Menulis, Buku, Kehidupan

Sabtu, 13 Juni 2015

Pengorbanan Bu Ilma, Cerpen Finalis LMCA 2012

Di setiap sekolah, selalu ada guru-guru baik yang akan kita kenang seumur hidup. Kisah suka dan duka bersama sang guru menjadi pengikat hati yang tak lekang oleh waktu. Seperti yang diceritakan Laksita Judith Tabina dalam cerpen Pengorbanan Bu Ilma ini. Kisahnya tentang Fira yang mendapat banyak bantuan dari Bu Ilma, sampai satu musibah menimpa Bu Ilma. Judith berusaha menggambarkan perasaan Fira yang campur aduk saat musibah itu terjadi.
Cerpen ini ditulis saat Judith masih berusia 11 tahun dan menjadi salah satu cerpen terbaik dalam Lomba Menulis Cerita Anak 2012 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Silakan baca, mungkin kamu mempunyai pengalaman bersama guru yang lebih seru sehingga dapat menjadi cerpen seperti karya Judith ini.


Pengorbanan Bu Ilma


Fira menatap bayangan tubuhnya di cermin. Bajunya tampak rapi. Wajadan rambutnya juga. Ia kemudian meraba dadanya. Debaran jantungnya masih saja kencang. Fira kemudian mengambil napas panjang seperti yang diajarkan oleh Bu Ilma, guru Bahasa Indonesia sekaligus pembimbing pidatonya. Hingga akhirnya ia merasa tenang kembali.
“Ayo, Fira! Kamu pasti bisa!” gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
“Fira!” panggil ibunya tiba-tiba dari luar kamar.
“Iya, Bu,” sahut Fira sambil mengambil tas sekolahnya dari atas tempat tidur.
Fira bergegas keluar kamar. Di ruang tamu Ibunya sedang berbincang dengan Bu Ilma. Mereka tampak begitu akrab.
“Bu Ilma sudah datang, Nak,” kata ibunya saat melihat Fira.
Fira mendekati gurunya, “Selamat pagi, Bu Ilma,” sapanya ramah sambil mencium tangan beliau.
“Selamat pagi,” balas Bu Ilma sambil menatap Fira penuh kasih sayang. “Kamu sudah siap?” tanyanya kemudian.
Fira mengangguk mantap, “Sudah, Bu.”
“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang,” ajak Bu Ilma.
Fira kemudian mencium tangan ibunya, “Fira berangkat dulu ya, Bu,” pamitnya. “Tolong doakan Fira.”
“Tentu, Nak,” jawab Ibu lalu mencium keningnya. “Hati-hati, ya.”
Sebentar kemudian Fira dan Bu Ilma meninggalkan rumah diiringi lambaian tangan ibunya.
Sepanjang perjalanan Fira lebih banyak diam. Ia sibuk merenung. Akhirnya hari ini tiba juga. Hari di mana ia akan maju untuk mengikuti lomba pidato. Hampir 2 bulan lamanya Bu Ilma membimbing Fira dengan tekun. Hingga Fira mampu mengikuti semua petunjuk beliau dengan baik. Bu Ilma sangat puas dengan hasil latihannya. Dan Fira berharap saat lomba nanti ia tidak akan mengecewakan Bu Ilma.
Sebenarnya Fira bukan anak yang pintar bicara di depan kelas. Ia bahkan pemalu. Tapi Bu Ilma memilih dirinya untuk mengikuti lomba pidato karena menurut beliau Fira memiliki suara yang bagus dan kuat. Bu Ilma memang tidak pernah membeda-bedakan semua muridnya. Beliau selalu adil, lembut dan penuh kasih. Hingga seluruh sekolah sangat hormat serta sayang padanya.
Setiap pulang sekolah Bu Ilma melatih Fira. Waktunya tidak lama hanya sekitar 1 jam saja. Sebab Fira masih harus membantu Ibunya berjualan kue. Tapi Bu Ilma mau mengerti keadaannya. Bahkan dengan sukarela gurunya itu mengantar Fira pulang setiap habis latihan. Agar ia tidak terlambat melayani pembeli kue-kue buatan Ibunya.
Dan hari ini Fira bertekad untuk tampil dengan baik. Ia ingin membalas semua kebaikan serta kasih sayang Bu Ilma. Fira tak ingin menyia-nyiakan seluruh perjuangan dan bimbingan Bu Ilma padanya.

***

Perlahan-lahan motor yang dikendarai Bu Ilma memasuki halaman Gedung Serba Guna tempat lomba pidato diadakan. Suasana tampak ramai. Sepertinya peserta lomba kali ini banyak sekali. Fira merasa gugup hingga jantungnya berdetak kencang. Ia berjalan dengan takut-takut di samping Bu Ilma. Melihat itu Bu Ilma langsung menggenggam tangannya. Dan kehangatan tangan Bu Ilma membuat jantung Fira kembali tenang. Mereka berdua lalu menuju tempat pendaftaran. Tak lama kemudian Bu Ilma menerima sebuah nomor urut peserta untuk Fira.
“Ini nomer pesertamu, Fira,” Bu Ilma mengulurkan sebuah kertas bertuliskan angka 19 padanya.
Fira menerima kertas itu. Dalam hati ia merasa lega karena tidak mendapat giliran pertama.
“Sebaiknya nomor itu kamu sematkan di bajumu, agar tidak hilang,” nasehat Bu Ilma. “Kamu tidak lupa membawa peniti seperti pesan Ibu kemarin, kan?”
Wajah Fira mendadak pucat. Ia lupa memasukkan penitinya ke dalam tas. Padahal tadi pagi ibunya juga sudah mengingatkan. Mungkin karena terlalu gugup ia sampai melupakan peniti yang tergeletak di atas meja.
“Ma... maaf. Sa... saya lupa tidak membawanya,” beritahu Fira terbata-bata
“Sebentar,” Bu Ilma lalu mengaduk-aduk isi tasnya “Aduh, sayang sekali Ibu juga lupa,” sambungnya kecewa. “Kalau begitu Ibu beli ke toko itu dulu, ya,” Bu Ilma menunjuk sebuah toko yang ada di seberang jalan.
“Maafkan saya, Bu,” ungkapnya lagi.
“Tidak apa-apa, Fira” balas Bu Ilma lembut. “Kamu tunggu di sini saja, ya.”
Fira berdiri di halaman Gedung Serba Guna sambil memperhatikan Bu Ilma yang menyeberang dengan hati-hati. Sebentar saja gurunya itu sudah keluar dari toko yang tadi di tunjuknya. Rupanya di situ tidak menjual peniti. Bu Ilma lalu berjalan mencari toko yang lain. Sementara Fira hanya bisa menunggu dengan perasaan bersalah.
Tiba-tiba terdengar panggilan untuk para peserta lomba. Fira menjadi cemas karena Bu Ilma masih belum kembali. Ia mondar-mandir sendirian karena peserta lain sudah mulai memasuki gedung. Tapi kemudian ia melihat Bu Ilma. Wajahnya tampak cerah. Rupanya peniti yang dicari sudah didapat. Fira menunggu dengan tidak sabar. Ia berusaha memberitahu Bu Ilma. Tangannya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah Gedung Serba Guna. Rupanya gurunya itu mengerti. Sebab Bu Ilma buru-buru menyeberang jalan sambil berlari.
CITTT....BRAKKKK!
Tiba-tiba sebuah motor yang melaju kencang menghantam tubuh Bu Ilma. Fira hanya bisa terganga.
“Tidaaaakkk...!!!” teriak Fira nyaring sambil berlari mendekati Bu Ilma yang tergeletak di jalan raya. “Bu Ilma! Bu Ilma!” jeritnya panik.
Bu Ilma hanya diam. Hingga membuat Fira ketakutan. Ia lalu menggoyang-goyangkan tubuh gurunya itu. “Bu Ilma!” panggilnya lagi.
Perlahan-lahan Bu Ilma membuka matanya, “Fi...ra,” bisiknya parau.
Airmata Fira menetes, “Bu Ilma, apa yang sakit, Bu?”
Bu Ilma menggeleng lemah. Beliau lalu mengulurkan sebelah tangannya yang masih menggenggam peniti. Sementara itu orang-orang mulai berlarian dan mengerumuni mereka berdua.
“Ini, penitinya. Kamu harus mengikuti lomba dengan baik, ya,” pesan Bu Ilma.
“Tidak!” seru Fira. “Saya mau ikut Bu Ilma ke Rumah Sakit,” tolak Fira sedih.
“Jangan, Nak. Ingat semua kerja kerasmu. Jadi tetaplah berlomba,” pinta Bu Ilma lembut.
“Tidak, Bu,” sahut Fira sambil terisak. “Saya ingin menemani Ibu,” sambung Fira. “Ini semua salah saya.”
“Bukan, Fira. Ini bukan salahmu,” bisik Bu Ilma sambil menahan sakit. “Ibu yang tidak hati-hati saat menyeberang.”
Tangis Fira semakin keras. Ia merasa sangat bersalah. Gara-gara keteledorannya Bu Ilma kecelakaan. Sementara itu dari kejauhan terdengar suara sirine ambulan. Rupanya ada yang sudah memanggilnya.
Akhirnya Fira hanya dapat melihat gurunya itu diangkut dan dibawa pergi. Ia masih terus berdiri di tepi jalan meskipun ambulan itu telah lenyap dari pandangan matanya.
“Fira!” panggil seseorang.
Fira menoleh. Di belakangnya berdiri Bu Sinta, wali kelasnya. Fira tidak tahu siapa yang sudah memberitahu Bu Sinta. Ia berlari mendekati gurunya itu.
“Saya yang salah, Bu. Semua salah saya. Gara-gara saya Bu Ilma kecelakaan,” isak Fira berulang-ulang.
Bu Sinta menggeleng, “Itu musibah, Nak,” kata Bu Sinta penuh pengertian.
“Sekarang kita masuk, ya. Karena lombanya sudah dimulai,” ajak Bu Sinta sambil menghapus airmata Fira dengan sapu tangan yang sejak tadi dipegangnya.
Fira hanya menurut ketika Bu Sinta membawanya masuk ke dalam Gedung Serba Guna. Saat itu peserta pertama sudah mulai berpidato. Tapi ia tidak memperhatikan. Pikirannya masih tertuju pada Bu Ilma. Dan air matanya kembali menetes.
“Sudah, Fira. Jangan terus bersedih,” bujuk Bu Sinta saat melihat wajah Fira kembali basah. “Sekarang Bu Ilma pasti sudah dirawat. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” sambungnya lagi. “Kita berdoa saja agar beliau cepat sembuh.”
Fira mengangguk. Tapi air matanya tak bisa berhenti mengalir. Kesedihan masih memenuhi dadanya. Ia tidak sanggup ikut lomba. Bahkan Fira sudah lupa dengan semua isi pidatonya. Ia tak tahu harus mulai dari mana.
Satu-persatu peserta lomba pidato sudah maju. Tak lama lagi giliran Fira akan tiba. Fira merasa tak bisa ikut. Ia hanya ingin melihat dan mengetahui keadaan Bu Ilma.
“Bu Sinta,” panggil Fira pelan.
“Ada apa, Fira,” jawab Bu Sinta sambil menatap wajah Fira yang masih penuh airmata.
“Sa...saya tidak ingin maju, Bu. Saya tidak bisa,” bisik Fira.
“Fira,” kata Bu Sinta menenangkan. “Bu Ilma pasti akan kecewa kalau sampai Fira tidak ikut lomba. Dan Fira pasti tidak ingin membuat beliau sedih, kan,” sambungnya sambil menggenggam erat tangan Fira.
“Sepulang lomba nanti Ibu akan mengajakmu menjenguk Bu Ilma. Kamu pasti ingin memberi beliau kabar yang menggembirakan, bukan?”
Fira terdiam. Ia sibuk merenungkan kata-kata gurunya itu. Fira teringat besarnya kasih sayang Bu Ilma padanya sampai beliau hampir mengorbankan nyawanya. Fira lalu menghapus airmatanya.
“Iya, betul. Aku tidak boleh mengecewakan Bu Ilma. Aku harus bisa tampil dengan baik,” gumamnya dalam hati. ”Bu Ilma,” bisik Fira.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan semua pengorbanan Ibu. Lihatlah, aku pasti bisa!” lanjutnya penuh tekad.
Beberapa saat kemudian namanya dipanggil. Dan Fira melangkah dengan mantap ke atas panggung. Sisa-sisa airmata masih menghiasi wajahnya yang pucat. Tapi matanya penuh tekad dan semangat.
***
Aroma obat-obatan menusuk hidung Fira. Dari tempat ia duduk, Fira mencium pialanya berulang-ulang. Ada sinar haru di matanya. Ia sangat bahagia karena bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Bu Ilma.
“Bu Ilma,” Fira menyodorkan pialanya sebagai juara pertama lomba pidato pada gurunya yang masih terbaring dengan wajah pucat itu.
“Terima kasih. Berkat bimbingan, kasih sayang juga pengorbanan Ibu, akhirnya saya bisa menjadi juara.”
“Selamat ya, nak. Ibu bangga sekali padamu,” jawab Bu Ilma sambil tersenyum lembut.
Fira menggenggam erat tangan Bu Ilma. Ia tak ingin melepasnya. Fira menatap guru yang sangat disayanginya itu dengan mata berkaca-kaca.  Guru yang membimbingnya dengan tekun. Guru yang berjuang keras bahkan rela berkorban untuknya. Seumur hidup ia tidak akan pernah melupakan jasa Bu Ilma.
“Saya juga bangga pada Ibu,” balas Fira. “Dan saya tidak akan melupakan semua kebaikan Ibu. Cepat sembuh, Bu Ilma. Agar Ibu bisa mengajar lagi.”
Bu Ilma mengangguk sambil tersenyum bahagia. Dan Fira akan terus mengenang hari ini selamanya. [*]
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar