Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 06 Oktober 2015

Lelaki yang Mencintai Pohon

Aku akan menceritakan kepadamu, satu kisah yang kudapatkan saat melakukan perjalanan untuk penulisan buku pada pertengahan 2014 lalu. Di tepian Selat Malaka, Pulau Sumatera. Tentang seorang lelaki yang jatuh cinta kepada pohon dan selalu berusaha menjaganya. Muhyidin namanya.  


          Suatu siang, sekitar Mei 2014, lelaki itu mendengar tariakan di kejauhan.
Api!
Sagu terbakar!
Muhyidin terjaga sepenuhnya. Lelaki berusia empat puluhan itu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Satu jam sudah ia terlelap. Teriakan di kejauhan itu sayup-sayup terdengar.
Lengannya yang berkulit sawo matang segera menyambar kaos berkerah dan topi. Derak lantai kayu dari rumah panggungnya seirama gegas langkah kaki. Sepatu but di teras dapur ia kenakan. Sepeda motor yang terparkir di depan dapur rumahnya segera digebah menyusuri jalan beton Desa Lukit.
Terik matahari masih membakar kulit. Pada udara panas seperti ini api memang mudah terpatik. Api menari bersama angin, hinggap di lahan-lahan bertanaman kering. Tak butuh waktu lama untuk mengubah ranting, pohon-pohon kecil, dan semak belukar yang mati menjadi arang bahkan abu!
Semoga saja kebunku selamat… Itulah harapan Muhyidin.
Rupiah dari pohon-pohon sagu memang bukan penghasilan tetapnya. Kebun sagu warisan dari orang tuanya itu juga tak begitu luas. Sekitar 10 hektar saja. Orang tuanya yang berasal dari tanah Jawa tak meninggalkan warisan banyak. Namun setiap tahun, pohon-pohon sagu itu memberikan pemasukan yang cukup menebalkan dompet untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Terlebih dua anaknya tengah bersekolah di Pulau Jawa. Pemasukan harian dari ojol1 pohon karet dan panen kelapa sawit tak seberapa. Terlebih kedua tanaman itu belum dibudidayakan secara serius. Hanya budidaya sekadarnya secara turun temurun. 
Muhyidin dan penduduk Desa Lukit, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau memang pernah mengabaikan pohon-pohon sagu. Dulu, mereka menganggap Sagu Meranti bukan komoditas yang patut dibanggakan. Sagu hanyalah bahan makanan selingan. Pendapatan dari menjual pohon sagu untung-untungan, tak begitu bisa diharapkan sebagai mata pencaharian utama. Pohon-pohon besar di hutan lebat Riau lah yang lebih cepat memberikan rupiah dalam jumlah besar.  
Pada tahun 1990-an, membalak hutan, menebang pohon-pohon besar untuk dijual ke negara tetangga pernah menjadi pilihan Muhyidin dan banyak warga dusunnya. Muhyidin menerobos hutan dan menarik gelondongan kayu. Kayu diletakkan di pinggir hutan. Orang-orang bersepeda motor datang, meletakkan kayu di atas gerobak. Gerobak bermuatan gelondongan kayu ditarik sambil mengendarai sepeda motor sampai dermaga. Di dermaga, tauke sudah menunggu dengan segepok uang. Maka dalam hitungan hari, bahkan jam, gelondongan kayu telah berubah menjadi rupiah.
Setelah menghitung tenaga yang ia keluarkan dan penghasilan yang didapatkan, Muhyidin lebih memilih untuk menjadi pengangkut kayu dari pinggir jalan ke dermaga saja.
“Upah angkut kayu Rp60.000/ton untuk satu kali trip. Dalam satu hari, aku bisa mengangkut 10 ton jika bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam. Aku cukup bekerja tiga sampai empat hari saja dalam seminggu,” tuturnya kepadaku. 
Pembalakan semakin marak kala cukong-cukong kayu Malaysia datang dan melakukan transaksi secara langsung dengan para pembalak.
Muhyidin sadar, membalak hutan bukan pekerjaan yang patut dibanggakan. Secara tidak langsung, ia juga dicap sebagai perusak lingkungan, penyumbang sebab perubahan iklim dunia oleh wartawan dan para pecinta lingkungan di media massa. Akan tetapi, jika ia tak turut membalak, orang lain yang akan melakukannya, bahkan oknum aparat. Menebang kayu untuk kebutuhan sehari-hari sudah biasa dilakoni oleh masyarakat Meranti. Karena sudah biasa, maka mereka tidak begitu merasa bersalah. Terlebih mereka merasa sebagai pemilik hutan-hutan tempat pohon-pohon besar itu tumbuh.
Aparat kepolisian sebenarnya kerap melakukan razia. Kayu-kayu gelondongan disita dari para pembalak. Aksi kejar-mengejar juga sering terjadi. Meskipun begitu, para pembalak lebih lihai melarikan diri dan bersembunyi.
Kesadaran untuk berhenti membalak hutan muncul dalam diri Muhyidin karena ia tahu, pohon-pohon liar yang ditebang akan habis seiring waktu. Ia harus lebih realistis memilih jalan guna menafkahi keluarganya. Muhyidin kembali ke kebun miliknya. Bagaimana pun juga, pohon-pohon sagu, karet, dan sawit yang tumbuh di kebunnya lebih berkah jika digunakan untuk menghidupi keluarganya.
Bagaimana jika pohon-pohon sagu itu habis terbakar?
Kekhawatiran itu melintas di kepalanya. Jika hal itu terjadi, ia harus melapang-lapangkan hati, menyabar-nyabarkan diri.
Jika kebun sagunya habis terbakar. Muhyidin harus membeli abot2 terbaik, menanamnya, lalu menanti setidaknya 10-12 tahun untuk bisa memanennya. Selama masa tumbuh itu, ia tak perlu melakukan perawatan khusus. Ia hanya perlu memantau tunas sagu sesekali, membersihkan tanaman pengganggu di sekitarnya, cukup itu saja. Pohon sagu  mudah ditanam dan dirawat, namun harus sabar menanti masa panennya. Orang-orang yang tak cukup punya kesabaran tersebut sering menjual pohon sagu pada toke. Toke siap menerima pohon sagu usia berapapun. Semakin muda, semakin murah harganya. Pada waktu panennya kelak, sang toke akan menuai jumlah rupiah berlipat-lipat daripada yang pernah ia keluarkan untuk berikan pada pemilik kebun. Toke hanya membeli pohon, tanah tetap menjadi hak pemilik kebun. Jikalau pemilik kebun hendak sekalian menjual tanahnya pun, toke siap menyediakan rupiah dengan hati gembira.
Semasa kecilnya, sekali-dua kali pernah juga orang tua Muhyidin menjual sagu yang masih muda. Namun kenangan terbesar tentang sagu yang mengisi memorinya adalah panen sagu dan mengolah sagu menjadi tepung. Tahun 1970-an warga desa Lukit masih memproses tual sagu secara tradisional. Tual sagu dibelah dan diambil bagian dalamnya kemudian diparut. Bayangkan saja parutan kelapa tradisional tetapi berukuran lebih besar. Hasil parutan dari pohon sagu diperas dengan cara diinjak-injak. Muhyidin kecil senang sekali menginjak-injak parutan sagu agar keluar sari patinya. Sebelumnya ia harus membersihkan kaki terlebih dahulu dan membungkus kaki-kakinya dengan plastik. Sari pati sagu dibiarkan mengendap. Endapan itulah yang kemudian diambil dan dikeringkan sehingga menjadi tepung sagu. Tepung sagu yang kering diolah menjadi berbagai makanan. Ia terbiasa sarapan, makan siang, dan makan malam dengan olahan sagu. Sagulah yang telah mengantarkannya sampai bisa bersekolah di Pulau Jawa.     
Muhyidin menghentikan laju sepeda motornya di tepi jalan. Putaran kenangan masa kecil ia hentikan. Cemas berganti lega. Kebunnya masih hijau. Ia menyeruak rerumputan dan paku laut. Pohon-pohon sagu setinggi lima kali tubuhnya masih kokoh berdiri. Di sisi pohon sagu yang tinggi terdapat 5-10 anakan. Saat pohon sagu tertua dipanen, anakan-anakan sagu itulah yang selanjutnya tumbuh menjulang.
Abot yang ia tanam beberapa minggu lalu juga masih berdiri. Abot sagu itu sudah berumur satu tahun dan berdaun cukup lebar. Ada dua abot di lubang tanam berukuran 50 cm x 50 cm yang digali Muhyidin. Air dibiarkan menggenang di sekitar abot. Dua batang sengaja ditanam agar jika salah satunya mati, abot yang lain masih dapat bertahan dan menjadi satu rumpun. 
Satu tahun kemudian abot itu akan tumbuh menjadi batang sagu. Muhyidin hanya perlu menjaganya dari rumput liar dan belukar. Babi dan kera kerap berkeliaran, namun tak selalu merusak abot. Bahaya terbesar hanyalah api. Api kerap berkobar di musim kemarau. Belukar dan tanaman kering adalah makanan empuk bagi api. Untunglah api tak memangsa pohon-pohon sagu di kebun Muhyidin.
“Pak Muhyidin,” suara teriakan laki-laki memanggilnya.
Muhyidin kembali ke jalan tempat ia memarkir sepeda motor. Di sana juga telah menanti Pak Arip, CSR officer satu perusahaan eksplorasi minyak di Meranti.
“Aman kebun sagunya?” tanya Pak Arip.
“Iya, aman, Pak. Sudah cemas saya tadi,” katanya.        
“Kita ke lokasi kebun yang terbakar,“ ajak Pak Arip sambil menyalakan mesin sepeda motornya.
Muhyidin mengikuti dengan mengendarai sepeda motornya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, sampailah ia di sebuah jalan yang hanya cukup dilintasi satu mobil saja, namun dapat dipastikan sangat jarang mobil melintasinya. Di tepi jalan terdapat rawa-rawa namun ditumbuhi pohon sagu. Sagu-sagu yang hangus daun-daunnya karena dimakan api. Asap masih mengepul dari semak dan tumbuhan kering yang terbakar di sekitar pohon sagu. 
“Ayo kita bantu, pak!” ajak Arip sambil menggulung kemeja lengan panjangnya.
Muhyidin bergabung dengan para lelaki yang menciduk air itu. Ia tahu, bukan pohon sagu yang harus diselamatkan. Pohon sagu yang menghitam memang tak mewujud jadi  arang, namun bisa dipastikan kandungan sagunya sudah menyusut. Mempersempit lahan yang terbakar dengan pemadaman secepatnya itulah yang utama.    
 “Kenapa bisa terbakar seperti ini? Alami atau sengaja perbuatan orang?” gumam Arip saat mengoper ember berisi air.
“Keduanya mungkin. Kita tak pernah tahu kebakaran yang terjadi disengaja atau tidak. Tiap tahun, ada saja lahan yang terbakar. Jadi masyarakat sudah terbiasa.
“Iya, cuma sayang sekali pohon sagunya,” keluh Arip .  
Pohon-pohon yang dekat dengan genangan air rawa basah berasap. Nasib pohon-pohon itu hanya menanti ditebang untuk digantikan abot, atau dibiarkan terbengkalai oleh pemiliknya. Umumnya pemilik kebun akan membiarkan pohon yang sudah hangus begitu saja, sampai lahan bekas terbakar menghijau dan layak tanam lagi.
Satu jam kemudian upaya pemadaman dihentikan. Asap-asap tipis masih membumbung. Titik-titik api tak terlihat lagi, namun bara yang bisa menyulut api mungkin saja masih bersembunyi entah di mana. Muhyidin memutuskan untuk pulang. Meskipun lega karena kebunnya terbebas dari api, namun ia ikut berduka atas kebun milik warga lain yang hangus terbakar.
Semoga pemilik kebunmendapat ganti rezeki yang lebih baik, ucap Muhyidin dalam hati. Senja mulai mewarnai langit kepulauan Meranti.
Keesokan harinya, kabar kebun-kebun yang terbakar masih berlanjut. Lahan yang terbakar semakin meluas. Muhyidin terpaksa siaga di kebunnya. Angin dapat menerbangkan api. Api kecil yang hinggap di tumbuhan-tumbuhan kebun yang kering akan meraksasa seketika. Maka dari itu Muhyidin selalu berjaga-jaga.
Angin juga meniupkan asap sehingga masyarakat Riau daratan dan kepualauan kebagian sesaknya. Negara tertangga seperti Malaysia, Singapura juga ikut mengeluhkan asap yang menghampiri mereka. Pemerintah turun tangan. Beberapa minggu kemudian asap menghilang dan baru dalam hitungan bulan api di kebun-kebun sagu benar-benar padam. Setelah tak tersiar lagi kabar kebun sagu atau lahan yang terbakar, barulah Muhyidin tenang.

Dari kisah Muhyidin ini, entah kenapa aku berkesimpulan, bahwa setiap pohon harus bisa berubah wujud menjadi uang, agar orang cinta, agar orang menjaganya, dan menanam tunas baru kala pohon tuanya dimanfaatkan. 
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Serius, saya nulis cerpen judulnya "Perempuan Penghibat Pepohonan" hehe

    BalasHapus