Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 22 Oktober 2015

Menyalurkan Emosi, Keluar dari Lingkaran Setan Masalah


Seorang teman pernah curhat, bahwa dia ingin bunuh diri. Masalah demi masalah harus dihadapinya dan cenderung masalah yang itu-itu saja sejak ia remaja, bahkan kanak-kanak. Kalau dari ceritanya, saya menilai, ada emosi negatif yang terjebak dalam dirinya. Emosi itu terus berputar di dalam tubuh; kepalanya sehingga masalah yang itu-itu saja menimpanya.

Apa Itu Emosi?

Emosi asal katanya emovere (bahasa Latin), yang berarti bergerak menjauh. Menurut Daniel Goleman yang menulis buku Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Emosi merupakan reaksi terhadap aksi yang kita terima dari luar diri. Peristiwa kematian orang yang kita cintai membuat kita bersedih. Secara fisik, kita akan menangis dan tersedu-sedu untuk beberapa saat. Emosi sedih telah mendorong kita melakukan perilaku tertentu yaitu menangis. Di lain hari, saat mendapat kabar kita memenangkan suatu lomba, timbullah emosi gembira yang membuat kita tersenyum dan tertawa. Seperti itulah emosi.

Jadi alami saja emosi berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi. Jika kita tidak punya emosi, kita akan mirip patung. Namun jika satu emosi, misalnya kesedihan terlalu menguasai diri, kita kurang bisa memikirkan dan melakukan hal lain sehingga timbullah masalah. Seperti kasus teman saya. Kesedihan atas kematian ibunya ternyata masih bersemayam dalam dirinya, bahkan bersekutu dengan mendung sehingga tiap mendung, kesedihan atas kematian ibunya hadir kembali. Padahal sesuai akar namanya, emosi itu harus bergerak dan berganti.

Berbagai Macam Emosi

Sebagian orang seringkali salah menggunakan kata ‘emosi’ Misalnya ketika diejek orang lain, kita mengatakan “Gue emosi, nih!” padahal maksudnya dia sedang marah. Kebelumpahaman sebagian orang terhadap makna kata emosi seringkali membuat mereka menyamakan emosi dengan marah. Padahal emosi banyak macamnya.  

Beberapa tokoh mencetuskan berbagai macam emosi. Misalnya saja Descrates yang membagi emosi jadi:
·        Desire (hasrat)
·        Hate (benci)
·        Sorrow (sedih/duka)
·        Wonder (heran)
·        Love (cinta)
·        Joy (kegembiraan).

Emosi banyak macamnya

Tokoh lain yaitu JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu :
·        Fear (ketakutan)
·        Rage (kemarahan)
·        Love (cinta)

Sedangkan Daniel Goleman mengemukakan beberapa jenis emosi yang lebih bervariasi, antara lain:
·        Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati.
·        Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa.
·        Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri.
·        Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga.
·        Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kemesraan.
·        Terkejut : terkesiap, terkejut
·        Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka.
·        Malu : malu hati, kesal

Irma Rahayu dalam bukunya Emotional Healing Therapy membagi emosi menjadi emosi positif dan negatif. Semua emosi yang membuat kita terlihat senang dimasukkan ke dalam kategori emosi positif, sedangkan emosi yang membuat kita tampak sengsara masuk ke dalam kategori emosi negatif. Namun baik emosi positif maupun emosi negatif ini sama pentingnya dan harus seimbang. Nggak lucu kan kalau kita terlihat gembira pada saat datang melayat kerabat yang meninggal dunia?

Berbagai macam emosi itu akan tetap ada, selama kita masih menjadi manusia. Jika emosi hilang dalam diri, mungkin  kita akan seperti zombi kali, ya? Emosi akan menentukan sikap dan perilaku selama kita masih hidup. Jadi kita harus bagaimana agar emosi-emosi ini terkendali dan tidak berdampak buruk pada diri kita? Menurut The Irma Rahayu, caranya gampang tetapi pelaksanaannya tidak mudah. Salurkan saja emosi itu.   

Menyalurkan Emosi

Emosi seperti air, harus mengalir. Air yang dibendung, tanpa saluran sama sekali, akan menjebol bendungan itu suatu hari nanti. Air yang dibiarkan meluap, tumpah ruah juga menjadi banjir yang dapat mendatangkan banyak kerugian. Hanya air yang mengalir, ditata dengan baik alirannya saja yang bisa mendatangkan banyak manfaat dan nikmat. Begitu juga dengan emosi.

Emosi yang dipendam akan berdampak buruk terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Pada Jasmani, emosi yang dipendam itu akan bermukim di organ tertentu dan menjadi penyakit di sana. Pada rohani, emosi yang terpendam menjadi penyakit mental seperti fobia, trauma, dan lainnya yang tidak mengancam jiwa dalam waktu cepat, namun akan menurunkan kualitas  hidup kita secara menyeluruh.


Memendam emosi
Emosi yang diluapkan atau dilampiaskan seketika, tentu saja akan membuat orang atau lingkungan sekitar kita tidak nyaman. Misalnya saat marah, kita membanting benda-benda yang bisa dicapai sambil mengucapkan sumpah-serapah. Mungkin setelah meluapkan emosi seperti itu kita seolah lega, namun timbul masalah baru. Ada orang yang tersinggung dengan ucapan kita yang marah itu atau benda-benda yang rusak.

Cara menyalurkan emosi yang diterapkan oleh Teh Irma Rahayu sangat sederhana. Yaitu dengan menerima emosi itu sebagai fitrah hidup kita sebagai manusia.
Mengalirkan atau menyalurkan emosi, karenanya, menjadi hal yang penting untuk kita pelajari. Secara sederhana, mengalirkan atau menyalurkan emosi itu sama dengan menerima emosi sebagai bagian dari fitrah kita sebagai manusia. Jika kita marah, takut, sedih, malu, jengkel terima dan akui saja. Jika harus berteriak, menangis, dan melakukan perilaku lain dalam rangka mengakui keberadaan emosi itu lakukan saja di tempat yang aman dan nyaman.  

Selanjutnya, Teh Irma Rahayu menyarankan kita untuk mengomunikasikan emosi itu pada orang yang menyebabkan emosi itu muncul dengan cara yang santun. Jika tidak bisa berkomunikasi langsung, hadirkan sosoknya dalam benak kita dan bicaralah padanya. Terakhir berkomunikasi dengan Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Yang Mahatinggi itu.

Terdengar gampang sekali, ya? Padahal praktiknya tidak. Maka dari itulah Teh Irma Rahayu membuka kelas-kelas Emotional Healing Therapy di berbagai kota. Informasi kelas biasanya ada di twitter @irmasoulhealer atau Facebook fanspage Irma Rahayu. Setelah mengikuti kelas, diharapakan peserta dapat berlatih menyalurkan emosinya dan di kemudian hari membantu keluarga dan kerabatnya untuk bisa menyalurkan emosi juga. Jika emosi itu mendapat saluran, insya Allah ia dan keluarganya dapat keluar dari lingkaran setan masalah.  



Comments
7 Comments

7 komentar:

  1. Om Kokooo thank you pencerahannya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah sempatkan watu unruk mampir Mbak Ifa

      Hapus
  2. Mas Koko, berarti tahapan untuk menanggulangi emosi negatif itu begini ya: Aku > luapkan > komunikasikan > berdoa.

    Yang paling sulit adalah pas tahap mengkomunikasikan ke orang yang menyebabkan emosi kita muncul.

    Tapi saya percaya kalau emosi itu memang harus dikeluarkan, jangan dipendam. Asal caranya yang aman dan nyaman.

    BalasHapus
  3. maksudnya tahapan pertama itu: Akui

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Misalnya dengan mengucapkan: aku marah dengan ucapan kamu yg merendahkanku itu, sambil membayangkan orangnya

      Hapus
  4. jadi kalau ada yg ngomong "aku sedang emosi" itu maknanya bisa sedang marah, bahagia, benci, cinta, dll ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau intonasi tinggi, muka cemberut, dan ekspresi kayak mau makan orang, kita tahu yang dimaksud emosi oleh orang itu adalah marah... ^_^

      Hapus