Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 18 Februari 2016

Jogging, Usaha SeKsi yang Mudah dan Murah

Apa yang terjadi pada tubuh pria menjelang dan setelah berusia 30 tahun? Terjadi pertumbuhan ke depan dan ke samping pada tubuhnya. Jika diet, olahraga dan pola hidup sehat sekali (seksi) tidak diterapkan, tunggu saja kemunculan gunung di perut dan timbunan lemak di bawah kulit kita.  



Mulai Jogging untuk SeKsi

Gejala penambahan berat badan itu juga mulai terjadi pada saya. Untungnya, sejak remaja, tubuh saya cenderung underweight alias kurus. Tidak seimbang antara tinggi badan dan berat badan. Maka saat di usia tiga puluhan metabolisme tubuh saya (mungkin) mulai stabil dan terjadi penambahan berat badan, berat badan saya menjadi proporsional dengan tinggi badan yang berada di kisaran 180 cm. 

Untuk mempertahankan berat badan itulah, selain diet, saya mulai berusaha untuk olahraga secara rutin di akhir pekan. Olah raga yang saya pilih itu adalah jogging. Alasannya, mudah dan murah. Saya cukup jalan cepat atau berlari-lari kecil tanpa menggunakan alat atau pergi ke tempat khusus. Jogging cukup di lingkungan perumahan. Alternatif tempat, sekitar Gelora Bandung Lautan Api yang cukup dekat dengan rumah saya. 

Beberapa situs kesehatan menyarankan jogging sekitar 3-5 kali seminggu selama 30 menit. Frekuensi jogging tergantung berat badan yang ingin kita capai. Sebagai awal, saya jogging pada Sabtu atau Minggu saja. Setelah terbiasa, saya akan meningkatkan frekuensi jogging menjadi 3 kali seminggu.      

Persiapan Jogging yang pertama

Persiapan jogging yang pertama adalah niat yang kuat. Jogging ini memang harus diniatkan dengan tekad bulat dan harus diketahui anggota keluarga kita agar niat itu mendapat dukungan. Saya mengungkapkan niat jogging kepada istri dan mengajaknya turut serta. Istri setuju untuk mulai jogging di akhir pekan.  

Selain itu, jogging kami lakukan bukan di hari atau dilakukan jauh dari lokasi pasar kaget. Di Ciwastra, Bandung tempat kami tinggal, terdapat beberapa pasar kaget setiap hari Minggu. Sebelumnya, kami seriang niat olahraga di dekat pasar kaget, tetapi yang terjadi malah belanja dan sarapan ini itu. Kalori yang terbakar tidak seberapa, asupan kalori lebih banyak lagi. 

Jogging di Gelora Bandung Lautan Api
Salah satu lokasi jogging, area Gelora Bandung Lautan Api

Persiapan Jogging berikutnya

Selanjutnya, saya perlu sepatu dan celana training untuk jogging. Pada usia belasan tahun, saya biasa jogging sebagai bagian terapi kesehatan untuk masalah paru-paru saya. Saat itu, saya terbiasa jogging tanpa alas kaki di jalan raya yang tidak begitu ramai. Sekarang, jogging tanpa alas kaki di lingkungan perumahan sepertinya kurang memungkinkan karena jalan perumahan merupakan hamparan paving block atau conblock, batu cetak yang terbuat dari campuran semen, pasir, dan air. Kerikil, duri dan benda-benda yang dapat membahayakan kaki dapat bersembunyi di sela-sela conblock. Risiko cidera atau luka cukup tinggi jika jogging tanpa alas kaki.

Saya membeli sepatu lari yang ringan namun cukup kuat. Awalnya saya ingin membeli secara online saja. Namun saya urungkan niat itu karena khawatir ukuran sepatu kurang pas sehingga harus bolak-balik pesan dan mengembalikan. Mulailah saya melakukan perburuan sepatu dari toko ke toko sepatu yang menjemukan itu. Kenapa menjemukan, sebab saya harus masuk dan keluar beberapa toko sepatu dengan kriteria sepatu cocok di kaki dan harga cocok di hati, sesuai anggaran. Di satu toko sepatu lokal, saya berhasil menemukan sepatu yang saya cari itu. 

Untuk celana training, saya mencoba mencarinya di toko online saja. Sebab celana training masih jarang dijual di toko pakaian biasa. Beberapa celana training menarik perhatian saya.

Celana Training Zalora
Beberapa pilihan celana training

Semua celana training itu terlihat bagus karena dipakai oleh model-model bertubuh proporsional dan enak dilihat. Jika celana training itu kita pakai, belum tentu akan terlihat bagus seperti pada saat dipakai model-model itu. Namun dalam pikiran kita, mungkin saja kita merasa sudah menjadi seperti para model itu. Inilah yang menyebabkan model pakaian kerap dipilih sesuai dengan gambaran tubuh ideal yang diharapkan banyak orang.       

Saya menyimpan celana training yang saya inginkan di whistlist saja. Sebab saya ingat, masih ada celana traning lama namun sobek di bagian lutut. Untuk sementara, saya menambalnya saja dan jogging pun siap dilakukan. 

Untuk SeKsi yang Mudah dan Murah

Untuk membiasakan diri berolahraga sebagian dari kita mungkin membuatnya jadi susah. Misalnya ingin berolahraga di gym atau tempat fitness dengan pelatih profesional atau mengutamakan penampilan ala olahragawan di iklan-iklan komersial. Dua hal itu pada awalnya sempat menjadi pertimbangan yang menghambat saya untuk berolahraga rutin. Setelah menimbang, saya pikir lebih baik do it sajalah, bukan duit. 

Maka dari itulah saya lebih suka jogging pada hari Sabtu yang cenderung belum banyak dipilih sebagai hari jogging di tempat yang tidak ramai juga. Abaikan dulu saja soal penampilan. Gunakan pakaian yang ada atau beli sesuai kebutuhan dan kemampuan dulu saja. Untuk panduan olahraga yang baik dan benar, kita bisa membaca buku atau situs kesehatan terpercaya. Sehat itu sebenarnya bisa murah dan murah, tinggal kita saja mau atau tidak melakukannya.  

sumber ilustrasi: Zalora


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar