena solusi dari B? Belum ada datanya.
Satu orang lainnya C, tidak bisa dibilang teman sebenarnya. Saya tahu dan kenal dia, namun dia belum kenal dan belum tahu dengan saya. Pertemuan saya dengan C di satu pelatihan internal. Saya peserta, C pelatih. C memiliki banyak pengalaman menmepati berbagai posisi di perusahaan. Satu yang saya kagumi dari C, dia menempuh pendidikan tinggi ilmu teknik seperti saya, namun mengenyam pendidikan agama Islam sehingga layak disebut ustad juga.         

Usia C memang sudah sepuh. Dia senang sekali berbagi pengalaman dan banyak hal pada siapa saja. Berbeda dengan B yang memberikan solusi, C cenderung menstimulasi orang untuk menemukan peluang bahkan di masa sulit seperti pandemi covid19 saat ini. Dibayar atau tidak, bukan masalah. Soal kenikmatan dunia, C sepertinya sudah tidak ambil pusing lagi.  

Sosok A, B, dan C, saya pikir perwujudan orang kalimat bijak berikut:

Small-man talking about the problem, greatman talking about the solution. Business Genious man find apportunity behind the problems.

Orang kerdil selalu meributkan masalah dan masalah. Memaki kegelapan. Orang besar berusaha mencari solusi. Orang jenius secara spiritual justru mencari celah, berbagi di era yang penuh kesulitan.

A kerap membahas masalah remeh temeh dan problematika mancenegara yang justru membuat masalah itu terlihat pelik. Emosi negatif tersirat dari kata-kata yang dirangkainya. Apakah kebutuhan curcol A di dunia nyata kurang terpenuhi? Bisa jadi.

Saya cukup banyak menemukan pengumpat dan pengeluh seperti  A di media sosial. A sosok dari orang kerdil yang meributkan masalah sehingga membuat masalah baru. Terkadang saya memberi komentar untuk menenangkan A selain berdoa agar A diberikan hidayah oleh-Nya.

Sosok B sering kita temukan di kampus-kampus juga acara bincang-bincang masalah televisi swasta. Mereka memberikan solusi. Kita dapat menerima dan melaksanakan solusinya atau menganggapnya angin lalu. B merupakan orang besar yang selalu mencari solusi.
Orang yang selalu ringan berbagi seperti C adalah sosok yang banyak dibutuhkan negeri ini. Mereka orang-orang jenius spiritual yang menyalakan cahaya di tengah kegelapan, kemudian mengajari orang lain agar dapat menyalakan cahaya juga. Saran dari orang-orang jenius cenderung praktis dan mudah karena berdasarkan pengalaman selain ilmu.

Bukan salah menjadi orang besar seperti B. Kita juga memerlukannya. Namun sosok-sosok seperti orang jenius C idealnya lebih banyak. Harus lebih banyak dari sosok pengumpat dan pengeluh. Setiap masalah yang timbul akan terasa mudah mengatasinya bersama orang-orang jenius spiritual.        


Berdasarkan nasihat Misbahul Huda untuk Syaamil Group
Foto: Freepik.com @khotcharak (Meremas kertas) user14996962 (Lilin)

Comments
11 Comments

11 komentar:

  1. Sepakat banget.. Orang tipe C jarang ditemukan, tapi bukan berarti g ada.
    Suka sama analoginya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Semoga kita semua bisa menjadi orang jenius itu

      Hapus
  2. Ya Allah pengen rasanya jadi orang seperti B, setidaknya dulu sebelum banyakin ilmu menjadi orang C. Semoga dalam posisi sekarang saya sama sekali bukan orang A yang menjengkelkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang banyak menanam dulu. Insya Allah besok-besok kita panen apa yg sudah ditanam hari ini dan kemarin

      Hapus
  3. Hanya saja, orang seperti C adalah orang yang paling sedikit jumlahnya dibanding dua tipe lainnya. Omong-omong, saya juga lulusan teknik, Mas, hhe

    BalasHapus
  4. Iya kebanyakan sekarang di medsos orang suka nyampah, mengomel saja tanpa solusi mungkin biar lega tapi malah spread the negativity ya buat aeklilingnya, toxic juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya kalau cuma mau nyampah atau bahasa psikologinya katarsis, bisa dalam diary atau direkam untuk konsumsi pribadi aja sih... Tapi ini ada keinginan pengen dapat perhatian dari orang lain juga kayaknya

      Hapus
  5. Nah, kk orang yg mana? aku mungkin tipe z. bodo amat dg masalah org, masalahku aja banyak. mudah2an dpt rezeki ketemu orang dg tipe c

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tipe X. Tapi yang kayak selotip, bukan cairan gitu, ya

      Hapus
  6. benar sekali. semoga kita tidak termasuk golongan si A. walaupun biasanya A itu identik dengan nilai yang baik. hehe

    BalasHapus