Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 16 Juni 2015

Cerpen Juara 2 Lomba Menulis Cerita Remaja 2012

Pemilihan tema wayang dan masalah anak dalang yang justru membenci kebudayaan Jawa adalah keunggulan cerpen ini. Tokoh utama pun dinamai Drupadi yang merupakan istri Yudistira dalam kisah pewayangan Jawa. Kepiawaian Nadia dalam mengangkat kisah anak dalang ini menjadikan cerpenya terpilih sebagai juara 2 Lomba Menulis Cerita Remaja untuk siswa SMP/MTS yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikdas Republik Indonesia. Saat menulis kisah ini, Nadia masih duduk di kelas IX SMP.
Penasaran dengan kisahnya? Silakan baca, semoga memberikan inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik daripada cerpen Nadia ini. 


Rahasia Wayang Kulit Kesayangan Ayah
Oleh: Alexandra Nadia Pramestya


Siapa tidak kenal keluarga Hadiwijaya? Pak Hadiwijaya, meskipun usianya sudah menginjak angka lima puluh, beliau adalah seorang dalang jempolan. Istrinya, seorang ibu rumah tangga yang pada masa mudanya bekerja sebagai guru bahasa Jawa. Puteri sulung keluarga Hadiwijaya, Ratih, meskipun usianya masih lima belas tahun, sangat ahli menarikan tarian tradisional. Lain halnya dengan Drupadi, adiknya. Drupadi malah sangat membenci budaya Jawa. Ia juga sangat nakal. Ada saja ulahnya. Pernah sekali waktu Drupadi mengambil wayang “Nakula-Sadewa” milik ayahnya. Betapa terkejutnya Pak Hadiwijaya mendapati wayang kembar miliknya telah dicoreng-moreng dengan warna merah yang tiada lain adalah lipstik istrinya.
Entah mengapa akhir-akhir ini, Pak Hadiwijaya tidak jenuh berusaha agar Drupadi dapat menguasai kesenian Jawa. Mulai dari nembang sampai menulis aksara Jawa, hasilnya nihil. Bahasa Jawa Krama yang diajarkan ayahnya hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri saja. Karena tidak kunjung menguasai, marahlah Pak Hadiwijaya. Karena emosi, beliau mulai membandingkan Drupadi dengan kakaknya. Mendengar nama Ratih disebut-sebut sebagai pembanding, marahlah Drupadi. Ia lalu memikirkan cara untuk membalas perbuatan ayahnya.
Setelah Semalaman memikirkan rencana balas dendam untuk ayahnya. Dru mendapat ide. Ia tahu betul kalau Pak Hadiwijaya mempunyai banyak wayang. Namun, ada sebuah wayang yang paling disayanginya. Di mata orang biasa itu hanyalah sebuah wayang Anoman tua. Tapi bagi Pak Hadiwijaya, wayang tersebut mungkin mempunyai arti penting. Hampir setiap sore, Pak Hadiwijaya duduk di pendhopo sambil membersihkan wayang Anoman yang dipanggilnya‘Nom-nom’ itu. Wayang ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu berukuran sedang yang nampaknya sudah berumur. Pada permukaan kotak itu terukir tulisan:
“Menawi panjenengan migunaaken kanthi wicaksana, eng tembe bade nampi ganjaran Ingkang tanpo kiniro”
Tidak ada yang tahu apa maksudnya, tidak terkecuali Pak Hadiwijaya sendiri. Suatu hari, Ratih diundang untuk menari Jawa di Balai Desa. Pak Hadiwijaya dan istrinya pergi untuk menyaksikan penampilan Ratih. Drupadi sendiri tidak ikut.
“Perutku sakit, kepalaku entah kenapa sedikit pusing. ” dusta Drupadi pada orangtuanya.
Ketika semua orang sudah pergi, Drupadi mengendap-endap masuk ke kamar orang tuanya. Drupadi membuka lemari pakaian milik orangtuanya dan mencari wayang tersebut. Setelah ia menemukan ‘nom-nom’, diambilnya wayang itu dari kotaknya. Sayang, Drupadi ceroboh. Ia tidak melihat kalau kuku ‘nom-nom’ tersangkut di dalam kotak penyimpannya. Ditariknya wayang itu dengan kasar dan sobeklah sedikit kuku ‘nom-nom’. Diambilnya kuku ‘nom-nom’dan diletakkannya di balik bantal tidurnya. Dru lalu melempar ‘nom-nom’ keluar dari jendela kamarnya. Kotak  ‘nom-nom’ dibiarkannya di dasar lemari, supaya tidak membuat ayahnya curiga.
Rencana Drupadi berjalan lancar. Sore berikutnya ketika Pak Hadiwijaya hendak membersihkan ‘nom-nom’, betapa terkejutnya dia mendapati kotak kayu itu kosong. Wayang kesayangannya raib. Pak Hadiwijaya lalu menemui istrinya untuk menanyakan bilamana istrinya tahu perihal wayang tersebut.
“Wah, ibu ndaktau, pak. Mbok coba tanya Ratih. ” tutur istrinya.
Pak Hadiwijaya segera menanyakan pada putri sulungnya itu dimana wayang kesayangannya berada. Tapi hasilnya sama saja. Pak Hadiwijaya segera menghampiri Drupadi untuk menanyakan dimana wayangnya berada.
“Drupadi, ayah ingin bertanya,” kata Pak Hadiwijaya sambil masuk ke kamar Drupadi.
“Ih, ayah, Dru lagi sibuk. Ganggu aja!” protes Drupadi sambil memanyunkan bibirnya.
“Dru tahu dimana ‘nom-nom’?” tanyaPak Hadiwijaya seakan mengabaikan protes Dru.
“Tidak tuh. ” jawab Drupadi asal.
“Ayah percaya padamu. Jangan kecewakan ayah, Dru.” kata Pak Hadiwijaya sambil meninggalkan Drupadi sendiri di kamarnya.
Semenjak peristiwa hilangnya ‘nom-nom’, semuanya seperti berubah bagi keluarga Hadiwijaya, Semua orang merasa kehilangan sosok Pak Hadiwijaya yang setiap sore selalu membersihkan ‘nom-nom’ sambil bersiul-siul kecil. Hanya Drupadi yang tidak merasa kehilangan. Ia malah merasa bahwa kebebasannya sudah semakin dekat.
Suatu malam, Drupadi melihat Pak Hadiwijaya sedang duduk di pendopo sambil menikmati semangkuk wedhang ronde. Terlintas dalam benaknya untuk menemani ayahnya. Drupadi segera duduk di sebelah Pak Hadiwijaya. Drupadi mencoba untuk memulai percakapan.
“Ayah sangat kehilangan ‘nom-nom’ ya?” tanya Drupadi.
“Ya, tentu saja sangat kehilangan, Dru. ‘nom-nom’ adalah wayang pertama ayah dari hasil menabung selama dua puluh tahun. ” jawab Pak Hadiwijaya.
“Dua puluh tahun? Mahal sekali harga ‘nom-nom’!” seru Drupadi.
“Sebenarnya tidak terlalu mahal, Dru. Tapi karena keluarga ayah dulu termasuk golongan tidak mampu, maka ayah harus menabung susah payah untuk mendapatkannya. ” jelas ayahnya.
Kembali hening. Sesekali terdengar bunyi jangkrik ditengah aroma wedhang ronde yang harumnya menusuk hidung. Drupadi kembali melontarkan pertanyaan kepada ayahnya.
“Ayah sayang Drupadi dan mbak Ratih ndak? Kalo Mbak Ratih tentu ayah pasti sayang. Kalo Dru? Drupadi ‘kan anaknya nakal, ngeyel, tidak berbakat, lagi.” kata Drupadi sambil menundukkan kepalanya.
“Hus! ndak baik merendahkan dirimu sendiri, Nduk. Gusti Allah menciptakan manusia itu punya bakatnya masing-masing. ” terang Pak Hadiwijaya.
“Ayah, kalau misalnya ada orang yang menangkap Drupadi, lalu ia meminta ‘nom-nom’ sebagai gantinya, ayah akan memberikan ‘nom-nom’ tidak?” pancing Drupadi.
“Tentu saja ayah akan memberikan ‘nom-nom’. Drupadi kan anak ayah sendiri, darah daging ayah. ” jelas Pak Hadiwijaya.
Drupadi terdiam. Entah kenapa ia merasa sangat jahat karena sudah menyembunyikan ‘nom-nom’ milik ayahnya. Tiba-tiba, Ratih datang ke pendopo sambil membawa sepiring singkong rebus buatan ibunya.
“Lho, Drupadi? Kamu ndak tau sekarang jam berapa?” kata Ratih sambil meletakkan singkong rebus itu di dekat ayahnya.
“Jam sepuluh, tuh, mbak.” jawab Drupadi asal.
“Ngawuraja! Ini sudah jam sebelas, tau!” omel Ratih sambil berkacak pinggang.
“Biar saja tho, mbak. Aku kepingin menemani ayah.” kata Drupadi sambil mengambil sepotong singkong yang dibawakan oleh Ratih.
“Ntar besok tidak bisa bangun lho. ” goda Ratih.
“Nanti saja mbak. Belom ngantuk kok dipaksa tidur.” kata Drupadi sambil melahap singkong rebus yang kedua.
“Ibu! Drupadi ndak mau tidur!” teriak Ratih.
“Ih, mbak Ratih! Iya deh, Dru tidur sekarang!” kata Drupadi sambil mengambil potongan terakhir singkong rebus dari piring dan segera pergi ke kamar tidurnya.
Keesokan harinya, Drupadi memutuskan ia akan mengembalikan ‘nom-nom’ pada ayahnya sekaligus minta maaf karena telah menyembunyikan wayang itu. Dru berencana akan mengembalikan ‘nom-nom’ setelah ia pulang sekolah. Namun, tanpa sepengetahuannya, Mbok Tum, pembantu di rumah keluarga Hadiwijaya menyapu dedaunan yang berada di bawah jendela kamar Dru, tempat dimana ia menyimpan ‘nom-nom’. Sayang, Karena sudah tua, matanya kabur sehingga tidak bisa melihat dengan baik. Tanpa ia sadari, ‘nom-nom’ juga ikut tersapu dan tercampur bersama dengan daun kering dan ranting pohon. Sampah kering tersebut oleh Mbok Tum dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik hitam. Saat tengah memasukkan daun-daun itu dengan tangannya, Mbok Tum merasa bahwa ia memegang benda semacam kulit yang agak kasar.
‘Ah, paling mung bangkai burung’. pikirnya. Dilemparkannya kantong itu ke dalam keranjang sampah, menunggu diambil oleh tukang sampah sekitar.
Sepulang dari sekolah, Drupadi segera menuju ke tempat dimana ia menyembunyikan ‘nom-nom’ untuk mengambil ‘nom-nom’. Betapa terkejutnya Drupadi saat mendapati tempat ia menyembunyikan ‘nom-nom’ sudah bersih dari daun dan ranting. Yang mengejutkan lagi, ‘nom-nom’ tidak ada di sana.
‘Jangan-jangan ada yang menyapunya.’ pikir Drupadi.
Segera Drupadi ingat, bahwa Mbok Tum sering sekali menyapu di pekarangan, mungkin saja Mbok Tum melihat ‘nom-nom’!
Drupadi segera mencari Mbok Tum. Ternyata Mbok Tum sedang memotong cabai di dapur untuk makan malam.
“Mbok menyapu sampah yang ada di sini kemarin?” tanya Drupadi tidak sabar.
“Iyo, nduk. Lha, wong disitu kotor banget, banyak sampahnya. ”tutur Mbok Tum dengan logat Jawa yang masih cukup kental.
“Saat menyapu Mbok melihat ada sesuatu yang aneh, ndak?” tanya Drupadi lagi.
“Aneh kepiye, nduk?”Mbok Tum malah balik bertanya pada Drupadi.
“Misalnya ada sesuatu yang aneh ikut tersapu.” pancing Drupadi.
“Eh, ana, nduk. Waktu Mbok mberesi daun itu, mbok rasanya megang‘kulit’ yang agak kasar, karena tak kira burung mati, ya tak buang. ” jelas Mbok Tum panjang lebar.
“Sekarang sampahnya ngendi, Mbok?” tanya Dru panik. Mungkin itu ‘nomnom’!
“Lha, ya sudah tak buang di tempat sampah, nduk. ” jawab Mbok Tum.
Dru segera berlari ke tempat sampah, Namun terlambat. Tempat sampah itu sudah kosong. Dilihatnya mobil sampah sudah cukup jauh dari rumahnya. Drupadi hanya bisa tertunduk lemas. Tidak mungkin mobil itu bisa terkejar.
Selesai makan malam, Drupadi menghampiri Pak Hadiwijaya yang tengah membereskan koleksi wayang kesayangannya.
“Maafkan Drupadi, Ayah. Dru sudah berbohong,” kata Dru dengan mata berkaca-kaca.
“Lho, kamu berbohong, nduk? Berbohong tentang apa?” tanya Pak Hadiwijaya kaget.
Sambil menangis tersedu-sedu, Drupadi menceritakan semua kebohongannya kepada Pak Hadiwijaya. Beliau tercengang sekaligus kecewa karena Dru telah membohonginya.
“Mengapa Drupadi bohong pada ayah?” tanyaPak Hadiwijaya lagi.
“Karena ayah sudah memaksa Dru untuk belajar budaya Jawa! Selain itu ayah juga membandingkan Dru dengan mbak Ratih. Dru sangat tidak suka, ayah!” kata Drupadi.
“Maaf Dru, waktu itu ayah emosi. Tapi penting bagimu untuk belajar budaya nenek moyang kita. Saat ini banyak budaya asing yang masuk ke negara kita yang menyebabkan budaya kita sendiri sedikit peminatnya. Beruntunglah di luar sana banyak yang menyukai budaya tanah air kita ini. Namun, beberapa diantaranya sudah diklaim negara lain sebagai milik mereka. Tugas keluarga kita adalah menghidupkannya kembali dan mencegahnya diambil negara lain.” Jelas Pak Hadiwijaya panjang lebar.
Lama setelah peristiwa hilangnya ‘nom-nom’, ada berita yang mengejutkan bagi Pak Hadiwijaya dan keluarganya. Pak Hadiwijaya dikeluarkan dari jajaran pengisi acara untuk Festival Seni Anak Bangsa yang telah dipersiapkannya selama sebulan. Berita ini tentunya mengejutkan keluarga Hadiwijaya dan masyarakat sekitar. Ternyata alasan digesernya Pak Hadiwijaya karena munculnya seorang dalang baru yang sedang naik pamornya. Ki Doloh namanya. Karena sedang naik daun, ia dianggap lebih dapat mengundang penonton.
Suatu pagi, Dru iseng membaca koran. Ia dikejutkan oleh berita tentang Ki Doloh. Foto pada berita itu adalah seorang pria yang sedang mengacungkan sebuah wayang yang tidak asing baginya. Wayang itu mirip sekali dengan‘nom-nom’! Jangan-jangan...
Dru segera berlari mencari ayahnya. Ayahnya yang sedang duduk-duduk di pendhopo sampai terlonjak kaget karena kedatangan Drupadi yang begitu tibatiba.
“Masih pagi kok sudah ribut. ” tanyaPak Hadiwijaya sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Lihat ini! Wayang ini sangat mirip dengan ‘nom-nom’, yah!” kata Drupadi lagi.
“Memang sangat mirip. Tapi apa benar ini ‘nom-nom’?” ujar ayahnya lagi.
“Ah, ayah. Apa ‘nom-nom’ mempunyai ciri-ciri yang membuatnya bisa dikenali.” tanya Drupadi.
“Tidak, Tidak ada.” Jawab Pak Hadiwijaya. “Kalau begitu, kita harus sesegera mungkin pergi ke tempat Ki Doloh! Kita harus memastikan apakah wayang kepunyaan Ki Doloh sebenarnya‘nom-nom’ milik ayah!” seru Dru.
“Baiklah, begini saja, nanti sore, kita coba ke rumah Ki Doloh.” kata Pak Hadiwijaya.
Memang benar, sore harinya Pak Hadiwijaya dan Drupadi pergi ke rumah Ki Doloh. Dengan berbekalkan arahan dari warga sekitar, tibalah mereka di sebuah rumah kecil tanpa pagar yang dindingnya berwarna putih tulang. Setibanya mereka di sana, Pak Hadiwijaya segera mengetuk pintu rumah itu.
“Permisi, kula nuwun. Kami mencari Ki Doloh.” kata Pak Hadiwijaya sambil mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak lama kemudian, keluarlah seorang pria kurus dengan tongkat kayu di tangan.
“Ada perlu apa panjenengan mencari saya?” kata pria itu yang ternyata adalah Ki Doloh.
Pak Hadiwijaya segera menjelaskan maksud kedatangannya yang ingin mengetahui perihal wayang Anoman tersebut. Cukup lama mereka berbincang-bincang.
Tidak terasa hari sudah mulai malam. Pak Hadiwijaya dan Drupadi berpamitan kepada Ki Doloh. Kunjungan itu menyisakan tanda tanya besar dalam diri Drupadi.
“Dru rasa itu benar-benar ‘nom-nom’. ”kata Dru saat perjalanan pulang.
“Sudah kau lihat dengan teliti, Dru?” tanya Pak Hadiwijaya tidak yakin.
“Iya. Dru yakin banget itu ‘nom-nom’. Sangat mirip. ”Kata Dru yakin.
Keesokan harinya, Drupadi dan Pak Hadiwijaya mengunjungi Ki Doloh. Pak Hadiwijaya menjelaskan kepada Ki Doloh mengenai kejadian yang menimpa wayangnya karena ulah Dru, dan meminta kembali wayang itu. Diluar dugaan, Ki Doloh ternyata menolak permintaan Pak Hadiwijaya. Ki Doloh bersikukuh bahwa mereka tidak punya bukti. Akhirnya Pak Hadiwijaya, Ratih, dan Drupadi pulang dengan tangan kosong.
Sore harinya, Drupadi memutuskan untuk menemui Ki Doloh. Dengan mengendarai sepeda, Drupadi tiba di rumah Ki Doloh. Ternyata yang membukakan pintu untuknya adalah wanita tua.
“Lho, nduk. Mencari siapa?” tanya wanita itu.
“Saya mencari Ki Doloh.” jawab Drupadi jujur.
“Wah, bapak sedang keluar, nduk. Masuk saja dulu sambil menunggu bapak tiba.” kata wanita itu sambil mempersilahkan Drupadi masuk.
“Saya istri Ki Doloh, nduk. Kenalkan, nama saya Bu Wening.” katanya sambil tersenyum ramah.
“Kenalkan bu, saya Drupadi. Saya putrinya Pak Hadiwijaya yang kemarin kemari.” Kata Drupadi.
“Jadi, Drupadi kemari mencari bapak, ada perlu apa?” tanya bu Wening sambil duduk di hadapan Drupadi.
“Begini, bu. Kemarin, wayang Anoman Ki Doloh itu sebenarnya milk ayah saya,” jelas Drupadi sambil tertunduk malu.
“Benarkah? Kalau iya, ibu mohon, biarlah keluarga kami yang menyimpannya.” kata bu Wening sambil menghela nafas berat.
“Mengapa bu?” tanya Drupadi kecewa.
“Karena setelah menemukan wayang itu, keluarga kami jadi lebih beruntung, Sejak bapak membawa wayang itu dari pembuangan, bapak bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik sehingga keluarga kami bisa hidup lebih layak meski bapak selama ini hanya bekerja sebagai pemulung.” jelas bu Wening.
Tiba-tiba terdengar suara yang cukup berat dari luar. Rupanya Ki Doloh sudah kembali. Beliau cukup terkejut melihat Drupadi datang sendiri, karena hari sudah mulai petang.
 “Ana apa nduk? Kok datang kemari malam-malam?” tanya Ki Doloh.
“Kemarin Ki Doloh tidak percaya kalau wayang itu milik ayah saya, Kalau saya menemukan bukti yang meyakinkan, bisakah wayang itu kembali menjadi milik ayah?” tawar Drupadi.
“Baiklah, nduk. Kalau memang bukti itu benar, wayang itu boleh kau ambil dengan satu syarat. ” Kata Ki Doloh.
“Apa Ki?” Tanya Dru.
“Kamu sudah tahu, ayahmu ndak mengisi acara untuk Festival seni karena saya gantikan. Biarlah acara itu tetep saya yang mengisi. Itu syaratnya. Bagaimana?” Kata Ki Doloh.
“Saya terima Ki.” kata Dru. Drupadi pun segera pamit karena hari sudah mulai malam. Sambil mengayuh pelan sepedanya, Dru mulai memikirkan, apa bukti yang bisa ia berikan kepada Ki Doloh.
Setibanya dirumah, Drupadi menceritakan semua itu kepada Ratih yang sedang mengecat kukunya. Tiba-tiba, terlintas ide jahil di kepala Drupadi saat melihat kakaknya sedang mengecat kuku. Drupadi secara tiba-tiba mengagetkan kakaknya.
“DOR!” teriaknya sambil menepuk pundak kakaknya.
“AAAH!” jerit Ratih terkejut. Dru sambil tertawa keras melihat kakaknya.
“Drupadi! Anak nakal! Kukuku jadi berantakan kan!” teriak Ratih marah.
Tiba-tiba Drupadi diam. Rasanya ada hal penting yang terlupa olehnya. Dru ingat. Saat mengambil ‘nom-nom’ia sempat membuat wayang itu rusak. Kuku ‘nomnom’ sobek karena Dru menariknya terlalu keras dan juga karena ‘nom-nom’ sudah tua dan kulitnya sudah rentan.
Drupadi segera membongkar tempat tidurnya. Ia tersenyum puas ketika menemukan benda yang ia cari. Sobekan kuku ‘nom-nom’. Ia segera berlari ke atas kasur dan tidur. Tidak sabar untuk esok hari.
Hari yang ditunggu Drupadi tiba. Ia segera pergi ke rumah Ki Doloh. Sesampainya di sana ia disambut oleh Ki Doloh
“Ki Doloh kemarin sudah janji kalau saya punya bukti, Ki Doloh akan mengembalikan wayang itu pada saya.” kata Drupadi.
“Ya, memang kemarin sudah janji. Sudah menemukan bukti?” tanya Ki Doloh.
“Sudah, Ki!” seru Drupadi senang.
Ki Doloh segera berdiri dan pergi dan tak lama kemudian, ia keluar dengan sebuah wayang di tangan. Disodorkannya wayang itu pada Drupadi. Dru melihat tangan wayang itu, tidak ada kukunya kelihatan disobek secara paksa.
“Ini buktinya, Ki.” kata Drupadi sambil menyodorkan kuku ‘nom-nom’.
“Opo iki?” tanya Ki Doloh sambil menyentuh kuku itu.
 “Kuku yang sobek dari wayang itu. Coba dipasangkan? Cocok?” kata Dru. Ki Doloh yang tidak percaya penjelasan Dru segera mencoba memasangkan kuku itu. Hasilnya sangat cocok! Ya, wayang itu memang benar-benar ‘nom-nom’!
“Iya. Kok bisa?” kata Ki Doloh setengah tidak percaya.
Drupadi segera mengisahkan semua kejadian yang dialami oleh ‘nom-nom’ tua ini. Cerita tentang kukunya yang tersobek, dan sampai Dru ingat kuku itu disimpannya di bawah bantal tidurnya.
“Saya percaya wayang itu milikmu. Wayang itu bisa tok bawa pulang, nduk. ” jawab Ki Doloh sambil tersenyum.
“Terima kasih, Ki” kata Dru sambil menghembuskan nafas lega. Drupadi segera berpamitan karena ternyata hari sudah sore. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Setibanya di rumah, Drupadi segera berlari menemui ayahnya dengan sebuah wayang ditangan.
“Ayah! Lihat ini!” kata Drupadi sambil menyodorkan wayang itu kepada ayahnya.
“‘Nom-nom’?” tanya Pak Hadiwijaya kaget.
“Ya! Dru berhasil menemukannya kembali!” seru Dru. Drupadi pun menceritakan semuanya kepada Pak Hadiwijaya. Ia sekaligus minta maaf karena telah merusak ‘nom-nom’. Pak Hadiwijaya sangat gembira dan berterima kasih kepada Drupadi yang telah berusaha keras untuknya.
Seminggu kemudian, Festival Seni Anak Bangsa digelar. Keluarga Hadiwijaya ikut serta. Mereka juga menonton berbagai pagelaran. Tak terkecuali penampilan Ki Doloh. Pak Hadiwijaya dan Drupadi pergi ke belakang panggung untuk menemui Ki Doloh.
“Panjenengan sudah pandai sekali nanggap wayang ngono, kok.” komentar Pak Hadiwijaya.
“Ah, belum sehebat panjenengan.”Ki Doloh merendah.
“Tuh kan, Ki. Tanpa ‘nom-nom’ pun, Ki Doloh bisa menanggap dengan baik, kan?” kata Drupadi sambil tersenyum.
Drupadi yang dulunya membenci budaya Jawa mulai terbuka matanya. Ia mulai tertarik dan ingin belajar setelah melihat festival itu. Dru mulai menyadari daya tarik warisan nenek moyangnya tersebut. Ternyata tanpa wayang keberuntungan itu pun kita dapat membuat keberuntungan sendiri. Dengan usaha dan kerja keras, sebenarnya semuanya bisa kita lakukan. [*]


Drupadi dalam Pewayangan Jawa
sumber foto: www.wayang.wordpress.com
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. ijin save ya Mas... buat belajar muridku...
    keren nih Nadia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, semoga bermanfaat, Zi

      Hapus