Menulis, Buku, Kehidupan

Minggu, 03 Mei 2015

The Author’s Terror, Kisah Horor Penulis Tersohor

Seorang penulis belia mendapat tawaran menulis ulang kisah hidup penulis lain yang telah tiada. Bukan honor atau kesenangan yang ia terima di muka. Teror demi terorlah harus dihadapinya. The Author’s Terror telah dimulai 

Cerita The Author’s Terror

Nesse Louis, penulis berusia 15 tahun. Suatu hari, Kak Petra, editor di satu penerbit mengundang Nesse datang ke kantornya. Nesse dipercaya untuk menulis ulang kisah hidup Nyson Anne, penulis terkenal era 1970-an. Nesse harus menulis seolah-olah dia sendirilah Nyson Anne yang mengisahkan kembali kisah hidupnya. Nesse menerima tawaran itu. Keputusan Nesse itu menjadi awal serangkaian teror yang harus dihadapinya di kemudian hari.
Pada saat Nesse mulai menulis kisah hidup Nyson, ia tertidur dan mengalami mimpi buruk. Nesse melihat sekelompok orang membakar rumah yang berisikan seorang wanita muda. Wanita itu terbakar hidup-hidup. Rasa panas dari kobaran api dalam mimpinya itu Nesse rasakan juga. Mimpi buruk itu kemudian diikuti dengan sosok hitam pekat yang membuntuti Nesse dan sahabatnya Zoela saat bermain di Snow World. Nesse merasakan kembali hawa panas, meskipun di Snow World sangat dingin. Zoela heran dengan Nesse yang kepanasan di arena bermain salju. Sosok hitam itu terus saja mengikuti Nesse.
Nesse menyimpulkan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya berkaitan dengan naskah Nyson Anne. Nesse mencari informasi kematian Nyson. Kak Petra mengungkapkan bahwa Nyson Anne wafat karena kebakaran yang disengaja. Satu buku Nyson Anne mengungkapkan rahasia besar penduduk di tempat tinggalnya. Sekelompok orang marah dan akhirnya membakar rumah Nyson. Nyson sendiri masih berada di dalam rumah. Kemiripan akhir hayat Nyson itu dengan mimpi Nesse menguatkan dugaannya, namun Kak Petra meminta Nesse tidak mengaitkan naskah dan teror yang menimpanya. Nesse pun meneruskan proyek tulisan kisah hidup Nyson Anne. Ia baru berhenti menulis ketika arwah Nyson bersemayam di komputer Nesse. Selanjutnya Nesse melawan. Teror  arwah Nyson terhadap dirinya harus diakhiri.
Kak Petra berbagi informasi tentang Nyson Anne

Keganjilan The Author’s Terror

Novel Spooky Series berjudul The Author’s Terror karya Isna Meiriska ini kisahnya sederhana. Penulis mendapat teror dari arwah penulis lain. Hanya saja logika cerita agak ganjil. Kenapa Nesse yang mendapat teror dari arwah Nyson? Bukankah kematian Nyson tidak ada sangkut pautnya dengan Nesse?
Di halaman 48, Isna menuliskan dialog antara Nesse dan arwah Nyson. “Tak ada yang beloh lebih terkenal dariku! Jika kau masih melakukan itu, kau harus merasakan semua yang kurasakan. Sampai mati sekalipun!”
Nyson mengucapkan kalimat itu melalui layar komputer sambil menyalurkan rasa sakit kepada Nesse. Begitu Nesse memecahkan layar komputer, penampakan Nyson dan rasa sakitnya hilang. Jadi teror Nyson kepada Nesse tidak terkait kematiannya. Arwah Nyson meneror Nesse hanya karena Nesse menulis ulang kisah hidupnya. Itu saja.
Teror arwah Nyson ini agak bertentangan dengan logika sebab akibat kisah horor dalam film atau novel horor lainnya. Pada umumnya, film atau novel horor mengisahkan arwah bergentayangan karena menuntut balas atas kematiannya atau guna menyelesaikan misi semasa hidupnya dahulu. Isna menggunakan logika yang berbeda di novel The Author’s Terror. Apakah Isna sengaja karena ingin memberikan cerita yang berbeda kepada pembaca? Mungkin saja. Di bagian epilog novel The Author’s Terror setebal 130 halaman ini, pembaca akan mendapat penjelasan lengkap tentang kematian Nyson.

Seramnya The Author’s Terror

          Sebagai novel horor, The Author’s Terror sudah berusaha membuat pembaca merinding. Isna menggambarkan rupa arwah Nyson dengan cukup detil.
          Wajah itu hitam dengan mata merah pekat. Salah satu matanya hampir jatuh ke bawah. Rambutnya tak berbentuk, dan kedua telinga sudah tak ada. (Halaman 46).
Teror arwah Nyson Anne
Selain deskirpsi tersebut, Isna tidak lagi menuliskan adegan yang bisa membuat pembaca ketakutan lagi. Teror demi teror yang dialkukan arwah Nyson tergolong biasa yang bisa juga dilakukan oleh manusia. Sepertinya Isna masih menganggap kisah seram adalah kisah hantu. Padahal rasa takut pada diri seseorang tidak selalu karena hantu, arwah gentayangan atau makhluk aneh lainnya. Takut seringkali akibat aksi misterius sehingga seseorang membayangkan hal-hal yang menyeramkan atas kemisteriusan itu.
Contohnya anak kecil yang sedang menuju rumahnya setelah berbelanja dari warung pada malam hari, bisa sangat ketakutan hanya karena melihat kucing hitam sekilas saja. Kegelapan malam menyembunyikan sosok kucing. Hanya mata kucing yang terlihat. Mata kucing itu mengingatkan si anak pada monster bermata kucing dalam sebuah film, sehingga ia ketakutan. Takut bukan selalu masalah ada tidaknya hantu. Inilah yang perlu digali oleh penulis-penulis belia lain pada kisah horor sejenis.

 Latar tempat juga masih perlu mendapat perhatian. Berdasakan nama-nama yang digunakan, pembaca mungkin menduga latar tempat novel ini berada di luar negeri. Terlebih nama Nyson Anne, si arwah, sama sekali tidak terdengar Indonesia. Pada novel The Author’s yang terbit Mei 2014 ini, Isna tidak memberikan petunjuk di mana teror demi teror terjadi. Padahal latar merupakan unsur intrinsik dalam fiksi yang sering disebut-sebut oleh guru sastra dan bahasa Indonesia kita di sekolah, kan? 
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar