Menulis, Buku, Kehidupan

Minggu, 24 Desember 2017

Sensasi Menjalajah Tepi Sungai Musi di Malam Hari

Wajah tepian sungai Musi di kota Palembang saat malam hari sudah berbeda. Tidak seperti  awal tahun 2000, saat saya masih menetap di kota pempek itu. Usai tunainya shalat Isya, orang-orang yang keluar untuk sekadar berjalan-jalan di bagian seberang ilir cukup ramai. Itulah yang sya saksikan pada Minggu malam (23/12/2017) saat mengikuti acara Travel Writing.

Travel Writing dimulai pukul 19.00 WIB dari hotel Majestik itu. Titik awal perjalanan kami di Masjid Agung. Kami shalat Isya dahulu, kemudian jalan bersama-sama ke Monpera. Monumen perjuangan rakyat semakin menarik dengan huruf MONPERA yang disorot lampu. Teman-teman memilih berfoto di depan huruf sesuai huruf nama mereka. Kalau ditambahkan huruf K, jadi MONPERAK.

Puas berfoto dengan beragam pose, kami kembali berjalan ke tepi Musi. Wow! saya sempat takjub, plaza Musi begitu ramai serupa alun-alun. Orang-orang berkerumun, sebagain besar foto bersama dengan latar jembatan Ampera, tulisan PALEMBANG dan patung ikan Belida, iwak Belido, kata orang Palembang.

Malam menjadi pilihan untuk jalan-jalan di Kota Palembang, satu dari sekian alasannya adalah: malam hari tidak begitu panas. Meskipun begitu, saya sempat berkeringat. Saya salah kostum menggunakan jaket dan baju kaos tipis karena kebiasaan di Bandung. Harusnya cukup mengenakan t-shirt saja, ya.

Satu bangunan yang sangat menonjol di tepi sungai Musi saat ini adalah Sosial Market, semacam mal tapi tidak begitu besar. Entah bagaimana keadaan di dalam Sosial Market itu. Saya hanya tahu ada bioskop CGV saja di sana. Semakin banyak pilihan warga Palembang mencari hiburan di tepi sungai Musi.

Satu hal yang agak mengganggu saya adalah tebaran lapak pembuat tato di plaza sungai Musi. Mereka menghamparkan pola tato. Jika ada yang berminat, mereka harus membayar sekitar Rp5.000 – Rp10.000 per cm2 Banyakkah peminatnya? Entahlah.

Pedagang lain yang banyak saya temukan di plaza Musi adalah penjual mie tek tek dan nasi goreng, juga pedagang pempek dan kemplang panggang. Pedagang mainan anak-anak juga cukup banyak, terutama semacam baling-baling bambu yang dilengkapi lampu.

Menjelang pukul 22.00 WIB, kami mulai beranjak dari depan Benteng Kuto Besak. Memesan taksi via aplikasi daring, pulang ke hotel Majestik. Rencanan menyusuri Sudirman Walk, trotoar sepanjang jalan Sudirman yang dipercantik terpaksa dibatalkan. Masih ada satu mata acara membahas digital content, sayalah pematerinya.

Menjelajah tepi sungai Musi setelah belasan tahun meninggalkan Palembang memberikan kesan tersendiri pada saya. Sensasinya seperti makan pempek di kota Palembang yang rasanya jauh berbeda dengan pempek di Bandung. Susah menjelaskannya.

Anggapan Palambang sepi dan tidak aman di waktu malam, rasanya tidak relevan lagi. Pemerintah kota dan daerah sepertinya ingin menghapus anggapan itu. Terlebih Palembang akan menjadi tuan rumah Asian Games. Dan harapan saya, semoga saja ramainya kehidupan malam Palembang tetap berdampak positif. Tidak berkembang jadi kehidupan malam, yang gimana gitu.       
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar