Menulis, Buku, Kehidupan

Minggu, 17 Juli 2016

8 Pertanyaan Usai Menonton Film Jilbab Traveler, Love Spark in Korea.


Jilbab Traveler, Love Sprak in Korea merupakan 1 dari 5 film yang tayang saat lebaran tahun 2016. Sebagian orang dewasa mengajak anak-anak menonton film ini karena berbagai alasan. Amankah? Saya sudah nonton dan saya nilai aman dengan catatan?

Apa catatannya? Anak yang menonton sebaiknya berusia > 8 tahun atau sekitar kelas 4 SD. Sangat ideal jika anak sudah duduk di bangku SMP atau sesuai rating dari lembaga sensor film Indonesia yaitu 13+. Selain itu, baiknya ada diskusi antara orang tua atau orang dewasa usai menonton film, agar tahu persepsi dan informasi yang diserap anak dari film itu.  

Berikut delapan rekomendasi pertanyaan tentang film Jilbab Traveler, Love Spark in Korea. Pertanyaan ini bisa menjadi awal diskusi yang menarik dengan anak-anak.

1. Apa impianmu ketika dewasa nanti?
Adegan film Jilbab Traveler Love Spark in Korea dibuka dengan Rania kecil dan dua kakaknya berlari, adu cepat dengan kereta yang melaju. Ayah mereka sering bercerita, bahwa salah satu kereta menuju negeri seribu kisah. Melalui cerita-ceritanya, sang ayah memotivasi anak-anaknya. Rania paling terinspirasi untuk mencapai negeri seribu kisah itu. Setelah dewasa, ia aktif menulis dan tulisan-tulisannya menerbangkan Rania ke negeri-negeri nan jauh.



Menanyakan apa impian anak sejak kecil penting, agar orang tua atau orang dewasa lainnya dapat mendukung dan mengarahkan mereka untuk menggapai mimpinya. Lebih cepat menetapkan tujuan, lebih cepat sampai juga kan? Tidak sedikit remaja yang lulus SMA masih bingung, mau apa dan ke mana setelah meninggalkan bangku sekolah.

Kadang-kadang impian anak kecil remeh temah dan sepele sekali. Terima dan hargai saja dulu. Cari tahu saja kenapa mereka memiliki impian seperti itu. Seperti putri saya Alika. Menjelang 4 tahuan usianya, saya bertanya, “nanti Alika kalau sudah besar mau jadi apa?” Alika dengan antusias menjawab, “Mau jadi Elsa!” lagu Let It Go kemudian mengalun dari mulutnya…
 
2. Apakah penghalang langkahmu dan bagaimana mengatasinya?
Rania mengalami gegar otak saat kecil. Berbagai penyakit juga bersarang di tubuhnya sepanjang usia sekolah. Rania terpaksa melepas satus mahasiswi pada semester awal perkuliahannya karena sakit yang sering mendera kepala. Soal penyakit Rania ini, hanya sepintas lalu saja di film, tetapi sangat detil pada novelnya. Selain penyakit, kondisi perekonomian keluarga kerap menjadi masalah ayah-ibu Rania. Apakah berbagai masalah itu menjadi hambatan bagi Rania untuk menggapai mimpinya? Tidak. Rania berusaha dengan berbagai cara yang baik untuk mewujudkan mimpinya.




Setelah menanyakan impian anak, bisa juga ditanyakan, apa saja yang mungkin menjadi penghalang bagi tercapainya impian mereka? Jika masalah keterbatasan fisik dan ekonomi, kegigihan Rania bisa menjadi contoh. Sosok yang gegar otak saat kecil, mengalami kesulitan ekonomi dan tidak mempunyai gelar sarjana juga bisa meraih impiannya. Sosok di dunia nyata pun ada yaitu Asma Nadia sang penulis novel Jilbab Traveler. Rania adalah alter ego dari Asma Nadia.  

3. Indah mana? Indonesia atau Korea Selatan?
Setelah masa kecil Rania, penonton akan disuguhkan perjalanan Rania di beberapa negara. Mesir, Saudi Arabia, Afrika, Prancis dengan landmark khasnya. Selanjutnya penonton akan melihat keindahan Taman Nasional Baluran, Situbondo, dan Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Film Jilbab Traveler, Love Spark in Korea juga menyuguhkan pemandangan alam Seoul dan Gangwon di Korea Selatan. Lokasi syuting Winter Sonata ditandai dengan patung Choi Ji-woo dan Bae Yong Joon.




Pemandangan dua negara yang mempunyai iklim berbeda di film Jilbab Traveler, Love Spark in Korea seolah mengajak kita membandingkannya.  Mana yang lebih indah? Indonesia atau Korea Selatan? Bisa jadi anak-anak akan menjawab Korea pesona nuansa putih musim dingin di Korea yang banyak ditampilkan. Membandingkan hanya berdasarkan gambar atau film mungkin kurang adil. Namun, siapa tahu pertanyaan itu akan menjadi awal bagi anak dan kita untuk menjejakkan kaki ke lokasi-lokasi syuting itu suatu hari nanti. 

4. Bagaimana rasanya menjadi muslim di negara minoritas Islam?
Hyun Geun ternyata seorang muslim. Di awal pertemuan dengan Rania, Hyun Geun sempat mabuk karena minum soju. Pada kondisi tidak sadar sepenunnya, Hyun Geun mengucapkan kalimat yang  cukup membuat Rania tersipu. Setelah kematian ibunya, Hyun Geun berusaha menjadi muslim yang baik. Minum soju dihindarinya. Namun budaya minum soju bersama untuk merayakan sesuatu sudah membudaya di Korea. Tidak minum bersama, bisa dianggap tidak menghormati orang lain.


Berbagai tantangan menjadi muslim di Korea tidak begitu diperlihatkan di film Jilbab Traveler Love Spark in Korea. Hal yang menonjol cenderung kehati-hatian asupan makanan dan minuman halal.  Namun kita bisa membahas tantangan-tantangan menjadi muslim di negara Islam minoritas lebih lanjut. Ibadah di negara minoritas muslim tidak seleluasa di Indonesia. Apa pendapat anak-anak? Diskusi ini bisa mengajak anak bersyukur, betapa nikmatnya menjadi muslim di Indonesia.   

5. Kebahagiaan siapa yang akan lebih kamu pentingkan?
Setelah kematian ayahnya, Rania berjanji untuk tidak bepergian lagi. No traveling! Rania ingin selalu berada di sisi ibunya. Menurut Rania, hal itu akan membuat bahagia ibunya. Rania juga mengabaikan undangan Writer in Reidence di Korea Selatan. Sang ibu kemudian mengajak Rania berdialog dari hati ke hati. Apa yang membuat bahagia sang ibu ternyata saat melihat anaknya bahagia. Ibu memberikan motivasi kepada Rania untuk berangkat ke Korea, karena ia membawa nama Indonesia, khususnya muslimah. Akhirnya, Rania pergi traveling kembali.  


Soal kebahagiaan ini dapat kita diskusikan juga dengan anak-anak. Kebahagiaan siapa yang akan mereka utamakan? Diri sendiri, orang tua, lingkungan atau siapa? Apa sebabnya mereka menjatuhkan pilihan itu? Sekali lagi, apapun jawaban anak, hargai dan tak perlu mendebatnya. Cari saja alasan di balik jawaban itu. 

6. Kriteria apa yang paling penting dalam menentukan jodoh?
Ada konflik percintaan dalam film Jilbab Traveler Love Spark in Korea. Ilhan, teman lama Rania, sudah menunjukkan rasa suka dan disetujui oleh keluarga Rania. Ilhan kaya, terpelajar dan memiliki jiwa sosial tinggi. Namun Ilhan trauma dengan perjalanan udara sehingga menginginkan Rania tidak lagi traveling. Selain Ilhan, ada Hyun Geun. Pria mualaf dari Korea Selatan yang berani mengatakan rasa sukanya kepada Rania pada pertemuan pertama mereka. Rania seolah harus memilih, Ilhan atau Hyun Geun.

Di masa depan, anak-anak kita mungkin terjebak dalam situasi seperti ini. Pertanyaan soal jodoh mungkin kita anggap terlalu dini. Namun fenomena pacaran mulai dari yang malu-malu kucing sampai pacaran bebas tanpa batas ada di sekitar kita. Kasus Rania dalam  film Jilbab Traveler Love Spark in Korea bisa menjadi bahan diskusi bagi orang tua dan anak tentang jodoh. Apa yang dilakukan anak, ibu, atau atau ayah dan orang dewasa lainnya yang mengajak nonton anak jika berada di posisi Rania. Kita bisa mulai menanamkan skala prioritas dalam memilih jodoh kepada anak-anak kita.

7. Setelah dilamar, bagaimana seharusnya pergaulan dengan calon pasangan? 
Adegan-adegan Rania dengan salah satu pria dalam menyiapkan pernikahan mereka di akhir cerita ini agak mengganggu saya. Mungkin jika mendiskusikan dengan anak saya yang sudah mulai remaja, diskusi akan berlanjut pada topik pernikahan. Topik yang cepat atau lambat harus kita diskusikan dengan anak-anak kita. Masalah pernikahan sekadarnya sesuai usia anak, mungkin sudah bisa kita sampaikan.


Orang tua bisa bercerita adab pergaulan, mencari jodoh, pernikahan yang syar’i atau menceritakan bagaimana proses perkenalan dan pernikahan ibu dan ayah. Seiring bertambahnya usia anak menuju angka 20, tentu masalah lawan jenis kerap menghampirinya. Orang tua bisa pelan-pelan membekali anak tentang pergaulan dengan lawan jenis sehingga bisa menjadi pertimbangan mereka untuk mengambil keputusan saat masalah dengan lawan jenis datang.

8. Kenapa Palestina Menjadi Mimpi yang Tercuri?
“Kamu mencuri mimpiku, dan aku suka.” Kalimat itu diucapkan Rania kepada Hyun Geun yang telah pergi lebih dulu ke Palestina. Padahal Palestina merupakan salah satu destinasi impian Rania. Mengapa Palestina? Mengapa Hyun Geun sampai rela menjadi relawan di Palestina dan kembali dalam keadaan fisik yang tidak ‘utuh’ lagi?


Konflik Palestina merupakan isu yang masih jarang ada di film-film Indonesia. Jilbab Traveler Love Spark in Korea mengangkatnya meskipun selintas saja. Palestina dan konfliknya dapat menjadi bahasan diskusi dengan anak. Sejauh apa pengetahuan mereka tentang Palestina? Apa pendapat mereka tentang konflik Palestina? Bisa jadi anak-anak belum mengetahui konflik Palestina yang terjajah. Fakta itu bisa menjadi awal bagi kita untuk mengajak anak peduli pada nasib sesama muslim di mancanegara.


Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak harus disampaikan begitu keluar dari bioskop. Orang tua dapat memilih waktu santai yang tepat. Usai santap bersama misalnya. Jadikan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bahan obrolan santai. Bukan bahan tes evaluasi pemahaman anak terhadap Jilbab Traveler Love Spark in Korea.  Semoga bermanfaat.  
  



Comments
13 Comments

13 komentar:

  1. Satu lagi mas Koko: bagaimana adab bepergian?
    Mantap..mb asma bisa memasukan adab dalam bepergian di film JT

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok, saya coba tambahkan.... Jadi semakin panjang tulisan ini ^_^

      Hapus
  2. belum nonton filmnya, tapi baca ulasan di blog ini perasaan udah kebayang deh gmn filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo nobar-nobar... Syukuran formasi baru...

      Hapus
  3. Kalau ditanya mau jadi apa? Jawaban Fathan jadi tentara, terus sekarang berubah jadi pilot, sepertinya memang menonton sebuah film memang harus sesuai usia agar saat berdiskusi nyambung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Apalagi anak-anak, khususnya balita cenderung suka nonton berulang-ulang. Saya yakin yang suka Elsa dan Anna pasti nonton Frozen lebih dari 10x ...

      Hapus
  4. Belum nonton filmnya, tapi dari tulisan ini bisa sampai pesan filmnya scr utuh. Nice post bang koko. Makasih 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, Sri...

      Hapus
  5. luar biasa pemikiran Mas Koko dalam mempertimbangkan pendidikan yang patut diberikan kepada anak melalui film. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah..... (tersanjung... ^_^)

      Hapus
  6. Wah beda banget ulasan dari sisi psikolog ya mantaap banget deh

    BalasHapus