Menulis, Buku, Kehidupan

Rabu, 22 Juli 2015

Mak Cas dan Uang Lebaran



Lebaran kali ini saat mudik ke kampung halaman istri, di satu desa di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, saya bertemu lagi dengan Mak Cas. Ya, itulah sapaan perempuan tua, berusia lebih dari 70 tahun tersebut.  Ia hidup sebatang kara. Suaminya telah lama meninggal dunia dan mereka tidak memiliki anak. Sanak saudara? Entah di mana.
Suasana usai shalat Idul Fitri di Bunut Lor, Desa Wanguk

Mak Cas berperawakan kecil dengan kulit sawo matang yang menggelap karena terbakar sinar matahari. Uban-uban di kepalanya tertutup kerudung seadanya. Ia berdiri di depan rumahnya usai shalat Idul Fitri. Saya coba tersenyum seraya menangkupkan tangan kepadanya.

Saya kemudian melirik rumah di belakang Mak Cas, tempat ia berteduh. Rumah yang tampak sama seperti 7 tahun lalu, saat saya melaksanakan akad nikah di desa ini. Atap gentengnya kehitaman. Dinding kayu sudah terlihat lapuk. Lantai berupa tanah padat. Kamarnya satu dengan perabotan usang. Di seberang, dan samping kanan-kiri, rumah tetangga yang umurnya sama dengan rumah Mak Cas telah dipugar, megah; hasil keringat salah satu keluarga yang bekeja sebagai TKI di luar negeri.

Untuk kehidupan sehari-hari, Mas Cas sering mendapat uluran dari tetangga sekitar rumahnya. Ibu mertua saya yang dipanggil Mi Haji, salah satu orang yang sering memberikan bantuan untuk Mak Cas. Mi Haji berempati pada kondisi dan kehidupan Mak Cas. Salah satu alasannya, usia mereka sebaya.

Pernah istri saya mengusulkan kepada Mi Haji, “Mi, bagaimana kalau Mak Cas ikut kita ke Bandung aja, gimana? Mungkin bisa sedikit bantu-bantu di rumah.”

“Enggak bisa. Dia itu sering sakit-sakitan. Di perumahan kamu juga sepi. Lebih baik di sini. Mak Cas masih ada temannya.”

Di usia senja seperti itu, sudah selayaknya Mak Cas diurus oleh kerabat keluarga. Namun keadaannya yang tidak memiliki keluarga dekat membuatnya harus mengurus diri sendiri.

Di desa kelahiran istri saya ini, pada saat lebaran, sebagian orang sering memberikan uang kepada anak-anak. Biasanya uang kertas baru. Beberapa orang yang bekerja di luar negeri sering pula membagikan uang kertas asal negara tempat ia bekerja. Mak Cas yang tergolong fakir miskin ternyata juga mendapatkan sejumlah uang dari beberapa orang. Ia menyimpan uang pemberian orang-orang itu di lipatan pakaiannya.

Mak Cas ternyata juga ingin berbagi rejeki pada anak-anak yang bersalaman padanya di hari Idul Fitri. Ia mengambil uang dari lipatan pakaiannya dan memberikan kepada beberapa anak. Sayangnya, sebagian uang kertas yang diberikan Mas Cas bukan uang baru, melainkan uang kertas kusam dengan nominal yang tidak seberapa. Meskipun begitu, saya kagum dengan semangat berbagi Mak Cas itu. 

Siang hari saat rutinitas silaturahim Idul Fitri mulai berkurang, saya duduk di teras. Beberapa meter dari tempat saya duduk, ada sekelompok anak kecil usia SD yang tengah menghitung uang di atas bale-bale bambu. Beberapa di antara mereka keponakan dan masih terhitung kerabat keluarga. Sepertinya, cukup banyak uang lebaran yang mereka dapatkan sejak pagi. Seorang anak, baru menyadari, ada uang kumal di antara lebaran uang barunya. Ia mengatakan sesuatu kepada anak lain, lalu meremas uang itu jadi serupa bola dan melempar uang tersebut ke arah kali.  

Hati saya seolah tertusuk panah. Pipi ini bagai ditampar.

Saya jadi teringat lembar-lembar uang kumal yang diberikan Mas Cas. Saya jadi merasa bersalah. Pemberian lembaran-lembaran uang baru tanpa pengajaran, sistem reward-punishment kah yang membentuk perilaku membuang uang kumal itu?

Di hari Idul Fitri saya bersedih. Terlebih keesokan harinya saya mendengar cerita dari istri tentang salah satu sanak saudara yang sudah kuliah tetapi mengeluh pendapatan 'THR' yang diperolehnya tahun ini menurun. Ada juga kakak ipar yang tersinggung karena uang lebaran yang diberikannya sering dibanding-bandingkan nilainya dengan uang lebaran pemberian orang lain oleh seorang anak.  

Tahun depan saya harus merancang strategi baru agar anak-anak lebih paham makna uang. Mereka juga harus memiliki empati tinggi kepada orang yang sebenarnya berpenghasilan pas-pasan tetapi masih berusaha memberi uang lebaran. Sekadar memberi lembaran uang kertas baru di tahun ini dan tahun lalu tak boleh terulang lagi.


Uang lebaran, mudah diperoleh anak sehingga kurang bermakna


Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran  yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSandermDhofaro, dan Minikinizz
Comments
13 Comments

13 komentar:

  1. Semoga mak cas selalu sehat dan panjang umur serta orang2 yg care terhadap mak cas di beri balasan terindah dari Allah

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Iya, nih. Jadi kepikiran juga, apa yang bisa kulakukan untuk membantu Mak Cas, ya...

      Hapus
  3. Di tempat saya tinggal, banyak yang seperti Mak Cas. Sedih. Harusnya, mereka ngumpul bareng anak cucu, nyatanya merwka sendirian di hari raya. Semoga Allah beri kebahagian buat Mak Cas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepertinya ada di mana saja....

      Hapus
  4. sempat ada juga didekat rumah saya yg memberi uang kertas lecek kepada sanak saudara. melihatnya jadi malu sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang ada orang-orang yang renah hati seperti itu, mereka tetap berbagi meskipun dirinya sendiri kekurangan

      Hapus
  5. Salut sama orang yang sebenarnya belum mampu, tapi berani menyisihkan sebagian rezekinya untuk oranglain. Tulisan ini jadi pengingat bagi diri untuk tetap rendah hati. Terimakasih, Koko Nata :)

    Oya, sekalian mau info, masih ada kesempatan ikutan #GiveAwayLebaran dgn total hadiah hingga 3 juta! Cek info disini yaa: http://heydeerahma.com/index.php/2015/07/13/kontes-blog-giveaway-lebaran-bersama-heydeerahma Ajak teman-temannya juga yaa~ :)

    -Dee-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga atas kunjungannya, Mbak Dee. Amin, semoga kita menjadi orang yang selalu bersyukur

      Hapus
    2. amiiiiiiiiiin... sama-sama koko nata :) terimakasih ya sudah ikut #GiveAwayLebaran :)

      sering-sering yaaah main ke blogku heydeerahma.com ;)

      =Dee=

      Hapus
  6. Memang ya, anak-anak suka begitu. Tanggung jawab kita, selaku orang tua atau yang jauh lebih tua, untuk menyisipi pesan moral kepada mereka. Jangan pandang jumlah/nilainya, melainkan niat dan keikhlasan dalam memberi, itu yang utama. :)

    BalasHapus
  7. Hiks... sungguh sedih jika kita hidup tanpa sodara, ya? Semoga Mak Cas tetap sehat dan mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya.

    BalasHapus