Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 14 Juni 2016

Adu Rasa di Saute Resto Bandung

Adu Rasa Enak di Saute Resto Bandung


Bandung memiliki beragam restoran atau tempat makan yang asyik untuk kumpul bersama keluarga atau sahabat. Salah satunya Saute Resto yang lokasinya dekat dengan Trans Studio Mal Bandung dan Pasar Buku Palasari. Adu rasa masakan lokal dan mancanegara bisa dilakukan di Saute Resto ini. 


Lokasi Saute Resto Strategis dan Tempat Nyaman


Saute Resto berlokasi di Jalan Lodaya No 21, persis di seberang kantor kelurahan Burangrang, Bandung. Saya berkendara dengan sepeda motor melewati Trans Studio Mall, juga kios-kios buku Palasari. Terbersit di benak saya, Saute Resto ini bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah dan santap bersama setelah berburu buku di Palasari.


Begitu memasuki bangunan tiga lantai Saute Resto, suasana teduh terasa. Interior didominasi oleh warna-warna tanah: hitam, cokelat, abu-abu. Dinding dibiarkan memantulkan warna alami semen. Berbagai macam lampu ditata untuk memberikan efek pencahayaan tertentu. Meja-meja kayu cokelat muda dengan dua bangku berhadapan, dapat menampung maksimal 4 orang pengunjung.

Ada gambar-gambar bertema seputar memasak dan makanan pada dinding Saute Resto. Di lantai dasar misalnya, ada gambar frying pan berisi semacam tumisan. Uniknya, gambar ini dibuat hanya dengan cat putih berlatar dinding semen, sehingga timbul kesan gambar dibuat dengan kapur tulis. Penggemar selfie, pastilah tak kuat menahan godaan beraksi dengan latar gambar-gambar Saute Resto ini.  


Saya terus naik ke lantai 3. Berbeda dengan dua lantai sebelumnya. Lantai 3 berlimpah cahaya matahari. Sisi kanan dan kiri lantai 3 Saute Resto dibiarkan terbuka. Tanaman hias di sepanjang sisi membuat lantai ini terasa asri. Pertemuan keluarga besar, arisan atau cara-acara lainnya dengan peserta sekitar 30-an orang sepertinya bisa dilakukan di sini.   

Menu Lokal vs Mancanegara di Saute Resto

Jam di tangan saya menunjukkan: sudah lewat waktu makan siang. Saya meneliti buku menu Saute Resto. Nama makanan, kecuali makanan lokal tersaji dalam bahasa Inggris. Begitu juga bahan-bahan penyusun makanan. Karena menu yang tersedia adalah menu lokal dan mancanegara, segera terbersit di pikiran saya untuk adu rasa antara makanan lokal dan mancanegara. Manakah yang juara?     

GRILL SALMON vs NASI TIMBEL GEPUK

Belum banyak menu ikan di restoran. Maka dari itu saya menunjuk Grill Salmon di antara deretan menu daging dan ayam di buku menu Saute Resto. Ketika pesanan datang, saya agak kecewa, sebab porsinya minimalis. Namun kekecewaan itu terobati oleh rasanya yang bervariasi. Daging ikan salmon dibakar tidak terlalu kering berpadu dengan saus lemon yang segar. Bayam rebus dan bitroot yang cenderung tawar menjadi penyeimbang.  Dalam beberapa kali suapan saja, tandaslah Grill Salmon ala Saute Resto itu. 


Karena masih lapar, saya memesan nasi timbel. Ada 3 variasi nasi timbel yang ditawarkan Saute Resto: Nasi Timbel Ikan Mas, Nasi Timbel Ayam, dan Nasi Timbel Gepuk. Ketiga nasi timbel Saute Resto ini berbeda di lauk utamanya saja. Karena itu saya memilih Nasi Timbel Gepuk. Saat menyuapkan potongan daging gepuk dan coletan sambalnya, rasanya luar biasa. Sambalnya terasa manis dan asam. Setelah beberapa suapan, barulah sambal terasa pedas. Saya penasaran, apa bahan-bahan sambal nasi timbel Saute Resto ini. Di buku menu hanya tertulis spicy fermented soybean cake saja. Terasi? Apa pun namanya. Cita rasa nasi timbel ini mengalahkan Grill Salmon yang sudah saya santap sebelumnya.



SAUTE NOODLE vs FETUCCINE CARBONARA

Saute Noodle sama seperti mi tumis pada umumnya. Ada potongan bakso dan sosis, juga sawi dan seledri. Namun begitu masuk ke mulut. Bumbu entah apa, menyatukan semua bahan sehingga terasa gurih dan nikmat. Kok, bisa lebih enak ya, padahal terlihat seperti mi tumis biasa? Saya coba menebak bumbu-bumbunya sambil terus menyuapkan Saute Noodle itu. 



Saat mencicipi Fetuccine Carbonara, saya memutuskan Saute Noodle juaranya. Mungkin bagi penyuka makanan barat, fetuccini yang berpadu saus sweet and sour cocok di lidah mereka. Namun lidah saya yang terbiasa dengan bumbu rempah nusantara lebih menyukai bawang putih, bawang merah, cabai dan lada yang terhimpun dalam Saute Noodle. Ini hanya masalah selera saja.


TENDERLOIN STEAK vs SOTO BANDUNG

Tenderloin Steak dibandingkan dengan Soto Bandung? Adilkah? Saya mengadunya karena kedua sajian Saute Resto ini berbahan daging. Fillet tenderloin yang sudah saya lumuri saus blackpapper terasa lembut. Matangnya pas, sausnya gurih. Kentangnya juga matang sedang. Sepertinya jika kentang diganti nasi, bakal enak juga. Tapi bukan steak dong namanya. Bagi yang rindu makan daging sapi, sepertinya harus mencoba Tenderloin Steak ini.


Bagaimana dengan Soto Bandung ala Saute Resto. Tentu saja jadi juara sebab saya penyuka makanan berkuah. Untuk rasa yang lebih beragam, cobalah makan Soto Bandung ala saya: menyatukan kacang kedelai, daun bawang, lobak, bawang goreng, daging, dan kuahnya dalam satu sendok, baru kemudian disantap. Kematangan daging pas, lobaknya juga masih terasa renyah. Perasan jeruk nipis menambah kesegaran Soto Bandung. Jika potongan Tenderloin Steak dimasukkan ke dalam kuas soto, sepertinya tambah enak, ya.  


SAUTE SPECIAL FRIED RICE vs ROLLED CHICKEN & BRATWURST
Saat mengadu Saute Special Fried Rice dengan Rolled Chicken dan Bratwurst barulah saya merasa benar-benar tidak adil. Saute Special Fried Rice merupakan makanan satu paket lengkap. Sedangkan Rolled Chicken dan Bratwurst butuh teman seperti nasi putih. Terlebih nasi goreng kabarnya termasuk deretan makanan Indonesia yang sangat populer.


Untuk nasi goreng khas Saute Resto ini langsung menjadi juara di lidah saya dibandingkan Rolled Chicken dan Bratwurst. Bumbu nasi gorengnya apik memadu nasi, potongan ikan (anchovy) dan ayam dan bakso. Lempengan telur dadar seolah ingin menyembunyikan kelezatan nasi goreng ala Saute Resto itu. Saya potong telur dadarnya, kemudian menyendok nasi goreng. Enak!




Bratwusrt yang terdiri dari tiga potong sosis juga nikmat menggoyang lidah, tapi masih kalah dibandingkan nasi goeng Saute Resto menurut lidah saya. Chicken Rolled saja yang kurang begitu saya sukai, mungkin karena sausnya dicolek, bukan seperti nasi goreng yang menyatu sehingga aroma dan rasa nasi goreng menjadi kuat.


Pencuci Mulut ala Saute Resto


Selain main course makanan berat, Saute Resto juga menawarkan beberapa hidangan pencuci mulut dan aneka rupa minuman. Saya memilih Fruit Flambe yang namanya masih asing. Ternyata Fruit Flambe semacam salad buah yang dibakar dengan nyala api. Pantas terasa panas. Ada tambahan pangsit goreng yang membuat Fruit Flambe di Saute Resto ini unik. 


Hidangan pencuci mulut lainnya adalah Saute Salad. Potongan buah ditambah udang, telur rebus, sayuran segar dan saus. Terasa aneh di lidah saya yang belum terbiasa menikmati salad.


Akhirnya semua hidangan itu ditutup dengan Strawberry Mijito. Ada baluran gula dengan karamel di bibir gelas, membuat Mijito ini sebaiknya dinikmati dengan pipet terlebih dahulu. Bibir gelasnya disentuh pada tetes terakhir saja.
Saya mengusap perut saat keluar dari Saute Resto dan berjanji akan kembali lagi dengan keluarga saya.  


   


Saute Family Resto
Jl Lodaya 23, Bandung
Reservasi (022) 73511564
Jam Operasional : 10.00-23.00 WIB
Range Harga : Rp20.000- Rp55.000




Foto-foto dalam tulisan ini merupakan koleksi pribadi yang diambil langsung di Saute Family Resto, 
kecuali 2 gambar terakhir dari IG @sauteresto
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Sumpah ini postingan jahat banget, gue langsung per...per...per... laper dan bapeeeer....

    BalasHapus