Menulis, Buku, Kehidupan

Minggu, 06 Maret 2016

Gambaran Pesantren di Film Pesantren Impian

Gambaran Pesantren untuk Anak di Film Pesantren Impian


Beberapa penonton kecewa dengan film Pesantren Impian yang tidak memberikan gambaran tentang pesantren seperti dalam bayangan mereka. Berikut sedikit ulasan tentang cerita film Pesantren Impian yang berlatar pesantren di sebuah pulau kecil.


Kisah 10 Gadis di Film Pesantren Impian

Film Pesantren Imipan mengisahkan tentang kehidupan 10 perempuan yang memiliki masa lalu kelam jika dipandang dari syariat Islam. Mereka diundang secara khusus untuk belajar mengubah hidupnya di satu pesantren pulau terpencil. Tempat mereka belajar bernama Pesantren Impian. Pesantren itu dikelola oleh Gus Budiman (Dedi Sutomo) dan asistennya yang bernama Umar (Fachri Albar), pasangan ustad-ustazah, seorang pembantu umum dan seorang pembantu urusan dapur. 


Di antara 10 perempuan tersebut, menyusuplah Briptu Dewi (Prisia Nasution), seorang polisi wanita yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan di satu hotel. Pihak kepolisian menduga, si pembunuh ada di antara para undangan Pesantren Impian itu. Tak disangka, terjadi teror di Pesantren Impian. Satu persatu, santriwati dibunuh dengan benang merah, korban selalu bertemu Umar untuk terakhir kalinya. Saat pelaku pembunuhan di hotel Jakarta telah terungkap, korban tetap jatuh, sampai akhirnya Ustazah Hanum pun ikut menjadi korban pembunuhan.


Perempuan-perempuan yang masih hidup ingin pulang. Namun kondisi perairan di sekitar pulau, tidak memungkinkan untuk berlayar. Semua orang di Pesantren Impian terjebak, dicekam ketakutan. Siapa pun, tanpa kecuali dapat menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya. Film Pesantren Impian ini disutradarai oleh Ifa Ifansyah yang pernah menjadi sutradara film Pendekar Tongkat Emas, Garuda di Dadaku dan sekian film yang sudah tayang di bioskop tanah air. 

Memperdebatkan Definisi Pesantren di Film Pesantren Impian


Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata ”santri” yang mendapat imbuhan awalan ”pe” dan akhiran ”an” yang menunjukkan tempat, sehingga bermakna tempat para santri. Pesantren juga sering dianggap gabungan dari kata ”santri” (manusia baik) dengan suku kata ”tra” (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat diartikan tempat pendidikan manusia baik-baik (Zarkasy, 1998).


Bangunan Pesantren Impian saat proses syuting

Menurut Madjid (1997) santri itu berasal dari perkataan ”sastri” sebuah kata dari bahasa Sansekerta, yang artinya melek huruf, dikonotasikan dengan kelas literary bagi orang jawa karena santri mendapatkan pengetahuan tentang agama dari kitab-kitab yang bertulisan bahasa Arab. Asumsinya santri adalah  orang yang tahu tentang agama melalui kitab-kitab berbahasa Arab dan atau paling tidak santri bisa membaca Al Qur'an, sehingga memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama Islam. Perkataan santri juga dapat berasal dari bahasa Jawa ”cantrik” yang berarti orang yang selalu mengikuti guru kemana guru pergi menetap (istilah pewayangan). Tujuannya agar ia dapat belajar dari sang guru mengenai keahlian tertentu.

Di Indonesia, pesantren juga dikenal dengan tambahan kata pondok yang dalam arti kata bahasa Indonesia mempunyai arti kamar, gubug, rumah kecil dengan menekankan kesederhanaan bangunan. Pondok juga berasal dari bahasa Arab ”FundÅ©q” yang berarti ruang tidur, wisma, hotel sederhana, atau mengandung arti tempat tinggal yang terbuat dari bambu (Zarkasy, 1998). Berdasarkan gabungan kata itu istilah pondok pesantren dapat diartikan sebagai tempat atau kawasan tempat para santri belajar atau mengaji ilmu pengetahuan agama kepada kiai atau guru ngaji. Umumnya kawasan itu berbentuk asrama atau kamar-kamar kecil yang sederhana.

Jika mengacu kepada definisi tersebut dan melihat film Pesantren Impian, kita akan mendapati Pesantren Impian sebagai kawasan khusus untuk belajar agama Islam. Pesantren Impian memiliki gapura dengan beberapa bangunan untuk shalat, belajar, dan beristirahat. Semua bangunan yang difungsikan untuk shalat, belajar, dan beristirahat di Pesantren Impian itu sederhana. Sepeluh perempuan belajar di ruang kelas layaknya kantor biasa, shalat di bangunan semacam surau, dan tidur berdua-dua di kamar-kamar yang tidak begitu luas namun cukup lega.

Pengalaman dan wawasan seseorang tentang pesantren mungkin memengaruhi gambaran tentang pesantren. Bahwa pesantren haruslah memiliki santri dan santriwati ratusan bahkan ribuan serta puluhan staf pengajar. Pesantren yang sering dipublikasikan media massa juga umumnya melaksanakan pendidikan setingkat SD sampai SMA. Kita masih jarang menerima publikasi pesantren khusus orang-orang di luar jenjang pendidikan itu. Faktanya, di Indonesia terdapat banyak macam pesantren. Misalnya saja pesantren mahasiswa yang dilakoni mahasiswa usai kuliah atau selepas jam belajar di kampusnya.

Memotivasi Anak Masuk Pesantren dengan Film Pesantren Impian

Lembaga Sensor Film memberikan rating 13+ untuk film Pesantren Impian tertanggal 24 Februari 2016. Merujuk pada perkembangan kognitif yang diungkapkan Piaget, pada usia 13 tahun, anak-anak telah berada pada perkembangan kognitif operasional formal. Artinya anak telah dapat berpikir kompleks dan abstrak seperti orang dewasa. Perkembangan kognitif operasional formal merupakan tahap akhir dari perkembangan berpikir manusia menurut Piaget. Setelah operasional formal, belum ada perkembangan lebih lanjut lagi.

Kisah film Pesantren Imipan cukup kompleks, menegangkan, dan menawarkan teka-teki, sudah bisa dinikmati anak-anak SD kelas V atau anak yang berusia 11 tahun. Pada usia tersebut, mereka biasanya telah memasuki tahap kognitif operasional formal Piaget itu. Namun alangkah bijak jika orang tua menonton film Pesantren Impian terlebih dahulu, baru kemudian memutuskan, tepatkah mengajak anaknya menonton film ini?


Film Pesantren Impian hanya memberikan satu gambaran pesantren dari sekian banyak pesantren di Indonesia. Mungkin saja anak menjadi khawatir jika harus bersekolah di pesantren seperti Pesantren Impian yang terpencil, memiliki fasilitas terbatas, bahkan aliran listrik dibatasi sampai jam 21.00 saja. Untuk tujuan motivasi masuk pesantren, film Negeri 5 Menara mungkin lebih tepat. Kalau pun anak yang ingin masuk pesantren menonton Film Pesantren Impian, apa yang tersaji dalam film adaptasi novel Asma Nadia ini seharusnya menjadi bahan diskusi menarik antara orang tua dan anak sepulang dari bioskop.

Film Pesantren Impian adalah Film Thriller

Film horor adalah film yang berusaha membuat penonton ketakutan. Hantu-hantu dan legenda urban yang berkaitan dengan makhluk aneh kerap disajikan. Film Jelangkung (2001), Kuntilanak (2006), dan Pocong (2006) adalah sedikit contohnya. Film thriller berusaha membuat penonton tegang dan mencekam. Kisahnya seputar misteri, pembunuhan dan cerita yang membuat sport jantung. Rumah Dara (2010), Badoet (2015), dan Midnight Show (2016) adalah contoh film Thriller Indonesia yang sudah beredar.

Proses syuting Pesantren Impian
Film Pesantren Impian menceritakan kisah seputar pembunuhan di pesantren. Namun lima kasus pembunuhan yang terjadi, tidak menghadirkan adegan kekerasan terhadap korban yang dihilangkan nyawanya secara langsung. Penonton hanya melihat korban meronta dibalik gorden, diseret ke bawah tempat tidur serta adegan pembunuhan di kegelapan dan tampilan korban setelah tidak bernyawa lagi. Tidak ada adegan badan ditusuk benda tajam atau darah segar muncrat. Kengerian yang dihadirkan sejatinya hanya efek suara dan permainan cahaya di kegelapan saja. Tidak ada hantu atau makhluk gaib di Pesantren Impian. Maka film berdurasi 90 menit ini dapat dikategorikan sebagai film thriller bukan horor.

Anak-anak yang terbiasa membaca novel horor anak seperti seri Spooky Stories (Nourabooks) atau Dark Fantasteen (DAR! Mizan) mungkin bisa menikmati ketegangan di film Pesantren  Impian ini. Mengingat adegan horor dan mencekam sudah sering mereka dapatkan dari novel-novel itu. Namun orang tua tetap harus menemani, sebab (sekali lagi) semua yang tersaji dalam film Pesantren Impian dapat menjadi bahan diskusi yang menarik dengan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak.   

Film Pesantren Impian merupakan usaha sebagian insan film yang ingin menyajikan hiburan alternatif bagi umat Islam. Apa yang disajikan dalam film Pesantren Impian pastilah tidak dapat memenuhi harapan seluruh penonton film tanah air. Namun jika film ini berhasil menjaring banyak penonton, ketertarikan rumah produksi untuk menghasilkan film dengan standar Pesantren Impian menjadi lebih banyak lagi. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti film-film Indonesia yang islami dapat menjadi box office d negara lain, sebagaimana film Holywood saat ini.   

Rujukan

Madjid, Nurchalis., (1997). Belik-Belik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina

Zarkasyi, Abdullah Syukri., (1998) Langkah Pengembangan Pesantren, dalam Abdul Munir Mulkhan, (eds) Rekontruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren Religiusitas Iptek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Comments
8 Comments

8 komentar:

  1. Baca resensinya jadi penasaran dengan gambaran pesantrennya.

    BalasHapus
  2. selalu sajiannya begitu indah mengalir. Mas koko selalu menambahkan info-info baru yang sayang dilewatkan. nice post and nice blognya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, Erna

      Hapus
  3. keren banget deh ulasannya koko, lengkaaap...film ini memang bukan untuk perkenalan pesantren pada khalayak jadi kalau ada yang mengharap begitu ya kecewa :)

    BalasHapus
  4. Ulasan Mas Koko selalu meninggalkan ilmu. :)

    BalasHapus
  5. Seneng banget nemu blognya Mas Koko. Sekian.

    Ttd,
    Mantan penggemar. Etapi masih deh. Eeaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... ^_^ Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus