Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 16 Juni 2015

Cerpen Juara 3 Lomba Menulis Cerita Remaja 2012

Kadangkala kita malu dengan tanah kelahiran kita di desa yang jauh dari keramaian kota. Desa yang cenderung sepi, remang-remang, dan sedikit hiburan seolah bkan pilihan bagus untuk menetap hingga tua. Sebagian orang berlomba-loma datang ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Padahal banyak hal menarik di desa yang tidak bisa kita temukan di kota.
 Seperti kisah Topeng Arang Seruni. Seruni dan kawan-kawan senang bermain di bawah pohon beringin baik siang maupun malam. Setiap bulan purnama mereka bermain dengan wajah berpoles arang. Masalah terjadi saat  pohon beringin itu akan ditebang karena beberapa alasan.
Logika cerita dan penyelesaian cerpen ini khas anak-anak. Padahalam masalah inti yang dikemukakan sebenarnya berat yaitu pohon yang menjadi sumber penghidupan, baik sumber daya alam maupun sumber ekonomi. Berbagai keunggulan tersebutlah yang mungkin menjadikan Topeng Arang Seruni meraih juara 3 pada Lomba Menulis Cerita Remaja 2012 oleh Kemendikbud Dirjen Dikdas Republik Indonesia. Cerita selengkapnya silakan baca tuntas sendiri.


Topeng Arang Seruni
Oleh: Hurin Aghnia Nur Ainani

Seruni menghias wajahnya dengan jelaga di depan cermin. Sungguh wajah Seruni telah berubah menjadi topeng. Hanya matanya nampak masih bening memancarkan cahaya. Seperti malam purnama sebelumnya, kali ini dia bersama teman-temannya ingin menghabiskan malam dengan bermain topeng arang. Persis seperti kesenian dongkrek dari Madiun, Seruni dan kawankawan biasa bermain dan berjoget menyambut bulan purnama. Permainan ini menjadi hiburan masyarakat kampung di tengah kesibukan mereka membakar kayu untuk dijadikan arang.
Rambutnya ditutup dengan rambut palsu yang biasanya digantung di atas kaca riasnya. Bapaknya sengaja membelikan rambut palsu hampir mirip dengan rambut raksasa dalam permainan wayang orang saat diajak Juragan Leman melihat pameran seni dan budaya Reog Ponorogo waktu itu. Sebentar lagi, bulan benar-benar menampakkan lingkarnya yang bulat, indah memancarkan wajah halusnya.
Seruni sudah tak sabar ingin ke luar rumah. Pasti teman-temannya juga sudah dandan seperti dirinya dan seperangkat gamelan –gong, kenong dan kendang– juga pasti sudah disiapkan di tanah lapang milik Pak Gampang, Juragan terkaya penjual arang di perkampungan Wonomulya itu. Di sanalah anak-anak kampung biasa menghabiskan hari-harinya untuk berkumpul dan bermain sehabis sekolah, atau malam sehabis dari masjid dan belajar. Apalagi jika malam minggu, mereka ramai membuat acara sendiri di sana. Khas anak kampung Wonomulya.
Setelah berpamitan seperti biasa dengan Bapaknya, Seruni langsung berlari menuju rumah tetangganya. Di rumah Lintar, nampak semua telah berkumpul. Wajah mereka sangat lucu, menghitam, hingga satu per satu tak ada yang mengenal jika tak dari suaranya.
Dari kejauhan terdengar gamelan mirip gamelan reog telah dibunyikan. Rupanya tanah lapang sudah penuh dengan warga yang ingin melihat kebolehan Seruni dan kelompoknya menari. Di ujung sebelah timur tanah lapang ini menjulang kokoh sebatang pohon beringin tua. Di bawahnya sebuah belik bening mendingin airnya. Burung malam sesekali membuka nyanyian sunyi mendirikan bulu kuduk. Meski begitu, tak ada yang merasa takut keluar rumah. Mereka telah bersahabat dengan alam dan seisinya seperti bagian dari alir darah mereka.
Seruni, Lintar, Berlian, Salim dan Fairus, sampai di lapangan langsung menghambur ke tengah-tengah penonton, memamerkan gerakan lenggak lenggoknya menari. Tak jarang anak-anak kecil yang lain ikut-ikutan memoles wajahnya dengan arang lalu ikut berjoget dengan gaya masing-masing. Kelucuan ini menimbulkan gelak tawa para orang tua yang bangga, anak-anak mereka tak malumalu menari.
Kadang atas kesadaran sendiri, para orang tua memberikan uang koin seikhlasnya untuk membeli minuman atau sekedar makanan kecil jika mereka lelah usai menari. Lalu jika mereka bosan dengan permainan itu, mereka ganti bermain Gobak Sodor, masih dengan wajah yang menghitam. Mereka belajar kejujuran lewat sentuhan teman yang menjaga di garis batas, setiap ruang harus dimasuki tanpa harus tersentuh oleh penjaganya. Jika salah satu anggota badannya tersentuh, maka permainan usai. Berarti tim yang tersentuh kalah. Begitu juga banyak ruang harus dilalui untuk memenangkan permainan. Mereka beranggapan bahwa segala jerih payah dalam hidup harus dilalui tahap demi tahap dengan kerja keras, hingga mereka kembali ke tempat semula. Jika sudah dudur maka berhasil lah tim itu memenangkan permainan. Itulah permainan gobak sodor. Malam makin melingkarkan bulan ke peraduan sesungguhnya. Dan mereka pulang, tersenyum dalam lelap mimpi tak bertepi.
* * *
Siang begitu menyengat. Seruni dan beberapa temannya berlari berhamburan di jalan setapak menuju perkampungan Wonomulya. Dari arah berlawanan para warga berjalan tergesa. Matanya nanar kemerahan seperti menunjukkan rasa marah luar biasa. Di salah satu tangan mereka mengepal senjata apa saja. Ada yang membawa sabit, kapak, cangkul, golok dan kebanyakan membawa potongan kayu. Seruni dan teman-temannya semakin takut. Mereka berlari ingin segera sampai kerumah masing-masing. Salah seorang dari anak-anak itu bertemu bapaknya.
“Bapak, Bapak mau ke mana to!” teriak Salim, teman Seruni yang paling gendut tubuhnya. Yang dipanggil berhenti seketika.
“Eh, Salim, kamu segera pulang sana. Setelah itu jangan ke mana-mana. Di rumah sama Ibumu saja. Ini di luar orang-orang pada ngamuk. Ada rombongan dari kota mau menebang pohon beringin besar di ujung desa sana. Bapak ikut mereka. Sudah ya... cepat pulang sana.”
“Hati-hati, Pak.“ Jawab Salim. Segera ia menghambur kembali dan berlari sambil bercerita kepada teman-temannya akan apa yang dikatakan Bapaknya.
Seruni semakin takut. Ia ingat Bapaknya, pasti juga ikut berlari-lari bersama mereka. Diamatinya setiap orang yang lewat sambil terus berlari. Dia tak menemukan Bapaknya. Seruni sangat khawatir. Jangan-jangan telah terjadi apa-apa dengan Bapaknya. Ia tak ingin sesuatu mengancam keselamatan bapaknya. Dilepasnya sepatunya, lalu makin kencang ia berlari untuk sampai ke rumahnya.
Siang begitu terik, matahari menyengat pori-pori kulit. Kemarau telah menggantikan musim. Rumput gajah yang biasa menghijau segar di beberapa ladang pertanian kini mulai menguning ujung daunnya. Sampai halaman sebuah gubuk kecil, Seruni makin kehabisan nafas. Dusun Jeblok ini sangat lengang. Rupanya para warga telah banyak yang meninggalkan rumah. Diketoknya pintu berdaun triplek agak usang itu.
“Bapak... Bapak... Bapak....!” teriak Seruni dari luar.
Pintu dibuka. Rupanya Bapak Seruni masih di rumah, berpakaian rapi, baju hitam celana hitam kolor, seperti biasanya jika Bapaknya harus mengantar ritual selamatan di bawah pohon beringin. Dia segera meletakkan tas dan memegang lengan bapaknya erat. Keduanya duduk di dipan bambu.
“Lho kamu kok seperti kesetanan, keringatmu sak jagung-jagung, ki ngapa to Nduk?”
“Alhamdulillah, Bapak masih di rumah. Di Luar sana orang-orang pada ngamuk. Katanya mau nyegat rombongan dari kota yang mau nebang pohon beringin keramat itu, Bapak.”
“Oh alah, Lha ya ini Bapak mau njemput mereka. Sudah minum sana. Gak usah khawatir, semua sudah ada yang ngatur.”
“Lha gak khawatir piye to Pak. Mereka banyak yang bawa golok, penthungan kok. Medeni banget.”
“Kalau gitu Bapak harus cepet-cepet nyusul ke sana.”
“Bapak, jangan berangkat, aku khawatir, terjadi sesuatu dengan Bapak.” Isak Seruni sambil memegang erat tangan kanan bapaknya yang telah menggenggam tongkat kayu hansip sepanjang satu meter.
“Bapak harus menghentikan mereka nduk. Kalau tidak, pasti terjadi pertumpahan darah. Sebelum semuanya terlanjur,” ucap Pak Bono meyakinkan anaknya.
“Pokoknya Bapak tidak usah berangkat, jika Bapak nekat berangkat, Seruni ikut.”
“Seruni, ini bukan acaranya anak-anak, ngawur kamu.”
“Seruni hanya punya Bapak, jika Bapak pergi, Seruni sama siapa? Pokoknya Seruni ikut..”
Anak dan bapak bergelut seru di dalam gubuk. Pak Bono nekat keluar rumah melepaskan genggaman tangan Seruni, lalu pintu gubuk dikuncinya dari luar. Seruni meraung seperti kehilangan ibunya tempo dulu.
* * *
Rombongan penebang kayu dari Dinas Perhutani hampir sampai. Mereka melewati jalan kecil berbatu satu-satunya menuju kampung Wonomulyo. Raungan mobil yang membawa rombongan itu sayup terdengar memenuhi sudut kampung dan semakin mendekat. Di bak belakang mobil pick up sebuah mesin gergaji telah disiapkan. Tiba-tiba dari balik semak belukar meloncat segerombolan warga kampung menghadang arak-arakan mobil itu.
“Berhenti!“ Seorang lelaki bertubuh kekar tanpa baju mengacungkan kapak yang dibawanya. Arak-arakan mobil berhenti seketika. Mereka berhamburan keluar mobil.
“Ada apa ini! Kami utusan dari kabupaten. Mengapa kalian menghadang kami?” Tanya seorang yang memakai seragam, sepertinya pejabat. Beberapa polisi pengawal bersiaga mengamankannya.
“Kalian tidak boleh mengambil kebahagiaan kami. Pohon beringin itu sumber air bagi kami. Banyak berkah dan harapan kami ada pada pohon itu. Banyak orang menggantungkan nasibnya pada pohon ini.” Lelaki bertubuh kekar itu tetap berteriak menghadang.
“Ya, pohon itu ada sebelum kami dan kalian semua lahir. Kami tidak rela pohon leluhur kami dimusnahkan,“ teriak seorang warga sambil mengacungkan goloknya.
“Enyah kalian. Kalau tidak, kami akan memaksa kalian untuk pergi dari sini.” Teriakan para warga telah sampai pada puncaknya. Beberapa polisi meletupkan senjata apinya ke atas.
Gerombolan warga mundur selangkah.
“Sudahlah, kalian tak usah menghalangi kami. Bapak polisi ini akan memaksa kalian minggir jika kalian masih ngotot.” Kata Sang pejabat tadi pongah.
“Kami tak peduli. Nyawa kami taruhannya...” ujar mereka berteriak saling bersahutan. Polisi pengawal maju selangkah sambil mengarahkan senjata api tepat di muka warga kampung paling depan.
Pak Bono mempercepat langkahnya hingga sandal jepitnya putus di tengah jalan. Badannya yang kurus menambah gesitnya langkah. Sampailah dia di jalan perbatasan sebelah barat menuju gerbang masuk perkampungan Wonomulyo.
Suasana tegang, adu mulut tak terelakkan lagi. Dengan mengacungkan tongkat hansipnya, dia berteriak serak. Suaranya besar menggelegar, berusaha melerai kericuhan itu.
“Tunggu, tahan.” Semua mata menoleh ke arah Pak Bono. Semua warga menurunkan acungan tangannya dengan genggaman senjata masing-masing.
“Dengarkan saya, kalian masih menganggap saya sebagai sesepuh penjaga pohon beringin tua itu, kan? Mari kita dengar dulu mengapa Bapak-bapak ini memilih menebang pohon itu? Jangan main hakim sendiri to! Maafkan kelancangan mereka Bapak-bapak. Saya utusan dari Bapak Lurah sebagai penunjuk jalan sekaligus menyambut kedatangan Bapak-bapak.”
“Kami dengar di desa kalian sering terjadi angin puting beliung. Kami telah mendatangkan ahli untuk melihat pohon ini. Keadaannya sangat tua. Membahayakan jika tidak ditebang. Kebetulan, Bapak Bupati menginginkan arang untuk membakar kembali pusaka kabupaten pada acara jamasan dan kirab senjata bulan Sura mendatang. Jadi bukan untuk sekedar ditebang saja. Pohon ini kan menjadi arang jamasan pusaka dan pembakar bolu massal di alun-alun, sehari sebelum kirab.” Pejabat tadi menjelaskan dengan diplomatis.
Semua warga sangat hormat dengan Pak Bono. Dialah yang dipercaya warga menjadi juru kunci pohon tua yang dikeramatkan itu. Kadang banyak warga dari lain kampung memuja pohon dan memberi sesaji beraneka rupa. Mereka memanjatkan doa memohon apapun keinginan dalam hidup mereka. Pak Bono lah yang selalu dicari untuk memohon ijin mengadakan ritual di bawah pohon itu. Warga sangat menghormatinya.
Entah karena Pak Bono juga orang kepercayaan Pak Lurah, dia tak bisa menolak perintah atasannya. Dia membolehkan pohon itu tetap ditebang demi kelanggengan pusaka kabupaten. Entah ini karena terpaksa atau memikirkan bahwa di atas akar yang menjuntai ke dalam belik, pohon itu mulai keropos ke dalam. Bahaya memang jika roboh diterpa angin. Sedang besarnya tiga dekapan tangan orang dewasa. ..
“Coba Pak Bono, satu-satunya pohon yang masih bisa buat kami berteduh, mencari air, beristirahat dengan rindang, ya hanya pohon itu. Jika ditebang, apa belik itu masih bisa tetap ada airnya tiap tahun. Lalu, jika kering ke mana kita mau mencari sumber air. Jangan hanya memikirkan kebutuhan yang hanya sekali setahun. Kami harus memiliki sumber air setiap saat, wahai Bapak-bapak Pejabat.”
Lelaki bertubuh kekar itu akhirnya menjadi pimpinan warga, berkata lebih tegas.
“Betul-betul!” mereka berteriak hampir serempak.
“Begitulah keberatan mereka Bapak-bapak. Mungkinkah tak ada jalan lain, selain menebang pohon itu?” kata Pak Bono.
“Ya, kami mengerti, tetapi kami dengar pohon ini sering digunakan ritual meminta sesuatu oleh warga masyarakat. Bukankah ini tidak baik bila dikaitkan dengan ajaran agama.” Kata Sang Pejabat tadi.
“Ya itu bukan salah kami. Mereka justru datang dari luar perkampungan kami, Pak. Dan saya selalu mengingatkan pada mereka untuk berdoa hanya kepada Gusti Allah ketika mereka melakukan ritual.” Jawab Pak Bono.
“Mengapa Bapak tidak melarang mereka saja.” Yang bertopi Koboi ikut memberi pertanyaan.
“Bapak tidak tahu bagaimana sulitnya kami makan enak. Itu bagian rejeki yang dikirim Gusti Allah kepada kami.” Seluruh warga membenarkan jawaban Pak Bono.
“Begini saja, kita tetap pergi ke ujung desa saja. Di sana ada Pak Lurah dan aparat desa yang lain. Kita dengar apa kata Pak Lurah tentang masalah ini. Bagaimana?” kata Sang Pejabat.
Pak Bono seperti berembug dengan warga. Lalu mereka menyetujui keinginan Sang Pejabat. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke ujung desa.
* * *
Seruni berusaha memutar otak bagaimana cara dia keluar dari rumah. Diseretnya meja kayu dengan sekuat tenaga ke bawah jendela rumahnya. Maklum jendelanya terlalu tinggi untuk dijangkau anak seusia dia. Dia memaksa naik ke atas meja kira-kira satu meter tingginya, membuka kancing jendela dan melompat ke luar. Seruni ingin mencari sahabat-sahabatnya. Dia sangat tidak ingin pohon itu ditebang. Jika benar ditebang, hilang mata pencaharian bapaknya sebagai penjaga pohon dalam ritual yang sering dilakukan masyarakat di tempat itu. Jika Bapak tak lagi dimintai tolong mengantarkan mereka, pasti aku tak bisa merasakan enaknya makan ayam panggang, pikir Seruni. Apalagi jika dia harus menunggu bapaknya membakar
arang di tempat Pak Gampang, sangat membosankan, lama sekali. Seruni biasa menghabiskan waktu untuk bermain di belik bawah pohon beringin itu. Tempatnya sangat teduh, sejuk dan nyaman. Sambil membawa buku untuk belajar, teman-temannya menjadikan tempat itu sebagai tempat bermain paling menyenangkan. Sering mereka ditemani oleh cericit suara burung yang bersarang di pohon beringin itu. Belum lagi jika ada yang melakukan ritual. Makanannya selalu mereka habiskan dengan sangat riang tanpa rasa takut sedikit pun. Tak ada yang melarang mereka.
Sampailah dia di rumah Lintar. Seruni berusaha kuat untuk tidak mencurigakan Ibu Lintar. Ada rencana besar ingin dia katakan kepada teman-temannya.
“Eh Seruni, ada apa nak. Bukannya kamu di suruh jaga rumah sama Bapakmu. Iya kan?” tanya ibu Lintar. Seruni mengangguk
“Tapi PR kami banyak sekali Bu. Kami mau mengerjakan bersama-sama seperti biasanya di rumah Fairus. Boleh ya Bu.” Pinta Seruni meyakinkan.
“Tapi jangan bermain seperti biasanya ya. Jangan ke bawah pohon beringin keramat itu.” Ibu Lintar melarang dengan sungguh-sungguh.
Keduanya berangkat ke rumah Fairus dengan berlari. Sampai di sana, Berlian dan Salim sudah menunggu mereka. Lalu mereka mencari tempat di mana ibu Fairus tak mendengar pembicaraan mereka.
“Kalian paham nggak, kita harus ikut memberontak seperti Bapak-bapak kita. Jika mereka masih ngotot, kita menangis sekuat tenaga. Biar wajah kita tak dikenali satu per satu, kita coreng saja pakai arang, bagaimana.” Kata Seruni menjelaskan rencananya.
“Aku takut, nanti dimarahi bapak sama ibuku”, jawab Berlian agak ragu
“Alah kamu, Lian. Cengeng. Kita berlima, nggak hanya kamu yang dimarahi. Kita hadapi bersama-sama”, kata Salim tegas.
“Iya, iya ayo cepat kalau begitu, kita berangkat, mampir ke tempat pembakaran arengnya Pak Leman. Kita coreti muka kita.”
“Keburu ditebang pohon beringinnya. Ayo cepat.” Seruni berlari memimpin di depan diikuti teman-temannya. Mereka mencari jalan pintas agar segera sampai di tungku pembakaran arang pak Leman. Lalu masing-masing memoleskan jelaga ke muka sesama teman, diambil dari pinggir tungku. Setelah semuanya tertutup hitam, tertawalah mereka serempak.
“Husy, jangan keras-keras. Ayo kita mulai petualangan kita, ya.”kata Seruni.
Mereka mengendap-endap di balik semak belukar pohon ara yang menggersang daunnya. Tanah hutan penuh dengan daun dan bunga kering pohon ara. Sampai di lokasi penebangan, mereka masih bersembunyi di tanah yang melandai sebelah selatan pohon besar itu. Nampak para penebang telah menurunkan alat-alat buat menebang kayu. Sepertinya benar-benar pohon itu hendak ditebang hari ini juga.
“Sebentar, sebelum semuanya terlanjur, Pak Lurah, mohon dipikirkan lagi. Keputusan Bapak sudah bulatkah?” tanya Pak Bono mengharapkan seperti hendak mempengaruhi agar Pak Lurah mengurungkan niatnya memberi ijin untuk menebang pohon ini.
“Ya, bagaimana lagi Pak Bono. Kehendak pemerintah begitu. Kan nanti akan dibangun tempat tandon air dari PDAM. Saya yakin semuanya akan baik-baik saja.”
“Bapak berani menjamin, air PDAM itu selalu bisa mengalir? Karena tempat kami daerah pegunungan. Sulit sekali air PDAM di musim kemarau bisa sampai di perkampungan kita. Apa bapak juga belum merasakan selama Bapak tinggal di desa kami dua tahun terakhir ini?” tanya salah seorang warga.
“Iya betul, Pak. Kami sering tak bisa mandi jika hanya mengandalkan PDAM.”  Tiba-tiba Seruni dan empat temannya menghambur menuju lokasi. Mereka tak sabar mendengar pembicaran yang makin menegang. Sambil berteriak lantang mereka mengagetkan para warga dan rombongan dari kabupaten. Beberapa yang melihat tertawa terbahak–bahak melihat wajah mereka hitam tertutup jelaga arang.
“Kami tidak mau pohon ini ditebang. Tolong Pak, jangan ditebang.” Seruni, Lintar dan Salim berteriak.
“Iya Pak, ini tempat kami satu-satunya buat bermain. Tak ada tempat serindang di sini Pak. Kami biasa berlima belajar dan memakainya buat beristirahat dan mandi setelah membantu Bapak memasukkan arang ke keranjang.” Salim menambahkan dengan lantang.
“Betul, pekerjaan mereka dekat dengan panas dan api, pohon inilah yang sering membuat kami benar-benar bisa menghilangkan lelah, Pak. Apalagi air telaga ini juga biasa kami minum begitu saja jika kami haus. Kami tak pernah sakit karenanya. Malah segar dan sehat.” Kata Fairus menjelaskan.
“Tidak hanya itu saja. Lihatlah di atas itu banyak sarang burung bertengger. Tupai-tupai berloncatan. Bapak-bapak ini tak kasihan melihat rumah mereka rusak. Kasihan mereka Pak.” Kata Seruni menghiba.
“Di sini juga kami biasa berkumpul bermain topeng arang tiap purnama tiba. Mereka sahabat-sahabat kami semua. Kasihan jika mereka tak bisa lagi melihat kami menari dan berjoget, jangan tebang Bapak. Saya mohon.” Isak tangis Seruni menjadi, membuat wajahnya menjadi agak kelihatan karena arang di wajahnya terhapus air matanya.
“Seruni, kamu ...!” pak Bono berlari memeluk Seruni.
Semua dibuat tercengang oleh ulah kelima bocah itu. Seluruh rombongan dari kabupaten menggeleng-gelengkan kepala. Dari kejauhan sebuah mobil Grand Livina berwarna silver datang. Lalu si empunya keluar dari dalam mobil.
“Anak-anak itu benar Pak, jangan ambil dunia mereka. Jika Bapak ingin arang untuk acara jamasan dan pembakaran bolu nanti, saya siap mengirimkan seberapa besar kebutuhan Bapak-bapak untuk acara itu. Lagi pula pohon beringin bukan jenis pohon yang bagus dibuat arang.“
“Bagaimana dengan keselamatan mereka, jika pohon ini tumbang?” tanya pejabat itu.
“Kami sudah memikirkannya, bapak-bapak tidak usah khawatir”.
Kedatangan Pak Gampang, juragan terkaya yang terkenal sangat dermawan itu menggembirakan para warga. Akhirnya semua masalah selesai sudah. Semua saling memohon maaf dan memanjatkan doa bersama di bawah pohon beringin tua, bagi kesejahteraan dan keselamatan warga desa Wonomulya. Pesta kecil-kecilan digelar di sana. Kelima anak bertopeng arang itu ikut merasakan nikmatnya ayam panggang dan menu makanan yang disuguhkan dalam perjamuan itu. Dasar anak-anak yang nakal dan cerdas....
* * *
Tanah lapang dipenuhi warga yang bergotong royong mempersiapkan pembakaran arang. Terlihat tumpukan batu setinggi satu meter dan gundukan kayu memanjang sepanjang duapuluh meter berjajar di tiga tempat pembakaran arang milik pak Leman. Jika didekati gundukan itu seperti gundukan pasir, mengepulkan asap dan terasa panas. Berkubik-kubik kayu bakar di tata di dalamnya. Untuk membakarnya diperlukan batok kelapa, ban bekas dan rumput gajah diletakkan paling atas gundukan. Baru disulutlah kayu bakar tersebut. Setelah semuanya terbakar serbuk paling atas nampak memutih seperti gundukan pasir. Gotong royong warga Wonomulya dilakukan hanya untuk menebus telah berkenannya pemerintah Kabupaten tak menebang pohon beringin tua milik mereka satu-satunya. Kebahagiaan terpancar pada wajah-wajah mereka yang dipenuhi senyum. Mengembang.... tanpa beban.

Seruni dan temannya masih asyik dengan joget topengnya di sela riuh para warga. Renyah tertawa... Sebenarnya merekalah topeng kejujuran sejati. Tak ada sekat pada wajahnya, menyatu mereka pada hitam arang denyut nadi kehidupan mereka. Bercahaya dalam senyum. [*]

sumber cerpen: Buku Elektronik Antologi Cerpen LMC-SMP/MTs 2012
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. cerpennya bisa dipelajari buat bikin yg semacam ini. thanka mas Koko

    BalasHapus