Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 11 Januari 2016

Antimainstream, Jalan Terjal, dan Niche Market; Resensi Film Tausiyah Cinta Bagian 2

Film Tausiyah Cinta hadir berdasarkan puisi dalam buku yang berjudul sama. Buku itu merupakan kumpulan tweet dari akun @tausiyahku dan web tausiyahku.com. Popularitas akun dan web itu merupakan salah satu pemicu diangkatnya Tausiyah Cinta ke layar Lebar. Hasilnya, film yang antimainstream, namun harus melewati jalan terjal dalam proses pembuatannya.


Antimainstream dalam Film Tausiyah Cinta    

Beberapa hal bolehlah disebut antimainstream dalam film Tausiyah Cinta. Misalnya sosok Rein yang seolah menjadi ‘rebutan’ pria-pria tampan, jauh dari tampilan fisik ala gadis-gadis sampul atau pemilihan ratu kecantikan. Tokoh Rein selalu berbalut pakaian gamis dan jilbab panjang. Bahkan saat bermain-main di perairan air terjun saja, Rein masih mengenakan kaus kaki. Ayunan kaki rein yang masih terbungkus kaus di dalam air itu bahkan ditangkap (capture) secara khusus.

Di beberapa publikasi filmnya, Rein juga digambarkan mahir memanah. Tapi tidak ada adegan yang memperlihatkan kemampuan memanah Rein bak Katniss Everdeen dalam film trilogi The Hunger Games. Rein hanya diperlihatkan secara close up sedang melepas anak panah dan memegang busur panah bersama teman-temannya saja. Mungkin orang-orang yang berharap kemampuan memanah Rein seperti Katniss akan kecewa setelah menyadari bahwa kemampuan memanah Rein tidak ditunjukkan seperti Katniss.

Rein vs Katniss

Salah satu klimaks dalam film Tausiyah Cinta pun berusaha antimainstream. Beberapa film islami berusaha menampilkan klimak dan antiklimaks dengan resolusi di rumah sakit. Sebut saya Ayat-ayat Cinta dengan klimaks penabrakan atas Maria dan Surga yang Tak Dirindukan dengan penusukan Pras oleh preman asing. Tokoh-tokoh yang berkonflik menyelesaikan masalahnya di rumah sakit. Pada film Tausiyah Cinta, tokoh Azkalah yang terpilih mendapat cobaan antimainstream. Saat Azka meninjau salah satu proyek perumahan yang dirancangnya berdiri di bawah lampu hemat energi jenis Essential. Lampu itu jatuh, pecah. Pecahan kaca lampu secara dramatis melukai wahah Azka dan masuk ke matanya sehingga menyebabkan kebutaan permanen. Mari kita simulasikan, apakah mungkin pecahan lampu Essential dapat terpantul cukup tinggi sehingga mencapai wajah dan mata orang yang berdiri. Lampu Essential sudah dirancang dengan safety cukup akurat sehingga tidak begitu membahayakan saat jatuh dan pecah di lantai. Logika buta dengan pecahan lampu memang antimainstream namun di luar logika.

Pemeran-pemeran pembantu yang tampil dalam Tausiyah Cinta pun antimainstream sulit kita temukan di film Indonesia pada umumnya. Ada Peggy Melati Sukma yang tampil sebagai Ibu Rein. Peggy Melati Sukma yang kini tampil dengan busana muslimah rapi sangat selektif memilih peran. Tanpa ada misi dakwah besar, kemungkinan Peggy terlibat dalam satu film itu kecil sekali. Begitu juga dengan Ustad H. Hilman Rosyad Shihab, Lc. sebagai ayah Rein. Ayah tiga empat anak itu memiliki kesibukan yang luar biasa. Ia merupakan Dewan Syariah Dompet Peduli Ummat DT Bandung, Dewan Pengawas Dompet Dhuafa Bandung, juga mengasuh beberapa majelis pengajian. Tentu ia memiliki pertimbangan sendiri yang dipikirkan secara matang untuk terlibat di film Tausiyah Cinta.

Kisah kehidupan aktivis dahwah dengan berbagai detil kesehariannya saja sudah merupakan antimainstream tersendiri untuk satu film Indonesia. Terlebih film ini dipasarkan melalui jejaring bioskop komersial. Keterlibatan aktivis dakwah dalam kebudayaan, apalagi budaya populer masih menjadi perdebatan sampai hari ini. Bahkan keputusan untuk menjadikan bioskop sebagai sarana dakwah pun masih ditolak oleh sebagian aktivis dakwah. Hadirnya Tausiyah Cinta di bioskop yang mengangkat kisah kehidupan aktivis dakwah menjadi warna tersendiri dalam khasanah film Indonesia. Sayangnya, kisah aktivis dakwah yang antimainstream itu masih terjebak kisah cinta bersegi yang sudah terlalu mainstream.

Jalan Terjal Film Tausiyah Cinta    

Sebelum tayang di bioskop, Tausiyah Cinta sudah diputar dalam berbagai forum tertutup. Kritikan soal sinematografi dan cerita tentu mengalir deras. Terlebih jika film ini dikaji oleh orang-orang sufi (Suka Film) dan membandingkan keindahan gambar film Tausyiah Cinta dengan film lain semisal Eat Pray Love  atau film Indonesia semacam Laskar Pelangi. Sebagian lain, mungkin mencela film Tausiyah Cinta dan mengatakan sinetron banget karena pengambilan gambar tokoh didominasi dengan close up ala sinetron Indonesia. Namun gambar rasa film tetap ada dengan usaha sutradara untuk menampilkan suasana pemandangan latar cerita yang beragam.

Dibalik kelemahan di berbagai aspek sinematografi film Tausiyah Cinta, cobalah kita lihat jalan terjal yang dilalui produser untuk membuat film ini. Berdasarkan penuturan Irfan Hidayatullah, dosen FIB Unpad yang mengasuh mata kuliah film, Tausiyah Cinta dikerjakan oleh orang-orang sibuk yang mempunyai pekerjaan lain daripada membuat satu film. Terlebih para pemainnya. Contohnya saja Ustad Hilman Rosyad yang hanya bisa syuting di akhir pekan saja. Itu pun harus berbagi dengan kesibukan beliau mengisi kajian keislaman. Belum lagi beberapa munsyid seperti Irfan Muhammad, Afwan Riyadi, Doddy Hidayatullah dan banyak lagi tampil beberapa dalam beberapa adegan film.

Afwan Riyadi (Lead vocal Tim Nasyid Izzatul Islam) berperan sebagai Pak Ridwan, Dosen Rein

Irfan Muhammad, pernah aktif sebagai anggota tim nasyid F-One. Ia juga seorang model iklan
Doddy Hidayatullah, yang kini bersolo karir di Malaysia

Pemilihan pemeran yang ideal pun sempat membuat Humar Hadi sempat pesimis. Di satu acara workshop film, Humar Hadi sempat kesulitan mencari sosok pemeran Azka yang betul-betul mirip dengan realita kehidupan sehari-harinya. Produser pun khawatir dengan prospek film Tausiyah Cinta. Apakah nanti penonton mau datang ke bioskop untuk menyaksikan Tausiyah Cinta? Kekhawatiran itu bisa dimaklumi karena Tausiyah Cinta menyasar niche market. Menurut kamus Oxford: niche artinya “a specialized but profitable corner of the market” segmen pasar yang sangat spesifik tapi menguntungkan. Niche market itu adalah para aktivis dakwah.  

Niche Market Film Tausiyah Cinta    

Ya, kesinisan para sufi (suka film) terhadap Tausiyah Cinta dapat ditanggapi dengan mengatakan bahwa sasaran utama film Tausiyah Cinta adalah aktivis dakwah. Saya pun telah membuktikannya saat menonton film ini pada penayangan perdana di CGV Blitz Miko Mall, Bandung. Bisa saya pastikan 90% penonton yang memenuhi kapasitas 130-an kursi adalah aktivis dakwah dan keluarganya. Kok tahu? Alhamdulillah saya punya kemampuan sedikit bisa ‘membaca’ orang. Maka jika alay menonton film Tausiyah Cinta dan gagal paham dan tak bisa menikmati film ini, wajar saja. Bukan kehidupan alay yang diangkat dalam film Tausiyah Cinta.


Ustad Hilman Rosyad, salah satu magnet penonton Tausiah Cinta

Niche market aktivis dakwah ini juga mungkin cukup berhasil mengumpulkan penonton dari kalangan aktivis dakwah. Indikasinya terlihat dari penambahan jumlah layar bioskop pada hari ketiga. Contohnya saja di CGV Blitz Miko Mall Bandung yang menambah jumlah layar dari 3 studio menjadi 5 studio pada tanggal 9 Januari 2016. Di kota lain pun, mungkin terjadi penambahan layar, mengingat film ini hanya hadir di satu cabang bioskop pada satu perusahaan jejaring bioskop. Para aktivis dakwah tampaknya mengajak rekan-rekannya untuk menonton film ini. Lihat saja nobar-nobar yang diadakan berbagai lembaga dakwah di beberapa kota.  



Akhirnya, film ini merupakan salah satu proses bagi para aktivis dakwah untuk melakukan syiar melalui media layar lebar. Sebagai proses, sulit menghasilkan film langsung bagus. Mungkin butuh bilangan tahun dan puluhan film islami yang benar-benar dibuat para aktivis dakwah dahulu untuk menghasilkan film islam dan islami yang betul-betul berkualitas. Mari kita nikmati saja, mengapresiasi Tausiyah Cinta dan menanti hadirnya kembali film-film islami lainnya. Film Ketika Mas Gagah Pergi sudah terjadwal tayang tanggal 21 Januari 2016. Kita akan menyaksikan lagi peran Hamas Syahid Izzudin di sana. Kita tunggu saja.  



Produser               : Suwandi Basyir, Azwar Armando
Sutradara              : Humar Hadi
Penulis                : Nadia Silvarani, Maryah El Qibthiyah, Yuli Retno Winarsih, Humar Hadi
Pemeran               : Hamas Syahid Izzuddin, Ressa Rere, Rendy Herpy
Durasi                   : 100 menit
Rating                   : 13+

Kembali ke Resensi Film Tausiyah Cinta Bagian 1

Sumber foto @tausiyahku
Comments
12 Comments

12 komentar:

  1. Sejujurnya, agak sedih ketika mendengar kalangan awam mengatakan bahwa film ini ga bermutu, ga jelas alurnya, dll. Semoga dapat lebih baik lagi untuk film Islami lainnya. Amat menantikan film keren KMGP di bioskop. Semoga sesuai ekspektasi saya yang cukup tinggi :)

    BalasHapus
  2. Bergizi postingnya mas koko :)

    Film islami produksi anak negeri memang harus berjuang lbh keras lg utk memperbaiki aspek teknis perfilman.

    Tp ttp salut dg semangatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jadi pemicu untuk film Islam berkualitas lainnya

      Hapus
  3. Suka banget foto akhwatnya euy ... sumpah ... anti mainstream :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata Mas Ali begitu, ya... :-P

      Hapus
  4. Mengatakan "Sebagai proses, sulit menghasilkan film langsung bagus." kayak apologi ya, Mas. Tapi asyik tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berusaha adil dalam memberikan penilaian aja, sebab sang sutradara, Humar Hadi, jam terbangnya belum selevel dengan Garin Nugroho

      Hapus
  5. Di Tegal ada nggak ya, hehe. Nungguin juga. Karena di sini nggak ada bioskop XXI, kak. Adanya bioskop GMC :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan tayang tanggal 21 Januari nanti di Tegal nanti, ya

      Hapus
  6. Kereeen resensinya, ulasanya tajam. Sayang aku enggak bisa nonton. Huaah udah gatel aja pengen nonton di bioskop dan mengulas setajam kayak gini hihihi.... semoga Mas Gagah bis alama tayang di bioskop kelak ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera ada versi yang bisa ditonton secara online

      Hapus