Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 26 Mei 2016

Kesadaran Baru dari Film Surat Cinta untuk Kartini


Hari Kartini tahun 2016 ini cukup istimewa karena hadirnya film Surat Cinta untuk Kartini. Sayangnya, beberapa hari kemudian, Surat Cinta untuk Kartini sudah turun layar. Mungkin kalah bersaing dengan film Ada Apa dengan Cinta 2 dan Captain America: Civil War. Padahal saya belum sempat nonton. Untunglah Indosat Ooredoo mengadakan nonton bareng di Miko Mall, Bandung sehingga saya bisa menikmati film produksi MNC Pictures ini.

Film Surat Cinta untuk Kartini merupakan cara lain untuk menelaah kehidupan perempuan yang identik dengan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia itu. Ada 4 hal  baru saya sadari setelah menyaksikan Film Surat Cinta untuk Kartini. Berikut paparannya

1. Buku Kartini adalah Antologi Surat

Azhar Kinoi Lubis, sang sutradara film ini di akhir nobar Indosat Ooredoo mengungkapkan, dialog-dialog dalam film diambil dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itu sebenarnya versi terjemahan dari judul asli berbahasa Belanda Door Duisternis tot Licht. Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda:  J.H. Abendanon pada tahun 1911 berinisiatif mengumpulkan surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada para sahabatnya, kemudian membukukannya. Armin Pane menerjemahkan buku itu di penerbit Balai Pustaka dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Bagi kita (saya) yang selama ini mengira Kartini sengaja menulis buku dan menerbitkannya, tentu keliru.

Buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda
foto: rizkachika.wordpress.com

Door Duisternis tot Licht juga populer karena peran dari Conrad Theodore van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di Belanda. Van Deventer menulis resensi buku itu karena terkesan dengan pemikiran-pemikiran Kartini yang tersurat dan tersirat dalam buku Door Duisternis tot Licht . Adanya dokumentasi tertulis dari pemikiran Kartini inilah yang menjadi salah satu penyebab harumnya nama Kartini sampai sekarang. Seandainya tokoh pejuang perempuan di Indonesia lainnya menulis atau ada yang membukukan pemikirannya, mungkin namanya akan berjajar dengan Kartini sebagai pejuang emansipasi perempuan. 

Kebiasaan berkirim surat Kartini juga yang membuat seorang pengantar surat menjadi tokoh utama dalam film Surat Cinta untuk Kartini. Sang pengantar surat itu bernama Sarwadi, diperankan oleh Chicco Jerikho. Sarwadi dikisahkan sebagai duda berusia 23 tahun. Ia menikah pada usia 16 tahun. Istrinya meninggal dunia saat melahirkan. Sarwadi tinggal bersama Ningrum, anaknya. Di hari pertamanya menjadi tukang pos, Sarwadi mengantarkan surat untuk Kartini. Itulah saat pertama yang menjadi awal ketertarikan Sarwadi kepada seorang Kartini.      

2. Kartini Poligami

Beberapa tahun terakhir, beredar Meme tentang Kartini yang dipoligami. Saya ingin tahu, bagaimana kehidupan poligami Kartini? Film Surat Cinta untuk Kartini mungkin memberikan gambarannya, begitu pikir saya. Namun film berdurasi 90 menit ini menceritakan sebagian besar kehidupan Kartini saat masih lajang. 

Kartini dan Suami
foto: boombastiscom

Pada film Surat Cinta untuk Kartini, kehidupan rumah tangga Kartini tidak diperlihatkan sama sekali. Hanya pinangan dari bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat saja yang disuguhkan sebagai klimaks film Surat Cinta untuk Kartini. Pernikahan itu membuat Sarwadi patah hati dan menjauhi Kartini. Keputusan Kartini untuk menerima lamaran dari lelaki yang sudah beristri juga disimpan penulis skenario sampai akhir cerita.  Hal ini cukup menarik karena terkesan kontradiktif; Kartini memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, namun bersedia menjadi istri keempat. Dan saya merasa maklum setelah mengetahui alasan Kartini menerima dipoligami di akhir film.    

3. Kartini Berumur Pendek

Kita tidak pernah melihat foto Kartini di usia tua, kan? Saya baru menyadari hal ini saat menonton film Surat Cinta untuk Kartini. Kartini tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia beberapa hari setelah melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Usia Kartini saat itu 25 tahun. Jadi perjuangannya tidak lama, namun pemikiran di dalam surat-suratnya berhasil melintasi ruang dan waktu.   

Sosok Soesalit Djojoadhiningrat kecil
foto: merdeka.com

Film Surat Cinta untuk Kartini juga tidak menggambarkan kematian Kartini secara detil. Penonton akan mengetahuinya dari tokoh Sarwadi dan Ningrum saja, saat keduanya ingin bersua dengan Kartini. Meskipun telah tiada, Sarwadi dan Ningrum melihat dampak positif perjuangan Kartini pada kehidupan beberapa anak perempuan. Bahkan pengaruh Kartini sangat besar pada kehidupan anak cucu Sarwadi di masa depan. Penonton akan mengetahui, siapa sebenarnya sang narator film Surat Cinta untuk Kartini di akhir film.   

4. Sekolah Kartini Berdiri Saat Ia Telah Tiada

Sekolah-sekolah Kartini mulai berdiri saat ia telah tiada. Van Deventer, sang perensi buku kumpulan surat Kartini yang banyak berperan dalam pendirian sekolah Kartini. Van Deventer mendirikan Sekolah Wanita di bawah naungan Yayasan Kartini pada tahun 1912 di Semarang, kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan beberapa daerah lainnya.

Seorang teman pun mengatakan bahwa ada Universitas Kartini di Surabaya. Saya heran, kenapa nama Universitas Kartini jarang dipublikasikan. Saya cari informasi tentang Universitas Kartini di internet. Namun tidak banyak informasi resmi yang bisa saya temukan. Apakah Univesitas Kartini hanya sekadar nama tanpa ruh semangat perjuangan Kartini pada civitas akademikanya? Entahlah. 

Film Cinta yang Cukup Aman untuk Anak-anak

Film Surat Cinta untuk Kartini dibuka dengan adegan ibu guru di satu SD yang ingin bercerita tentang sosok Kartini. Namun murid-muridnya protes karena sudah bosan dengan kisah kartini. Seorang bapak guru muda masuk dan menjanjikan kisah Kartini yang berbeda. Yaitu kisah seorang pengantar surat bernama Sarwadi. Kisah Surat Cinta untuk Kartini pun mengalir dengan alur yang agak membosankan jika tidak berminat pada film-film biografi.

Sarwadi memiliki putri bernama Ningrum yang diceritakan masih berusia 7 tahun. Porsi adegan untuk Ningrum cukup banyak, karena Sarwadi ingin Ningrum berguru kepada Kartini. Sosok Ningrum pun akan terus hadir sampai akhir cerita. Kisah pembuka dan tokoh Ningrum merupakan satu peluang untuk menarik minat penonton anak-anak menyaksikan film ini. Padahal ada kata cinta pada judul film, kan?

Sosok Sarwadi yang Diperankan Chicco Jerikho

Ya, kata cinta mungkin sengaja dipakai untuk menarik minat masyarakat menyaksikan film ini. Cinta menawarkan kisah drama. Meskipun begitu, kisah Surat Cinta untuk Kartini ini cukup aman dinikmati anak-anak, terutama anak mulai usia 9-10 tahun. Namun orang tua atau dewasa mungkin perlu bersiap-siap menjelaskan soal poligami, ibu Kartini yang bukan istri utama, dan berbagai istilah yang mungkin sulit dicerna oleh anak-anak.

Melalui film Kartini, anak akan menjadi tahu hakikat perjuangan Kartini. Betapa sulitnya sekolah di masa lalu dan pentingnya pendidikan untuk membuat perubahan. Jika hakikat perjuangan Kartini ini sudah bisa diserap anak, mudah-mudahan mereka tidak memaknai 21 April hanya dengan pemakaian kebaya, serta tidak begitu terpengaruh dengan hingar bingar diskon hari Kartini lagi.
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Semoga kelak tanggal 21 April tidak hanya sekedar perlombaan kemasan (kebaya), tapi semua orang memahami mengapa poligami itu bisa memakan korban jiwa. Eh, salah yaaaa...
    Maksudnya Kartini hakikatnya sebuah perjuangan

    BalasHapus