Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 29 Februari 2016

Teman Khayalan Pejuang Kanker, Resensi Film I Am Hope

Teman Khayalan Pejuang Kanker, Resensi Film I Am Hope

Poster film I Am Hope menarik perhatian saya sejak publikasinya marak Januari 2016 lalu. Mia (Tatjana Saphira) terlihat menempel dengan sosok samar Maia (Alessandra Usman). Setelah menonton film I Am Hope, saya menyimpulkan tokoh Maia itu teman khayalan Mia.

Teman Khayalan Pejuang Kanker, Resensi Film I am Hope

Kisah I Am Hope

Pada film I Am Hope sosok Maia tampil saat Mia seusia anak-anak pra sekolah, 4-5 tahun. Pada satu pentas, Mia kecil memanggil-manggil nama Maia. Kesukaan Mia berimajinasi, bisa jadi dampak dari kebiasaan Madina (Feby Febiola), sang ibu, yang sering membacakan dongeng untuknya. Dunia teater yang ditekuni Madina pun sepertinya memengaruhi Mia. Sejak kecil Mia suka bermain peran (pretend play) sehingga lahirlah Maia, teman setia yang hanya bisa berinteraksi dengan Mia saja. 


Adegan film I Am Hope Mia Kecil dan Mama
Mia kecil dan Sang Ibu, Madina 

Sosok Maia semakin sering muncul di beberapa adegan film I Am Hope setelah Maia berusia 23 tahun. Saat itu Maia merayakan ulang tahunnya bersama Raja Abdinegara, sang ayah. Madina telah meninggal dunia karena kanker. Kemoterapi selama 8 bulan tidak berhasil memperpanjang usia Madina. Usai tiup lilin angka 23, Mia menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium. Ada tumor ganas yang sudah berubah menjadi kanker di paru-paru gadis itu. Betapa terpukulnya Raja. Bayangan kematian Madina muncul lagi. Sang ayah memutuskan sepihak segala pementasan yang dapat membuat tubuh Mia lelah. Anak semaa wayangnya harus fokus pada pengobatan kanker paru-paru saja.   


Adegan film I Am Hope perayaan Ulang Tahun Mia


Pasca vonis kanker, Mia terpuruk. Kematian bagai sudah pasti, tinggal menghitung hari. Di saat itulah peran Maia terlihat dominan. Maia marah dengan sikap Mia yang putus asa. Mereka berdebat, sampai Maia meneriakkan kalimat, “kalau lo emang merasa mau mati, lo nggak akan buang waktu.” Kalimat itu sepertinya menghujam kesadaran Maia mendorong Mia terus menulis naskah teater dan menawarkan naskah itu pada pementas teater terkenal, Rama Sastra (Ariyo Wahab). Mia bersama Maia juga menonton pementasan David (Fachry Albar), berkenalan dengan aktor yang dianggap cute oleh Maia itu, dan akhirnya menjalin pertemanan akrab dengan David. 


Adegan Maia menampar Mia dalam film I am Hope


Rama Sastra tertarik dengan naskah Mia. Rama setuju, Mia menjadi sutradara pementasan “Aku dan Harapanku”. Mia mulai sibuk mewujudkan pentas teaternya tanpa memberitahukan perihal kankernya pada Rama, David dan para pemain teater. Mia didampingi Maia terus berjuang agar pentas teaternya dapat terlaksana meskipun tubuhnya mulai melemah dan kemoterapi membuat rontok seluruh rambutnya. 


Realita dan Fakta Teman Khayalan

Teman khayalan umumnya dimiliki oleh anak-anak usia prasekolah. Marjorie Taylor dan koleganya di University of Oregon menyatakan sampai usia 7 tahun, 37% anak-anak sering bermain imajinasi dan memiliki teman khayalan. Wujud teman imajinasi dapat berupa manusia, binatang, atau makhluk fantasi rekayasa anak-anak sendiri, misalnya kuda berbadan singa dan berekor buaya dengan warna kulit belang putih dan pink. Teman khayalan dapat seorang diri atau berkelompok. Anak laki-laki cenderung memiliki teman khayalan berjenis kelamin laki-laki juga. Anak perempuan dapat memiliki teman khayalan laki-laki maupun perempuan. 

Anak-anak yang memiliki teman khayalan bukan berarti mereka tidak memiliki teman atau malas berinteraksi dengan teman di dunia nyata. Beberapa riset telah membuktikan hal ini. Beberapa anak yang memiliki teman khayalan ternyata senang bergaul, tertawa, dan bercanda dengan anak-anak seusianya. Keberadaan teman khayalan justru membebaskan mereka yang senang bergaul itu. Mereka bebas ngobrol, tersenyum dan tertawa bersama teman khayalan kapan saja. Teman khayalan juga merupakan salah satu cara anak untuk mengatasi masalah (coping) yang membuat mereka trauma. Misalnya anak yang pernah ketakutan di kegelapan menciptakan teman khayalan yang dapat menemani mereka pada kondisi kurang cahaya itu, sehingga si anak lebih berani. 


Teman khayalan pada Anak-anak


Kemunculan teman khayalan juga dapat disebabkan oleh perubahan yang harus dihadapi si anak seperti kelahiran adik, teman akrab yang pindah rumah, atau kematian orang yang dekat dengannya. Teman khayalan diciptakan oleh si anak dalam rangka mendampinginya dalam menghadapi situasi baru itu. Anak bebas melakukan apa saja bersama si teman khayalan tanpa merasa takut disalahkan. Keberadaan teman khayalan memungkinkan anak keluar dari situasi baru yang kurang nyaman dan membuat realita yang mereka harapkan. 

Setelah anak bersekolah, sekitar usia 7 tahun, interaksi anak dengan teman khayalannya mulai berkurang bahkan hilang. Jika orangtua menanyakan soal teman khayalan, anak bisa saja mengatakan teman khayalannya pindah atau meninggal. Sebagian anak mungkin memiliki teman khayalan pengganti yang berbeda atau teman khayalannya benar-benar pergi untuk selamanya. 

Namun satu penelitian mengungkapkan bahwa teman khayalan tidak hilang seiring berlalunya masa kanak-kanak. Beberapa remaja dan orang dewasa diteliti melalui buku harian dan kuisioner. Mereka menyatakan masih memiliki teman khayalan. Kesamaan dari mereka yang memiliki teman khayalan di usia remaja dan dewasa itu adalah memiliki kompetensi sosial dan kreatif. Interaksi dengan teman khayalan itu ternyata tidak menggantikan interaksi mereka dengan teman-teman di dunia nyata. 

Teman Khayalan dalam Film I Am Hope

Film I am Hope berusaha menggambarkan emosi Mia saat mendapat vonis kanker dan ketika menjalani kemoterapi. Beberapa reaksi emosional kanker pada umumnya seperti cemas, marah, tidak berdaya dan depresi juga terjadi pada Mia. Mia mengurung diri di kamar setelah dokter menyatakan kanker ada di paru-parunya. Mia semakin terpukul dan merasa tak berdaya saat Raja menghentikan aktivitas Mia yang berhubungan dengan teater. Di saat-saat sulit menerima dirinya mengidap kanker itulah, peran Maia terlihat sangat besar pada Mia. 

Maia terlihat mendekap Mia, menemani tidurnya. Mia yang seolah putus asa dengan masa depannya mendapat penguatan dari Maia. Maia mendorong Mia untuk terus menulis naskah teater dan menawarkannya kepada produser, bahkan menonton teater dan berkenalan dengan pemain teater. Maia seolah hadir sebagai alter ego, sisi lain Mia yang kuat dan optimis dalam menghadapi kanker. Kalimat, “kalau lo emang merasa mau mati, lo nggak akan buang waktu,” diulang Maia beberapa kali dengan nada yang berbeda saat Mia mulai putus asa dan menurun harapannya. 


