Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 06 Juni 2016

Legenda Ciung Wanara di Karangkamulyan

Legenda Ciung Wanara di Karangkamulyan


Jelajah 4G bersama Smartfren etape 4 menempuh perjalanan Bandung-Tasikmalaya-Ciamis-Pangandaran pada 28-29 Mei 2016. Salah Satu tujuan yang cukup menarik bagi saya adalah situs Ciung Wanara di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Apakah ada jejak-jejak legenda Ciung Wanara di sana?

Situs Legenda Ciung Wanara di Hutan Bambu


Sudah lewat tengah hari saat mobil-mobil Chevrolet yang kami tumpangi melewati gapura Objek Wisata Ciung Wanara. Jam di tangan saya menunjukkan jam 14.20 WIB. Sabtu siang itu, sinar matahari sudah tidak begitu menyengat lagi. Waktu yang tepat untuk berjalan-jalan lagi setelah mengunjungi kantor harian umum Radar Tasikmalaya dan Radar TV Tasikmalaya.


Pintu masuk menuju kompleks situs
Sebagian peserta Jelajah 4G bersama Smartfren langsung selfie di berbagai titik, begitu turun dari mobil. Mas Bene, ketua rombongan mengingatkan agar kami segera masuk saja. Selfie dan berfoto aneka pose ditunda dulu. Sebab selain berkeliling, kami juga akan makan siang di dalam Objek Wisata Ciung Wanara.
Tiket masuk Objek Wisata Ciung Wanara sangat murah. Hanya Rp 3.500 saja. Begitu masuk, suasana magis terasa. Namun ada wahana permainan anak yang membuat suasana ceria. Beberapa anak didampingi orang tua terlihat bermain ayunan dan wahana putar-putaran.

Seorang pemandu telah siap menjelaskan kepada kami, apa saja situs-situs yang ada di Komplek Objek Wisata Ciung Wanara serta latar belakang sejarahnya. Konon beberapa peninggalan dari Kerajaan Galuh berada di Objek Wisata Ciung Wanara. Dan kami pun melangkah, menapaki jalan kuno yang katanya menghubungkan Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit.


Menyusuri jalan kuno dinaungi rimbun bambu

Batu Pangcalikan  


Situs inilah yang pertama kali kami jumpai, beberapa meter dari pintu masuk. Bentuknya berupa lahan berpagar besi, terdiri dari tiga halaman. Tiap halaman dibatasi susunan batu dengan ketinggian sekitar 1 m dan lebar hampir 0,5 m. Berdasarkan keterangan pemandu, pangcalikan merupakan situs singgasana Kerajaan Galuh. Saya mencari-cari, yang mana singgasananya? Di benak saya, singgasana itu seperti kursi. Saya hanya melihat tumpukan batu di sana.

Area Batu Pangcalikan

Ternyata batu putih tufaan berukuran hampir 1 meter x 1 meter dengan tinggi sekitar 0.5 meter itulah yang disebut masyarakat sekitar sebagai pangcalikan. Pangcalikan dalam bahasa Sunda berarti tempat duduk. Singgasana kerajaan Galuh dulu, ya begitu. Sederhana sekali. Sayangnya, kami hanya bisa melihat pangcalikan dari luar pagar. Ada sekumpulan orang yang entah sedang apa duduk bersila di dekat pangcalikan. Kami meninggalkan pangcalikan, menuju situs lainnya.

Sanghyang Bedil dan Panyabungan Hayam 


Kami berjalan beriringan hingga menemukan simpang empat. Ada papan penunjuk yang menginformasikan keberadaan situs Sanghyang Bedil dan Panyabungan Hayam si selatan.  Berdasarkan namanya, saya menebak Panyanbungan Hayam, pastilah tempat adu ayam. Sanghyang Bedil mungkin ada hubungannya dengan senjata bedil. 

Kami berjalan lagi dan sampai di situs Sanghyang Bedil. Situs ini berupa  susunan batu berbentuk segi empat. Ada 2 batu panjang yang patah. Satu batu posisinya tegak dan satu batu lainnya roboh. Nah, batu roboh itulah yang disebut Sanghyang Bedil sebab bentuknya yang mirip bedil atau senapan. Konon situs  itu merupakan tempat untuk menyimpan senjata. Seru juga kalau tahu latar belakang legendanya, ya.

Beberapa meter dari Situs Sanghyang Bedil terdapat lapangan kecil dengan pohon bungur menjulang di tengahnya. Lapangan kecil inilah tempat Ciung Wanara mengadu ayamnya dengan ayam milik sang raja. Saya membayangkan orang-orang zaman dahulu kala melingkar dan melihat aduan ayam di lapangan itu. Pasti ramai sekali.


Lapangan Panyambungan Hayam

Satu hal yang paling menarik di Panyambungan Hayam adalah pohon bungur yang memiliki tonjolan di salah satu sisinya. Kata si pemandu, jika seseorang dapat berjalan dari tepi lapangan sambil memejamkan mata dan berhasil menyentuh tonjolan itu, keinginannya akan tercapai. Jika belum tercapai, ia bisa melingkarkan tangannya atau memeluk pohon. Semakin dekat jarak tangan kiri dan tangan kanan saat memeluk, semakin dekatlah ia dengan tujuan itu. Raja dari Forum Film Bandung dan Dede dari Banyolan Sunda yang mencoba ternyata belum berhasil menyentuh tonjolan dengan tepat. Apa, ya keinginan yang mereka bayangkan saat berjalan ke arah tonjolan pohon itu? Entahlah.  


Menyentuh dan melingkari pohon untuk menandakan keinginan yang segera tercapai

Lambang Peribadatan dan Cikahuripan  

Menyusuri jalan lainnya, kami bertemu dengan batu Lambang Peribadatan. Mungkin ada hubungan dengan ibadah zaman kerajan hindu, ya? Batu Lambang Peribadatan merupakan batu berbentuk bujur sangkar. Ada pahatan bulat di atas bujur sangkar itu. Mirip puncak candi! Pantas disebut lambang peribadatan. Batu itu diduga bagian dari puncak candi agama Hindu.


Lambang peribadatan yang mirip puncak candi Hindu
Setelah berjalan beberapa meter, kami menuruni tangga dan menemukan semacam bangunan seperti tempat pemandian umum. Ternyata kami sampai di Cikahuripan, yaitu pertemuan dua sungai kecil: Citanduy dan Cimuntur. Ada sumur yang konon tidak pernah kering sepanjang tahun. Beberapa orang di antara kami mencicipi kesegaran air sumur yang sudah tersedia di bak. Rasanya, tentu saja tidak jauh berbeda dengan air pada umumnya.


Batu Panyandaan, Pamangkonan dan Makam Adipati Panaekan  

Kami kemudian berjalan ke arah timur dari Cikahuripan. Ada susunan batu berbentuk segi empat yang memagari beberapa batu besar di tengahnya. Batu di tengah itu mirip tempat duduk yang bersandar. Kami masuk dari celah pagar batu. Situs itu ternyata bernama Panyandaan.




Menurut pemandu, di tempat inilah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum, kemudian dibuang ke sungai Citanduy. Dewi Naganingrum konon bersandar di sana selama 40 hari untuk memulihkan tenaga. Maka dari itulah tempat itu dinamakan Panyandaan yang artinya tempat bersandar.

Tidak jauh dari situs Panyandaan, terdapat situs Situs Pamangkonan. Terdapat batu yang disebut Sanghyang Indit-inditan. Batu itu ditemukan di Sungai Citanduy. Konon batu Sanghyang Indit-inditan itu dapat berpindah tempat sendiri, maka dari itulah Indit-inditan disematkan pada namanya. Selain itu, batu tersebut juga memiliki kekuatan gaib sehingga dipergunakan untuk seleksi prajurit. Hanya orang terpilih saja yang bisa mengangkat batu itu. Beberapa orang dari kami penasaran, sehingga mengangkat batu itu. Bisa diangkat, kok!

Batu Pamangkonan atau Sanghyang Indit-inditan
Makam Adipati Panaekan adalah tujuan kami berikutnya. Makamnya berupa susunan batu dengan dua nisan sejajar, menghadap ke arah kiblat. Adipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam. Ya, saya baru menyadari bahwa Ciamis itu merupakan pusat kerajaan Galuh di masa lalu. Galuh Gara Tengah adalah salah satu kerajaan Galuh itu. Adipati merupakan gelar yang diberikan oleh Sultan Agung Raja Mataram. Adipati Panaekan dibunuh oleh adik iparnya sendiri karena masalah perebutan kekuasaan. Jenazahnya dihanyutkan ke Sungai Cimuntur. Orang-orang yang menemukan jenazah itu menguburkannya di dekat Sungai Cimuntur. Konon, bupati pertama Ciamis berasal dari garis keturunan Adipati Panaekan ini.  




Makan Siang di Patimuan


Tujuan akhir kami adalah Patimuan, yaitu pertemuan Sungai Citanduy dengan Sungai Cimuntur. Patimuan berupa tanah lapang di tepi sungai. Di sinilah, Aki  Balangantrang menemukan Ciung Wanara yang masih bayi. Penemuan itu sesuai dengan keinginan Dewi Naganingrum. Ia ingin Ciung Wanara selamat dari ancaman Raja Bondan yang bermaksud menghabisi Ciung Wana guna mengamankan kekuasaannya.




Ada pondok-pondok, tempat orang berjualan di sana. Panitia Jelajah 4G bersama Smartfren sudah memesan sajian makan siang dari pondok makan di dekat pintu gerbang. Menu nasi timbel segera diserbu oleh peserta. Penutupnya adalah kelapa muda yang dibelah dadakan dan disajikan langsung dengan buah kelapanya.

Tanah Sunda Kaya Sejarah


Kunjungan ke situs Ciung Wanara ini bagaikan mengajak saya untuk kembali mempelajari sejarah, khususnya kerajaan di tanah Sunda. Sayangnya saat sekolah dulu kenangan pelajaran sejarah saya cenderung berisi tangan dan nama sehingga kurang menyenangkan untuk diingat. Situs Ciung Wanara menawarkan pelajaran sejarah  engan cara yang lebih mudah dibayangkan bagi orang yang belajar dengan modalitas visual seperti saya.

Hanya saja, lokasi kemasan wisata di Ciung Wanara perlu ditingkatkan lagi. Di benak saya muncul bayangan. Andai saja ada aplikasi Android yang dapat menjelaskan legenda situs-situs Ciung Wanara. Penjelasan dengan info grafis yang bagus atau sekalian menggunakan komik dan film! Semoga generasi 4G bisa mewujudkan angan-angan saya itu.

Jelang Asar, kami kembali ke tempat parkir. Tujuan jelajah 4 G bersama Smartfren terakhir sudah menunggu: Pantai Pangandaran! Hujan deras mengiringi kepergian kami. Syukurlah kami sudah berada di mobil. Mobil terus melaju sementara saya mencari-cari informasi dengan Andromax E2 yang diperkuat jaringan 4G Smartfren. Sepertinya, banyak kegiatan menarik yang bsia kami lakukan di Pangandaran nanti. 
Comments
4 Comments

4 komentar:

  1. Wah, indah ya pemandangannya ya. Bagus ya masih asri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pindahan kemarin lewat, Ciamis, bisa mampir tuh.... ^_^

      Hapus
  2. Mantab pisan ... belum sempet euy

    BalasHapus
  3. Tempat yang bagus untuk wisata alam ya mas :)

    BalasHapus