Menulis, Buku, Kehidupan

Minggu, 27 Oktober 2019

Ini Salahnya Beli Buku Bajakan, Sekarang Bisa Jadi Urusanmu Kan?

Beberapa tahu terakhir saya sering membeli buku-buku secara daring. Lebih praktis dan hemat waktu. Cukup cari judulnya di marketplace atau toko buku daring (on-line) semacam mizanstore.com, pesan dan bayar. Soal harga, saya sering menemukan buku baru dengan harga yang bikin ngiler!

Buku Murah Daring

Harga buku bikin ngiler itu dijual dengan harga seperempat dari hari harga pasaran. Saya menemukannya di beberapa toko daring marketplace warna orange. Misalnya saja ada toko yang menawarkan aneka novel 1 harga. Rp 20.000 untuk satu judul buku. Model jualannya seperti toko serba satu harga. Pembeli cukup menuliskan judul novel yang diinginkan pada kolom pesan untuk penjual. 

Novel yang dijual murah itu termasuk novel-novel yang sedang hype. Senior, Inestable, dan Athlas merupakan tiga dari sekian banyak judul. Padahal harga resmi buku-buku dari grup Mizan itu Rp65.000 – Rp75.000.

Saya coba telusuri daftar judul buku lain yang ditawarkan. Luar biasa. Selain buku-buku karya Eko Ivano Winata dan Pidi Baiq, ada juga daftar buku Boy Chandra, Fiersa Besari, Risa Saraswati, Tere Liye, Wulanfadi dan banyak lagi. Semuanya diobral Rp20.000.

Sebagian besar pembeli menyatakan puas, meskipun ada keluhan soal sampulnya yang buram, bagian punggung buku mengkerut, cetakan yang meninggalkan noda di tangan, dan kualitas kertas buram selain book paper. Sudah bisa dipastikan buku yang dijual oleh toko itu bajakan!

Buku bajakan sudah dijual daring pula rupanya. Tokonya bernaung pada marketplace yang sering iklan di mana-mana lagi. Laris manis lagi. Bayangkan saja, rekam jejak penjualan buku dua puluh ribu itu sudah terjual 9.400. Artinya penjual sudah meraup keuntungan kotor Rp188.000.000 (seratus delapan puluh delapan juta rupiah). Penerbit dan penulis tidak mendapat bagian materi sama sekali dari keuntungan itu.

Penetapan harga buku berdasarkan perhitungan beberapa komponen (Sumber twitter.com/bentangpustaka)
Buku bajakan hanya memperhitungkan biaya cetak saja. Biaya cetak itu terangkum dalam biaya produksi seperti yang terlihat pada gambar di atas. Banyak komponen diabaikan. Wajar apabila buku bajakan murah. Keuntungan hanya untuk cetak dan si pembajak saja. 

Faktor Pendorong

Saya pernah tertipu membeli buku kuliah bajakan. Saat membeli tidak diperiksa lagi. Bukunya memang sudah langka. Tentang Psikologi Bermain. Untuk buku fiksi, saya belum pernah sengaja membeli atau salah beli buku bajakan. 

Kenapa, ya, ada orang yang sengaja membeli buku bajakan? Dia benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?

Satu penelitian dapat menjelaskan faktor-faktor dibalik pembelian buku-buku bajakan. Alzera Geny Netriana melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan program studi sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2017. Penelitiannya terangkum dalam skripsi berjudul Pengambilan Keputusan dalam Menggunakan Barang Bermerek Original atau Replika.

Penelitian dengan metode survey itu menggunakan responden 203 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mereka dipilih dengan cara accidental sampling. Pengumpulan data diperoleh menggunakan kuesioner terbuka. Hasilnya, sebanyak 8% responden menggunakan produk tiruan, 52% menggunakan produk asli dan tiruan.

Latar belakang pengambilan keputusan responden menggunakan produk bermerek asli terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kenyamanan (17%), kepercayaan diri (9%), rasa suka (8%), menghargai produk asli (2%), keterpaksaan (1%), dan kebutuhan (0,5%). Faktor eksternal terdiri dari kualitas (59%), pemberian orang lain (1%), keterbatasan produk (1%) dan produk mudah ditemukan (0,5%).
Faktor internal pemilihan produk asli atau original 
Faktor eksternal pemilihan produk asli atau original

Tiga faktor internal pertama terkait emosi dan perasaan. Hal ini sudah jadi rahasia umum bagi produsen dan pemasar. Seseorang memilih satu produk karena rasa nyaman, pemakaian barang dapat meningkatkan kepercayaan diri, dan ada rasa suka produk. Seseorang tentu tidak malu menenteng buku asli atau barang apapun yang mereknya bukan KW. Selain itu kualitas barang asli juga terjamin. Bahkan beberapa produsen berani memberikan garansi jika barang cepat rusak.

Sementara itu, faktor internal yang mendorong seseorang menggunakan barang tiruan menurut penelitian tersebut karena kebutuhan yang mendesak (10%), koleksi (7%), rasa suka (5%) dan kenyamanan (2%). Faktor eksternalnya meliputi harga murah (59%), kemiripan produk dengan yang asli (8%), produk mudah diakses (7%), pemberian orang lain (2%) dan produk mudah rusak (1%).
Faktor internal penggunaan produk tiruan atau replika
Faktor eksternal penggunaan produk tiruan atau replika

Menariknya berdasarkan penelitian tersebut, 74% responden atau 150 mahasiswa dan mahasiswi sebenarnya tahu mana produk asli dan tiruan. Sisanya sebanyak 26% responden atau 53 mahasiswa dan mahasiswi memang tidak mengetahui bahwa produk yang dipakainya asli atau tiruan. Responden yang tahu tetap memilih barang tiruan karena harganya yang lebih murah.

Barang asli dan tiruan dalam penelitian terbatas pada fashion yaitu, pakaian, tas, jam tangan, dan sepatu. Bukan buku. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah hasil penelitian terhadap buku asli dan buku bajakan mendapat hasil yang sama.

Dugaan saya, hasilnya tidak akan jauh berbeda. Sebagai pecinta buku, harga yang murah menjadi godaan tersendiri bagi saya untuk memenuhi kebutuhan terhadap bacaan kekinian. Namun kualitas buku yang jelek, rasa empati terhadap penulis dan penulis selalu mencegah saya untuk mengoleksi buku bajakan. Bahasa langitnya, membeli buku bajakan itu dosa, habis perkara.   


Bahaya Jangka Panjang

Sesekali beli buku bajakan nggak papa kali. Buku barunya mahal banget, Jiwa missqueen-ku berontak! Punya pikiran seperti itu?

Dan Ariely dalam buku The (Honest) Truth About Dishonesty memaparkan bahwa membeli barang branded palsu atau barang KW (yang bisa kita samakan dengan buku bajakan) merupakan bentuk ketidakjujuran. Perilaku ini terkesan sepele namun mempunyai dampak buruk secara psikologis.

Pembuktiannya melalui satu eksperimen. Ada tiga kelompok yang mendapat perlakuan berbeda. Kelompok satu diberi tahu, mereka mendapatkan produk asli. Kelompok kedua diberi tahu bahwa mereka mendapatkan produk tiruan. Kelompok ketiga sama sekali tidak diberi tahu tentang produknya. Faktanya semua kelompok itu mendapat produk asli. Ketiga kelompok melakukan evaluasi terhadap produk kemudian mengerjakan tes matematika. Tes matematika dirancang agar peserta tergoda curang namun tanpa mereka sadari peneliti sebenarnya tahu.

Hasilnya cukup mengejutkan. Sekitar 30% dari kelompok “produk asli” berbuat curang. Anggota kelompok “produk palsu” yang membuat kecurangan 74%. Anggota kelompok yang tidak diberi tahu apa-apa melakukan kecurangan sekitar 42% persen.

Ada indikasi, penggunaan produk tiruan, KW, bajakan membuat seseorang lebih mudah berbuat curang, tidak jujur. Penggunaan produk asli memang tidak melepaskan seseorang dari perbuatan curang, namun persentasenya lebih sedikit. Peringatan bagi kita bahwa orang yang senang menggunakan produk tiruan secara sadar patut diwaspadai.

Eksperimen lainnya dengan pembagian kelompok sejenis juga menemukan hasil yang tidak kalah mengejutkan. Kelompok yang diberi tahu menggunakan produk palsu lebih meragukan kejujuran orang lain. Dia berbuat tidak jujur namun di sisi lain dia juga curiga orang lain tidak jujur juga. Sungguh sikap yang cukup membahayakan.

Peredaran barang palsu, termasuk buku bajakan ternyata bukan hanya merugikan penerbit dan penulis. Masyarakat secara umum dirugikan. Semakin banyak orang yang menggunakan produk tiruan, makin banyak orang yang berbuat tidak jujur sekaligus meragukan kejujuran orang lain. Sudah rugi secara ekonomi, moral dan sosial dirugikan pula.

Sudah saatnya bilang tidak pada barang tiruan semacam buku bajakan itu, kan?

Tindakan Nyata Kita

Untuk sekadar memuaskan hasrat baca, buku resmi versi digital dari penulis terkenal dapat dibaca melalui aplikasi Perpusnas; iPusnas secara gratis. Novel terbitan Mizan seperti Dilan, Milea, juga novel-novel terjemahan semacam karya Jostein Gaarder juga tersedia di sana. Hanya saja peminjamannya terbatas dua buku per hari dan lama pinjaman dua hari.

Apabila ingin mendapatkan buku asli dengan harga murah, Mizan termasuk penerbit yag rajin menggelar bazar. Baik pada pameran buku bersama semacam Indonesian Book Fair atau acara Out of The Books (OoTB). Khusus Out of The Books penyelenggaraannya sudah sampai ke daerah seperti Gresik dan Cirebon.

Selain itu, Mizan sering melelang dan menawarkan buku asli murah lewat Mizanstore.com, Instagram.com/mizanstore dan media sosial Mizan Grup lainnya. Buku yang dijual murah memang dalam rangka promosi, bukan buku cacat atau reject. Ongkos kirimnya sering dibebaskan pula. Selain buku Mizan, terdapat buku penerbit lain juga di Mizanstore.com


Masih berat beli sendiri, cobalah seperti yang saya lakukan: ikut program arisan. Beberapa komunitas pembaca dan penulis ada yang menggelar arisan buku. Ajak teman sesama pecinta buku untuk patungan beli buku juga bisa. Buku jadi milik bersama atau bergiliran dapat jatah hak milik.

Mizan juga sebenarnya penerbit yang murah hati. Bagi blogger, vlogger, influencer yang memiliki banyak jejaring pembaca buku dapat dikirimi buku secara gratis. Tawarkan saja jasa ulasan pada Mizan. Saya pernah beberapa kali mendapat buku secara gratis dengan timbal balik ulasan di blog dan media sosial. Banyak jalan untuk memiliki buku asli daripada membeli buku bajakan.    


Khusus untuk peredaran buku bajakan di dunia nyata, Tirto.id pada publikasi (10/10/2019) sudah melakukan konfirmasi pada dua marketplace, Bukalapak dan Shopee. Penjualan buku bajakan melanggar kebijakan penjualan. Toko yang menjual dapat dihapus akunnya. Pengelola marketplace juga mengaku melakukan pemantauan terhadap barang-barang yang dijual.

Saya juga sudah melaporkan beberapa toko yang menjual barang bajakan kepada pengelola marketplace. Beneran hilang item buku bajakannya. Namun penjual yang berbeda terus muncul. Sehingga kadangkala merasa malas juga lapor melapor saja. Maka, saya doakan juga semoga penjualnya sadar. 
Pelaporan oleh penulis yang bukunya dibajak kepada polisi memang masih sepi. Sepertinya saya perlu mengusulkan pada komunitas penulis yang saya ikuti untuk melakukan sosialisasi cara melaporkan pembajak buku ke polisi. Penulis yang mengunakan hak melapor belum ada, mungkin karena delik aduan belum tersosialisasi dengan baik kepada penulis.

Negara seharusnya serius mengani pembajakan buku ini. Bukan hanya pajak
dari royalti penulis saja yang dipungut sebanyak 15% sesuai Pasal 23 UU 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. Padahal royalti penulis Cuma 10-20% dari penjualan bukunya yang tidak menentu. Ini yang seringkali bikin hati saya sebagai penulis teriris-iris. Royalti nggak seberapa, potong pajak pula. 

Ah... negara ini sepertinya masih sibuk berbenah dengan pengelola barunya. Saya, kita saja dulu yang beraksi. Semoga langkah kecil kita ini membawa dampak cukup besar bagi dunia perbukuan di Indonesia. Pembajakan buku jadi urusan kita bersama.



Rujukan

Amali, Zakki. (2019). Buku Bajakan di Shopee & Bukalapak: Asosiasi Penulis Ancam Boikot. 10 Oktober 2019. Diunduh dari https://tirto.id/ejvR pada 27 Oktober 2019

Anonim. (2017). Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? 17 Juli 2017. Diunduh dari https://www.uc.ac.id/library/apa-salahnya-membeli-barang-palsu/ pada 25 Oktober 2019.

Netriana, Geny, A., (2017). Tesis: Pengambilan Keputusan dalam Menggunakan Produk Produk Bermerek Original atau Replika, Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Yunita S., Milda. (2015). Hubungan Antara Self Esteem Dengan Lifestyling Dalam Konteks Penggunaan Barang KW Pada Kalangan Dewasa Awal. 28 September 2015. Diunduh dari https://psychology.binus.ac.id/2015/09/28/hubungan-antara-self-esteem-dengan-lifestyling-dalam-konteks-penggunaan-barang-kw-pada-kalangan-dewasa-awal/ pada 27 Oktober 2019.

Sumber gambar
dodsoph.wordpress.com, Mizanstore.com Twitter.com/bentangpustaka. Instagram.com/mizanstore

,
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. Iya banyak Kegiatan kl beli online.. Bahkan ketika ditanya mreka menjawab kalau bukunya KW.. G bohong..
    Bener2 perlu kesadaran si pembeli Mas Kokonata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Ada toko yang berani sebutkan bukunya non-original (Terbaca lebih keren daripada langsung bilang bajakan)

      Hapus
  2. Pembeli mesti membeli buku asli. Sayang kalau beli bajakan, tentu kualitasnya tidak bagus. Apresiasi penulis dengan membeli buku asli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru terasa, kalau sudah jadi penulis (bukan best seller) yang bukunya dibajak

      Hapus
  3. miris jika melihatnya, bukunya terjual banyak tetapi penulis tidak mendapatkan haknya. Miris sekali melihat yang demikian

    BalasHapus