Menulis, Buku, Kehidupan

Jumat, 31 Juli 2015

Traveling Sampingan di Bengkulu

Traveling bersama keluarga, terlebih balita terkadang merepotkan. Si kecil belum bisa diberi pengertian. Namun di sanalah peluang kita sebagai orang tua untuk tumbuh dewasa secara psikologis sekaligus mengajarkan banyak hal pada anak-anak kita. Bengkulu menjadi salah satu tempat untuk melakukan itu pada pertengahan Mei 2015 lalu.

Traveling Bersama Balita

Traveling bersama si kecil Alika selalu mendebarkan bagi istri saya. Kami punya pengalaman kurang menyenangkan saat membawa Alika terbang ke Palembang pada saat usianya 13 bulan. Ketiadaan jalur penerbangan di Bandung mengharuskan kami menuju Bandara Soekarno Hatta. Alika tantrum pada perjalanan dari Bandung menuju Bandara tersebut.

Saat itu, kami memilih penerbangan malam. Sayangnya, kami tertinggal mobil travel sehingga beralih menumpang bus Primajasa. Saat bus berada di tol area Universitas Kristen Indonesia (UKI), lalu lintas padat-merayap. Alika rewel, kemudian tantrum sepanjang perjalanan. Ia baru tenang ketika tiba di Bandara.
Saat pesawat terbang lepas landas pun, Alika kembali menangis. Penumpang di kanan kiri kami ikut berempati. Mereka memberikan permen dan cokelat agar Alika tenang. Namun Alika terus saja menangis sampai bunyi gemuruh di luar membuatnya terdiam, kemudian tertidur.

Pengalaman bersama si kecil yang kurang menyenangkan itu membuat istri saya agak khawatir jika traveling, sehingga ia kerap mensyaratkan transportasi dan akomodasi yang nyaman agar si kecil tidak rewel. Saya setuju saja. Namun bagi saya, perilaku anak yang tidak tenang dan banyak ulah merupakan sarana pembelajaran diri. Belajar sabar dan menerapkan ilmu parenting yang pernah saya pelajari. Saya tidak kapok membawa keluarga traveling.

Traveling Sampingan

Kami sebenarnya bukan sengaja traveling ke Bengkulu. Adik saya menikah di sana. Maka dari itu, saya dan istri sengaja tidak langsung pulang setelah acara resepsi pernikahan. Dua hari kami lewatkan untuk akad nikah dan resepsi pernikahan adik, hari berikutnya untuk berkeliling kota Bengkulu dan keesokan paginya pulang ke Bandung.

Maka dari itu, jauh-jauh hari sebelum terbang ke Bengkulu, saya sudah melakukan riset melalui internet, objek wisata mana saja yang bisa dikunjungi dalam waktu sempit itu. Hasil riset itu: Pantai Panjang, Benteng Marlborough, dan Rumah Pengasingan Bung Karno adalah tujuan wisata yang paling mudah dijangkau jika berada di kota Bengkulu. Bagaimana dengan icon Bengkulu: bunga Rafflesia?

Saya sempat bertanya soal bunga Rafflesia pada adik saya. Menurut adik saya, bunga Rafflesia tumbuh di pekarangan atau tanah milik warga. Jika kebetulan sedang mekar kita bisa melihatnya. Sayangnya, saat berada di Bengkulu tidak ada bunga Rafflesia yang mekar. Jadi kami fokus menuju Pantai Panjang dan Rumah Pengasingan Bung Karno saja.

Pantai yang Panjang

Kami sekeluarga mengendarai mobil mertua adik saya saat menyusuri Pantai Panjang. Pantainya sesuai dengan nama: panjang!. Garis pantainya sekitar 7 Km. Pemandangan tepi pantai panjang berganti-ganti mulai dari deretan pedagang ikan, batu-batu pemecah ombak, kedai-kedai sederhana dengan deretan kursi malas, pepohonan, dan juga hamparan pasir. Di pinggir pantai belum banyak hotel atau penginapan, hanya di area yang pemandangan tepi pantainya cantik saja berdiri penginapan.
Pantai Panjang Bengkulu
Kami sempat berhenti sejenak di tepi jalan menuju pantai. Sayangnya Alika tidak mau turun. Padahal saya pikir dia akan senang bermain-main pasir. Alika hampir berusia 3 tahun saat itu. Jadi sudah bisa mengungkapkan kemauannya. Kami hanya melihat-lihat pantai dari mobil saja. Pada tepi pantai yang terdapat banyak warung ikan asin, justru Alika mau turun. Sayangnya tepian pantai di sana berupa batu-batu pemecah ombak saja. Jadilah saya mengajak Alika menyusuri tepi pantai yang beraroma ikan asin itu.

Hujan yang turun sangat deras membuat kami hanya bisa menatap Benteng Marlborough dari dalam mobil. Pantai Tapak Paderi pun tidak bisa kami singgahi. Mobil hanya berputar-putar saja, kemudian kembali ke hotel kecil tempat kami menginap, tak jauh dari Pantai Panjang. Suatu hari nanti, kami harus datang ke Bengkulu lagi.   

Main Petak Umpet di Rumah Bung Karno

Hari terakhir di Bengkulu, Alika sempat tantrum lagi. Penyebabnya, ia bosan berada di hotel saja karena mobil yang seharusnya mengantar kami berkeliling tak kunjung datang. Saya coba menjelaskan sesuai kemampuan kognitifnya meskipun Alika tetap menangis kencang. Pada akhirnya Alika tertidur karena lelah. Bagitu ia bangun, mobil telah siap. Tujuan kami, Rumah Pengasingan Bung Karno.
Rumah Pengasingan Bung Karno


Rumah pengasingan Bung Karno terkesan mungil di tengah-tengah halaman pekarangan yang luas. Rombongan kami membayar Rp 20.000 kepada petugas di teras rumah. Setelah itu, kami menjelajahi ruang demi ruang di rumah itu. Ruang tamu, ruang kerja, kamar-kamar tidur kami masuki satu persatu.  Entah mengapa, saya merasakan kursi tamu dan ranjang besi berangka kelambu terkesan kecil. Apakah Bung Karno dan keluarganya bertubuh kecil? Entahlah.
Ruang Kerja Bung Karno

Di rumah Bung Karno inilah, Alika terlihat gembira. Dia berlari masuk-keluar kamar, menutup pintu, dan keluar dari pintu yang lain. Saya khawatir aksi Alika itu mengganggu pengunjung lain. Saya mengejarnya. Alika malah tertawa-tawa. Mungkin ia berpikir bahwa kami sedang main petak umpet. Di ruang kerja, saya berhasil menangkap Alika dan mengendongnya supaya lebih tenang. Setelah itu saya mengajak Alika mengamati benda-benda peninggalan keluarga Bung Karno, meskipun hal itu tidak begitu membuat Alika antusias lagi.  

Rencana Traveling Selanjutnya

Saya sudah mengunjungi Bengkulu beberapa tahun lalu. Sendirian. Maka dari itu situasi dan kondisi Bengkulu sudah saya kenali sebelum datang kembali bersama keluarga. Kota-kota besar di Sumatera pun sudah pernah saya jejaki kecuali Aceh. Namun saya berharap dapat mengunjungi pulau-pulau di sekitar Pulau Sumatera misalnya Pulau Batam. Suatu hari nanti, jika ada rejeki dan masih berumur panjang, saya dapat kembali datang bersama keluarga saya. Tujuannya bukan sekadar traveling, namun untuk belajar, menambah wawasan keberagaman Indonesia dan memberikan pengalaman berkesan bagi setiap anggota keluarga.  

Jika saya berkesempatan berwisata ke provinsi kepulauan Riau, saya akan menghabiskan hari pertama saya untuk bertemu dengan teman-teman sesama blogger, penulis, utamanya yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena. Banyak informasi dan pengetahuan yang bisa kami saling bagikan. Berdasarkan informasi dari teman-teman saya itu, barulah pada hari kedua saya akan berwisata ke tempat-tempat yang mereka rekomendasikan. Esoknya baru pulang. Teman saya di dunia maya berjumlah ribuan orang. Alangkah baiknya pertemanan di ranah internet itu dikuatkan dengan pertemuan jiwa-raga.

Berdasarkan bekal pengalaman wisata ke provinsi kepulauan Riau itu, saya akan mengajak anggota keluarga saya untuk traveling lagi. Semoga selalu banyak manfaat yang bisa saya bagikan dan bawa pulang dari traveling yang saya lakukan sendirian maupun bersama anggota keluarga. 

Comments
6 Comments

6 komentar:

  1. Rumah Bung Karno udah rapi sekarang. Waktu ke sana ada renov

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, sempat direnovasi, ya. Kupikir emang dari dulu seperti gitu

      Hapus
  2. Belum pernah ke Bengkulu. Saat jalan-jalan ke Kerinci dulu sempat kefikiran mampir sekalian ke Bengkulu tapi nggak jadi karena kurang informasi dan belum sempat googling lokasi yang akan dikunjungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke Bengkulu, Mbak LIna. Bengkulu cocok buat traveling sejati karena tujuan wisata harus dicari sendiri ^_^

      Hapus
  3. waah, aku malah belum nulis jalan2 ke Bengkulu kemarin. Alika salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ditulis, Yuk. Pasti beda rasa tulisan yang ditulis orang yang lama mukin di Bengkulu sama yang ke Bengkulu beberapa hari saja.

      Salam kenal balik dari Alika ^_^

      Hapus