Adegan dalam film I Am Hope Mia dan Maia

Perubahan fisik dan serangkaian dampak menyakitkan kemoterapi pun dihadapi Mia bersama Maia. Mia dalam beberapa adegan I Am Hope terlihat rapuh, mual, muntah dan menangis setelah kemoterapi. Raja dan Maia bergantian mendampinginya. Klimaks cerita I Am Hope, Mia kembali pingsan saat mengarahkan pemain teater, wig yang dipakainya lepas dan terbongkarlah rahasia yang disimpan Mia. Kru, pemain dan produser pementasan teater Aku dan Harapanku akhirnya mengetahui, Mia mengidap kanker paru-paru.  

Berdasarkan beberapa adegan I Am Hope itulah, saya menyimpulkan Maia hadir sebagai strategi Mia dalam mengatasi depresi kanker di paru-parunya. Penampilan Maia lebih kekinian daripada Mia. Maia mengajak Mia berkenalan dengan David dan berani mengajak David pergi dengan menggunakan akun chatting Mia. Maia hadir di saat Mia susah maupun senang. Kriteria penyebab adanya teman khayalan pada anak-anak ada pada Mia. Maia adalah teman khayalan Mia meskipun film I Am Hope sama sekali tidak menjelaskan secara verbal siapa Maia sebenarnya.        


Akhir Kisah Film I Am Hope dan Maia

Setelah mencapai klimaksnya, alur kisah Mia dipercepat. Pada satu titik, saya mendapat gambaran pergolakan hidup Mia sebagai pejuang kanker. Namun di sisi lain saya masih belum puas melihat perjuangan orang-orang yang berusaha bertahan dengan kanker dan pengobatannya. Penderitaan Mia kadarnya masih kecil dibandingkan sebagian besar pejuang kanker lainnya. Hanya support group kanker yang diikuti Mia saja yang sedikit menghibur dan membuka wawasan saya, petapa gigihnya usaha para pejuang kanker di luar sana. 

Di film I Am Hope, Mia beruntung, punya ayah yang sangat peduli dengan kanker paru-parunya, ada David yang menjadi pendampingnya serta kru teater yang berusaha mengerti dengan penyakit Mia. Kesulitan finansial pun tidak begitu terlihat pada Raja dan Mia. Padahal fakta tersirat dari film I Am Hope, di sekitar kita masih banyak pejuang kanker yang akhirnya menjadi penderita kanker. Mereka memang benar-benar menderita karena sedikit mendapat dukungan dari keluarga untuk sembuh, tiada sahabat dan teman untuk mengatasi depresi, tiada dana untuk berobat, putus asa dan kehilangan harapan tanpa teman imajinasi yang menguatkan seperti Maia. 


Mia dan Maia dalam I am Hope

Bagusnya, pemutaran film I Am Hope dibarengi dengan gerakan gelang harapan. Dalam beberapa adegan, makna gelang harapan disampaikan para tokoh film I Am Hope secara verbal. Gelang harapan mungkin bisa menjadi pencetus lahirnya teman-teman khayalan di benak para pejuang kanker atau lahirnya harapan hidup yang lebih panjang daripada vonis dokter. 


Hope Bracelet


Film I Am Hope patut ditonton siapa saja, baik pejuang kanker dengan kanker atau tanpa kanker di tubuhnya. Bagi mereka yang belum terkena kanker, film I Am Hope dapat menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang sedang bertarung dengan kanker di tubuhnya dan menimbulkan kesadaran hidup sehat, penanggulangan kanker sejak dini. Bagi pejuang kanker yang sudah divonis dokter, Film I Am Hope bisa menumbuhkan benih-benih harapan dan ketegaran menjalani kemoterapi dan pengobatan kanker lainnya. 


Tatjana Saphira dalam Hope






Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar