Menulis, Buku, Kehidupan

Rabu, 10 Juni 2015

Maafkan Aku, Kek, Cerpen Terbaik 3 LMCA 2012

Siapa yang punya kakek atau nenek dan sering jengkel dengan kepikunan mereka? Nah, cerpen berjudul Maafkan Aku, Kek ini mengingatkan kita agar selalu menghormati kakek dan nenek kita. Cerita karya Ahmad Ali Ashshidiqi menduduki peringkat tiga dalam Lomba Menulis Cerita Anak (LMCA) 2012 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Silakan baca dengan perlahan, serapi maknanya. Semoga kamu terinspirasi untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua, terutama mereka yang sudah lanjut usia.



Maafkan Aku, Kek

Aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Namaku Anggito Wiryawan. Aku biasa dipanggil ‘Tito’. Aku dilahirkan di Sorong, 10 Februari 2001. Aku adalah siswa kelas enam di SD Al Irsyad Kota Sorong, Papua Barat. Dua kakak perempuanku telah kuliah dan tidak tinggal serumah dengan orangtuaku. Kakak pertama bernama Paramitha Wiryawan. Dia kuliah di STIS Jakarta. Kakak kedua bernama Maharani Wiryawan. Dia kuliah di AMG Jakarta. Kakak perempuan ketiga bernama Windyani Wiryawan. Dia biasa dipanggil ‘Windy’, dan masih tinggal serumah dengan orangtuaku karena masih kelas 2 SMA.
Ayahku bernama Wiryanto. Dia seorang pelaut yang bekerja di kapal udang. Dia sering berlayar meninggalkan kami selama 2 – 3 bulan. Ibuku bernama Wantini seorang guru di sebuah SMPN di Kota Sorong. Nama belakangku dan kakakku adalah gabungan antara nama ayah dan nama ibu. Selain itu tinggal pula kakek di rumahku. Dia adalah orang tua dari ayahku. Dahulu kakek juga seorang pelaut. Dia seorang prajurit Angkatan Laut. Sedang nenek sudah meninggal lebih dulu. Rumah kakek telah dijual oleh anak-anaknya. Kakek tidak mempunyai rumah lagi. Kakek meminta tinggal di rumah kami, karena rumah kamilah yang paling besar.
Seperti biasa ayah pergi berlayar dengan kapal udangnya. Suasana rumah serasa sunyi. Jika ayah di rumah, ayah pasti orang yang sering menegurku kalau aku terlalu lama bermain. Misalnya bermain Play Station, Online, dan nonton televisi. Jika ayah pergi, ibu yang menegurku, tetapi tidak sekeras ayah.
Suatu hari sepulang sekolah, ibu membawa kabar yang mengejutkan. Ibu mengatakan, ”Ibu mendapat tugas untuk penataran ke Jakarta”.
Aku bertanya, ”Berapa lama, Bu?”
“Hanya dua minggu,” jawab ibu.
Kepalaku langsung pusing. “Apa jadinya kalau dirumah tanpa ibu selama dua minggu?” tanyaku dalam hati.
Sehari sebelumnya, Kak Windy juga berangkat ke Bandung untuk mengikuti pekan karya ilmiah. Aku bingung membayangkan harus menjaga kakek yang telah pikun. Ingin rasanya kularang ibu agar tidak pergi, kataku dalam hati. Tetapi tidak bisa, karena ini adalah salah satu tugas ibu sebagai guru.
“Soal makan, kamu tidak usah khawatir,” kata ibu.
“Ibu sudah titip Bude Ning memasak untuk kamu dan kakek”, lanjutnya.
Bude Ning adalah tetangga sebelahku yang sangat dipercaya ibuku. Bude Ning juga adalah teman SMA ibuku. Jadi, wajar jika ibu meminta tolong pada Bude Ning.
Tiga hari kemudian, ibu berangkat ditemani oleh rekan guru dari sekolah ibu. Aku tidak mengantar karena harus sekolah. Di sekolah, aku berpikir bagaimana menjaga kakek yang pikun. Melihat wajahku yang bingung, Fandi memanggilku. Fandi adalah sahabat yang sangat kupercaya walau dia penganut agama Kristen Protestan.
“Mengapa kamu melamun?” tanya Fandi.
“Aku ditinggal ibuku. Terpaksa aku harus menjaga kakek yang pikun.” jawabku.
“Kamu harus sabar,....” kata Fandi.
Aku sedikit bingung dengan perkataan Fandi. Sepertinya masih ada kata-kata yang akan diucapkannya.
Jam satu siang aku pulang sekolah. Setelah mengganti baju, kemudian aku makan siang. Kulihat piring bekas kakek makan siang. Nasi putih, sayur rebung dan ikan goreng kusantap dengan cepat karena lapar. Tiba-tiba aku mendengar suara kakek.
“Tito ambilkan piring, Kakek mau makan.” kata kakek.
Aku terkejut. “Bukankah Kakek sudah makan?” tanyaku.
“Kakek belum makan, dari tadi Kakek tidur”, jawab kakek.
Aku mengambil piring dengan pikiran bingung.
“Mana ikan kuah kuningnya? Kenapa kamu habiskan, itu makanan kesukaan Kakek?” tanya kakek sambil marah.
“Kek, hanya ada ikan goreng, bukan ikan kuah kuning”, jawabku.
Kakek tetap membantah. Kakek menyuruhku meminta di Bude Ning.
Aku menjawab, ”Tidak mau, aku malu. Bude kan punya tiga anak laki-laki yang sudah besar, pasti makannya juga banyak”. Walaupun begitu kakek tetap memaksaku. Aku mengalah. Aku teringat kata-kata Fandi, kita harus sabar kepada orang tua.
Kemudian aku ke rumah Bude Ning meminta ikan kuah kuning. Tetapi Bude Ning tidak memasaknya. Bude menyuruhku untuk membeli ikan kuah kuning di warung. Sesampai di rumah, aku menyuruh kakek untuk makan.
Sungguh aku sangat kesal ketika kakek berkata, ”Kakek tidak lapar, Kakek mau menonton televisi”.
“Aaaagh”, sambil meletakkan mangkok berisi ikan kuah kuning kesukaan kakek. Tiba-tiba ibu mengirim SMS. Di pesan masuk tertulis, ‘Ibu sedang transit di Makassar’. Aku menelpon dan menceritakan kejadian tadi kepada ibu. Ibu menasihatiku agar sabar. Ibu menyuruhku shalat dzuhur karena waktu shalat sudah hampir habis.
Hari ini libur sekolah, karena para guru mengikuti KKG yang diadakan di sekolahku. Setelah shalat subuh aku tidur lagi. Jam delapan pagi, kakek membangunkanku untuk pergi sekolah.
“Aku libur, Kek” jawabku lalu tidur lagi. Tetapi akhirnya, aku bangun juga karena kakek terus menepuk-nepuk punggungku.
Setelah makan pagi, aku menonton televisi. Saat itu di Trans TV sedang ditayangkan Islam Itu Indah bersama Ustadz M. Nur Maulana yang terkenal dengan sapaan, ”Jamaaah....... Alhamdulillah.” Ustadz sedang membahas masalah merawat orang tua. Beliau berkata, ”Merawat anak lebih mudah daripada merawat orangtua, karena merawat anak semakin lama semakin pintar. Sebaliknya merawat orang tua semakin lama semakin menjengkelkan. Tetapi kalau kita sanggup dan sabar dalam merawat orangtua, maka Allah SWT menjanjikan pahala surga”.
Nyaris saja aku menitikkan air mata. Aku hampir tidak mau lagi merawat kakek yang pikun. Aku pun berdoa kepada Allah SWT agar kakek tetap sehat dan daya ingatnya masih baik. Aku harus membalas budi karena kakek yang menjaga aku ketika ibu dan ayah bekerja. Aku juga berdoa, semoga anakku dan cucuku akan merawatku dan tidak kesal jika aku sedikit pikun dan pelupa. Kakek, maafkan kesalahanku, doaku dengan sangat khusyuk.
Tiba-tiba terdengar suara, ”Braak”. Aku segera berlari ke kamar kakek. Aku melihat kakek terlentang di lantai. Aku menangis dan berteriak meminta tolong. Aku menggoyang-goyang tubuh kakek, tetapi kakek diam saja.
Suami Bude Ning, Pakde Anton, datang ke rumah. Aku melihat ia menelpon seseorang. Beberapa saat setelah Pakde Anton menelpon seseorang, ada mobil datang dan Pakde membawa kakek ke rumah sakit.
Aku masih menangis ketika Bude Ning datang ke rumah. Bude menceritakan kalau kakek harus dirawat di rumah sakit. Bude berkata, “Pakde sudah menelpon ayah, mungkin besok lusa ayah baru tiba. Mas Bin akan menemani kamu”.
Dua hari kemudian ayah tiba di rumah. Ayah mengajakku ke rumah sakit. Aku sedikit lega. Kakek terlihat lebih sehat. Ketika aku masuk, kakek sedang berbicara dengan orang yang datang menjenguk kakek. Mungkin teman lama kakek .
