Menulis, Buku, Kehidupan

Minggu, 10 Januari 2016

Tamparan untuk Aktivis Dakwah; Resensi Film Tausiyah Cinta Bagian 1

Publikasi film Tausiyah Cinta mulai bergema pada Oktober 2015 lalu melalui gerakan nonton bareng (nobar). Biasanya, nobar menjadi salah satu sarana promosi film saat sudah tayang di bioskop. Untuk film Tausiyah Cinta, nobar dan masa tayang di bioskop berjarak hampir 3 bulan. Pada 7 Januari 2016, film Tausiyah Cinta baru muncul di bioskop dengan jumlah layar terbatas. Saya menjadi salah satu orang yang (bela-belain) nonton di hari pertama tayang di bioskop itu.  



 Tiga Tokoh Film Tausiyah Cinta

Lefan Aurino, seorang eksekutif muda, konseptor bangunan. Karirnya sukses, mendapat sorotan positif dari media; wajah close-up-nya menghias satu majalah nasional. Lefan tinggal bersama kakaknya, seorang daiyah yang sibuk dakwah ke mana-mana. Ibu Lefan telah tiada dan ayahnya sudah memiliki istri lagi. Lefan menyimpan emosi negatif terhadap kondisi keluarganya. Ia menuding kakaknya hanya bisa berdakwah untuk orang lain tetapi gagal mendakwahi keluarganya sendiri. Ia selalu sinis dengan uluran keakraban dari ayahnya. Lefan Aurino seolah menjadi gambaran lajang kota yang sukses di karir dan usahanya, namun merana di rumah.



Azka Pradipta, memiliki keluarga yang hangat dan penuh perhatian. Meskipun menetap dan berkarir di Jakarta sebagai arsitek, hubungan dengan ayah-ibu serta adik perempuannya di Surabaya tetap terjalin akrab. Azka juga seorang penghafal Al Qur’an (Hafiz). Ia rutin muroja’ah (mengulangi hafalan ayat Al Qur’an) bersama sesama hafiz lainnya. Teman dan ustad pengajian yang diikuti Azka sangat peduli pada kehidupan pribadinya. Semua itu ditambah dengan sosok dan wajah Azka yang good looking. Kehidupan dan pribadi seorang Azka tampak sempurna.




Rein juga menjalani kehidupan dengan keluarga yang mirip dengan Azka. Ibu yang rajin mengikuti pengajian. Ayah dan adik yang selalu menawarkan kehangatan dan canda tawa. Rein juga mahasiswi Teknik Lingkungan yang berprestasi. Disain rancangan pengolahan air limbah wudhu-nya dianggap cemerlang oleh dosen dan memenangkan satu kompetisi rancang-disain. Rein selalu mengenakan jilbab lebar dan pakaian longgar yang terlihat fashionable. Meskipun begitu, Rein bukan perempuan kemayu. Ia biasa naik ojek dan suka memanah. Beberapa pria mengincar Rein untuk dijadikan calon istri. Satu dua orang menyatakan secara terbuka bahwa mereka menginginkan Rein jadi pendampingnya.

Ketiga anak manusia itulah yang sosoknya terdapat di dalam poster film Tausiyah Cinta. Sekilas, kita mungkin menerka bahwa film produksi Beda Sinema itu akan mengusung tema cinta segitiga. Nyatanya, film Tausiyah Cinta menceritakan cinta dalam banyak segi dengan tokoh utama Lefan, Azka, dan Rein. Ketiga tokoh itu bertemu saat Rein mempresentasikan ide pengolahan air limbah wudhu pada satu kompetisi disain proyek. Berawal dari konsep disain pengolahan air limbah wudhu inilah mengalirlah konflik kehidupan ketiga tokoh itu. Kehidupan yang jarang ditampilkan oleh film-film nasional era pasca reformasi. Kehidupan anak-anak muda aktivis dakwah.  




Tokoh Film Tausiyah Cinta sebagai Produk Dakwah

Anggaplah Lefran, Azka dan Zein berusia di kisaran usia 25 tahun. Artinya mereka lahir sekitar tahun 1990. Masa kanak-kanak mereka sudah diwarnai oleh televisi swasta, namun belum terpapar dunia maya. Masa remaja mereka menghirup udara reformasi. Ketiganya tumbuh dan berkembang dewasa bersama ceramah yang mulai jadi hiburan, jilbab menjelma dari penutup aurat muslimah menjadi komoditas fashion yang omsetnya menggiurkan, serta evolusi gadget yang menjadi identitas diri dan kebutuhan primer kekinian. Perubahan yang sangat cepat di berbagai segi kehidupan sejak tahun 1990-an namun berhasil menampilkan sosok Azka yang mampu menghafal surah-surah Al Qur’an tetapi tampil modern dan Rein yang berjilbab rapi serta berprestasi secara akademis dapat dimaklumi karena orangtua mereka adalah aktivis dakwah atau dekat dengan dunia dakwah. Dan itulah fakta yang ditampilkan film Tausiyah Cinta.  

Adapun Lefran dalam film Tausiyah Cinta tidak diperlihatkan detil bagaimana masa pengasuhan orang tuanya. Hanya beberapa adegan menyiratkan  kekecewaan dan kemarahan Lefran kepada ayah dan kakak yang sibuk berdakwah dan lupa dengan keluarga. Dari sosok Elfa (Hidayatur Rahmi), kakak Lefran yang daiyah, dapat disimpulkan bahwa Lefran pun dekat dengan dunia dakwah. Sedikit banyak kakaknya memengaruhi Lefran meskipun Lefran sendiri menuding sang kakak lebih mengutamakan dakwah kepada orang lain, bahkan melupakan keluarga. Keluarga yang dimaksud adalah Lefran sendiri. Sebab mereka tinggak berdua bersama pembantu. Penyebutan keluarga ini bisa membuat bingung karena keluarga dipersepsikan sebagai ayah-ibu dan anak-anaknya yang masih perlu perhatian besar.

Hidayatur Rahmi sebagai Elfa, kakak Lefan

Orang-orang yang aktif dalam kegiatan dakwah biasanya memiliki konsep diri yang positif tentang dirinya. Konsep diri (self-concept) adalah kesadaran seseorang mengenai dirinya. Deaux, Dane, & Wrightsman (1993) mengemukakan bahwa konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenai dirinya. Keyakinan itu dapat berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, dan lain sebagainya. Aktivis dakwah  cenderung memiliki perasaan dan keyakinan positif mengenai dirinya. Mereka bangga dan senang berotasi di dunia dakwah, sebab pahala dan surga akan menjadi balasannya.

Konsep diri yang positif ini bisa diturunkan kepada anak-anaknya, namun tidak menjamin mereka kuat dalam menghadapi rintangan dan cobaan dari Allah Swt. Konsep diri yang positif terhadap dirinya terlihat pada Azka, Lefran, dan Rein. Namun saat mendapat cobaan, Azka terlihat rapuh juga, sedangka Lefran menjadi lelaki mellow saat tidak bisa meraih apa yang diinginkannya. Sedangkan tokoh Rein tidak diperlihatkan mendapat cobaan yang berarti kecuali kegalauan, bimbang dan ragu saat dihadapkan soal pilihan pendamping hidup.

Konflik orang-orang yang memiliki konsep diri positif namun bisa galau juga saat mendapat cobaan Allah Swt inilah yang belum tergarap rapi dan halus dalam alur cerita film Tausiyah Cinta. Lefran sebagai tokoh yang membuka cerita dengan konflik dakwah sang kakak tidak menjadi ‘planet’ dengan tokoh-tokoh lain sebagai satelitnya. Azka, Lefran, dan Rein harus berbagi porsi cerita dalam durasi 2 jam saja. Penceritaan mereka pun harus diselingi  munculnya tokoh Afian (Zaky Ahmad Riva’i) yang menjadi penutup penting cerita Tausiyah Cinta. Mungkin jika penulis skenario fokus mengembangkan konflik dan subkonflik pada Lefran saja, alur film ini dapat berjalan mulus tanpa kesan lompat-lompat, atau datang-lenyap. 

Mungkin ketidakfokusan cerita terjadi karena keinginan yang begitu kuat untuk menasihati para penonton yang diproyeksikan sebagai aktivis dakwah. Dugaan itu diperkuat dengan pencantuman subtittle terjemahan ayat-ayat Al Qur’an yang beberapa kali dilafalkan para pemainnya. Nasihat-nasihat verbal pun kerap muncul melalui mulut para tokoh. Keverbalan nasihat ini juga mungkin karena sasaran penonton adalah orang-orang yang jarang menonton film sehingga perlu dinasihati dengan kalimat-kalimat langsung. Bagi aktivis dakwah, bisa jadi merasa tertampar setelah menonton film ini, akibat berbagai pesat tersurat dan nasihat dalam film Tausiyah Cinta. 

Bersambung... ke sini 

Produser               : Suwandi Basyir, Azwar Armando
Sutradara              : Humar Hadi
Penulis                : Nadia Silvarani, Maryah El Qibthiyah, Yuli Retno Winarsih, Humar Hadi
Pemeran               : Hamas Syahid Izzuddin, Ressa Rere, Rendy Herpy
Durasi                   : 100 menit
Rating                   : 13+

Sumber foto @tausiyahku
Comments
4 Comments

4 komentar:

  1. analisisnya bagus, tapi kalau liat ulasan kang koko, filmnya tampak menggurui yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan nonton aja Hilman ^_^...

      Hapus
  2. Memang sulit memadukan beberapa hal sekaligus, mendakwahi sekaligus mengisahkan. Tapi, sebenarnya orang dewasa itu juga bisa kok, menangkap pesan2 tersirat. Jadi tak harus tersurat. Bagaimanapun, tetap salut dengan tim Tausiyah Cinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi pengen bikin versi novelnya yang lebih fokus

      Hapus