Menulis, Buku, Kehidupan

Selasa, 16 Juni 2015

Cerpen Juara 1 Lomba Menulis Cerita Remaja 2012

Penulis remaja usia SMP masih sedikit yang menulis cerita bertema kebudayaan untuk majalah-majalah remaja atau buku cerita fiksi keluaran penerbit-penerbit ternama. Mungkin minimnya minat pembaca remaja terhadap tema itu memengaruhi pembelian majalah atau buku. Akibatnya redaksi majalah atau penerbit jarang mengangkat tema kebudayaan kecuali pada edisi atau momen khusus saja. Namun tema-tema budaya Indonesia harus kita angkat, sebab ada kecenderungan remaja lebih menyukai budaya negara lain, Korea Selatan misalnya.
Untunglah ada Lomba Menulis Cerita Remaja untuk siswa SMP/MTS yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikdas. Salah satu tema yang harus diangkat peserta adalah Cinta Tanah Air. Khodijah Wafia merupakan salah satu peserta yang mengangkat tema kebudayaan, khususnya Budaya Warak Endok di Semarang. Judul cerpennya Cheng Ho di Balik Etalase
Budaya Semarang berhasil meraih juara pertama Lomba Menulis Cerita Remaja 2012 untuk siswa SMP/MTS . Saat menulis cerpen ini, ia masih duduk di kelas IX, SMPIT Bina Amal.
Silakan dibaca, mudah-mudahan banyak inspirasi yang dapat kita peroleh dari cerita ini.  

 
Cheng Ho di Balik Etalase Budaya Semarang
Oleh: Khodijah Wafia

Semburat cahaya mentari menyilaukan pandanganku. Sengatan teriknya memanggangku tanpa pamrih. Aroma anyir kembali menusuk hidungku. Tumpukan sampah yang berserakan mengenai jemari kakiku yang beralas sandal jepit. Pasar tradisional berlautkan manusia kuterjang dengan sigap. Cucuran peluh membasahi wajah Cinaku.
Kali Mberok tak menyurutkan langkahku untuk sekedar berhenti menatap indahnya arsitektur Semarang tempo dulu. Kata Mamiku, tata letak jembatan Kali Mberok mirip salah satu jembatan ternama di Venezuela. Ah, tapi kali ini lebih mirip aliran sampah. Tumpukan sampah menggunung di tepi Kali Mberok.
Langkahku semakin jauh dari Kali Mberok. Pupil tajamku menatap seorang wanita tua yang sedang asyik menawar buah di antara desakan pembeli. Wanita dengan lilitan emas di lehernya juga beberapa rakitan emas yang bertengger di tangannya membuat derap langkahku kian cepat. Ujung dompetnya menyembul dari tas mewah tersebut. Kumulai aksiku di tengah keramaian Pasar Johar. Aksiku berhasil dengan mulus. Kubalikkan badanku menjauh dari kerumunan. Dompet hitam hasil rampasan kusembunyikan di balik bajuku.
Pelarianku terhenti tepat di depan klenteng dengan daun pintu yang tebal dan kokoh berhias beragam ukiran dewa. Aroma semerbak hio, asap lilin dan minyakpun tercium dengan jelas. Degupan kencang jantungku menjadi saksi aksiku. Kutarik lembaran-lembaran rupiah merah dari dompet hitam itu. Aku bergegas memasukkan lembaran uang itu ke saku celanaku. Garis tipis senyumku tersirat di antara keringat yang menderai di wajahku. Kubuang dompet itu ke tempat sampah merah di sebelahku.
Detak jantung yang belum stabil kembali kuajak berlari. Menyusuri jalanan berhias bangunan Cina dengan warna merah khas yang mencolok. Jejeran rumah beratap yu bazaar, atap khas Cina menghiasi kanan kiri jalan. Aku terhenti di depan rumah paling sederhana di sudut Pecinan.
“Kreek…”
Kubuka pintu merah berukir nagadengan perlahan. Kulihat Papi masih memahat bagian kepala Warak Endog dengan khusyu’. Tak kuhiraukan Papi yang asyik dengan aktivitasnya. Aku berlalu di hadapannya, menaiki tangga bercat merah. Terbayang hamparan kasur empuk yang siap menangkap tubuhku.
“Xue Ying, barusan Papi ditelpon sama Ko Han, pelatih Warak Endogmu.
Katanya beberapa hari ini kamu tidak hadir di Sanggar Li Wei. Kenapa?” suara Papi menghentikan langkahku menuju kamar.
Aku memang tergabung dalam Sanggar Li Wei. Sanggar khusus anak keturunann Tionghoa beragama Islam. Tak jarang, sanggar tari ini diundang dalam Festival Dugderan untuk menarikan Tarian Warak Endog.
“Xue Ying! Jawab pertanyaan Papi! Kemana saja kamu selama ini?” tegas Papi menghentikan pahatannya. Lamunanku buyar. Kubalas tatapan dingin Papi.
“Kenapa harus latihan? Percuma! Toh, ditampilkannya hanya setahun sekali, kan? Lagian, Warak Endog sudah tidak banyak yang menyukai. Tidak laku!” ketusku.
“Lha kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Bagaimana orang-orang tertarik jika penarinya saja tidak semangat?” ujar Papi sedikit membentak.
“Sudahlah, Pi. Warak Endog tidak akan membuat kita kaya. Aku sudah memiliki penghasilan yang lebih baik untuk mendaftar SMA. Daripada Papi, capek-capek menjadi pengrajin Warak Endog tapi hasil yang didapat tidak seberapa!” ujarku seraya pergi meninggalkan Papi menuju kamar.

