Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 24 Desember 2015

Manual Coffee Brewing di Yellow Truck Coffee

Apa yang istimewa dari seduhan biji kopi? Lebih gampang minum kopi sachet, kan. Praktis membuatnya dan enak rasanya. Itu pertanyaan dari peminum kopi awam yang mengawali kebiasaan minum kopi dengan kopi bubuk dan sachet seperti saya. Minggu lalu pertanyaan saya terjawab di Yellow Truck Coffee


Manual Coffee Brewing di Yellow Truck Coffee

Yellow Truck Coffee yang saya kunjungi berlokasi di Jalan Linggawatu No 11, Bandung. Lokasinya tidak jauh dari bundaran patung Wastukencana, menyempil di antara kos-kosan dan ruko. Bangunannya berupa rumah tempo dulu yang memanjang ke belakang. Yellow Truck Coffee ini merupakan satu dari lima Yellow Truck Coffee yang ada di Bandung.

Dapur Saji Yellow Truck Coffee
Dapur Saji Yellow Truck Coffee Bandung.
Dekorasinya memanfaatkan plat kendaraan bermotor. Ada maknanya nggak, ya? 


Siang itu, Yellow Truck Coffee  mengadakan Manual Coffee Brewing Workshop. Saya adalah satu dari belasan peserta yang akan diajari menyeduh kopi setahap-demi setahap dari biji kopi asli. Sebelumnya, Yellow Truck Coffee juga pernah mengadakan workshop, tetapi sebatas pengenalan alat-alat untuk membuat berbagai macam kopi saja.
Hans (tengah) di Yellow Truck Coffe

Kami dipandu oleh salah satu barista Yellow Truck Coffee, Hans namanya. Saya sempat bertanya, apakah dia belajar di sekolah khusus untuk meramu kopi? Hans mengaku ia belajar secara otodidak saja. Selain itu, ia juga sering mengikuti kompetisi meramu kopi.

Tahapan Manual Coffee Brewing di Yellow Truck Coffee

Sebelum workshop dimulai, saya mengamati peralatan-perlatan yang akan digunakan untuk meramu kopi. Seperti inilah penampakannya.

Berbagai Peralatan Manual Breweing di Yellow Truck Coffee
Peralatan Manual Breweing di Yellow Truck Coffee

1. Membilas Peralatan
Semua peralatan yang digunakan dibilas dengan air hangat, baik wadah penampung kopi, maupun kertas saring yang akan digunakan untuk memisahkan cairan kopi dari padatannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada zat-zat pengotor yang dapat memengaruhi cita rasa kopi.  

Membilas kertas saring sebelum manual coffee brewing di Yellow Truck Coffee
Membilas kertas saring dengan air hangat sebelum digunakan

2. Menakar dan Kalibrasi
Takaran dan ukuran akan menentukan rasa. Itu yang saya tangkap dari penjelasan Hans, kenapa biji kopi harus ditakar dulu. Perbedaan berat 1 gram, bahkan 1 mikrogram sebenarnya memberikan cita rasa yang berbeda pada seduhan kopi.

Menakar kopi sebelum manual coffee brewing di Yellow Truck Coffee
Menakar biji kopi sebelum menggiling
Alat penggiling kopi juga dipakai untuk menggiling beberapa gram biji kopi dari jenis yang akan diseduh terlebih dahulu. Hasil gilingannya disisihkan saja. Tujuannya, agar bubuk kopi yang tersisa pada penggiling sama jenisnya.

3. Menggiling Biji Kopi
Hans menakar 16 gram biji kopi dengan asumsi 1 gramnya akan tertinggal di alat penggiling. Ukuran serbuk kopi disetel 2.5 atau medium. Tombol giling pada alat ditekan, kopi digiling menjadi serbuk dengan kecepatan konstan. Kecepatan menggiling juga turut menentukan rasa kopi. Maka dari itulah, jika seseorang belum bisa menggiling kopi dengan tangan yang berkecepatan konstan, Hans menyarankan agar menggiling kopi dengan mesin giling saja.

Menggiling biji kopi di Yellow Truck Coffee
Menggiling biji kopi
Begitu bubuk kopi keluar dari alat penggiling, Has segera menutup bubuk kopi itu dengan kertas saring, agar aromanya tidak menguap ke udara.

4. Menyeduh Kopi
Hans menuangkan bubuk kopi ke atas kertas saring yang berbentuk kerucut dan telah dibilas dengan air hangat. Pria berambut keriting itu menyalakan timer, kemudian membasahi seluruh permukaan bubuk kopi dengan air hangat 90oC, lalu membiarkannya sejenak. Tujuannya untuk membiarkan pori-pori serbuk kopi terbuka terlebih dahulu.

Setelah timbul lubang-lubang kecil pada permukaan kopi, Hans menuangkan air hangat 90oC lagi dengan cara berputar, agar seluruh bubuk kopi terekstrak. Total air yang digunakan untuk membasahi dan mengesktrak adalah 200ml. Air yang digunakan air kemasan galon. Ph (derajat keasaman) air kemasan juga turut menetukan rasa kopi.

Proses penyeduhan kopi di Yellow Truck Coffee
Proses penyeduhan atau ekstraksi dimulai
Setelah timer menunjukkan waktu 120 detik, kertas saring diangkat, seduhan kopi dituangkan ke cangkir-cangkir kecil. Hans menawari kami untuk mencicipi kopi hasil seduhannya itu.  

5. Menghirup kopi selagi hangat
Hans mengajari kami cara menikmati kopi yang masih hangat itu. Caranya, rasakan aroma kopi, kemudian kopi dihirup cepat dan sebarkan cairannya di seluruh permukaan lidah agar panasnya tidak terasa dan ‘rasa’ kopi tercecap semua.

Menikmati aroma kopi Yellow Truck Coffee
Menikmati aroma kopi

“Buah apa yang terasa di kopi, ini?” tanya Hans pada kami.
Saya termangu. Emang ada rasa buah, ya? Lidah saya belum terlatih. Yang jelas di lidah saya, kopi seduhan Hans ini beda dengan kopi sachet. Rasa kopi asli, tapi tidak pahit dan agak asam.
“Markisa, ya?” ujar Bunda Intan, salah satu peserta workshop.
“Ada asam-asamnya, gitu” celetuk saya.
“Ini kopi bali. Pada kopi bali rasa citrus yang kuat.”
Citrus? Jeruk? Pantas saya pernah minum kopi bali kok rasanya asam.

Hans menjelaskan, bahwa kopi seduhannya itu akan semakin terasa asam seiring waktu. Jadi banyak sekali faktor yang memengaruhi rasa kopi. Temperatur cairan, lama penyeduhan, jumlah serbuk kopi, peralatan, dan banyak lagi. Wajar saja jika secangkir kopi asli yang enak itu mahal harganya, kan?

Mencoba Manual Coffee Brewing
Hans mempersilakan kami untuk menyeduh kopi sendiri dengan tahapan yang sudah diperagaknnya. Saya menjadi peserta yang mencoba untuk pertama kalinya! Saya lakukan tahapan-tahapannya dengan banyak bertanya. Dalam hitungan menit saja, saya sudah berhasil menyeduh kopi. Biji kopi yang saya gunakan adalah kopi asal Garut, Jawa Barat.

Soal rasa, memang berbeda dengan kopi Bali. Rasanya lebih strong. “Bagaimana kalau ditambah gula, Hans?” tanya saya.

Hans tidak merekomendasikan minum kopi yang baru diseduh secara manual brewing dengan gula. Sebab kopi sebenarnya sudah memiliki rasa manis yang khas. Penambahan gula akan membuat manis khas kopi hilang.

Sore itu saya mendapatkan pelajaran berharga di Yellow Truck Coffee. Mungkin wawasan dan pengetahuan yang saya peroleh bisa disebut filosofi kopi. Satu ide melintas di kepala saya, bahwa teman-teman saya penikmat kopi sachet harus mencoba manual coffe brewing suatu hari nanti.


Yellow Truck Coffe and Tea co
Jln Linggawastu 11 Bandung
@yellowtruckcoffe  

Jam operasional 09.00-23.00WIB
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Wah, iya. Aku suka kalau minum kopi di cafe coffe yg bener-bener dibuat dari tahap awal (biji-diseduh). Memang rasanya lebih nikmat dan harganya juga -_-

    BalasHapus