Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 27 Oktober 2015

Bait Surau, Kisah Pria Bertato yang PERMEN

Bait Surau opening

Bait Surau merupakan salah satu film religi yang diputar beberapa hari setelah tahun baru 1437 H. Film ini dibintangi oleh Rio Dewanto, Ikhsan Tarore, Cok Simbara, Astri Nurdin dan beberapa aktor-aktris lainnya. Setelah menghadiri Meet and Great dan menonton Bait Surau ini saya mencatata  bahwa film Bait Surau adalah kisah pria bertato yang PERMEN. 

Perjalanan ke Kampung

Film Bait Surau dibuka dengan kisah Rommy (Rio Dewanto) yang melakukan perjalanan ke desa Samadikun di pesisir pantai utara pulau Jawa. Tujuannya adalah rumah Ramdhan (Ikhsan Tarore). Ramdhan pernah bekerja di rumah Rommy sebagai pembantu rumah tangga. Selanjutnya, Rommy tinggal di rumah Ramdhan bersama ayah Ramdhan (Cok Simbara) dan Siti (Astri Nurdin), kakak perempuan Ramdhan yang tuna rungu.
Setting film Bait Surau
Perjalanan ke desa Samadikun
Keluarga Ramdhan taat beribadah. Mereka sering shalat berjama’ah. Rommy sudah lupa cara berwudhu dan shalat, namun ia melihat ketenangan terpancar saat keluarga Ramdhan melaksanakan shalat. Karena itu ia ingin shalat, kemudian belajar mengaji bersama anak-anak kecil di surau desa itu. Anak-anak sempat menertawakan Rommy yang ingin belajar mengaji padahal usianya setara dengan orang tua mereka. Namun ustad menasihati anak-anak. Rommy diterima belajar mengaji di Surau itu. 

Eksekutif Muda Insaf

Seiring alur cerita Bait Surau yang maju, masa lalu Rommy dibuka satu per satu. Rommy adalah eksekutif muda dengan gaya hidup dugem (dunia gemerlap malam) dan menjalin hubungan intim dengan banyak wanita, meskipun telah memiliki istri. Saat Rommy tahu istrinya hamil, ia marah. Namun kemarahan itu tidak berumur lama karena ia dan istri mengalami kecelakaan di perlintasan kereta.
Tokoh Rommy dalam film Bait Surau
Masa lalu Rommy: pesta dan hura-hura
Sang istri meninggal dunia. Kematian sang istri tidak diberitahukan kepada Rommy sampai ia pulih dan pulang ke rumah. Hal itu membuat Rommy berang. Kematian sang istri sepertinya membuat Rommy tersadar dan melakukan perjalanan ke desa tempat Ramdhan tinggal.  
Adegan-adegan kilas balik inilah yang memberikan gambaran kepada penonton siapa Rommy sebenarnya dan seperti apa masa lalunya. Hanya saja, kilas balik terbatas pada kehidupan Rommy dewasa. Masa kecil, pola asuh orang tua dan keadaan orang tua Rommy tidak dikisahkan sama sekali. Padahal pola asuh dan siapa orang tuanya pastilah memengaruhi sifat dan perilaku Rommy yang lupa tatacara wudhu dan shalat serta tidak bisa membaca Al Qur’an. 

Rio Bertato

Pada acara Meet and Great di Bandung (23/10), Rakha Wahyu menuturkan ide cerita film dan novel Bait Surau. Kisah Bait Surau diangkat dari pengalaman penulis yang memiliki teman pria bertato ingin belajar shalat. Dari pengalaman sederhana itu, penulis dan produser film Bait Surau mengembangkan lebih lanjut sehingga menjadi cerita utuh tentang Rommy.
Pemeran utama film Bait Surau
Rommy dengan tatonya

Tato di tubuh Rio Dewanto sebagai pemeran Rommy memang ditonjolkan pada beberapa adegan, terutama saat Rommy memperbaiki genteng surau sehingga pakaiannya basah. Rommy membuka bajunya, sehingga tatp di punggungnya terlihat. Keberadaan toto itu sempat dipermasalahkan anak-anak karena tato biasanya dipakai penjahat. Ustad mensihati anak-anak di surau agar tidak menilai seseorang dari penampilannya saja. Tidak ada pembahasan syar’i tentang pria bertato.      

Menyisipkan Kisah Politisi Kampung

Kisah lain yang menyisip di film Bait Surau adalah cerita pemilihan kepala desa Samadikun, tempat Ramdhan sekeluarga menetap. Ada tiga bakal calon kepala desa Samadikun, salah satunya Haji Sodik (Tahta Perlawanan). Tokoh Haji Sodik terlihat bangga dengan ibadah haji yang sudah ditunaikannya, namun perilakunya tidak sebagaimana seorang haji. Misalnya di salah satu adegan, Sodik enggan menunaikan shalat Jum’at.
Haji Sodik digambarkan pula sebagai orang kaya di desa Samadikun. Kekayaan yang ia miliki digunakan untuk kampanye pemilihan kepala desa. Beberapa keluarga pun sangat mengandalkan uluran kerja sama dari Haji Sodik untuk mencari nafkah. Kapal yang digunakan Ramdhan untuk mencari ikan adalah kapal milik Haji Sodik. Mereka berbagi hasil tangkapan melaut untuk penggunaan kapal itu.   
Tahta Perlawanan memerankan tokoh Haji Sodik cukup baik. Sosoknya yang terkesan sangar, suara serak-serak basah, dan penampilan bak anak muda mendukung penokohan Haji Sodik. Dua asisten yang selalu menemani Haji Sodik pun cukup menarik, namun memberikan kesan bodoh-bodoh pintar; orang-orang yang sebenarnya tidak punya kompetensi tetapi banyak gaya. Kehadiran dua asisten ini berupaya memberikan homor tersendiri dalam Bait Surau.  
Selain itu, ada dua aktris yang ikut membintangi film Bait Surau ini: Nadia Vella sebagai Nadia, istri Rommi. Astri Nurdin sebagai Siti, kakak Ramdhan. Porsi tampil untuk kedua aktris ini tidak banyak. Nadia hanya tampil dalam beberapa adegan kilas balik. Astri terlihat cukup banyak di beberapa adegan tanpa bicara karena Siti adalah gadis tuna rungu dan tuna wicara.
Acting Astri Nurdin cukup menarik sebab ia harus menujukkan mimik dan bahasa tubuh yang tepat tanpa suara. Terlebih Siti terlihat menyukai Rommy. Klimaksnya, Astri harus berteriak. Nah, bagaimana seorang tuna wicara berteriak bisa kita saksikan di film Bait Surau ini. Sebelum mencari tahu tentang Astri Nurdin melalui mesin pencari Google, saya sempat menyangka bahwa tokoh Siti memang diperankan oleh perempuan tuna wicara sungguhan. 

Eksplorasi Keindahan Alam Malingping

Sebagian film Islami indonesia saat ini sering menggunakan latar di luar negeri. Misalnya saja 99 Cahaya di Langit Eropa, Assalamualaikum Beijing, dan Haji Backpacker. Untuk film Bait Surau, keseluruhan syuting berlangsung di dalam negeri. “Kami syuting di Malingping, Banten,” ungkap Anita Aulia selaku produser film Bait Surau. “Masih banyak tempat-tempat indah di Indonesia yang bagus untuk syuting film, lho,” tambahnya lagi.
Desa Samadikun, pantura, yang diceritakan dalam Bait Surau sebenarnya satu desa kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Malimping memiliki pantai yang indah yaitu Pantai Bagedur dan Pantai Binuangen. Pantai-panyai ini cukup banyak dikunjungi wisatawan pada saat libur. Beberapa adegan di pantai, seperti Ramdhan dan Rommy yang akan melaut, pengambilan gambarnya dilakukan di pantai-pantai itu. Tidak ada pengambilan gambar pantai dari atas menggunakan drone serta sedikit long shot yang memperlihatkan pesisir pantai secara keseluruhan. Meskipun begitu, gambar-gambar yang disajikan tetap cantik dan memanjakan mata.

Nasib Film Sempat Tak Jelas  

Anita Aulia selaku produser film Bait Surau juga memaparkan bahwa pengambilan gambar Bait Surau selesai pada 2012. Kru film tinggal melengkapinya dengan lagu tema saja. Namun, satu kebakaran di kantor production house membuat file syuting yang sudah dilakukan musnah. Para pemain dan kru hanya bisa berlapang dada atas musibah tersebut.
Untunglah kru film sempat membuat data cadangan di perangkat lain. Cadangan itu dicari, dikumpulkan dan dikemas lagi, sehingga jadilah film Bait Surau ini. Proses pembuatan film ternyata penuh drama yang tak kalah seru dari filmnya.  
Temu pemain film Bait Surau
Ikhsan Tarore, Anita Aulia dan Fey saat Meet and Great di BIP, Bandung

Itulah sedikit bahasan tentang film Bait Surau. Silakan saksikan di bioskop atau baca novelnya sambil membayangkan adegan dengan tokoh-tokoh film Bait Surau yang cukup menawan. 



Foto bareng pemeran film Bait Surau
Foto bersama Ikhsan Tarore



Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Semoga cukup lama tayangnya, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya di Bandung sudah turun layar :-(

      Hapus
  2. Sayang nggak bisa ikut main :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lain waktu nisa ikut main, Mas Ali ^_^

      Hapus
  3. foto di bawah itu Koko sama siapa? *gagal fokus* jadi penasaran dengan film ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dikasih keterangan foto: Ikhsan Tarore itu

      Hapus
  4. Jadi kampung Samadikun di cerita ini adalah Malimping. Kecewa saya, karena di Cirebon ada kampung nelayan di pinggir Jalan Samadikun. Karakteristiknya cocok tuh sebagai warga di pemukiman Pantura. Saya jadi heran kalau pengambilan syutingnya di pantai selatan. Karakteristik pantainya berbeda jauh dari mulai karakter ombaknya dan karang-karangnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barangkali untuk kemudahan syutingnya, jadi produser lebih memilih Banten

      Hapus
  5. sayang gak bisa liat adu acting rio dan iksan. reviewnya detil ua mas koko. sip deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. MUdah-mudahan segera tayang di TV atau ada layar tancep-nya ^_^

      Hapus