* * *
Aku duduk di tepian Tugu Muda yang berdiri angkuh di tengah keramaian kota. Percikan air mancur menyentuh tubuhku yang bersimbah keringat. Kupandangi kendaraan yang lalu lalang di depanku. Matahari telah meninggi, tapi satu mangsapun belum kutemukan.
Aku menatap bangunan tua bergaya indis di depanku. Seakan memiliki daya magis, bangunan itu mampu menyeret langkah kakiku. Tak kuhiraukan suara klakson yang menjerit dan umpatan-umpatan pengguna jalan yang membentakku dengan kata-kata pedas. Kupandangi bangunan dengan ornamen lokal yang sangat kental. Riuh pengunjung tak mengalihkan pandanganku untuk mengagumi bangunan yang berusia hampir satu abad. Hiasan kaca patri di jendela menambah kesan mewah dan elegan. Paras surya yang membuncah rupanya tak mampu memudarkan kegagahan dan keanggunan Lawang Sewu, gedung yang menjadi landmark Kota Semarang.

Gedung Lawang Sewu (2) 
Gedung yang terletak di depan Jalan Raya Pos Daendelsini sejak pagi sudah sesak dengan kerumunan warga yang tertarik dengan barang antik, wisata Lawang Sewu, atau bahkan hanya sekedar ingin menikmati keindahan Lawang Sewu.
Aku berjalan menyusuri lorong panjang yang dipenuhi pintu kayu di kanan kirinya. Bangunan yang dulu berfungsi sebagai tempat tinggal pegawai NIS ini dilengkapi dengan ballroom, ruang makan yang luas, gedung serbaguna, hinggga gedung pertunjukan bahtera terbalik di lantai atas. Aroma kekejaman yang terjadi di masa kelam terasa menyeruak meskipun asap-asap mengepul dari wingko dan lumpia, makanan khas kotaku yang harum menyerbak. Bingkaian lukisan indah terpampang di sudut-sudut tembok lorong. Aroma lilin yang menjadi bahan dasar batik kotaku menjalar hingga tepi-tepi ruangan. Aku terkesima melihat budaya nusantara yang menyebar luas di Gedung Lawang Sewu.
Keindahan Lawang Sewu membuatku lupa pada tujuanku datang ke gedung bercat putih ini. Mataku liar menyapu cekat pengunjung yang berlalu dihadapanku. Aku mendekati sosok wanita yang menggendong anak. Ratusan warga yang sesak mengantri untuk masuk ke Lawang Sewu membuat aksiku kian mudah kujalani. Kubalikkan badanku dengan dompet yang kusembunyikan di balik saku celana.
“Papi?” gumamku terkejut.
Lelaki tua itu berdiri tepat di depanku. Wajahnya memerah. Kepalan tangannya nampak jelas, menandakan amarahnya yang sedang bergejolak. Papi mendekatiku yang masih menata jantung. Papi menarik tanganku dengan paksa, menyeretku keluar menjauhi kerumunan.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Papi. Tatapannya tajam ke arahku.
“Em.. em..”
Aku tak mampu menjawab pertanyaan Papi. Tubuhku kaku. Menggigil. Aku tak menyangka, Papilah yang memergoki aksiku. Tatapan Papi nanar. Pendar-pendar kemarahan tergambar jelas dari sorot matanya.
“Sekarang, kembalikan dompet itu dan minta maaf pada ibu tadi!” perintah Papi tegas. Aku pasrah, tak mampu berkelit. Mata tajam Papi yang menatapku membuatku ngeri dan harus mengembalikan dompet yang sukar kudapatkan. Aku segera mengembalikan dompet itu, mengatakan pada ibu tadi bahwa aku tak sengaja menemukan dompet yang terjatuh.
“Masuk ke mobil!” perintah Papi.
Deru suara mobil butut keluaran tahun 1970 peninggalan moyangku semakin membuat telingaku terusik. Mobil kuno dengan karat yang menyelimuti tubuhnya berjalan dengan amat lamban. Beribu tanda tanya bersarang di otakku. Sepatah katapun tak terlontar dari bibir Papi. Pandangannya lurus ke depan. Aku menyimpan segudang tanya dalam pikirku. Melempar bisu dalam mobil bercat coklat pudar.
Kurasakan roda mobil yang menggesek aspal semakin lamban. Papi sengaja memberiku isyarat untuk menatap rangkaian huruf yang bertuliskan Klenteng Sam Poo Kong berwarna hitam yang tertoreh di atas kayu bercat merah. Sepasang naga bertengger di sekitarnya. Papi mulai menancap gas kembali menambah kecepatan. Mobil butut yang dikendarai papi melewati pagar kuning yang menjulang tinggi ke atas.
“Ciit…”
Mobil tua itu terhenti di sebuah bangunan megah berwarna merah. Hiasan tulisan Cina yang tertera pada lampion-lampion merah mengelilingi bangunan bernuansa Tionghoa. Papi mengajakku keluar mobil. Berjalan mendekati klenteng yang berdiri kokoh dengan tiga lapis atap khas Cina. Pagar merah dengan sepasang patung singa terpampang kokoh di depan klenteng. Asap hio dan lilin dari dalam klenteng mengepul hingga sudut hidung kecilku. Kurajut jutaan tanda tanya yang mengelilingi otakku yang berkecamuk hebat.
“Papi, buat apa ke sini?” protesku pada Papi yang seakan terhanyut dalam keindahan klenteng itu. Papi tak menghiraukan seruanku. Telinganya seakan tak mau mendengar suaraku.
Patung yang terletak di depan Klenteng Sam Poo Kong itu memancing kaki Papi untuk mendekatinya. Papi menengadahkan kepalanya menatap patung yang berdiri gagah di depannya. Mataku bergidik menatap wajah patung itu.

Gapura Klenteng Sam Poo Kong dan Patung Cheng Ho (3)

Sebagus apa sih, patung ini? Biasa. Di klenteng-klenteng lain juga banyak kok! batinku dalam hati. Aku memperhatikan Papi yang begitu serius menatap patung itu dari atas sampai bawah.
Patung siapa ini? Pemimpin? Atau kaisar Cina? Aku mulai menebak patung itu dari pahatan yang membentuk pakaian petinggi dan pedang dalam genggamannya.
“Xue Ying, kau tahu, mengapa namamu Xue Ying Cheng Ho?” tanya Papi seraya memalingkan wajahnya ke arahku. Aku masih membisu, kubiarkan Papi asyik dengan ceritanya.
“Cheng Ho adalah seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal. Cheng Ho telah melakukan tujuh kali pelayaran ke barat. Setiap pengembaraannya dilakukan bersama lebih dari 200 kapal. Cheng Ho lebih hebat daripada Columbus karena Columbus hanya berlayar menggunakan 3 kapal,” Papi mulai bercerita tentang identitas namaku.
“Kau tahu, Xue Ying, mengapa Cheng Ho diberi kepercayaan memimpin pelayaran oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming? Karena ia cerdas dan ulet. Dia ingin membuktikan pada kaisar bahwa dia seorang pelaut yang hebat.”
“Tapi aku bukan seorang pelaut! Atau bahkan penjelajah! Aku bukan Cheng Ho kebanggaan Papi!” ketusku.
“Papi tahu, kamu tak harus jadi pelaut atau penjelajah. Tapi kamu bisa
menyontoh Cheng Ho,” ujar Papi.
“Ya, aku memang bisa menyontoh Cheng Ho. Tapi tidak setelah Mami meninggal. Semua itu karena Papi! Papi yang telah menyebabkan Mami terperangkap dalam kobaran api. Saat itu, kemana saja Papi?” emosiku mulai beranjak. Teringat kejadian satu tahun lalu. Aku hanya melihat jasad Mami yang tergulai kaku setelah pulang sekolah. Asap-asap mengepul daan emas-emas berserakan yang menjadi rebutan warga.
Bulir-bulir tetesan air mata membasahi wajah letih Papi. Sesekali ia menyeka air matanya yang terlanjur merintik. Entah karena menyesal atau sedih melihatku, aku sama sekali tidak merasa iba. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.
“Papi tahu, kamu selalu menyalahkan Papi atas kejadian itu,”
“Ya. Karena Papi memang salah. Harusnya Papi bisa menolong Mami. Bukankah Papi selalu menjaga toko emas itu bersama Mami?” aku memotong kata-kata Papi.
“Saat itu... Papi sedang sholat.” ujar Papi merintih. Papi diam sejenak mengatur nafas untuk menahan perih di hati.
“Papi juga tidak menyangka akan seperti itu. Sebelum Papi pergi ke Masjid
Kauman, Mami masih baik-baik saja. Bahkan, Mami sempat mengajak Papi bercanda. Papi juga tidak menginginkaan hal itu terjadi. Tapi kita harus menerima kenyataan. Kita harus yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Allah punya rencana sendiri untuk kita, Xue Ying.” ujar Papi
Aku tercekat. Selama ini memang aku sering menyalahkan Papi, “Kenapa Papi tidak cerita kalau Papi sedang sholat?”
Papi menghela nafas panjang, “Karena Papi tidak ingin melihatmu sedih. Setiap kali Papi menyinggung tentang Mami, wajahmu langsung berubah. Papi tidak tega.”
Aku semakin tertunduk. Ternyata lelaki berahang keras di sampingku sangat menyayangiku.
“Xue Ying, apa kamu masih ingat kalimat-kalimat yang sering dikatakan Mami? Bahwa kita harus menjadi orang yang ulet dan jujur. Setiap malam Mami selalu bercerita tentang Cheng Ho. Cheng Ho yang mampu berlayar mengelilingi dunia yang tidak kalah jika dibandingkan dengan pelaut dari negara barat. Ia berasal dari rakyat biasa, tetapi dengan keuletannya ia menjadi salah satu kepercayaan kaisar dan orang terpenting dalam sejarah dunia. Mamimu sangat mengagumi Cheng Ho,” Papi mengusap kristal-kristal bening yang mengalir dari bola matanya.
Papi melanjutkan perkataannya, “Mami ingin melihatmu seperti tokoh kebanggaannya, maka ia memberi tambahan namamu Cheng Ho.”
Aku menatap Papi tak berkedip, “Jadi…”
“Ya Nak, namamu adalah pemberian Mamimu. Cheng Ho seorang ksatria. Ksatria tak akan pernah melakukan hal-hal yang buruk. Jika Mami masih hidup, pasti Mami akan sedih melihatmu mencuri. Kamu harus seperti Cheng Ho, dengan keuletanmu pasti kamu bisa mengubah kehidupan kita Nak,” cerita Papi panjang lebar.
Rengkuhan hangat menyapa relung hatiku. Aku seakan mendapat tamparan lembut tentang semua kebodohanku. Klenteng Sam Poo Kong menjadi saksi penyesalanku, membuatku tersadar akan hakekat hidup ini.
Langit telah beranjak senja. Klenteng singgahan pengunjung hampir sepi. Sunyi menyelimuti suasana klenteng. Papi mengajakku pulang ke rumah. Di perjalanan, aku menyusun tekad untuk memenuhi keinginan Mami. Meyakinkan Mami dan Papi bahwa akulah Cheng Ho kebanggan mereka. Cheng Ho yang ulet, jujur dan cerdas. Seperti namaku, Xue Ying Cheng Ho.
* * *

Sang surya telah jauh melayang di hamparan langit Semarang. Panas yang membakar tak menyurutkan semangat para pengunjung Festival Dugderan.
Pancaran sinarnya membuat pesona siang kian ramah. Riuh pengunjung memadati jalan. Jejeran celengan gerabah terpampang rapi di depan kios sederhana tanpa etalase. Kata Papi, tak hanya untuk menabung, celengan itu juga menyimpan makna yang mendalam bahwa kita diperintahkan untuk menabung pahala di Bulan Ramadhan.
Pasar Johar tak terlalu kumuh untuk siang ini. Jemari kakiku tak lagi mengenai gunungan sampah yang berserakan. Aroma anyir tak terlalu menusuk hidungku. Hari ini warga Semarang ikut andil menyemarakkan kedatangan Bulan Ramadhan. Tradisi turun menurun telah mengakar dalam balutan kekayaan budaya Semarang.
Tabuhan bedug terdengar bertalu-talu. Mendesak gendang telingaku secara paksa. Menggemparkan jalanan yang penuh dengan desakan warga. Aku siap dengan baju warna-warni yang seragam dengan penari lain.

Warak Endog pada Festival Dugderan (4)

Aku mulai menggerak-gerakkan tubuhku mengikuti irama. Tarian Warak Endog yang telah lama kutekuni bersama Ko Han dan penari lain membuatku lebih percaya diri. Aku dan ketiga penari lain berhasil menggertak Festival Dugderan ini. Menari lihai sambil membawa Warak Endog buatan Papi. Kambing berkepala naga ini seakan menari di atas pundakku. Keuletan Papi dalam memahat kepala naga membuatku semakin hidup dalam tarian paduan tiga budaya. Arab, Cina, dan Jawa. Warak Endog adalah hewan imajiner yang mempunyai kepala naga, simbol etnis Cina. Berbadan buraq, simbol etnis Arab. Berkaki kambing simbol etnis Jawa. Warak Endog adalah gambaran Semarangku yang selalu hidup dalam toleransi tinggi. Beragam masyarakat dari berbagai etnis, agama dan budaya yang unik, tapi kita dapat hidup berdampingan.
Aku semakin larut dalam tarian Warak Endog. Deretan manusia yang membanjiri tepian jalan semakin membuatku bersemangat mempertontonkan kelihaianku dalam menari Warak Endog. Kata Papi, Warak Endog adalah tarian pengendalian diri.
Aku lebih memilih menjadi penari Warak Endog. Mengurung nafsuku untuk tidak mencuri lagi. Meskipun hasilnya tidak seberapa, tapi aku dapat melestarikan budayaku. Dan yang terpenting, aku bisa belajar dari Warak Endog, mampu mengendalikan diri dan dapat berlaku jujur. Seperti yang diharapkan Mami. Rezeki seberapa tak masalah asal berkah dan halal. Mungkin dengan kondisi keluargaku yang seperti ini, aku harus lebih ulet dalam belajar agar mendapat beasiswa untuk meneruskan sekolahku. Tentunya seperti Cheng Ho kebanggaan Mami. [*]

Sumber foto:
(1) e-book Antologi kara Pemenang LMCR 2012
(2) www.beritamaya.com
(3) www.coretanpetualang.wordpress.com
(4) www.fikkyariefsetiawan.wordpress.com
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar