Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 07 Agustus 2015

DOSA Lingkungan Kepada Anak Kembar


Penampilan anak kembar mengagumkan bagi sebagian orang. Kekaguman itu kerap membuahkan komentar kepada anak kembar itu. Sayangnya, tidak semua komentar berdampak baik pada anak kembar. Tanpa sadar beberapa pengomentar, khususnya lingkungan terdekat anak kembar, melakukan ‘DOSA’ kepada mereka.
Dibandingkan dalam Segala Hal
Anak kembar yang pernah mendapat berbagai komentar itu adalah dan Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rejeki. Meskipun keduanya telah beranjak dewasa, kenangan dibanding-bandingkan itu tetap melekat dalam ingatan Eva dan Evi.

“Orang suka membanding-bandingkan sehingga kami jadi berkompetisi. Padahal lebih asyik kalau kembar itu kompak,” ujar Evi pada pembukaan acara Gathering Komunitas Twin Universe di Warung Upnormal, Jl Cihampeulas, Bandung (2/8) lalu. Eva dan Evi tidak ingin anak kembar terus terperangkap dalam komentar orang. Untuk itulah mereka mendirikan komunitas Twin Universe.

Peserta Twin UNiverse Gathering

“Kami ingin berbagi pengalaman-pengalaman hidup sebagai anak kembar. Supaya anak kembar bisa selalu kompak,” ungkap keduanya.

Pada acara itu hadir pula Ibu pakar komunikasi, Ike Junika dan dr. Siska Nurrohmah. Senada dengan Eva dan Evi, Ike yang memiliki anak kembar juga mengungkapkan kebiasaan sebagian keluarga dan lingkungan terdekatnya yang membanding-bandingkan anak kembarnya. Agar anak kembarnya tidak begitu terpengaruh komentar orang, Ike selalu memberi pengertian kepada anak-anaknya, juga meminta orang lain tidak selalu membandingkan anak kembarnya.
Orang tua memperlakukan serba sama
Perilaku membanding-bandingkan mungkin asal mulanya karena orang tua juga yang mendandani anaknya serba sama. Penampilan anak kembar bagaikan cermin satu sama lain. Berlaku adil harus, namun memperlakukan selalu sama itu salah.
“Anak kembar itu memang terlihat sama, padahal mereka sebenarnya berbeda, lho,” ujar Ike. Untuk menegaskan bahwa si kembar adalah individu yang berbeda itulah Ike memberi nama yang berbeda untuk anak kembarnya: Genina dan Raudah.
Bincang-bincang tentang anak kembar
dr. Siska Nurrohmah juga mengungkapkan bahwa meskipun anak kembar secara fisik terlihat sama, jika dilihat dari sudut pandang genetika, mereka tetap saja individu yang berbeda.  Karena itu, dr. Siska setuju, anak kembar jangan terus menerus diperlakukan serba sama.
Si Kembar Belum Diakui Sebagai Individu Unik
Ike Junika menceritakan dampak perlakuan serba sama dan kebiasaan membandingkan anak kembar. Dosen komunikasi Unisba itu mengisahkan anak kembar Seto Mulyadi dan Kresno Mulyadi. Seto sangat kecewa saat tidak diterima di Fakultas Kedokteran Unair, sedangkan  kembarannya Kresno Mulyadi lulus seleksi. Seto sampai nekat pergi dari rumah, merantau ke Jakarta. Salah satu alasannya, ia tidak tahan melihat kembarannya yang setiap hari pergi kuliah, sedangkan dirinya tidak. Setelah sendirian, Seto berhasil menemukan minatnya saat menjadi asisten Taman Kanak-kanak Pak Kasur. Ketika mencoba ujian di Fakultas Kedokteran dan gagal, ia menuruti saran Pak Kasur untuk menekuni ilmu Psikologi di Universitas Indonesia. Kini,  Seto dikenal sebagai Kak Seto, salah satu psikolog anak terkemuka di Indonesia.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah Kak Seto itu, orang tua harus meyakinkan anak bahwa mereka adalah dua individu yang unik dan berbeda. Mereka juga punya minat dan bakat berbeda. “Jangan sampai seperti Kak Seto yang bersedih karena lingkungan seolah menuntut anak kembar  berhasil sama-sama.” Lingkungan yang belum mengakui anak kembar sebagai individu unik harus terus diedukasi sehingga turut mendukung perkembangan potensi setiap anak kembar. 
Abai potensi masing-masing anak
Di akhir acara Twins Universe Gathering, Ike Junika dan dr. Siska Nurrohmah sepakat, orang tua harus mengasah potensi setiap anak kembar. “Biar saja, mereka punya minat dan bakat berbeda,” ujar Ike. Masih banyak orang tua dan kerabat yang mengabaikan potensi masing-masing anak kembar, sehingga anak kembar menjadi stres dengan penuntutan potensi yang sama.  

Eva dan Evi pun telah mengajak anak-anak kembar untuk mengasah potensinya melalui tulisan lewat event buku antologi anak kembar. “Buku itu rencananya akan diluncurkan akhit tahun 2015 nanti,” ujar Evi yang telah menerbitkan novel Cine Us.
Selain menjadi ajang curhat dan berbagi, Eva dan Evi juga bertekad ikut mengasah potensi anak kembar, sehingga keduanya tumbuh menjadi individu yang percaya diri. “Biar anak kembar nggak bersaing, tetapi saling dukung,” tutur Evi lagi.  

Eva dan Evi pendiri Twin Universe

Menjelang akhir acara Twins Universe Gathering, pasangan kembar diuji kekompakannya dengan mengungkapkan hal-hal pribadi kembarannya. Mereka juga adu kompak menirukan koreografi kembar ala Eva-Evi. Games menarik pun digelar. Hari itu, para kembar terlihat gembira dan bersyukur Tuhan telah menciptakan mereka sebagai anak kembar.  
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. Terima kasih udah datang ke gathering Koko ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu peluncuran antologi buku kisah kembarnya, Teh Evi

      Hapus
  2. Acaranya seru banget ya dan pastinya memperluas wawasan. Sayang banget sy ga bisa hadir, euy. Tp postingan ini udh kontribusi byk deh dlm menambah wawasan saya. TFS, Koko!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lain waktu bisa datang di acara TwiVers, ya Teh

      Hapus
  3. Sayang euy ga ikut dari awal. Banyak sisi menarik ternyata dari anak kembar, ya.

    BalasHapus