Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 06 Oktober 2016

Kecewa dengan Novel Milea, Suara dari Dilan


Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 terbit perdana pada 2014, saya cuek saja. Tidak pernah sekalipun menjamahnya meskipun terpajang di area strategis berbagai toko buku. Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991, terbit tahun 2015, saya masih tidak acuh. Saat Milea, Suara dari Dilan muncul  Agustus 2016, saya baru membacanya, sebab novel Dilan akan difilmkan.

Cerita Cinta Kayaknya

Cerita cinta Dilan dan Milea. Sebagian besar calon pembaca novel Milea, Suara dari Dilan, akan menduga seperti itu. Apalagi ditegaskan oleh berbagai komentar (yang sepertinya diambil dari Twitter) di sampul belakang novelnya.


Semapul belakang novel Milea
Komentar pembaca yang dimuat pada sampul belakang Milea 

Namun, apa istimewanya  kisah cinta karangan Pidi Baiq itu sehingga membuat orang-orang yang telah membaca novelnya begitu terkesan? Saya teringat dengan gaya penulisan Pidi Baiq di Drunken Monster dan Drunken Molen. Mungkinkah tokoh-tokoh dalam novel Milea dan Dilan konyol seperti di buku di Drunken Monster dan Drunken Molen? Rasa pensaran itulah yang membuat saya melanjutkan baca, meskipun belum membaca Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991.         

Curhat Dilan

Di halaman awal novel Milea, Suara dari Dilan, kita langsung bertemu Dilan. Dia sudah membaca  novel membaca Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 dan jadi baper. Dilan juga mengatakan Pidi Baiq datang kepadanya pada 15 Agustus 2015. Pidi Baiq ingin menuliskan kisah cintanya bersama Milea dari sudut pandang Dilan. Awalnya Dilan enggan, namun akhirnya menerima permintaan itu. Pidi Baiq mengatakan kepada Dilan, banyak pelajaran yang bisa diperoleh pembaca dari suara Dilan itu.

Saya sempat tersenyum membaca bab pendahuluan ini. Pidi Baiq membuat kisah cinta Dilan-Milea seolah nyata. Padahal, tetap saja 2 novel Dilan dan Milea, Suara dari Dilan merupakan cerita fiktif, meskipun berdasarkan kisah nyata. Mungkin 50% fakta dan sisanya imajinasi Pidi Baiq. Pada pengantar tersebut juga, sadar atau tidak, Pidi Baiq sudah memberikan bocoran isi Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991, kepada saya, pembaca yang belum membaca kedua buku itu. Jadi jika kamu ingin membaca Milea, lanjutkan saja. Inilah cara antimainstream membaca novel Pidi Baiq.    

Kisah Orang-orang di Sekitar Dilan, Kecewa

Dilan kemudian bercerita tentang Bunda dan Ayahnya. Porsi cerita ayahnya lebih besar, sebab Milea sudah banyak bercerita tentang Bunda di dua buku terdahulu. Dari cerita Dilan tentang tentang ayahnya itu, kita menjadi tahu, dari mana asal muasal perilaku konyol Dilan. Dari ayahnya? Tidak juga. Ayah dan Bunda sepertinya memberikan pengaruh dengan porsi yang entah berapa untuk perilaku konyol dan iseng Dilan.  

Teman-teman Dilan mendapat giliran di bab 3. Kehidupan Masa Remajaku. Dilan menceritakan Burhan yang 3 tahun lebih tua dan ketua geng motor di Bandung. Burhanlah yang punya andil besar dalam melibatkan Dilan di Geng Motor. Anhar yang awalnya memusuhi Dilan pun diceritakan. Selain itu, ada Susi yang menyukai Dilan namun bertepuk sebelah tangan. Remi Moore, waria yang meniru gaya rambut Demi Moore, artis film Ghost (Film percintaan manusia-hantu ini sangat terkenal pada tahun 1990), serta beberapa orang lainnya yang dekat dengan Dilan. Milea baru muncul di bab keempat, saat Dilan dan Milea resmi berpacaran secara lisan dan tulisan. Dilan membuat semacam surat proklamasi pacaran yang dibubuhi materai dan ditandatangani oleh Dilan maupun Milea. Proses pendekatan Dilan kepada Milea tidak ada.

Milea dan Dilan
Milan dan Milea tahun 1990

Setelah itu kisah Dilan terasa melompat-lompat, tidak runut dan seringkali menggantung. Misalnya perkelahian Dilan dan Anhar karena Anhar menampar Lia (panggilan Milea). Pidi Baiq hanya menulis: Dan kemudian begitulah , seperti yang sudah Lia ceritakan di dalam bukunya. Di sinilah saya merasa kecewa. Termasuk saat Dilan ditangkap polisi karena akan berkelahi di Taman Centrum. Bagaimana Dilan bisa bebas, tanpa harus ditahan tiada kelanjutan. Pidi Baiq sepertinya tidak ingin mengulang apa yang sudah ia tuturkan di dua buku sebelumnya. Maka dari itu, kalimat begitulah bla bla bla… menjadi pilihannya.    

Kekecewaan Memuncak

Kekecewaan saya semakin memuncak kala memasuki halaman 214. Dilan dan Lia putus! Apa alasannya, saya hanya bisa menduga-duga sebab dan alasan Lia memilih putus. Sebab dan alasan Lia memutuskan hubungan pacaran sepertinya sudah dibahas tuntas dengan deraian air mata oleh Lia di judul Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Kini, giliran Dilan mencurahkan dan menggambarkan perasaannya setelah diputuskan Lia. Perilaku Dilan di sepertiga akhir novel Milea, Suara dari Dilan tersebut sama dengan hasil beberapa penelitian tentang sikap dan perilaku pria kala putus cinta. Misalnya kajian sosiolog di Universitas Wake Forest dan Universitas Florida State di Journal Helath and Social Behaviour.

Di enam bab terakhir, Pidi Baiq mengisahkan kehidupan Dilan dalam rentang waktu yang melompat cukup jauh. Dilan lulus kuliah, menjadi mahasiswa, magang, dan reuni dengan teman-teman SMA-nya lagi, termasuk bertemu dengan Lia. Bagi pembaca yang mudah baper, sebaiknya jangan baca bab-bab terakhir ini. Jika tidak, hatimu akan ikut mengharu biru. Akhir kisah di novel Milea, Suara dari Dilan sepertinya sama dengan ending Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Perbedaannya adalah penuturnya. Kekecewan saya sempurna sudah karena harus membaca dua buku dari sudut pandang Milea untuk mengetahui secara utuh kisah cinta Dilan dan Milea sebelum filmnya tayang di bioskop.    

Hal yang Paling Disuka dari Novel Pidi Baiq

Satu hal yang saya suka dari novel Milea ini adalah humor satir. Semacam candaan yang mengundang tawa tetapi maksudnya menyindir. Misalnya di halaman 42 tentang penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).


Humor satir ala Pidi Baiq


Bagi yang pernah duduk di bangkus SMP atau SMA sebelum tahun 1995, pasti pernah merasakan sedapnya penataran P4. Kalau kamu tidak tersenyum membaca kutipan kalimat itu, saya yakin kamu sedang sakit gigi.

Hal lainnya yang menarik adalah kemunculan Ancika Mehrunisa Rabu atau yang biasa dipanggil Cika. Si Cika ini 4 tahun lebih muda daripada Dilan. Saat Cika kelas 2 SMA, Dilan sudah kuliah tingkat tiga. Siapa sebenarnya Cika ini? Coba baca saja puisi Dilan tentang Cika ini. Kamu bisa menebak siapa Cika. 


Puisi Dilan untuk Cika ^_^


Setelah membaca ulasan saya ini, kamu semakin tertarik untuk membaca Milea terlebih dahulu? Harus jawab iya! Sebab kamu bisa membaca 3 bab pertama melalui blog Pidi Baiq di sini. Jika ingin membeli buku cetaknya, bisa ke toko buku atau mizanstore.com Buku digitalnya juga tersedia di Play Book. Bacalah segera novel Dilan dan Milea, agar kamu bisa mendapat pelajaran dari ceritanya. Pelajaran yang kumaksud itu, mungkin tidak pernah diajarkan oleh guru-guru kita di sekolah. Selamat membaca.         

Judul Buku            : Milea, Suara dari Dlan
Penulis                  : Pidi Baiq
Penerbit                : Pastel Book
Tahun Terbit          : Agustus 2016 (Cetakan 1)
Jumlah Halaman    : 360 Halaman


Comments
21 Comments

21 komentar:

  1. ini dia buku yg saya tunggu-tunggu dari serial Dilan. Saya termasuk penyuka buku-buku Pidi Baiq. Membaca serial buku Dilan serasa jadi muda lagi hehehe

    BalasHapus
  2. Pasti teman seangkatannya Pidi Baiq, ya...? :-P

    BalasHapus
  3. Baca buku Dilan, bikin saya senyum-senyum gimana gituuu, baca buku kedua, bikin saya kecewa karena mereka putus, penasaran dengan buku 3, dari sudut pandnag Milea, jadi inget drakor playfull kiss, pas spesial eps ada curahan hati si cowoknya yang ternyata dari awal udah suka sama si cewek tapi emang karakternya cuek jadi enggak menunjukkan

    BalasHapus
  4. saya baca buku pertama aja. dan nggak terlalu terkesan sama novelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena pengalaman baca Antung Apriana sudah banyak. Novel populer seperti Dilan dan Milea memang idealnya buat pembaca pemula atau mereka yang ingin membaca untuk sekadar hiburan ^_^

      Hapus
  5. Ngikik baca puisi tentang Cika. Pidi pasti niat betul saat mencari nama "Cika" biar pas dengan kegeloan puisi yang pengin Pidi tampilkan.

    BalasHapus
  6. huehehe, cerita cinta "kayaknya" dan novel "begitulah" ya mas koko :D

    BalasHapus
  7. Saya malah baru baca yang Dilanku Tahun 1991, setelah adik saya menamatkannya dalam satu hari, lumayan menghibur si Dilan

    BalasHapus
  8. Suka caandaan sama Pidi Baiq yang anti mainstrim

    BalasHapus
  9. Baru baca yang Dilan 1990. Nunggu giliran:D

    BalasHapus
  10. Saya mah sebel, jadinya sama Cika. Huhuhuuuu....

    BalasHapus
  11. Wkt baca buku yg ke2, saya sebel bgt sama dilan... Tp stelah baca buku yg ke3, jd tau isi hati dilan

    BalasHapus
  12. aku suka gak sempat baca novel sampai habis, apalagi kalo udah tau mau difilmkan :D

    BalasHapus
  13. baru tau kalo ada digital booknya... hehe

    Regards
    Budy | Travelling Addict
    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  14. waduh novel cinta nih....syaa mah udah lewat...heee

    BalasHapus
  15. Duh kang kalau saya mah baca novel tentang cinta itu suka lupa sama waktu deh karena terlalu asik baca novel sampai sampai lupa deh sama aktivitas yang akan dilakukan, mungkin ini bisa jadi refrensi selanjutnya saya deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa, harus waspada kalau baca Dilan Series. Emosi kita bisa ikut terbawa ^_^

      Hapus
  16. "Seperti diceritakan Lia...." memang bagian yang bikin bete ya, Kang. Aku sering baca novel berseri bukan dari nomor satu tapi tetap asik. Ini doang yang beda :) Soal terbawa kebaperan di bab-bab akhir mah... iya banget :))

    BalasHapus
  17. jadi penasaran sama buku Dilan, :)

    BalasHapus
  18. Cika sebenernya siapa atuh, kang?

    BalasHapus