Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 20 Agustus 2015

Menumbuhkan Empati dan Kepedulian dengan Agen Penulis Cilik


Usia kemerdekaan Republik Indonesia telah memasuki usia 70 tahun. Berbagai permasalahan masih menghadang laju negeri ini, termasuk  permasalahan yang menimpa anak-anak. Padahal anak-anak  adalah aset berharga, merekalah yang akan mengendalikan roda negeri ini pada 10-20 tahun nanti.

Kasus Kekerasan Anak
Jumlah kasus kekerasan pada anak-anak selama 4 tahun terakhir mengalami kenaikan. Komisi Nasional Anak (Komnas Anak) melaporkan telah terjadi  21.689.797 kasus kekerasan terhadap anak-anak Indonesia pada 2010-2014 di 34 provinsi dan 179 kabupaten/kota1. Bentuk kekerasan tersebut berupa kejahatan seksual sekitar 42-58%. Lainnya berupa kekerasan fisik, penelantaran, penculikan, eksploitasi ekonomi, perdagangan anak untuk eksploitasi seksual komersial serta kasus-kasus perebutan anak.

Pada awal Maret 2015 LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) juga melaporkan hasil penelitian di lima negara Asia: Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia). Salah satu hasil penelitian dengan metode survei itu menyebutkan, sekitar 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Survei dilakukan pada Oktober 2013 hingga Maret 2014 dengan melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM2. Menurut survei itu, 33% pelaku kekerasan adalah guru atau staf nonguru serta 59% anak laki-laki. Hanya 30% saja jumlah rata-rata siswa saksi kekerasan yang melaporkan aksi kekerasan atau berupaya menghentikannya.

Contoh kekerasan yang belum lama terjadi menimpa Hasranda. Siswa kelas I di satu SD Kabupaten Rokan Hulu, Riau itu meninggal dunia setelah dirawat oleh 3 rumah sakit setempat. Anak berusia 7,5 tahun itu mengaku sakit setelah dikeroyok oleh 5 teman sekelasnya. Pengeroyokan itu menyebabkan kerusakan syaraf di bagian belakang kepala dan menyebabkan bagian kanan mengalami lumpuh3.

Fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian anak di Indonesia melakukan kekerasan yang merupakan perilaku antisosial di sekolah. Menurut Connor, perilaku antisosial merupakan perilaku menentang kepada norma-norma yang sedang berlaku dalam masyarakat4. Rutter, Giller, dan Hagell (1998) mengemukakan perilaku antisosial sebagai perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum yang merujuk pada perilaku orang-orang usia muda5. Beberapa dari perilaku antisosial ini seringkali muncul selama masa remaja, yang menjadi pertanda kuat bagi diagnosa  gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder) saat beranjak dewasa6

Antisosial versus Prososial
Perilaku antisosial adalah kebalikan dari perilaku prososial. Perilaku prososial didefinisikan sebagai perilaku yang dilakukan demi menolong orang yang sedang kesulitan, membantu orang meraih tujuannya, membuat nyaman orang dengan memberi pujian dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain dan tidak mencari kesenangan pribadi7 Pada anak-anak dan remaja, perilaku prososial berkaitan dengan perilaku berbagi, bekerja sama, membantu, merasa empati dan peduli dengan sesama. Selain itu juga, perilaku altruistik dengan pengorbanan diri dan perilaku normatif (misalnya, menjadi anak yang baik) dikatakan sebagai perilaku prososial8.

Beberapa penelitian menunjukkan kemampuan empati pada anak memiliki hubungan dengan munculnya perilaku prososial9,10 Semetara itu Karr-Morse dan Wiley (1997) menyampaikan bahwa perilaku antisosial dan perusakan diri sendiri cenderung didorong oleh kemampuan empati yang rendah11.

Menurut Borba12, empati adalah kemampuan untuk memahami atau mengerti perasaan orang lain, sensitif akan kebutuhan dan perasaan orang lain, mau membantu orang lain yang tersakiti dan atau dalam masalah serta memperlakukan orang lain dengan penuh kasih. Borba juga berpendapat, anak-anak yang memiliki empati akan lebih peduli terhadap orang lain dan mampu mengendalikan amarahnya. Empati bisa menghentikan atau mengurangi perilaku agresif dan mendorong anak memperlakukan orang lain dengan baik. Hal tersebut dapat membantunya bergaul dengan orang lain seiring dengan semakin luas pertemanannya.

Empati Melalui Bacaan Fiksi
Djikic dan Keith menuturkan dalam jurnalnya, bahwa salah satu cara untuk menanamkan empati dapat melalui bacaan fiksi. Membaca cerita fiksi dapat membantu seseorang membayangkan bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Semakin banyak seseorang membaca cerita fiksi, semakin berkembang kemampuan empatinya untuk memahami orang lain13. Penelitian-penelitian yang diungkapkan Djikic dan Keith dapat menjadi sandaran bahwa membaca cerita fiksi memberikan pengaruh terhadap empati seseorang.

Fong, Mullin, and Mar (2013) mengemukakan cerita fiksi genre roman memiliki hubungan erat dengan peningkatan empati. Kisah keluarga dan petualangan juga menunjukkan hubungan yang positif namun cerita fiksi ilmiah menunjukkan hubungan yang negatif14. Buku-buku fiksi dengan tema roman, keluarga dan petualangan seperti itu, mudah kita temukan di toko buku Indonesia, teruta di kota-kota besar.

Pengaruh buku cerita pada anak-anak telah diteliti oleh Satya (2013)15. Pada penelitian tentang Efektivitas Pembacaan Buku Cerita Pada Program Peningkatan Kemampuan Empati Anak Usia 6-7 itu, terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kemampuan empati anak usia 6-7 tahun, sebelum dan sesudah mengikuti pembacaan buku cerita selama empat hari berturut-turut. Partisipan adalah 27 anak PAUD Melati di Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara. Metode pengukuran empati menggunakan Empathy Continuum Scoring Manual yang dikembangkan oleh Strayer (1993). Setelah mendengarkan cerita, partisipan ditanya mengenai perasaan tokoh dalam cerita dan alasannya serta bagaimana perasaan partisipan sendiri dan alasannya. Skor diberikan berdasarkan ketepatan perasaan tokoh dalam cerita dan partisipan, juga ketepatan alasan timbulnya perasaan partisipan dengan alasan tokoh cerita.   

Penulis Cilik Sebagai Agen Empati
Pasar buku Indonesia menawarkan buku-buku fiksi yang ditulis oleh anak-anak namun dikemas baik layaknya buku fiksi anak karya penulis dewasa. Dimulai oleh penerbit Mizan, Bandung, yang menerbitkan buku-buku dengan nama serial Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) pada Desember 2003. Buku pertama ditulis oleh Sri Izzati saat masih berusia 7 tahun berjudul Kado untuk Ummi. Satu bulan kemudian buku kumpulan puisi berjudul Untuk Bunda dan Dunia karya  Abdurrachman Faiz ketika berusia 8 tahun.  Sampai Desember 2013, Mizan telah menerbitkan 300 lebih buku karya penulis cilik16.

Menurut Ratna Sarumpet (dalam Pratiwi, 2009), karya penulis cilik menonjol karena kesederhanaan, kepolosan, dan kejernihan mereka dalam memotret berbagai persoalan di sekitar mereka. Kisah-kisahnya dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dan jauh dari kesan menggurui. Para penulis cilik dapat menggambarkan permasalah anak-anak seusianya tanpa harus sok dewasa. Selain itu harga buku anak yang ditulis anak lebih murah daripada buku-buku anak yang ditulis oleh orang dewasa, berkisar pada Rp25.000-Rp40.000. Umumnya tebal buku sekitar 100 halaman dengan ukuran hurup yang cukup besar agar mundah dibaca anak-anak, sehingga ongkos produksi dapat ditekan dan harga jual terjangkau uang saku anak. 

Penulis-penulis cilik umumnya dibesarkan pada lingkungan keluarga menengah. Orang tua rutin membelikan buku setiap bulan. Menghadiri pameran dan bazar buku adalah kegiatan keluarga yang biasa dilakukan. Anak-anak tersebut dapat memilih sendiri buku yang ingin mereka baca. Orang tua menganggap membaca adalah kebiasaan positif yang perlu didukung. Orang tua penulis cilik sebagian besar merupakan lulusan perguruan tinggi dan suka membaca. Orang tua mereka memberikan contoh kebiasaan membaca dan atau mendongeng sejak anak usia dini. Beberapa anak yang pada tahun 2000-an dikenal sebagai penulis cilik seperti Adam, Caca, Faiz, dan Sri Izzati mempunyai orang tua yang berprofesi sebagai penulis atau terbiasa menulis juga. Lingkungan menstimulasi mereka untuk membaca sejak dini sehingga pada akhirnya mereka menulis bahan bacaan untuk mereka sendiri atau anak-anak seusia mereka17

Anak-anak usia 6-11 tahun perilakunya sangat dipengaruhi oleh teman sebaya18. Jika penulis cilik bisa dikondisikan sehingga memiliki empati dalam tingkah laku dan tulisannya, mereka dapat menjadi agen untuk memengaruhi anak-anak sebaya mereka secara langsung atau melalui media sosial  internet. Misalnya saja anak-anak yang sudah terbiasa menulis ini diberi pengalaman mengunjungi, berinteraksi, bahkan tinggal selama beberapa hari di lingkungan kediaman anak-anak yang kehidupannya tidak seberuntung mereka; contohnya Desa SOS. Penulis cilik diajak menyelami kehidupan pribadi anak-anak yang kurang beruntung itu. Selanjutnya, penulis cilik distimulasi agar menuliskan pengalamannya menjadi buku cerita sehingga bisa mengajak anak-anak lingkungan sekolah dan rumahnya untuk berempati terhadap kehidupan anak-anak yang kurang beruntung.

Emphatic Writing Camp
Saya pernah beberapa kali mengadakan program pelatihan singkat menulis untuk anak-anak pada liburan sekolah semester ganjil dan genap. Program itu diselenggarakan di bawah payung organisasi Forum Lingkar Pena. Pesertanya tidak banyak, kurang dari 10 atau belasan orang saja agar pelatihan fokus dan tertangani oleh SDM yang terbatas. Tujuannya untuk mengasah kemampuan menulis anak serta mempertemukan anak-anak yang sama-sama memilki hobi membaca dan menulis. Beberapa di antaranya terus menjalin pertemanan di dunia maya dan bersaing sehat dalam menulis buku.  

Program pelatihan menulis saat liburan itu dapat dirancang ulang dengan menyasar penulis. Program pelatihan ini bisa kita sebut emphatic writing camp. Mereka dikirim ke tempat tinggal anak-anak dhuafa, berkebutuhan khusus, tuna ganda atau anak-anak yang menurut sebagian besar masyarakat kurang beruntung. Selama tinggal bersama anak-anak yang kurang beruntung itu mereka dapat melihat, dan merasakan kehidupan anak-anak itu. Tidak ada perlakukan khusus atau berbeda, mereka harus menjalani keseharian anak-anak yang kurang beruntung itu, kemudian membuat kerangka cerita untuk diselesaikan saat kembali ke rumah masing-masing. Ide cerita haruslah berdasarkan kehidupan anak-anak yang dilihat dan dirasakan para penulis cilik.

Beberapa penerbit buku senang menerima naskah dari anak-anak yang sudah terbiasa menulis. Terlebih penulis cilik yang juga aktif di media sosial. Tanpa sadar penulis cilik itu melakukan soft selling dan membangun serta mengelola pasar pembacanya. Jika kerja sama dengan penerbit terjalin, buku dari program emphatic writing camp dapat terbit sehingga anak-anak Indonesia mendapat bacaan dengan konten empati yang sudah dirancang sedemikian rupa. Penulis cilik itu pun biasanya mau diajak mempromosikan buku secara offine berupa kunjungan atau bincang-bincang proses kreatif di sekolah-sekolah. Apabila program ini berlangsung tiap liburan semester sekolah, kampanye untuk berempati terhadap kehidupan anak-anak yang kurang beruntung serta pasokan buku bermuatan empati akan selalu tersedia setiap enam bulan, bahkan sepanjang tahun. Empati yang terus tumbuh dan berkembang di dalam diri anak-anak itu mudah-mudahan melahirkan kepekaan dan ide-ide cerdas untuk membuat Indonesia lebih baik di masa depan.   

Daftar Pustaka


1. Aprionis. (2015). 21 Juta Kasus Kekerasan Menimpa Anak Indonesia. 23 Oktober 2014. Diunduh dari http://www.antaranews.com/berita/460296/21-juta-kasus-kekerasan-menimpa-anak-indonesia pada 12 Maret 2015


2. Arief, Tian. (2015). 84 Anak Indonesia Alami Tindak Kekerasan di Sekolah. 4 Maret 2015. Diunduh http://www.gatra.com/nusantara-1/nasional-1/136751-survei-menunjukkan,-84-anak-indonesia-alami-tindak-kekerasan-di-sekolah.html pada 12 Maret 2015


3. Sani, Abdullah. (2015). Lumpuh 2 Bulan Siswa SD yang Dikeroyok Teman Meninggal Dunia.  30 April 2015. Diunduh dari http://www.merdeka.com/peristiwa/lumpuh-2-bulan-siswa-sd-yang-dikeroyok-teman-meninggal-dunia.html pada 5 Mei 2015


4. Connor, F. D.( 2002). Aggresion and Antisocial Behavior in Children and Adolescence. New York: The Guilford Press.


5. Rutter, M., Giller, H., & Hagell, A. (1998). Antisocial Behavior by Young People. Cambridge: Cambridge University Press.


6. Eddy, J. M., & Reid, J. B. (2001). The Antisocial Behavior of the Adolescent Children of Incarcerated Parents: A Developmental Perspective. Diunduh dari  http://aspe.hhs.gov/hsp/ pada 25 April , 2015


7. Eisenberg, N., & Mussen, P. M. (2001). The Roots of Prosocial Behavior in Children. New York: Cambridge University Press.


8. Radke-Yarrow M, Zahn-Waxler C, Chapman M. (1983) Children’s Prosocial Dispositions and Behavior. Handbook of child psychology: Vol. 4. Socialization, personality, and social development. (7th ed.). New York: John Wiley.


9. Eisenberg, N., & Miller, P. A., (1987). The Relation of Emphaty to Prosocial and Related Behaviour. Psychological Bulletin, 101 (1), 91-119.

10. Eisenberg, N., & Strayers, J. (1987). Emphaty and Its Development. New York: Cambridge University Press.


11. Karr-Morse, R., & Wiley, M. S. (1997). Ghostfron The Nursery – Tracing The Root of Violence. New York: The Atlantic Monthly Press.


12. Borba, M. (2001). Building Moral Intelligence: The Seven Essential Virtues that Teach Kids to Do The Right Thing. San Fransisco: Jossey-Bass A Wiley.


13. Djikic, Maja., & Oatley, Keith. (2014). The Art in Fiction: From Indirect Communication to Changes of the Self . Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts 2014, Vol 8 No 4, 498-505.


14. Fong, K., Mullin, J. B., & Mar, R. A. (2013). What You Read Matters: The Role of Fiction Genres in Predicting Interpersonal Sensitivity. Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts, 7, 370-376.


15. Satya, Widiana, F., (2013). Tesis: Efektivitas Pembacaan Buku Cerita pada Program Peningkatan Kemampuan Empati Anak Usia 6-7, Depok: Universitas Indonesia.


16. Rhamdani, Benny. (2013). 10 Tahun KKPK Gelar Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2013, diakses 20 April 2014


17. Pratiwi, Mega. (2002). Gambaran Proses Anak Menjadi Penulis Cilik. Depok, Universitas Indonesia


18. Papalia, D.E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2004). Human Development Tenth Edition. New York: Mc Graw Hill     

Sumber ilustrasi Pidas81.org 
,
Comments
10 Comments

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung Eka

      Hapus
  2. Wah, daftar pustakanya keren2 juga. Idenya menarik, na kalo kita org dewasa menuliskan seperti yg dilakukan penulis cilik, bagaimana .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang dewasa seringkali sudah banyak urusan, jadi nggak sebagian belum bisa fokus menulis saja ^_^

      Hapus
  3. Komplit! Good luck, Mas. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membacanya, MBak Wiek

      Hapus