Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 03 Juni 2016

Hafiz Al Qur'an Kekinian di Film Surga Menanti

Hafiz Al Qur'an Kekikinian di Film Surga Menanti

Poster Surga Menanti


Sekitar 5 tahun terakhir, program tahfiz (menghafalkan) Al Qur’an bermunculan di kota-kota besar. Para hafiz (penghafal Al Qur’an) pun bermunculan di media massa. Di bulan Ramadhan kita disuguhi ajang adu bakat tahfiz. Film yang mengangkat kehidupan hafiz muncul tahun ini. Judulnya Surga Menanti

Film Surga Menanti Menjawab Pertanyaan 


Film Surga Menanti, produksi Khanza Film agaknya berusaha menjawab pertanyaan: apa untungnya menjadi hafiz? Mau jadi apa anak-anak masuk ke sekolah atau pesantren tahfiz Al Qur’an? Sederet artis dan ulama ternama hadir dengan berbagai peran untuk menjawab pertanyaan itu. Salah satunya Syekh Ali Jaber,  ulama kelahiran Madinah, Arab Saudi, yang telah menjadi WNI sejak 2011.

Film Surga Menanti mengisahkan kehidupan seorang anak hafiz Qur’an bernama Dafa. Usianya sekitar 12-13 tahun. Dafa belajar di pondok pesantren yang menjalankan program tahfiz Al Qur’an. Sang ibu, Humaira didiagnosa mengidap sejenis leukimia (kanker darah) yang langka. Humaira sering memanggil nama Dafa. Yusuf, ayah Dafa meminta Dafa pulang dan meneruskan sekolah dan tahfiz Qur’an di sekitar rumah saja.   

Kehidupan Dafa, dikontraskan dengan anak sebanyanya yang tinggal tepat di samping rumah keluarga Dafa. Eben namanya. Eben diarahkan oleh ibunya (Della Puspita) untuk menjadi artis. Namun setelah tahu, Pak Haji akan memenuhi permintaan apa saja bagi anak-anak yang hafiz, sang ibu memaksa Eben untuk menjadi hafiz juga. Beberapa anak tetangga Dafa juga sempat diperlihatkan lika-liku dan perjuangannya untuk menjadi hafiz. 

Panorama Alam di Film Surga Menanti


Sejak adegan pertama, Film Surga Menanti memamerkan keindahan Dataran Tinggi Dieng yang berada di kabupaten Banjarnegara dan Wononosobo, Jawa Tengah. Gambar panorama dan bentang dari atas sangat memesona dan stabil. Tidak seperti di beberapa film lain yang menyuguhkan panorama dengan bantuan drone, tapi pengambilannya kurang halus, membuat pusing jika memandangnya dalam beberapa detik.  

Lokasi Syuting Surga Menanti

Awalnya saya tidak menyadari bahwa kampung halaman Dafa berada di sekitar Dieng. Padahal ada beberapa adegan Humaira dan anak-anak mengaji dengan latar telaga berwarna indah. Saya baru menyadari saat adegan dua anak perempuan kembar teman Dafa, Safina dan Safira dimarahi bapaknya. Bapak dua anak kembar itu meminta anaknya fokus saja membantu ibunya membuat dan berdagang manisan Carica. Kebetulan minggu lalu, saat Jelajah 4G bersama Smartfren, saya sempat mencicipi manisan Carica khas Dieng itu. Sehingga saya sadar, latar kampung Dafa adalah Dieng.

Selain Dieng, Aceh pun menjadi latar yang cukup ditonjolkan pada akhir film Surga Menanti. Musium Tsunami menjadi penanda yang kuat bahwa latar Film Surga Menanti di Aceh. Beberapa titik arsitektur Musium Tsunami yang indah ditampilkan. Selain itu, ada kampus Universitas Syiah Kuala yang menjadi tempat kuliah Dafa saat telah beranjak dewasa. Tulisan Universitas Syiah Kuala ada di bangunan yang menjadi latar pengambilan gambar. Beberapa keindahan alam Aceh, seperti laut dan pantai juga hadir meskipun hanya sekilas-kilas. 

Satu latar yang cukup mengganggu saya adalah saat Dafa mengikuti MTQ. Pada adegan MTQ, dikisahkan bupati Cirebon dan istri memberikan hadiah kepada Dafa. Dafa membawa piala, kemudian pulang mengendarai taksi menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Saya sempat membaca taksi berlabel Plaza Ambarukmo. Bukankah Plaza Ambarrukmo ini di kecamatan Sleman, Yogyakarta? Lalu di manakah letak MTQ dan rumah sakit tempat Humaira dirawat? Cirebon-Yogya masih mustahil ditempuh dalam hitungan menit saja seperti yang tergambar di dalam film Surga Menanti.

Ketiadaan penanda yang tegas untuk pesantren tahfiz, rumah sakit tempat Humaira dirawat, pemukiman rumah Dafa kecuali Musium Tsunami dan Kampus Syiah Kuala mungkin karena masalah perizinan kerja sama. Namun lokasi-lokasi syuting sebenarnya juga bisa dijual sebagaimana film Ada Apa dengan Cinta 2 menegaskan latar film baik dalam adegan maupun credit title di akhir film. Bukankah film seharusnya bisa jadi ajang promosi potensi berbagai daerah di Indonesia juga, kan? 


Penokohan Film Surga Menanti yang Patut Diapresiasi


Penampilan Syakir Daulay sebagai Dafa cukup kuat dalam film Surga Menanti. Hal ini patut diapresiasi mengingat Syakir Daulay adalah santri Darul Qur’an, pesantren tahfiz Qur’an yang dikembangkan oleh Ustad Yusuf Mansyur. Syakir Daulay yang berusia 14 tahun terpilih karena sesuai untuk tokoh Dafa. Putra asal Bireuen, Aceh itu sudah hafal Al Qur’an sebanyak 10 juz, memiliki lantunan suara yang merdu juga syahdu, serta good looking. Satu paket lengkap yang sangat diharapkan penonton. Selain Syakir Daulay, kakak-kakaknya Hamimi Daulay dan Zikri Daulay ikut bermain juga dalam film Surga Menanti

Syakir Daulay Berpose


Syakir Daulay dan saudaranya

Umi Pipik Dian Irawati, Agus Kuncoro, dan pemeran pembantu lainnya seperti Astri Ivo dan Ustad Restu (yang juga dikenal dengan nama Ustad Cinta) memerankan tokoh yang tidak begitu jauh dari keseharian mereka. Jadi tidak terasa sangat istimewa. Justru penampilan Della Puspita dan entah siapa yang jadi suaminya, serta Eben yang cukup menarik perhatian. Keluarga tetangga Dafa ini memiliki kehidupan yang agak kontras dengan keluarga Dafa. Namun keluarga inilah yang menyuguhkan humor satir bagi penonton. Ibu Eben yang ingin mendapat keuntungan materi, menyuruh  anaknya menjadi hafiz, padahal sebelumnya si anak didorong menjadi artis. Ayah Eben, ingin anaknya mencontoh Dafa, namun sering tidak satu kata dengan sang istri.

Dua adegan yang cukup menggugah adalah tokoh anak hafiz tuna netra bernama Salman dan ayahnya. Tokoh Salma dan Ayahnya yang juga tuna netra (total blind) bertemu dengan Syekh Ali Jaber di jalan. Syekh Ali Jaber mencium tangan Salman dan memberikan Al Qur’an digital khusus untuk tuna netra kepada Salman. Setelah itu ada dialog antara Salman dan ayahnya yang mempertanyakan mengapa Allah menciptakan mereka dalam keadaan buta. Sayangnya, dua adegan Salman dan ayahnya ini tidak terkait dengan cerita secara langsung. Tanpa dua adegan ini, alur film Surga Menanti tidak terganggu sama sekali. Mungkin Hafiz tuna netra perlu dimunculkan karena misi pembuatan Al Qur’an braile untuk tuna netra dibalik film Surga Menanti. Keberadaan tokoh tuna netra yang hafiz juga disematkan untuk menampar orang-orang yang awas, tidak buta, namun enggan membaca, apalagi menghafal Al Qur’an. Adegan Salman yang diperankan Panca, bocah hafiz yang tuna netra, cukup memancing emosi haru saya. Bahkan anak usia 13-14 tahun dari Ma’had Usyaqil Qur’an di samping saya, terlihat berdoa saat adegan Syekh Ali Jabel mencium tangan Salman. 

Film Surga Menanti Memotivasi Para Hafiz

Film Surga Menanti secara umum cocok untuk tontonan keluarga, khususnya keluarga tahfiz Qur’an, serta orang-orang yang jarang nonton film bioskop. Maka dari itulah pesan-pesan dan nasihat sering dimunculkan secara verbal. Dyah Kalsitorini yang bertindak sebagai produser sekaligus penulis cerita juga berusaha menampilkan sosok hafiz kekinian. Di akhir cerita film Surga Menanti sosok hafiz kekinian itu sangat jelas meskipun terkesan agak dipaksakan. Hafiz yang sukses dunia-akhirat, masih jarang kita lihat atau tampil di media massa dan media sosial. Film Surga Menanti berusaha menyajikan hafiz kekinian itu dalam paket yang lengkap. 

Sepanjang film Surga Menanti pun pengambilan gambar di setiap adegan sangat dijaga agar syar’i. Agus dan Kuncoro meskipun berperan sebagai suami-istri tidak bersentuhan sama sekali. Hanya Dafa dan teman-temannya saja terlihat beberapa kali salim tangan kepada orang tua dan ustad-ustazahnya. Penampilan Della Puspita yang ngeyel pun sopan meskipun tidak berjilbab, termasuk dokter yang merawat tokoh Humairah. Hanya saja penjagaan kesyar’ian itu menyalahi tata cara penggunaan alat kejut jantung. Di berbagai sinetron juga film Indonesia, alat kejut jantung digunakan pada pasien dengan pakaian utuh. Seharusnya kedua paddle alat kejut jantung dikenakan langsung ke kulit dada dan di dekat ketiak  pasien, tanpa pakaian. Humaira beberapa kali dikejutkan dengan posisi kedua paddle sejajar dan berpakaian lengkap. Bagi orang awam, mungkin tidak masalah, tetapi salah besar bagi penonton yang berprofesi sebagai paramedis. 

Saya menonton film Surga Menanti ini bersama puluhan anak-anak dari   Ma’had Usyaqil Qur’an, Bandung di Trans Studio Mal (TSM) Bandung. Di Bandung, film Surga Menanti hanya ada di TSM, Jatos, dan Blitz Miko Mal. Tanpa gerakan nobar saya agak pesimis film Surga Menanti bisa bertahan sampai lebaran nanti, seperti broadcast di beberapa grup whatsapp yang mengabarkan film ini akan tayang selama 40 hari. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika Yang Di Atas berkendak, kan? Terlebih kabarnya, keuntungan film ini akan digunakan untuk melanjutkan pembuatan Qur’an digital braile dan pertemuan 10.000 tuna netra nusantara di Jakarta. Semoga berkah dan banyak kebaikan diraih film Surga Menanti





sumber foto:
www.instagram.com/_ummipipik_
http://qorypilihan.blogspot.co.id/
,
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Nonton, Mas. Ajak Nada biar termotivasi ^_^

      Hapus
  2. Wah harus nonton nih sebelum Ramadhan...!

    BalasHapus
  3. Bedah film Surga Menanti.. bersama Bg Koko Nata. Bagus, suka. Oya adegan di beijing itu beneran di beijing? Kalo iya, sayang banget adegannya sedikit sekali.. di Acehnya juga dikiit.. he..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar ada. Tapi nggak sampai 1 menit... ^_^

      Hapus
  4. Kapan ya di Jakarta..
    Hm... seumur hidup belum pernah ke bioskop. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau filmnya sudah tayang juga di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan jumlah layar/studio bioskop yang menayangkan film Surga Menanti bertambah mulai hari ini! Sedangkan nonton bareng, mungkin bisa cek ricek dengan tim promosi film ini

      Hapus
  5. ulasannya seru, jadi pengen nonton. thanks ya mas Koko :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Di Bekasi, cukup banyak bioskop yang tayangkan film ini, Erna

      Hapus