Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 05 Oktober 2015

Poligami itu HARUS


Poligami itu HARUS. Itulah catatan penting yang saya dapatkan saat menjadi peserta diskusi Poligami, Perselingkuhan, dan KDRT Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) bersama Aisha Maharani dan Irma Rahayu. Saya hanya 1 dari 2 peserta laki-laki di antara puluhan audiens, ibu-ibu dan perempuan muda. Sempat ketar-ketir, khawatir menjadi bulan-bulanan. Namun setelah mengikutinya, saya lega. Argumen dan opini yang dibangun Aisha Maharani dan Irma Rahayu tentang berimbang. Berikut beberapa fakta yang saya catat tentang poligami dan perlu diketahui banyak orang.

Hanya Islam yang Membahas Poligami? Tentu Tidak

Saat kita membahas poligami, seringkali perilaku pernikahan seorang pria dengan 2-4 wanita itu dikaitkan dengan Islam. Mungkin karena agama mayoritas di Indonesia adalah Islam. Sebab lain, pelaku poligami yang ramai dibicarakan adalah orang-orang berlabel ustad atau kyai di depan namanya. Padahal poligami juga dilakukan penganut agama lainnya sejak zaman dulu kala.

Pada Kitab Perjanjian Lama disebutkan bahwa Nabi Daud mempunyai 11 istri. Di kitab Perjanjian Baru hal ini sudah tidak kita temukan lagi. Namun faktanya di beberapa sekte agama Nasrani misalnya Mormon, malah mewajibkan poligami dalam satu rumah. 

Pada zaman Nabi Musa, praktik poligami pun telah dilakukan. Jadi kaum Yahudi juga tak luput dari poligami. Agama Budha tidak menetapkan hukum atau aturan rumah tangga. Hindu melarang poligami, kecuali bagi raja-raja diperbolehkan poligami guna mendapatkan keturunan untuk melanjutkan tahta kekuasaannya.

Alasan Pembatasan Poligami

Dari sekian banyak agama, memang Islam saja yang mengulas poligami secara tersurat beserta contoh sejarah dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabat. Ayat yang tersurat ada pada QS Annisa ayat 3
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ (٣)
Artinya : “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisaa : 3)

Sebab musabab turunnya ayat ini karena seorang anak yatim yang ingin dinikahi walinya yang ingin menguasai harta warisan si anak yatim. Allah memberi peringatan melalui surat ini. Sejak itu pula, poligami dibatasi; maksimal 4 istri! Kenapa cuma 4 istri saja? Allah Maha Tahu, namun Aisha Maharani beropini, kalau lebih dari 4, lieur (bahasa Sunda).

Sejarah kehidupan Rasulullah sudah memberi isyarat betapa tidak mudah Rasul membagi hari kepada istri-istrinya, sehingga sebagian istrinya protes. Atas protes dari para istri, Rasulullah mengatakan bahwa ia akan menceraikan mereka yang menganggap telah diperlakukan tidak adil. Namun, karena alasan menjadi pendamping Rasulullah adalah kemuliaan tersendiri, istri yang protes tersebut akhirnya berusaha menerima perlakuan Rasulullah yang sudah berusaha untuk adil itu.  


Rasulullah Poligami, Jadi Ikuti Saja. Sudah Tahu Secara Menyeluruh Kehidupan Poligami Rasulullah?


Rasulullah menikah lagi setelah pada usia 53 Tahun, setelah sebelumnya menjalani kehidupan rumah tangga monogami dengan Khadijah. Saat beliau masih muda, tawaran menikahi perempuan-perempuan cantik sering menghampirinya sebagai salah satu taktik untuk menyudahi dahwah Rasulullah. Namun sejarah mencatat, Rasulullah tidak pernah tergoda atau terbersit niat dalam hatinya untuk menikah lagi.

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah menikahi Aisyah yang masih gadis. Pernikahan mereka baru disempurnakan saat beliau hijah ke Madinah, saat Rasulullah berusia 61 tahun. Jadi ada jarak sekitar 8 tahun dari awal pernikahan. Maksud disempurnakan ini apa, ya? Silakan tebak sendiri ^_^ 

Selanjutnya Rasulullah menikahi beberapa wanita sebagai berikut:
1. Saudah binti Zam’ah, seorang janda berusia 70 tahun dengan 12 orang anak.
2.  Zainab binti Jahsyi, janda berusia 45 tahun.
3. Ummu Salamah, janda berusia 62 tahun.
4. Ummu Habibah, janda 47 tahun
5. Juwairiyah binti Al-Harits, janda berusia 65 tahun dengan telah punya 17 anak.
6. Shafiyah binti Hayyi Akhtab, janda berusia 53 tahun dengan 10 orang anak.
7. Maimunah binti Al-Harits, janda berusia 63 tahun.
8. Zainab binti Harits, janda 50 tahun yang banyak memelihara anak-anak yatim dan orang-orang lemah.
9. Mariyah binti Al-Kibtiyah, gadis 25 tahun yang dimerdekakan.
10. Hafshah binti Umar bin Khattab, janda 35 tahun.

Poligami yang dilakukan Rasulullah adalah bentuk perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim, dan itu atas wahyu Allah SWT. Poligami juga menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah sosial saat itu, ketika lembaga sosial belum cukup kukuh. Fakta sejarah ini mungkin belum banyak diketahui oleh pria-pria yang berniat ingin melakukan poligami. Selain Rasulullah tidak ada seorang muslim pun yang dibenarkan menikahi lebih dari empat wanita.

Utamakan Janda

Poligami adalah rukhsah (keringanan) bukan tujuan utama dan bukan pula anjuran. Situasi dan kondisi setiap orang, khususnya pria berbeda-beda. Maka poligami itu ada. Perlu diluruskan jika seorang pria melakukan poligami hanya karena pengen.
Aisyah Maharani setelah memaparkan istri-istri Rasulullah juga beropini, poligami itu utamakan janda. “Itu baru sunnah Rasul,” katanya. Rasulullah hanya menikahi 2 wanita yang berstatus gadis. Kenapa?

Gadis itu lebih posesif terhadap suami. Posesif adalah keinginan untuk memiliki dan takut kehilangan yang berlebihan. Salah satu bentuk perilaku yang ditunjukkan adalah rasa cemburu yang besar. Selevel Aisyah saja pernah merasa cemburu terhadap Khadijah karena Rasulullah sering menyebut dan memujinya.

Aisyah pernah berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-isrti Rasulullah kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebutnya setiap saat.

Jika seorang pria memilih gadis untuk istri kedua, ketiga, hingga keempat, seperti apa keseharian rumah tangganya? Entahlah.

Syarat Poligami

Dari surat ini juga ada syarat adil jika seorang pria ingin melakukan poligami. Dapatkah seorang pria berlaku adil dalam segala hal pada semua istrinya? Tanyalah pada istri yang dipoligami. Surprise bagi saya, karena di sesi diskusi, The Aisha Maharani menceritakan pengalamannya yang menjadi istri pertama. Pendiri halal corner itu saat ini tengah menjalani kehidupan poligami yang tidak mudah. 
   
Selain adil, syarat poligami lainnya menurut Ijma: mampu memberikan nafkah kepada para istri.
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ (٣٣)
Artinya : “dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nuur : 33)
Aisha Maharani menjelaskan bahwa nafkah yang wajib dipenuhi suami itu banyak macamnya. Naskaf rumah tangga, nafkah untuk istri, dan nafkah untuk anak itu berbeda. Bayar listrik, cicilan rumah, kendaraan dan operasional rutin rumah tangga lainnya itu termasuk nafkah rumah tangga. Nafkah untuk istri itu misalnya makanan dan pakaian yang layak, bahkan sampai urusan mempercatik dan merawat diri. Pendidikan yang bagus untuk anak, itu termasuk nafkah untuk anak.

Jika suami belum mampu memenuhi semua kebutuhan istri, kemudian istri bekerja untuk membantu memenuhi segala kebutuhan dirinya, anak-anak dan rumah tangga dengan bekerja, apa yang diberikan istri jatuhnya sebagai sedekah atau hutang. Suami harus menggantinya suatu hari nanti. Untuk meringankan sang suami, maka dari itu istri dan suami sebaiknya bersepakat, bahwa gaji sang istri adalah sedekahnya pada suami, bukan hutang.

Suami wajib memberi nafkah pada istri dan anaknya, sedang istri tidak wajib. Sekali lagi istri tidak wajib memberikan nafkah berupa gaji atau uang yang diperolehnya kepada suami. Ia bebas menggunakan uang yang diperolehnya asalkan baik peruntukannya. Dalam Islam, setelah menikah, perwalian wanita berpindah dari ayah kepada suami. Kasarnya, nafkah adalah harga yang harus dibayar suami karena telah mengambil hak ayah sang istri. Saat masih gadis, ayahlah yang berkewajiban memberi nafkah. Setelah menikah, kewajiban itu pindah kepada sang suami.

Setelah menguti diskusi Women Talk hari itu, saya mendapat cukup pencerahan tentang poligami. Semoga sepakat, kalau poligami itu memang HARUS.   

Hanya Islam yang sering dikaitkan dengan Poligami
Alasan pembatasan poligami memiliki hikmah tersendiri
Rasullullah berpoligami bukan karena masalah syahwat, pelajari sejarahnya
Utamakan janda jika ingin berpoligami
Syarat poligami harus dipenuhi
 
Ada 3 pria di foto ini. Dimanakah mereka? :-P


,
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Ampuuun judulnya provokatif. Udah mau ngomelin om Koko ajaa saya :). Keren sejarahnya lumayan lengkap. Ulasannya obyektif.... Pingin bljr nulis blog sedalam ini....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga masih belajar, Mbak Ifa. Kita belajar bareng, ya ^_^

      Hapus
  2. Judulnya....
    Ternyata...

    hehe, mantap mas Koko, kereen! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah berhasil membuat seorang blogger buku tenar membaca posting ini ^_^

      Hapus
  3. hehe..poigami selalu menarik utk dibahas, boleh sedikit ngasih masukan, Mas Koko,,,utk penulisan Rosululloh shollalloohu'alaihi wasallam, ditulis lengkap, tulisannya sangat bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik, terima kasih atas masukannya Eka. Tulisan ini memang belum banyak diedit

      Hapus
  4. nggak dibahas ya siapa Aisha Maharani itu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... iya, baru dicantumkan sebagai pendiri Halal Corner saja

      Hapus
  5. bagus euy. Emang "harus"! ada salah tulis aja, di kalimat "Selain adil, syarat poligami lainnya menurut Ijma: mampu memberikan naskah kepada para istri." Mungkin maksudnya memberikan NAFKAH ya. Kalau memberi naskah itu sama editor :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk... nggak tahu kenapa bisa salah ketik begitu. Terima kasih atas koreksinya

      Hapus