Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 24 November 2015

Pemberitaan Eva Arnaz, yang Dulu Begitu

Saya menghela napas saat membaca judul-judul berita tentang Eva Arnaz, beberapa hari ini. Judulnya bombatis dan cenderung menyudutkan. Keadaannya saat ini dan dulu dibanding-bandingkan.


Eva Arnaz Dulu

Di tahun 90-an, saat saya masih kecil, sosok Eva Arnaz katanya sangat terkenal. Namun yang paling saya ingat, Eva Arnaz sering muncul di film Warkop DKI (Dono Kasino Indro). Sosoknya dahulu di ingatan saya memang seperti yang digambarkan oleh beberapa portal-portal berita on-line itu.

Maka dari itu, perubahan penampilan dan profesinya saat ini menarik untuk diungkap kepada masyarakat umum? Kenapa perlu diungkapkan penampilan dan profesinya yang kontras dulu dan sekarang? Karena judul berita yang kontras akan menimbulkan ketidakpastian.
“Bener, nggak sih, Eva Arnaz yang itu?”
“Masa iya bintang film anu sekarang jadi wanita berjilbab rapi?”
“Mungkin Eva Arnaz yang lain.”
Ketidakpastian dari berita yang kontras dan mengejutkan menyebabkan rasa ingin tahu atau curiosity. Menurut Berlyne yang mengemukakan teori curiosity, ketidakpastian akan menimbulkan rangsangan tinggi pada sistem saraf pusat kita sehingga mengarahkan kita untuk mengurangi ketidakpastian itu. Soal berita Eva Arnaz itu, cara mengurangi ketidakpastian adalah membaca berita lengkapnya.

Kita sebagai netizen akan klik tautan, menyusuri berita pada halaman portal. Kita membaca berita sampai tuntas sehingga berkuranglah ketidakpastian itu. Masalahnya, saat kita masuk ke portal sekadar untuk membaca berita, berbagai iklan yang menggoda akan menghadang. Berita itu menjadi umpan untuk menggiring netizen masuk dan melakukan aktivitas lebih jauh di portal itu. Misalnya klik banner iklan, atau membaca berita-berita lainnya sehingga menyumbang page view dan lalu lalang netizen di potal itu.    

Bagi saya, cukup baca beritanya, lalu tutup halaman portalnya. Beberapa kali, pernah juga klik berita-berita lainnya karena judulnya benar-benar menimbulkan curiosity. Nah, bagi orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu atau curiosity yang tinggi terhadap Eva Arnaz (mungkin fans berat Eva Arnaz dulu) membaca beritanya saja tidak cukup. Harus bertemu langsung dengan Eva Arnaz, mengunjugi toko bajunya atau warung lontong sayurnya. Untunglah saya bukan fanz berat Eva Arnaz.

Terlepas dari rasa ingin tahu atau curiosity netizen, saya menyayangkan pemberitaan Eva Arnaz yang lebay, apalagi dengan menggunakan istilah Bom Seks, Artis Panas, Bintang Hot dan semacamnya. Mungkin Eva Arnaz dan keluarganya sedih membaca berita-berita itu. Namun di sisi lain, semoga pemberitaan tersebut merupakan ujian untuk ketaatannya menutup aurat dan cara Allah untuk semakin meninggikan derajatnya.   
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. Betul dan itu memang senjata bagi media agar orang membacanya. Kalau judulnya biasa-biasa saja mungkin tidak akan menyumbang traffic yang besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judul lebay itu sebanrnya kuterapkan juga di blog ini :-P

      Hapus
  2. ya eva arnaz sering maen di Warkop DKI, dulu sering sama Nurul Arifin, Gity Srinita, dan sederet artis lainnya. setting tempatnya pantai, wuiihhh asyiikk :-)

    BalasHapus