Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 17 Agustus 2015

Telok Abang, Perayaan 17 Agustus Khas Palembang

Kapal Telok Abang. Foto heni_rifai
Inilah ciri khas perayaan 17 Agustus di kota Palembang yang belum saya temukan di kota lain: Kapal Telok Abang. Telok artinya telur sedangkan abang adalah warna merah. Menjelang 17 Agustus, kapal-kapalan Telok Abang ini mudah ditemukan di jalan-jalan utama kota Palembang. 

Miniatur Kapal
Kapal telok abang berupa miniatur kapal laut atau kapal terbang yang terbuat dari kulit pohon Ek Gabus. Kita sering menyebutnya gabus saja. Gabus sering kita manfaatkan sebagai penutup botol. Pada industri hulu dan hilir, gabus merupakan bahan untuk membuat bola kriket, komponen mesin, dan banyak lagi. Sebagian masyarakat kita juga menggunakannya sebagai pelampung jala karena gabus ringan dan dapat mengapung di permukaan air.

Sifat gabus yang ringan, dapat mengapung di permukaan air, serta mudah dibentuk dengan pisau menjadikan bahan ini sebagai pilihan untuk membuat miniatur kapal terbang atau kapal laut. Beberapa kendaraan lain seperti becak, dan mobil juga dapat kita temukan.

Gabus dibentuk minatur kapal, kemudian diwarnai dan dihias dengan kertas krep. Di beberapa sisi kapal dikaitkan tali yang disimpulkan pada batang kecil bambu sebagai pegangan sehingga kapal mudah digoyang-goyangkan.

Di bagian atas kapal dari gabus itulah telur ayam yang sudah dibaluri warna merah dari pewarna makanan ditancapkan. Di atas telok juga ada hiasan bendera merah putih.

Pengrajin kapal telok abang biasanya menancapkan ujung batang bambu pada pelepah pisang. Mereka menjajakan kapal telok abang di pinggir jalan. Harganya bervariasi mulai dari belasan ribu sampai ratusan ribu rupiah, tergantung model kapal.  

Tradisi Ratu Belanda
Ali Hanafiah, Kepala Museum Sultan Mahmud Badarudin II menuturkan bahwa kapal telok abang bermula dari peringatan Ulang Tahun Wilhelmina II, Ratu Belanda saat masih berkuasa di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, kebiasaan itu terus berlanjut, namun dimaknai sebagai perayaan atas kemerdekaan Indonesia.    

Awalnya telur yang digunakan adalah telur itik. Namun karena telur ayam lebih murah, para pengrajin kapal telok abang menggantinya. Telur ayam sudah direbus sehingga dapat dimakan.  Beberapa kapal juga dijual tanpa telur jika konsumen menginginkan harga yang lebih murah.  

Mainan Anak
Miniatur kapal yang mirip dengan mainan anak-anak, menjadikan kapal telok abang ini sangat disukai oleh anak-anak. Orang dewasa yang membeli pun biasanya memberikan kapal telok abang kepada anaknya atau anak kerabat keluarga. Namun beberapa orang dewasa juga membeli kapal telom abang untuk mengingat masa lalu, sebab tradisi ini setua usia kemerdekaan Indonesia.

Pria dewasa juga suka kapal telok abang. Foto aswinyandikahakki

Jika Anda ke Palembang di kisaran tanggal 17 Agustus, kapal telok abang ini bisa menjadi oleh-oleh. Namun pastikan telurnya masih bagus atau buat sendiri telok abang-nya. Caranya cukup rebus telur dan pulas dengan pewarna kue saja. Kapal telok abang dapat menjadi mainan alternatif atau media bercerita kepada anak, untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia yang sudah seusia kakek dan nenek kita.  
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. jadi kangen banget sama palembang, apa kabar mas koko...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alahmadulilkah kabar baik, Mbak Dedew. Long time no see ^_^

      Hapus
  2. Kapan-kapan harus ke Palembang saat 17 Agustus, nih

    BalasHapus
  3. Bagus sekali kreasi kapal2nya... ira

    BalasHapus