“Ini cucu laki-laki saya, ganteng ya, dia selalu ranking satu”, kata kakek sambil tertawa membanggakanku Di depan teman kakek.
Dalam hati aku berkata, “Ternyata kakek sangat bangga dan sayang kepadaku”. Aku jadi sedih mengingat kelakuanku pada kakek selama ini. Walau aku memperlakukan kakek dengan tidak baik, tetapi kakek membanggakan aku di depan teman-temannya.
Siang itu, ayah dan aku pergi ke Bandara. Kami menjemput Kak Windy yang tiba dari Bandung. Setelah membawa koper ke rumah, kami langsung menuju ke rumah sakit.
Di depan kamar kakek, kami mendengar kakek sedang mengaji. Kami mengetuk pintu, lalu kami masuk. Kakek tersenyum lebar ketika melihat kak Windy.
“Apakah kamu mendapat juara?” Tanya kakek.
Kak Windy menggelengkan kepala dengan lemas. Kak Windy terlihat sangat lesu.
“Tidak apa-apa, kegagalan itu biasa. Kamu harus lebih giat belajar.” Tiba-tiba aku dikejutkan dengan tepukan kakek pada bahuku, ”Tito juga harus rajin belajar dan lebih sayang kepada orangtua. Hiburan boleh saja tetapi tidak boleh berlebihan”.
Kemudian kakek mengatakan kalau kakek ingin tidur. Kami pun pergi ke warung makan karena kak Windy belum makan. Sepulang dari warung makan, kami membawa makanan kesukaan kakek, papeda dan ikan kuah kuning. Aku menepuk bahu kakek dengan perlahan agar kakek bangun. Tetapi kakek tidak kunjung bangun. Wajahnya terlihat damai saat tidur.
Ayah menyuruh seorang suster agar melihat keadaan kakek. Bagai disambar petir, ketika suster berkata kakek telah meninggal dunia.
Aku sangat menyesal. Aku merasa akulah yang menyebabkan kakek meninggal karena kelakuanku yang tidak baik. Aku begitu sedih dan menyesal dengan apa yang kulakukan. Air mataku terus berlinang sambil memohon maaf kepada kakek. “Maafkan Tito, ya Kek. Tito menyesal tidak berbuat baik kepada Kakek selama ini. Ya Allah Ampunilah salah dan dosaku. Belum sempat aku berbuat baik kepada Kakek, tetapi mengapa Engkau telah memanggilnya? Ampuni juga dosa Kakek.Terimalah amal ibadahnya. Tempatkanlah Kakek di surga-Mu, amiien, amiien yaa robbal alamin” pintaku dalam doa.
Beberapa hari kemudian.
Di suatu sore yang cerah, kami berempat duduk-duduk. Bunga eforbia telihat mekar dengan indah. Aku ingat, kakek paling senang melihat bunga ini saat mekar. Setelah aku melihat bunga eforbia, ayah mengajakku ke bandara. Ternyata, sekarang ibu akan pulang. Kami menjemput ibu. Kulihat wajah ibu campur aduk antara sedih dan senang. Tanpa sepengetahuanku, kak Windy memberitahu ibu jika kakek telah meninggal. Setelah pulang dari bandara, aku ke ruang keluarga, kubuka album foto. Ada foto kakek sedang menggendongku. Ada juga foto kakek bersama kakak-kakak perempuanku. Kalau diperhatikan, wajahku mirip dengan wajah kakek.
Biasanya anak mirip dengan orangtuanya, namun aku berbeda. Aku lebih mirip dengan kakekku daripada orangtuaku. Tidak terasa air mata telah mengalir di pipiku. Aku harus merelakan kepergian kakek. Aku sekarang mengerti apa yang dirasakan Fandi ketika dia menasehatiku. Ternyata kakek Fandi juga telah meninggal.
Adzan magrib terdengar ditelingaku. Aku pun ke masjid dan berdoa agar kakek dirahmati Allah SWT dan orangtuaku tidak meninggal begitu cepat. Tak beberapa lama libur berakhir. Kehidupanku kembali seperti dulu, walau kakek telah meninggal. Kita harus menjaga orangtua dengan sabar, karena hidup mereka tidak lama lagi dan mereka bisa saja akan pikun. Kata-kata yang terakhir kuucapkan untuk kakek, “Selamat tinggal, Kek.” [*]

Keterangan: papeda adalah makanan pokok di Papua, terbuat dari sagu.


Comments
1 Comments

1 komentar: