Menulis, Buku, Kehidupan

Kamis, 25 Juni 2015

Cerpen Pemenang 2 LMCA 2014, Sekuntum Dandelion

Cerpen Juara 2 LMCA 2014 ini merupakan karya Meiza Maulida Munawaroh. Kisahnya cukup mengharukan dan punya makna yang begitu mendalam. Dandelion menjadi perlambang harapan dan kasih sayang seorang ibu. Silakan dibaca, semoga terhibur dan menginspirasi

Sekuntum Dandelion
Oleh: Meiza Maulida Munawaroh


“Bun, lihat sini deh!” pintaku. Bunda menghampiriku yang mematung di teras rumah. Ia datang dengan wajah penasaran.
“Ada apa, Nayya?!”
“Itu bunga apaan, sih?” tunjukku kepada serumpun rumput-rumputan dengan tangkai panjang dan bandul putih lembut seperti kapas. Hmm, banyak serbuk sarinya, lagi!
Bunda tersenyum seketika, “Kamu itu, sudah kelas enam, masa tidak tahu itu bunga apa?” ledeknya, “Bunda akan tunjukkan sesuatu. Tapi kapan-kapan ya?”
“Huh,” dengusku dalam hati. “Aku lebih suka main game watch dan menulis resensi daripada menjadi flowerholic seperti Bunda!”
Bunda tertawa geli, kemudian masuk ke dalam rumah. Meninggalkanku yang kembali mematung dengan perasaan lain.
Kutatap rumpun bunga unik itu dari kejauhan, dengan pandangan datar. Lama-lama, aku merasa sedikit risih karena bunga-bunga aneh itu. Bunga itu seolah virus bagi taman rumah dan koleksi bunga milik Bunda lainnya.
Setiap hari, sepulang sekolah, aku selalu melirik bunga liar yang sekarang tumbuh bertebaran di setiap sudut taman. Aku tidak habis pikir, bagaimana cara mereka bisa menyebar sedemikian cepat? Yah, kuakui aku memang tidak tahu, dan tidak mau tahu. Beragam kegiatan ekstrakurikuler yang padat, serta PR yang tidak kira-kira, membuatku tak sempat memikirkan hal lain. Lebih-lebih memikirkan soal bunga yang tidak begitu aku sukai.
Tapi bunga itu, lama-lama jadi menyebalkan. Aku menimang-nimang kapan akan kuproklamasikan, “aku benci bunga-bunga itu!”. Tetapi tunggu, katanya Bunda ingin menunjukkan sesuatu.
Sore ini, Bunda benar-benar memberiku kejutan. Sebuah benda dibungkus kertas kado yang lucu disodorkannya. Bentuknya persegi panjang, cukup berat dan tebal. Bunda juga memintaku membuat resensi dari hadiah yang ia berikan itu. Aku sibuk menebak-nebak isi benda dibalik balutan kertas kado nan rapi ini. Novel? Tidak mungkin setebal dan seberat ini, kecuali Harry Potter. Album foto? Lucu sekali jika Bunda memintaku untuk menjadikannya resensi!
“Buka di dalam saja, Nayya! Di luar, anginnya kencang sekali. Ayo, masuk!” ajak Bunda mengomando.
Aku merobek kertas kado itu tanpa ampun, dan menelantarkannya di lantai kamarku. Mataku berbinar-binar ketika mengetahui hadiah yang diberikan Bunda tanpa keterangan dalam rangka apapun. Sebuah ensiklopedia!
Sayangnya, membaca judulnya sudah membuatku lemas kembali. Ensiklopedia ini memuat tentang bunga! Ya ampun, aku kan, bukan flowerholic seperti Bunda!
Ehm, nggak apa-apalah. Yang penting, hanya menulis resensinya saja dan ensiklopedia ini siap untuk berdebu di perpustakaan pribadiku!” ucapku sambil memandang ensiklopedia ini lekat-lekat. Cover-nya memuat ilustrasi keren, agak berkerlap-kerlip karena mungkin sengaja diberi tambahan glitter.
Aku membukanya perlahan. Halaman pertama, hanya ada kata pengantar. Kulirik daftar isi. Ternyata, di dalamnya terdapat bermacam-macam artikel. Bunga mawar, melati, flamboyan, aster, anggrek … Lihatlah, ada sebuah artikel yang sesungguhnya ‘menarik’. Tetapi, aku terlalu malas untuk memerdulikannya.
Setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, kugunakan waktu luangku untuk menyusun resensi dari ensiklopedia tebal ini. Aku butuh berlembar-lembar kertas folio untuk menuliskannya. Suatu saat, akan kutunjukkan kepada Bunda dan menceritakannya seolah semua ini novel fiksi belaka.
Tetapi, aku jadi sebal kepada Bunda karena dia tambah rajin merawat bunga-bunga liar itu. Bunga yang terkadang warna serbuknya berubah-ubah. Warnanya sedikit kekuningan jika diterpa cahaya senja. Setiap sore, Bunda selalu menghampiri bunga-bunga itu, meniupnya hingga serbuk sarinya beterbangan, dan hinggap di tanah.
Sampai akhirnya aku kupikir, sekarang Bunda jadi pecinta bunga aneh yang menyebalkan itu. Bunga berserbuk sari yang mengganggu, berserakan di taman rumahku.…
* * *
“Nayya! Nayya!” terdengar teriakan penjual kelontong dekat rumah yang bagiku begitu familiar. Suara itu menyambutku ketika hendak membuka pagar, setelah letih menjalani Kamis yang padat di sekolah.
“Bu Maryam?!” sahutku, “ada apa?”
“Bundamu menitipkan kunci rumah kepada ibu. Nih, kuncinya. Jadi, kalau Nayya mau masuk rumah, nggak perlu menunggu Bunda dulu,” Bu Maryam menyerahkan kunci rumah.
Aku kebingungan, “Memangnya Bunda kemana?”
“Nayya tidak tahu?” tanya Bu Maryam. Aku menggeleng.
* * *
Krieeet!
Aku membuka pintu geser kamar nomor 275. Bau obat dan nuansa penyakit menyeruak di mana-mana. Buru-buru, kuhampiri Bunda yang terbaring lemah di sebuah ranjang putih.
Bundamu tadi siang pingsan saat sedang berkebun! Ia dilarikan ke rumah sakit. Ayahmu ditelepon dan memutuskan pulang, mungkin sekarang sudah di rumah sakit.
Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang Bu Maryam katakan tadi. Karena tidak tega, Bu Maryam mengantarkanku ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Bunda. Ayah yang seharusnya masih bekerja di Lampung, berdiri di samping Bunda.
“Bunda,” ucapku pelan. Bunda terlihat lelah sekali, beliau hanya menoleh dari ranjangnya sambil tersenyum sangat tipis. Aku heran kenapa Bunda bisa pingsan. Aku juga tidak tahu kenapa Bunda berkebun di siang hari. Memang, sih, Bunda suka sekali merawat dan berkhayal bersama bunga-bunga koleksinya yang benar-benar keren. Tetapi, tidak biasanya Bunda ‘ngobrol’ dengan puluhan bunganya di siang hari. Bunda lebih suka berkebun di sore hari, karena tidak terlalu panas.
Aku berdiri di samping Ayah, menatapnya. Tetapi, Ayah yang kuharapkan memberi penjelasan, malah bungkam dan memberiku tatapan datar.
“Nayya, Sayang,” panggil Bunda lembut, “resensinya sudah jadi?” Aku mengangguk semangat, kuberikan resensi ensiklopedia di dua lembar kertas folio yang sengaja kubawa untuk kupamerkan kepada Bunda. Yah, siapa tahu, itu membuatnya bahagia.
“Bunda kenapa? Bunda sakit apa?”
Bukannya menjawab, wanita itu malah memperlihatkan senyum malaikatnya, “Sayang, boleh tidak, Bunda minta sesuatu?”
“Bunda ingin … ingin Nayya menyayangi bunga-bunga liar di taman rumah kita itu. Dan satu lagi, maukah Nayya membawakan sekuntum dandelion untuk Bunda?” pintanya dengan suara lembutnya yang sangat kusayangi.
“Kamu bisa baca di ensiklopedia, buka halaman 245. Ayah yakin, kamu belum membaca artikel itu!” Ayah ikut nimbrung. Aku terdiam kaku. Ada apa di halaman 245?
* * *
Kubuka ensiklopedia halaman 245 dengan hati-hati, sesuai saran Ayah. Aku memang sudah di rumah karena harus tetap masuk sekolah. Sementara, Bunda masih di rumah sakit karena belum pulih. Penyakitnya bahkan belum kuketahui. Hanya saja, Ayah datang setiap hari untuk menengokku di rumah.
Sebenarnya, sih, aku sudah biasa di rumah sendirian. Tetapi mengingat sikapku yang begitu teledor dan kadangkala bikin panik orang, Bunda meminta tolong Bi Arkha untuk menjagaku.
“Nayya, sedang apa?” tanya Bi Arkha yang datang membawa mi goreng kesukaanku.
“Membaca buku. Terima kasih ya, Bi! Aku makan di kamar saja,” aku mengambil alih piring yang dibawa Bi Arkha dan menutup pintu setelah beliau berlalu.
Sambil makan, kusapu setiap kalimat di halaman 245 itu: dandelion. Gambarnya benar-benar mirip dengan bunga pengganggu di halaman rumahku. Tetapi, aku tidak tahu kenapa, keingintahuanku seolah membuatku berhenti membenci bunga itu barang sebentar.
“Ternyata..., dandelion adalah bunga liar. Dimanapun angin yang membawa benihnya berhenti, disitulah dandelion baru akan tumbuh. Dandelion memang terlihat tidak menarik, dan terkesan ‘rapuh’. Namun, dandelion ini justru mengajarkan banyak arti hidup kepada manusia,” kutipku. Aku terdiam. Sebelas detik kemudian, dapat kutafsirkan kalau aku salah karena membenci bunga aneh bernama dandelion itu. Aku juga baru ingat kalau Bunda memintaku untuk membawakan sekuntum dandelion untuknya. Tetapi..., dalam rangka apa?
Handphone milikku berdering, menandakan sebuah telepon masuk. Nomor Ayah tertera di dalamnya.
“Assalamualaikum. Ayah?”
Waalaikumsalam, Nayya. Nak, kamu ke rumah sakit sekarang, ya! Bunda kritis, dia harus dimasukkan ke ruang ICCU. Maaf Sayang, Ayah selama ini menyimpan rahasia dan baru memberitahumu sekarang. Bahwa Bundamu, sebetulnya sudah lama mengidap liver. Dan kini liver Bundamu semakin parah. Segera berangkat ke rumah sakit sekarang, Nak!”
Aku berlari keluar rumah dengan kebingungan dan air mata yang tidak bisa kubendung lagi. Kenapa aku bisa tidak tahu kalau malaikat berhati mulia itu terserang penyakit pada hatinya sendiri? Salah apakah Bunda? Padahal, dirinya begitu baik dan sabar.
Aku bimbang. Tak mungkin untuk pergi ke Valley of Flowers di sisi barat Himalaya untuk memetik dandelion, seperti digambarkan dalam ensiklopedia, untuk mempersembahkannya pada Bunda. Tangisku tambah kencang. Dimana aku harus menemukannya?
Tiba-tiba, perhatianku tertuju pada bunga liar di halaman rumah yang tinggal sedikit. Bukankah itu dandelion yang sama, seperti digambarkan dalam ensiklopedia? Ya, bunga-bunga liar itu tinggal sedikit karena hari-hari sebelumnya sengaja kuinjak-injak. Tidak hanya itu, juga kusapu benih-benihnya yang masih tersisa, dan kubuang tanpa dosa. Air mataku berderai, kupetiki dandelion-dandelion tersisa itu dengan hati terluka. Aku berlari menemui Bunda di rumah sakit, berharap aku belum terlambat.
Aku menangis seperti anak kecil yang putus asa karena jatuh dari sepedanya, sambil memeluk Bunda. Pelan-pelan, kuserahkan sekuntum dandelion yang sengaja kuikat dengan pita di tangkainya. Bunda tersenyum. Aku tidak habis pikir mengapa Bunda malah memintaku membuka jendela, dan meniup serbuk dandelion ini. Membiarkan biji-biji lembutnya terbang bersama angin, untuk mendarat di sebuah tempat dan berkembang biak.
“Mereka akan tumbuh dimanapun engkau meniupnya,” kata Bunda dengan suara lemah.
Aku membuka jendela di dekat ruang ICCU yang menghadap langsung ke luar sana. Kutiup pelan serbuk sari dandelion ini dengan air mata berderai yang tak kunjung berhenti. Angin kencang membawanya, serbuknya terbang mencari tempat baru yang telah ditakdirkan Sang Kuasa. Mereka akan tumbuh menjadi rumpun-rumpun manis yang bahagia.
Dan aku cukup puas telah mampu membuat Bunda bahagia, sebelum dia meninggalkan dunia beserta isinya.
Bunda, dirimu memang seperti dandelion yang suci. Begitu berjasa dan mententramkan hati. Begitu mempesona dan memberi banyak pelajaran. Bundaku pergi, melekat kan sebuah kenangan. Kenangan yang tidak bisa kulupakan.

Memang benar. Dandelion hanyalah bunga liar yang secara fisik tak menarik. Lemah dan rapuh. Serbuknya terbang diterpa angin kencang, dibawa ke sebuah tempat pilihan, dan tumbuh dengan hati lapang. Dandelion jarang dianggap, tetapi memberi untaian cinta dan pelajaran. Seperti Bunda. Seperti
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar